![]() |
Oleh; Dr. Roni Faslah, S. Fil. I, M.A
Dosen Kajian Syekh Burhanuddin
Nagari Pakandangan, Kecamatan Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman, merupakan salah satu pusat perkembangan Islam dan tradisi keulamaan di Minangkabau. Dari nagari ini lahir banyak ulama yang berperan penting dalam pendidikan, dakwah, dan pembinaan masyarakat. Salah satu di antaranya adalah Buya H. Ashabal Khairi Tuanku Mudo, seorang ulama yang melanjutkan perjuangan ayahnya, Syekh Abdul Razak Tuanku Mudo, yang lebih dikenal sebagai Buya Mato Aie.
Menurut penuturan putra keduanya, Tuanku Ali Wirman, ayahnya bernama lengkap Ashabal Khairi Tuanku Mudo. Beliau lahir di Sarang Gagak, Nagari Pakandangan, pada tahun 1951 dan wafat pada tahun 2015 dalam usia 65 tahun. Sepanjang hidupnya, beliau mengabdikan diri untuk pendidikan Islam, dakwah, pembinaan umat, dan pelestarian tradisi keilmuan yang diwariskan para ulama Minangkabau.
Keturunan Ulama dan Mata Rantai Keilmuan
Ashabal Khairi lahir dalam lingkungan keluarga ulama. Beliau merupakan putra dari Syekh Abdul Razak Tuanku Mudo atau Buya Mato Aie, seorang ulama yang dihormati masyarakat Padang Pariaman. Dari ayahnya itulah beliau menerima pendidikan agama, pembinaan akhlak, serta tradisi tasawuf yang kuat.
Menurut riwayat keluarga, Buya Mato Aie berasal dari keturunan ulama yang sanad keilmuannya bersambung hingga kepada Syekh Burhanuddin Ulakan. Selain itu, pada garis keturunan yang lebih atas terdapat pula para qadhi dan ulama yang pernah berperan di Pilubang, Kecamatan Sungai Limau. Tradisi keilmuan tersebut diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi fondasi lahirnya ulama-ulama di lingkungan keluarga ini.
Pendidikan dan Guru
Pendidikan awal Ashabal Khairi diperoleh langsung dari ayahnya. Di bawah bimbingan Buya Mato Aie, beliau mempelajari ilmu fikih, tauhid, akhlak, dan terutama tasawuf. Pendidikan tasawuf yang diterimanya membentuk karakter yang tenang, sederhana, dan mendalam dalam kehidupan spiritual.
Selain berguru kepada ayahnya, beliau juga belajar kepada Buya Musa di Kabun Tapakih. Di sana beliau mendalami berbagai kitab keislaman yang menjadi rujukan ulama tradisional Minangkabau. Setelah melalui proses belajar yang panjang dan mendalam, beliau kemudian dijamu menjadi Tuanku, sebuah pengakuan atas kapasitas keilmuan dan kemampuannya membimbing umat.
Surau Mato Aie dan Pondok Pesantren Luhur Mato Aie
Perjalanan dakwah Buya Ashabal Khairi tidak dapat dipisahkan dari Surau Mato Aie dan Pondok Pesantren Luhur Mato Aie. Menurut penuturan keluarga, surau pertama berada di Sarang Gagak. Di tempat itulah Buya Mato Aie memulai aktivitas pendidikan dan dakwahnya. Setelah Indonesia merdeka, pusat kegiatan surau dipindahkan ke Pakandangan dan berkembang menjadi pusat pendidikan Islam yang dikenal luas.
Lembaga ini kemudian dikenal sebagai Pondok Pesantren Luhur Mato Aie. Berbeda dengan pendidikan formal modern, pesantren ini tidak menggunakan sistem ijazah. Para murid datang untuk mencari ilmu, memperbaiki akhlak, dan memperdalam agama. Sistem pendidikan yang diterapkan adalah halaqah, yaitu guru mengajar langsung kepada murid melalui pembacaan dan penjelasan kitab-kitab agama.
Materi yang diajarkan meliputi fikih, tauhid, tafsir, hadis, akhlak, tasawuf, dan kitab-kitab klasik lainnya. Pendidikan amaliah Tarekat Syathariyah juga menjadi bagian penting dalam pembinaan spiritual para murid. Karena itu, pesantren ini tidak hanya melahirkan orang yang memahami ilmu agama, tetapi juga membentuk pribadi yang memiliki akhlak dan kedalaman spiritual.
