![]() |
| Makam Tuanku Sumaniak di Guguak, Kecamatan 2X11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, tepat di nagari yang terkenal dengan ikue darek kapalo rantau. |
MU-ONLINE, Padang Pariaman, -- Setiap tahun digelar tradisi doa bersama di makam Tuanku Sumaniak oleh masyarakat Guguak, Kecamatan 2x11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman. Ya, doa bersama sekalian makan bajamba. Lazimnya, sehabis kenduri itu dilakukan makan bersama, tentunya selesai dulu orang siak membaca doa.
Rabu (26/5/2021) tibanya agenda tahunan itu. Masyarakat setempat pun berbondong-bondong mendatangi makam yang terletak pas di belakang Masjid Raya Guguak tersebut. Datang, sekalian membawa rantang dan jamba yang berisi nasi dan sambal. Lengkap pula dengan menu yang enak dijinjing oleh kaum perempuan kampung itu.
Tradisi tahunan yang rutin dilakukan sehabis puasa enam bulan Syawal itu, adalah bagian dari menghormati ulama yang terkenal alim dan keramat itu. Bagi masyarakat Guguak, tentunya sosial kemasyarakatan serta keagamaan itu, telah dikemas jadi tradisi dan budaya. Orang Minang bilang, warih bajawek, pusako batarimo yang turun temurun sejak dulunya.
Tuanku Sumaniak, terkenal sebagai guru tuonya Syekh Burhanuddin Ulakan. Dinilai banyak meninggalkan ilmu yang hingga kini jadi amalan masyarakat setempat. Terletak di seberang sungai, di kaki bukit, pas di belakang Masjid Raya Guguak berlokasi di Korong Pasa Surau, makam itu telah di tetapkan sebagai situs Cagar Budaya.
Doa dan kaji yang dibaca orang siak di balai-balai yang dibuat dekat makam itu, tentunya warisan dari mendiang, yang membudayakan acara ziarah, doa dan mengaji di pusara, terutama pusara ulama dan guru pengajian. Apalagi, Tuanku Sumaniak dulunya terkenal hebat, punya banyak murid dan ikutan dari masyarakat. Pertalian kajinya itulah membuat tradisi mengaji di pusara itu tetap langgeng dan lestari.
Momennya pun dilakukan pada waktu yang pas. Lebaran, para perantau pulang kampung. Banyak yang datang siang Rabu itu ke makam keramat demikian. Tuanku Sumaniak terkenal sebagai ulama ahli fiqh. Syekh Burhanuddin ahli tasawuf. Fiqh adalah kajian hukum Islam, dipegang teguh oleh Tuanku Sumaniak ini. Dia terkenal keras dan disiplin yang tinggi. Dan itu memang bersua dalam kajian fiqh.
Tuanku Sumaniak selesai mengaji di Tapakih bersama Syekh Madinah langsung merasul atau menetap di Pasa Surau, Nagari Guguak ini. Beda halnya dengan Syekh Burhanuddin yang disuruh langsung oleh Syekh Madinah untuk melanjutkan pengajiannya ke Syekh Abdurrauf di Aceh.
Menurut cerita, Syekh Burhanuddin sangat mengagumi Tuanku Sumaniak. Sebelum diputuskan Sumpah Sati Bukit Marapalam yang menetapkan adat basadi syarak, syarak basandi kitabulah, terlebih dahulu Syekh Burhanuddin bersama rombongannya singgah di Guguak, menemui Tuanku Sumaniak. Dan cerita ini berkembang luas dulunya dari yang tua-tua.
"Syekh Burhanuddin hanya berjalan kaki, menyusuri Sungai Batang Ulakan. Sampai dia di tempat Tuanku Sumaniak mengembangkan kaji, dia berhenti, dan terlibat dalam banyak diskusi dan pembicaraan," cerita yang tua-tua di Guguak.
