![]() |
Oleh: Duski Samad
Peserta Program Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman 1448 H / 2026 M Tgl 8 - 20 Juli 2026
Refleksi Subuh Wada' di Masjidil Haram
Ahad, 19 Juli 2026
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Judul tulisan ini lahir dari sebuah kalimat sederhana yang diucapkan Prof. Dr. Ridwan, M.A., Rektor UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, ketika kami bertemu dengan beberapa jamaah umrah asal Padusunan, Pariaman, Sumatera Barat, yang menunaikan umrah melalui paket super hemat. Dengan penuh senyum beliau berkata, "Apapun kelas hotelnya, masjidnya sama." Kalimat singkat itu menjadi renungan yang sangat dalam.
Sebelumnya, kami juga berbincang dengan seorang anggota Brimob dari Semarang yang sedang menunaikan umrah sebagai ungkapan syukur atas kenaikan pangkatnya. Ia bercerita bahwa biaya paket umrahnya sekitar Rp48 juta, hasil tabungan dan rasa syukur kepada Allah SWT. Percakapan-percakapan sederhana itu menyadarkan kami bahwa setiap orang memiliki jalan perjuangan yang berbeda untuk menjadi tamu Allah.
Subuh Wada' di Masjidil Haram pada Ahad, 19 Juli 2026, menjadi momentum muhasabah sebelum rombongan kembali ke Indonesia melalui Doha, setelah lima hari berada di Madinah dan enam hari di Makkah.
Kami merenungkan bahwa manusia datang ke Tanah Suci dengan berbagai tingkat kemampuan ekonomi. Ada yang menggunakan paket super hemat, dengan hotel sederhana dan fasilitas secukupnya. Ada yang memilih paket reguler, premium, VIP, bahkan VVIP. Ada pula yang memperoleh kehormatan menjadi tamu undangan Raja Salman dengan fasilitas yang sangat istimewa.
Namun ketika memasuki Masjidil Haram, semua perbedaan itu seakan hilang.
Masjidnya sama. Ka'bahnya sama. Tawafnya sama. Sa'inya sama. Suhu panas yang dirasakan pun sama.
Tidak ada jalur khusus menuju ridha Allah. Tidak ada Ka'bah VIP atau Ka'bah VVIP. Semua manusia berdiri sejajar sebagai hamba Allah.
Kami pun bermuhasabah. Meskipun rombongan kami memperoleh kehormatan sebagai Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman dengan pelayanan yang sangat baik, kenyataan ibadah tetap tidak berubah. Tawaf dilakukan bersama jutaan manusia. Sa'i ditempuh di lintasan yang sama. Salat berjamaah di masjid yang sama. Panasnya udara Makkah juga dirasakan oleh semua jamaah tanpa membedakan status.
Di situlah terasa bahwa kemuliaan sejati bukanlah fasilitas, melainkan ketakwaan.
Allah SWT berfirman:
> يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
> "Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa."
(QS. Al-Hujurat: 13).
Ayat ini menjadi dasar bahwa ukuran kemuliaan bukanlah hotel berbintang, kendaraan mewah, pakaian bermerek, ataupun fasilitas eksklusif, melainkan kualitas iman dan ketakwaan.
Perjalanan umrah juga mengingatkan agar manusia tidak terjebak dalam ghurur, yaitu tertipu oleh gemerlap kehidupan dunia. Fasilitas adalah nikmat yang patut disyukuri, tetapi tidak boleh melahirkan kesombongan. Sebaliknya, keterbatasan fasilitas bukan alasan untuk merasa rendah.
Pada pagi Subuh Wada' itu, ketika kami menikmati sarapan terakhir di hotel, beragam ekspresi syukur tampak dari wajah para peserta undangan Raja Salman. Mereka saling berbagi pengalaman selama mengikuti program yang luar biasa ini. Jika dihitung dari hotel, transportasi, konsumsi, ziarah, pendampingan, dan seluruh pelayanan yang diterima, sangat mungkin unit cost program ini mencapai sekitar seratus juta rupiah atau lebih untuk setiap peserta. Semua itu merupakan karunia yang sangat besar.
Tidak ada kalimat yang lebih pantas diucapkan selain:
الحمد لله رب العالمين
"Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam."
Namun sekali lagi, kemewahan pelayanan itu tidak mengubah hakikat ibadah. Yang menentukan nilai seseorang di hadapan Allah bukanlah besarnya biaya perjalanan, tetapi keikhlasan hati dan ketakwaannya.
Allah juga mengingatkan:
> كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati." (QS. Ali Imran: 185).
Pada akhirnya, semua manusia akan kembali kepada Allah dengan cara yang sama. Jabatan, hotel, kendaraan, dan kemewahan dunia akan ditinggalkan. Yang dibawa hanyalah iman, amal saleh, dan ketakwaan.
Karena itu, haji dan umrah bukan sekadar perjalanan menuju Makkah, melainkan perjalanan menuju kesadaran bahwa manusia adalah hamba yang sama di hadapan Allah.
Firman Allah:
> وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
"Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai kendaraan yang kurus; mereka datang dari segenap penjuru yang jauh."
(QS. Al-Hajj: 27).
Seruan Allah itu tidak membedakan siapa yang kaya dan siapa yang sederhana. Semua datang memenuhi panggilan-Nya.
Pelajaran terbesar dari Tanah Suci adalah bahwa fasilitas boleh berbeda, tetapi ibadah tetap sama; pelayanan boleh bertingkat, tetapi kemuliaan di sisi Allah hanya satu ukurannya, yaitu takwa.
Apapun kelas hotelnya, masjidnya tetap sama. Apapun fasilitas umrahnya, Ka'bah tetap satu. Dan pada akhirnya, semua manusia akan kembali kepada Allah dengan membawa amalnya masing-masing.
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ...
"Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu." Subuhharam@19072026
