MU-ONLINE, Padang Pariaman, -- Mengkaji Pondok Pesantren Miftahul Huda, Mudiak Balai, Tandikek, Kecamatan VII Koto Patamuan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, sepertinya kita mengkaji banyak hal yang sangat luas dan berkembang dengan sangat luar biasa. Ada tokoh ulama kharismatik, Syekh Abu Bakar Tuanku Muncak, pendiri dan Syaikhul Ma'had yang meletakkan fondasi dasar pesantren berbasis surau itu, yang dimulainya tahun 1948.
Awal berdiri Miftahul Huda Mudiak Balai, Syekh Abu Bakar Tuanku Muncak adalah ulama tua dan dituakan di Mudiak Padang, Tandikek. Beliau lahir tahun 1894. Lahir lembaga non formal di Miftahul Huda, yakni Halakah Surau Tuanku Muncak, yang merupakan kumpulan alumni surau itu dan surau lain atau anak siak Tandikek dengan rutin melakukan muzakarah, berdiskusi, mengkaji, mencatat berbagai permasalahan di tengah masyarakat, dengan tokohnya, Syaikh Abu Bakar Tuanku Muncak asal Tandikek, Tuanku Abdurrahman asal Pasaman Barat, Tuanku Qhadi asal Padang Panjang, Tuanku Abdur Razak asal Tandikek, Tuanku Imam Kopah asal Taluak Kuantan, Riau, dan Sofyan Marzuki Tuanku Bandaro asal Tandikek.
Masa Kecil
Syekh Abu Bakar Tuanku Muncak lahir tahun 1894, ayahnya Syarif adalah Walinagari Tandikek di zaman kolonial Belanda, ibunya Pena. Tersebutlah Abu Bakar ini anak Angku Palo. Masa pendidikan awal, langsung didapatkan Abu Bakar dari orangtuanya, dan surau yang ada di Mudiak Padang.
Lembaga pendidikan yang ada di Mudiak Padang sekitar tahun 1900 berbasis pada sistem pendidikan Islam tradisional Minangkabau, yaitu Surau. Surau Mudiak Padang (Surau Gadang Tandikek. Ini merupakan pusat ibadah sekaligus lembaga pendidikan keagamaan utama di wilayah tersebut. Surau ini tercatat didirikan sejak tahun 1835, sehingga pada tahun 1900, surau ini telah aktif selama puluhan tahun sebagai pusat pengajaran mengaji, ilmu fikih, tauhid, dan adat bagi pemuda setempat.
Surau Tuo Katik Sangko: Terletak di area yang sama, surau ini dikenal sebagai tempat ibadah paling tua di wilayah Mudiak Padang sebelum berkembangnya komplek Surau Gadang. Lembaga ini erat kaitannya dengan sejarah dakwah Islam kultural serta pengajaran tarekat (khususnya Syattariyah) di kawasan Tandikek.
Karakteristik Pendidikan Tahun 1900
Pada masa tersebut, model pendidikan formal barat atau sekolah umum (Volksschool/Sekolah Nagari) belum merata menyentuh wilayah pedalaman Tandikek. Pendidikan sepenuhnya bersandar pada: Sistem Halakah: Santri duduk melingkar di sekeliling guru (syekh atau tuanku) untuk mengkaji kitab kuning. Kurikulum Kehidupan: Selain belajar agama, surau berfungsi sebagai tempat tinggal pemuda Minang untuk belajar adat istiadat, seni bela diri (silek), dan kemandirian.
Mengaji di Ampalu Tinggi
Beranjak dewasa, Abu Bakar pergi mengaji ke Ampalu Tinggi. Di sana, Pondok Pesantren Luhur Kalampaian Ampalu Tinggi, sedang mengajar ulama besar asal Mudiak Padang, Tandikek, Syekh Muhammad Yatim. Bagi ayahnya Abu Bakar, yaitu Syarif, Walinagari Tandikek. Artinya, Syekh Muhammad Yatim dan Syarif Angku Palo ini sama-sama tokoh di zamannya di kawasan Mudiak Padang.
Abu Bakar terkenal sebagai anak siak yang pintar, lekas pandai, rajin mengaji, tersebut pula sebagai anak siak yang ramah. Mengaji di Ampalu Tinggi, sepertinya Abu Bakar tidak mulai dari awal. Dia melanjutkan pengajiannya yang terbengkalai di Mudiak Padang, kampungnya sendiri.
Makanya, di Ampalu Tinggi, di samping beliau belajar dengan guru tuo senior, juga diberikan kesempatan mengulang kaji dengan anak siak yunior. Dalam waktu yang tidak terlalu lama di Surau Kalampaian Ampalu Tinggi, Abu Bakar sudah bisa jadi guru tuo, mendampingi sejumlah anak siak yunior.