Barangkali, Sumpah Sati Bukit Marapalam bermula dari Guguak ini. Banyak hal yang dibicarakan saat itu antara Syekh Burhanuddin dengan seniornya; Tuanku Sumaniak. Sebab, dalam diri ulama itu tidak ada yang sepurna seperti yang ditemukan dalam diri seorang Nabi. Di sinilah kajian tasawuf dan kajian fiqh di satu-padukan, untuk menetapkan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah tersebut.
Kampung ini maka bernama Pasa Surau, ya itu pula. Tuanku Sumaniak inilah yang pertama kali membuat surau dalam kampung ini. Surau Manggih pertama kali yang dibuatnya, dan akhirnya hingga saat ini, setiap suku dalam korong ini punya surau.
Sebagai seorang ahli fiqh, Tuanku Sumaniak banyak dapat tantangan dari masyarakat Guguak dulunya. Namun, hal itu tidak membuat semangatnya untuk meng-Islam-kan banyak orang surut sama sekali. Zaman itu orang masih memakan tikus, ular dan lain sebagainya,
Tuanku Sumaniak diperkirakan lahir tahun 1640, wafat tahun 1728, berusia 88 tahun.
Sebagai warih bajawek, pusako batolong, berdoa dan mengaji yang juga disebut basafa ini akan tetap berlanjut dan harus dilestarikan. Tradisi itu merupakan peninggalan orang yang ikut malaco atau merintis kampung ini bersama Tuanku Sumaniak dulunya.
Seniornya Syekh Burhanuddin
Orang Guguak menyebutnya Syekh Sumaniak. Di luar makamnya tertulis cagar budaya makam Engku Sumaniak. Konon kabarnya, ulama yang satu ini senior oleh Syekh Burhanuddin Ulakan. Atau bahasa suraunya, Engku Sumaniak adalah guru tuo Syekh Burhanuddin saat mengaji di Tapakih bersama Syekh Madinah. Cerita itu hampir kabur, lantaran tak banyak lagi yang tua-tua Nagari Guguak, Kecamatan 2x11 Kayu Tanam yang menguasainya.
Melihat namanya, Engku Sumaniak juga berasal dari darek, sama dengan Syekh Burhanuddin. Orang Guguak menyebutkan, kampung asal Engku Sumaniak, ya di Sumaniak, dekat Sungai Tarap, Kabupaten Tanah Datar.
Menelusuri makam keramat demikian, terletak di seberang sungai, di kaki bukit, pas di belakang Masjid Raya Guguak. Tampak makam itu seolah-olah tak pernah sepi dari pengunjung.
Amiruddin, juru kunci makam itu bersama H. Burhanuddin Tuanku Kadhi Guguak menceritakan kalau Basapa yang dilakukan di Ulakan setiap bulan Syafar itu diawali di Guguak ini. "Kalau di Ulakan, makam Syekh Burhanuddin Basapa-nya Rabu malam di atas tanggal 10 Syafar, di sini Selasa malamnya. Sehari sebelum di Ulakan. Namun, entah karena apa, Basapa di Guguak tak begitu populer. Yang jelas, sejak kami tahu selalu dilakukan Basapa tiap tahunnya di sini," ungkap mereka.
Bedanya, Engku Sumaniak terkenal dengan ulama ahli Fiqh. Kalau Syekh Burhanuddin ahli tasawuf. Fiqh adalah kajian hukum Islam, yang menurut cerita banyak orang, sangat dipegang teguh oleh beliau Engku Sumaniak ini. Dia sangat terkenal keras dan disiplin yang tinggi. Dan itu memang bersua dalam kajian Fiqh. Engku Sumaniak selesai mengaji di Tapakih bersama Syekh Madinah langsung merasul atau menetap di Pasa Surau, Nagari Guguak ini. Beda halnya dengan Syekh Burhanuddin yang disuruh langsung oleh Syekh Madinah untuk melanjutkan pengajiannya ke Syekh Abdurrauf di Aceh.
