![]() |
| Abdul Hadi Tuanku Rajo |
MU-ONLINE, Padang Pariaman, -- Abdul Hadi Tuanku Rajo, adalah ulama yang lama jadi pegawai negeri sipil (PNS). Beliau pensiunan dari Kepala SMP di Kabupaten Padang Pariaman sejak beberapa tahun yang lalu. Lahir di Salibutan Lubuk Alung, 25 Mei 1955, ayahnya adalah seorang ulama, H. Aur Tuanku Bandaro yang lebih masyhur dengan Syekh Tuanku Lunak, ibunya Hj. Tina.
Masa kecilnya, Abdul Hadi mendapatkan pendidikan agama langsung dari ayahnya. Syekh Tuanku Lunak, ayahnya Abdul Hadi adalah ulama yang alim di bidang tasawuf. Beliau orang Koto Dalam, Padang Sago, mengaji dan jadi tuanku di Kiambang, bersama Syekh Ismail Kiambang.
Beristri ke Salibutan Lubuk Alung, Syekh Tuanku Lunak mendirikan surau di tanah pusako istrinya, di Gantiang Koto Buruak, dan di surau itu pula Syekh Tuanku Lunak dan istrinya dimakamkan.
Pendidikan formal, Abdul Hadi menyelesaikannya di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Syekh Burhanuddin Pariaman. Beliau termasuk alumni angkatan pertama. Abdul Hadi jadi tuanku di Pondok Pesantren Syekh Burhanuddin Tanjung Medan, Ulakan, pesantren yang didirikan Syekh Burhanuddin dulunya.
Di Salibutan Lubuk Alung, Abdul Hadi Tuanku Rajo adalah seorang Khatib Jumat. Tak heran, ada yang menyapanya dengan Ungku Khatib.
Aktif di NU
Konferensi NU Padang Pariaman tahun 1994, Abdul Hadi sedang jadi Ketua GP Ansor Padang Pariaman. Beliau ikut jadi panitia konferensi yang waktu itu memilih H. Iskandar Tuanku Mudo, Pimpinan Pondok Pesantren Madrasatul 'Ulum Lubuk Pandan jadi Ketua Tanfizdiyah PCNU Padang Pariaman.
Abdul Hadi aktif di GP Ansor Padang Pariaman, mulai ketika Slamet Effendi Yusuf jadi Ketua Umum PP GP Ansor. Sering mengikuti kegiatan ormas kepemudaan di lingkungan NU itu di tingkat nasional, dan Sumatera Barat. Abdul Hadi dinilai berhasil melakukan konsolidasi organisasi GP tetap dipegang oleh alumni pesantren berbasis surau di Padang Pariaman.
Buktinya, setelah Abdul Hadi, Ketua GP Ansor adalah Iswandi Tuanku Sampono Intan, alumni Pondok Pesantren Luhur Kalampaian Ampalu Tinggi. Setelah itu, Afredison, alumni Pondok Pesantren Madrasatul 'Ulum Lubuk Pandan. Setelahnya lagi, Ahmad Damanhuri, alumni Madrasatul 'Ulum Lubuk Pandan.
Setidaknya, roh keulamaan yang dibangun NU dari ulama surau, mampu bertahan hidup dan terkonsolidasi dengan baik dan benar. Ulama yang berkomitmen kuat dengan ajaran Islam ahlussunah waljamaah, menghidupkan dan mengembangkan Tarekat Syattariyah.
Jadi Ketua PCNU Padang Pariaman
Dalam rentang waktu yang jauh setelah jadi Ketua GP Ansor Padang Pariaman, Abdul Hadi pernah terpilih jadi Ketua PCNU Padang Pariaman. Kenapa, beliau dinilai sebagai tokoh yang lengkap nilai-nilai ke-NU-annya.
Sebagai ulama kampung, Abdul Hadi aktif menggerakkan surau yang dibangun oleh orangtuanya. Ada wirid rutin dan kajian Syattariyah yang dikembangkannya melalui tuanku-tuanku yang sengaja didatangkan untuk memimpin jalannya wirid pengajian.
Abdul Hadi juga terkenal sebagai petani. Beliau giat bekerja, punya lahan sawit di Ambuang Kapua Sungai Sariak, kampung istrinya, dan punya kebun pula di Salibutan Lubuk Alung.
Beliau juga terkenal sebagai tuanku yang pandai mengobati berbagai penyakit. Tak heran, tiap hari ada saja tamu yang datang, minta obat, konsultasi berbagai problem kehidupan, serta sekedar bersilaturrahmi.
Keluarga
Ernawati, istri Abdul Hadi, adalah orang Ambuang Kapua Sungai Sariak. Melahirkan sejumlah putra dan putri. Abdul Hadi wafat, Sabtu 11 Juli 2026 di suraunya, Gantiang Koto Buruak, Lubuk Alung. Dikebumikan Minggu 12 Juli 2026 di surau itu, yang juga komplek makam ayah ibunya.
Menurut Ernawati, istrinya Abdul Hadi, dua jam sebelum berpulang, beliau dalam keadaan zikir yang panjang. Sore menjelang Ashar, belum tak bernafas lagi di tempat berzikirnya, di sehelai sajadah dalam surau ini.