Kondisi belajar-mengajar di [Surau Kalampaian Ampalu Tinggi, yang kini dikenal sebagai Masjid Raya Kalampaian, Padang Pariaman pada tahun 1910 berada pada masa keemasannya sebagai salah satu pusat pendidikan Islam tradisional (pesantren surau) tertua dan paling berpengaruh di wilayah Piaman. Pada tahun tersebut, surau ini dipimpin oleh ulama karismatik Syekh Muhammad Yatim (yang populer dengan julukan Tuanku Ampalu atau Tuanku Mudiak Padang).
Pada masa itu, atmosfer pendidikan di Surau Kalampaian bercirikan sistem tradisional Minangkabau pra-modernisasi dengan detail kondisi sebagai sistem pengajaran halakah dan mengaji duduak.
Metode Belajar: Tidak ada meja, kursi, ataupun papan tulis. Pembelajaran berpusat pada metode halakah, yaitu para santri (murid) duduk bersila membentuk lingkaran mengelilingi Tuanku Ampalu. Pendekatan Individu: Guru membaca kitab, menerjemahkannya ke dalam bahasa Melayu/Minangkabau, dan menjelaskan maksudnya, sementara murid menyimak dan mencatat (mengaji faham atau mengaji duduak).
Kurikulum Berbasis Kitab Kuning dan Tarekat
Materi Utama: Fokus pembelajaran tahun 1910 adalah pendalaman ilmu alat (Nahwu dan Sharaf), Fikih Mazhab Syafii, Ushuluddin (Tauhid), dan Tasawuf. Afiliasi Tarekat: Surau di kawasan Padang Pariaman pada periode ini umumnya menjadi basis kuat pengamalan Tarekat Syattariyah, di mana selain belajar syariat, para murid senior juga melakukan latihan spiritual (tazkiyatun nafs atau suluk).
Kehidupan Komunal Santri (Urang Siak)
Asrama Kayu: Para penuntut ilmu (biasanya disebut urang siak) datang dari berbagai pelosok Sumatera Barat, bahkan daerah tetangga seperti Pasaman dan Riau. Mereka tinggal di pondok-pondok kecil (surau-surau ketek) atau di lantai atas bangunan utama surau. Kemandirian: Santri membawa bekal beras sendiri dari kampung halaman dan memasak secara mandiri. Mengaji dilakukan sepanjang waktu, terutama selepas salat Subuh, Asar, dan Magrib hingga larut malam.
Integrasi Adat dan Bela Diri: Selain ilmu agama, surau pada masa ini masih berfungsi sebagai tempat menempa mental pemuda lewat latihan silek (silat) Minangkabau dan pembelajaran adat istiadat (pidato adat/petatah-petitih) sebelum mereka turun ke masyarakat.
Tekanan Sosial dan Arus Pembaruan (Konteks Tahun 1910)
Tahun 1910 merupakan periode yang krusial di Minangkabau karena merupakan awal konflik pemikiran antara Kaum Tua (tradisionalis surau) dan Kaum Muda (pembaharu). Surau Kalampaian Ampalu Tinggi tetap kokoh mempertahankan sistem pertahanan tradisi keagamaan lama (Kaum Tua) di tengah gempuran ide modernisasi sekolah madrasah berbangku yang dibawa oleh ulama Kaum Muda dari Timur Tengah. Reputasi ketatnya keilmuan di bawah asuhan Syekh Muhammad Yatim membuat surau ini melahirkan tokoh-tokoh besar di kemudian hari, seperti Syekh Abdullah Aminuddin (pendiri Madrasatul Ulum Lubuk Pandan) dan Syekh Yunus Tuanku Sasak.
Pengabdian dan Keluarga
Masih di Ampalu Tinggi, tapi di Surau Kalodan, tempat Abu Bakar pertama mengabdi di tengah masyarakat. Surau Kalodan ini tak jauh dari Surau Kalampaian. Artinya, Abu Bakar mengabdi di Kalodan dengan tetap berulang mengaji ke Surau Kalampaian. Berbilang tahun pula lamanya di Surau Kalodan, sambil juga berulang ke Kalampaian.
Masih mengabdi di surau milik masyarakat, setelah di Kalodan, beliau diminta mengajar di Sungai Geringging. Lama, sampai empat tahun di Sungai Geringging setelah di Kalodan Ampalu Tinggi, akhirnya Abu Bakar pindah mengabdi ke darek.
Keistimewaan
Halakah Surau Tuanku Muncak di Mudiak Balai Tandikek didirikan pada tahun 1948, yang mana di awal pendiriannya sebagai surau kaum yang berada di Mudiak Balai. Pada waktu itu surau ini difungsikan
sebagai surau pada umumnya, yaitu sebagai tempat belajar dan
tidur anak nagari dari kaum tersebut. Didirikan oleh Abu Bakar Tuanku Muncak.
Abu Bakar Tuanku Muncak menjalankan apa yang dikatakan oleh guru-gurunya, untuk mengembangkan ajaran agama Islam, terkhusus di daerah Padang-Pariaman. Di samping itu, beliau juga mengembangkan ilmu-ilmu agama yang diperolehnya di daerah lain pada tahun 1951 seperti daerah Solok, dengan mengajar di surau Baiturrahmah, Batusangkar di surau Istiqamah, Sijunjung di Surau Darussalam.