Menurut cerita Tuanku Kadhi Guguak ini, Syekh Burhanuddin sangat mengagumi beliau Engku Sumaniak. Sebelum diputuskan sumpah sati Bukit Marapalam yang menetapkan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, terlebih dahulu Syekh Burhanuddin bersama rombongannya singgah di Guguak, menemui Engku Sumaniak. Cerita ini berkembang luas dulunya dari yang tua-tua. "Syekh Burhanuddin hanya berjalan kaki, menyusuri Sungai Batang Ulakan. Sampai dia di tempat Engku Sumaniak mengembangkan kaji, dia berhenti, dan terlibat dalam banyak diskusi dan pembicaraan," ungkapnya.
Barangkali, sumpah sati Bukit Marapalam bermula dari Guguak ini. Banyak hal yang dibicarakan saat itu antara Syekh Burhanuddin dengan seniornya; Engku Sumaniak. Sebab, dalam diri ulama itu tidak ada yang sempurna seperti yang ditemukan dalam diri seorang nabi. Di sinilah kajian tasawuf dan kajian Fiqh di satu padukan, untuk menetapkan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah tersebut.
"Kampung ini tersebab bernama Pasa Surau, ya itu pula. Engku Sumaniak inilah yang pertama kali membuat surau dalam kampung ini. Surau Manggih pertama kali yang dibuatnya, dan akhirnya hingga saat ini, setiap suku dalam korong ini punya surau. Sebagai seorang ahli Fiqh, Engku Sumaniak banyak dapat tantangan dari masyarakat Guguak dulunya. Namun, hal itu tidak membuat semangatnya untuk mengislamkan banyak orang surut sama sekali. Zaman itu orang masih memakan tikus, ular dan lain sebagainya," sebut Tuanku Kadhi.
Dulu, lanjut Tuanku Kadhi, banyak orang dari darek yang ikut Basapa ke makam Engku Sumaniak. Namun, belakangan sudah sangat jarang. Boleh dikatakan yang melakukan Basapa akhir-akhir ini hanya masyarakat Guguak sendiri lagi. "Sebagai warih bajawek, pusako batarimo, Basapa ini akan tetap berlanjut dan harus dilestarikan. Tradisi itu merupakan peninggalan orang yang ikut malaco kampung ini bersama Engku Sumaniak dulunya.
Tokoh masyarakat itu berharap agar jalan menuju makam itu bisa dibangun. Sekarang, kalau menuju makam itu harus jalan kaki. Kendaraan hanya sampai Masjid Raya Guguak. Mohon dukungan masyarakat Guguak untuk bisa berbuat dalam kelanggengan barang bersejarah dalam nagari itu.
Engku Sumaniak (atau dikenal juga sebagai Tuanku Sumaniak) merupakan salah satu tokoh ulama terkemuka dan penyebar agama Islam di wilayah Minangkabau.
Ulama yang Memiliki Banyak Pengikut: Semasa hidupnya, beliau dikenal sebagai ulama yang hebat dan karismatik, serta memiliki banyak murid dan pengikut dari kalangan masyarakat setempat. Pertalian keilmuan atau tradisi mengaji dari ajaran beliaulah yang terus diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi Doa Bersama di Pusara: Keberadaan makam keramat ini berada tepat di belakang Masjid Raya Guguak, Kecamatan 2x11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman. Setiap tahunnya—khususnya pada momen Lebaran saat para perantau pulang kampung—masyarakat Guguak menggelar tradisi tahunan berupa doa, mengaji bersama, dan kenduri tradisi makan bajamba (makan bersama menggunakan nampan besar) di kompleks pemakaman beliau.
Referensi:
1. Wawancara dengan Amiruddin dan H. Burhanuddin Tuanku Kadhi, Senin 27 Januari 2014 di Masjid Raya Guguak, Kecamatan 2X11 Kayu Tanam.
2. https://tuankuadamanhuri.blogspot.com/2014/01/engku-sumaniak-seniornya-syekh.html?m=1
3. https://www.kompasiana.com/damanhuriahmad5085/60ae04398ede4875d8444442/tradisi-berdoa-dan-mengaji-bersama-di-makam-tuanku-sumaniak