Sosok yang Sederhana dan Mendalam Ilmunya
Dalam kehidupan sehari-hari, Buya Ashabal Khairi dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana. Beliau tidak banyak berbicara dan lebih sering diam. Jika ada yang bertanya, barulah beliau menjawab sesuai kebutuhan. Sikap tenang dan tidak suka menonjolkan diri membuat masyarakat semakin menghormatinya.
Beliau juga dikenal tidak suka duduk berlama-lama di kedai atau tempat-tempat yang tidak berkaitan dengan pendidikan dan dakwah. Sebagian besar waktunya digunakan untuk mengajar, beribadah, bekerja di sawah, membimbing jamaah, dan menghadiri kegiatan keagamaan.
Aktivitas hariannya sangat sederhana. Pada pagi hari beliau mengajar para santri dan jamaah. Siang hari beliau berada di surau atau bekerja di sawah. Pada malam hari beliau memimpin wirid, pengajian, dan kegiatan Tarekat Syathariyah. Rutinitas itu dijalaninya sepanjang hidup sebagai bentuk pengabdian kepada agama dan masyarakat.
Dalam bidang tasawuf, Buya Ashabal Khairi dikenal memiliki pemahaman yang mendalam. Penguasaan kitab-kitab agama menjadikannya tempat bertanya bagi masyarakat dan para murid. Namun demikian, beliau tidak meninggalkan karya tulis berupa kitab atau buku. Sebagaimana tradisi ulama surau di Minangkabau, ilmu yang beliau terima dari guru-gurunya diwariskan melalui pengajaran langsung kepada para murid. Baginya, keberkahan ilmu terletak pada pengamalan dan pewarisan ilmu kepada generasi berikutnya.
Dakwah dan Tarekat Syathariyah
Buya Ashabal Khairi aktif mengajar di Surau Mato Aie serta membina masyarakat melalui pengajian dan wirid. Salah satu aktivitas penting yang beliau lakukan adalah menghidupkan wirid Tarekat Syathariyah dari surau ke surau dan dari kampung ke kampung.
Melalui kegiatan tersebut, beliau tidak hanya mengajarkan zikir dan amaliah tarekat, tetapi juga menyampaikan nasihat agama, memperkuat ukhuwah Islamiyah, dan membimbing masyarakat agar mampu menjalani kehidupan yang seimbang antara syariat dan tasawuf.
Dalam berdakwah, beliau menanamkan nilai keikhlasan. Menurut beliau, seorang ulama tidak boleh menjadikan dakwah sebagai sarana mencari upah atau gaji. Dakwah harus dilakukan sebagai bentuk ibadah dan pengabdian kepada Allah SWT. Prinsip tersebut beliau praktikkan sendiri. Beliau tidak pernah meminta bayaran ketika mengisi ceramah atau pengajian. Namun apabila masyarakat memberikan penghormatan atau bantuan secara sukarela, beliau menerimanya sebagai bentuk penghargaan dan silaturahmi.
Murid dan Pengaruh Keilmuan
Murid-murid Buya Ashabal Khairi tidak hanya berasal dari Padang Pariaman dan Sumatera Barat. Mereka datang dari berbagai daerah seperti Pekanbaru, Palembang, Jambi, Riau, dan wilayah lainnya.
Ada murid yang kemudian menjadi pakiah, ada yang mendalami kegiatan wirid dan tarekat, dan ada pula yang memperdalam kitab-kitab agama. Jumlah murid yang belajar kitab kepada beliau mencapai ratusan orang. Banyak di antara mereka yang kemudian mendirikan surau, pesantren, dan majelis taklim di daerah masing-masing.
Dalam mendidik murid-muridnya, beliau selalu menekankan bahwa tujuan belajar bukanlah mencari kedudukan, tetapi mengabdi kepada agama dan masyarakat. Para murid didorong untuk menjadi imam, khatib, guru mengaji, pemimpin wirid, dan pembimbing umat di tengah masyarakat.
Pandangan tentang Politik dan Organisasi
Dalam pandangan Buya Ashabal Khairi, seorang ulama sebaiknya tidak larut dalam politik praktis. Beliau sering mengingatkan bahwa keterlibatan yang berlebihan dalam politik dapat menimbulkan perpecahan dan mengurangi keikhlasan dalam berdakwah. Menurut beliau, tugas utama ulama adalah membimbing umat, memperkuat akhlak, dan menjaga persatuan masyarakat.