Tidak ketinggalan daerah di sekitar Padang Pariaman pada tahun 1953, beliau juga mengajar di Surau Lubuak Aro, Surau Lambau, Surau Mudiak
Padang, Surau Pulau Air, Surau Lubuak Laweh, Surau Tarok yang berda di Sungai Limau, Surau Gonjong di Sungai Geringging, Surau Batuang di Kampuang Dalam dan surau lainnya yang ada di daerah Padang Pariaman.
Halakah Surau Tuanku Muncak mempertahankan sistem surau dalam pendidikannya. Murid-muridnya berdatangan dari berbagai daerah seperti Jambi, Riau, Pasaman, Sijunjung, Padang Panjang, Batusangkar, Agam, khususnya Padang Pariaman. Dari tahun 1956
sampai 1984 jumlah murid Tuanku Muncak mencapai 210.
Istrinya, Saniah di Tandikek melahirkan anak, yakni Muhammad Syukur Tuanku Sutan, Halimatus Sa'diyah, Zainal Abidin, Hayatun Nufus
Di Ampalu, tempat Abu Bakar lama mengaji dulu, sempat punya istri orang situ. Sementara, istrinya di Lambau Tandikek, Nuberan namanya, melahirkan anak Marwiyah, Abu Zakir, dan Yasir. Di Mangoi, Batukalang juga ada istrinya.
Tanah bangunan Pondok Pesantren Miftahul Huda Mudiak Balai merupakan carian ayahnya. Sebagai Walinagari Tandikek, tentu dengan mudahnya ayah Abu Bakar ini mendapatkan tanah. Beliau wafat tahun 1984 dalam usia 90 tahun, dimakamkan di dekat pesantren yang didirikannya itu. Sempat Pesantren Miftahul Huda Mudiak Balai dilanjutkan pengembangannya oleh Buya Syofyan Marzuki Tuanku Bandaro, tapi tak lama.
Beliau oleh niniak mamak Mudiak Padang dijadikan sebagai salah seorang Khalifah Syekh Muhammad Yatim. Secara bernagari, Tandikek melihat beliau Muhammad Yatim sebagai ulama luar biasa hebat. Maka tahun 1980, nagari memutuskan sejumlah tokoh ulama Tandikek sebagai Khalifah Syekh Muhammad Yatim.
Khalifah Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu di Mudiak Padang, dikukuhkan tahun 1980:
1. Abu Bakar Tuanku Muncak
2. Haji Umar Tuanku Ibrahim
3. Haji Ilyas Tuanku Sati
4. Roslan Amin Tuanku Mudo
5. Syofyan M. Tuanku Bandaro
Karena ajal menjemput sebagian besar khalifah ini, dan dalam kesepakatan nagari di awal tak boleh khalifah sendiri, maka tahun 1990 an dikukuhkan kembali Khalifah Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu, dengan tokohnya sebagai berikut:
1. Syofyan M. Tuanku Bandaro
2. Abizar Tuanku Sutan
3. Saharuddin Tuanku Bagindo
4. Konten Tuanku Bandaro
5. Amir Hidayat Tuanku Sulaiman
6. Hasan Basri Tuanku Bandaro. (AD)
Referensi:
1. Wawancara dengan Buya Syofyan M, Tuanku Bandaro, Selasa 30 Juni 2026 di Puncuang Anam, Tandikek Selatan
2. Wawancara dengan Koten Tuanku Bandaro, Selasa 30 Juni 2026, di Batipuah, Kabupaten Tanah Datar, saat istirahat dalam perjalanan ke Pondok Pesantren Nurul Huda, Bukit Tandang, Kabupaten Solok, peringatan haul Buya Khaidir Pakiah Kayo
3. Wawancara dengan Muhammad Syukur Tuanku Sutan, Senin 27 Juli 2026 di Pasar Tandikek. Muhammad Syukur Tuanku Sutan adalah putra sulung Syekh Abu Bakar Tuanku Muncak dari ibunya Saniah di Tandikek Asli. Muhammad Syukur Tuanku Sutan pernah dan lama mengaji di Pondok Pesantren Madrasatul 'Ulum Lubuk Pandan dengan Syekh Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah. Wawancara dengan Muhammad Syukur sambil ditemani oleh Wasriadi Labai Sulaiman.
4. [https://commons.wikimedia.org](https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Surau_Mudiak_Padang_2020_02.jpg)
5. [https://www.kompasiana.com](https://www.kompasiana.com/adtuankumudo0168/5f4e05d33b8dd03cc8069e72/cerita-buya-tuanku-shaliah-lubuak-pandan-berguru-kepada-banyak-ulama-hebat?page=2)
6. [https://id.wikipedia.org](https://id.wikipedia.org/wiki/Abdullah_Aminuddin)