Meskipun demikian, beliau aktif dalam organisasi kemasyarakatan Islam. Organisasi yang beliau ikuti adalah Nahdlatul Ulama (NU), dan beliau pernah menjadi pengurus di lingkungan organisasi tersebut. Keterlibatan beliau dalam NU merupakan bagian dari pengabdiannya dalam bidang pendidikan, dakwah, dan pembinaan umat.
Kisah-Kisah yang Dikenang Masyarakat
Selain dikenal karena keluasan ilmu dan kesederhanaannya, masyarakat juga mengenang sejumlah kisah yang hidup dalam tradisi lisan keluarga dan murid-murid beliau.
Salah satu kisah yang dituturkan oleh putranya, Tuanku Ali Wirman, terjadi sekitar tahun 1980. Ketika sedang melaksanakan salat Zuhur di sebuah pondok sawah milik keluarga, seekor ular naik ke pondok dan berada tepat di hadapan beliau. Ular tersebut tampak hendak mematuk atau menggigitnya. Namun Buya Ashabal Khairi tetap melanjutkan salatnya dengan tenang. Setelah salat selesai, ular itu pergi tanpa menimbulkan bahaya apa pun.
Sebagian orang yang mendengar kisah tersebut mengira beliau telah digigit ular. Namun setelah diperiksa, tidak ditemukan luka atau bekas gigitan sedikit pun. Beliau tetap sehat seperti biasa.
Menurut keluarga, Buya Ashabal Khairi tidak pernah menceritakan kejadian tersebut kepada masyarakat. Dalam tradisi tasawuf yang beliau jalani, pengalaman semacam itu tidak perlu dipertontonkan. Seorang ahli tasawuf justru diajarkan untuk menyembunyikan kelebihan yang mungkin diberikan Allah SWT karena khawatir menimbulkan rasa ujub atau kebanggaan terhadap diri sendiri.
Keluarga juga menyimpan kisah lain yang berkaitan dengan ayah beliau, Buya Mato Aie. Diceritakan bahwa suatu ketika Buya Mato Aie pernah ditawari untuk berangkat haji oleh salah seorang muridnya, namun beliau tidak menerima tawaran tersebut. Setelah musim haji berakhir, datang seseorang ke rumahnya untuk mengembalikan uang yang menurut pengakuannya pernah dipinjam dari Buya Mato Aie di Makkah.
Peristiwa itu membuat banyak orang heran karena selama musim haji berlangsung Buya Mato Aie diketahui tidak pernah meninggalkan kampung. Bagi sebagian masyarakat, kisah tersebut dipandang sebagai sesuatu yang berada di luar penjelasan akal biasa dan sering dikaitkan dengan karamah para ulama. Namun sebagaimana ulama tasawuf pada umumnya, Buya Mato Aie tidak pernah membicarakan atau membanggakan kisah-kisah semacam itu.
Warisan yang Ditinggalkan
Ketika Buya Ashabal Khairi wafat pada tahun 2015, masyarakat kehilangan seorang ulama yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri kepada pendidikan, dakwah, dan pembinaan umat. Namun warisan yang beliau tinggalkan tetap hidup.
Warisan terbesar itu bukanlah harta benda atau kedudukan, melainkan ilmu, akhlak, keteladanan, serta jaringan murid yang tersebar di berbagai daerah. Surau-surau yang didirikan murid-muridnya, majelis ilmu yang berkembang, tradisi wirid Syathariyah yang terus berlangsung, serta generasi ulama yang lahir dari didikannya menjadi bukti bahwa cahaya ilmu yang beliau nyalakan tidak pernah padam.
Sebagai putra Buya Mato Aie, murid Buya Musa Kabun Tapakih, pengurus Nahdlatul Ulama, pewaris Surau Mato Aie, dan bagian dari mata rantai keilmuan yang bersambung hingga Syekh Burhanuddin Ulakan, Buya Ashabal Khairi Tuanku Mudo telah memberikan kontribusi penting bagi perkembangan Islam di Minangkabau. Melalui ilmu, akhlak, dan pengabdiannya, beliau menjadi salah satu sosok yang menjaga keberlangsungan tradisi keulamaan Minangkabau hingga masa kini.
Data Sumber
Wawancara, Tuanku Ali Wirman, anak kandung Buya Ashabal Khairi Tuanku Mudo, Buya Mato Aie, Pada Kamis 2 Juli 2026
Wawancara, Defriandi, Tuanku Imam, sebagai orang yang bernah bertemu dengan Buya Ashabal Khairi, pada Kamis 2 Juli 2026
