![]() |
| Syekh Khaidir Pakiah Kayo |
MU-ONLINE, Solok, -- Syekh H. Khaidir Pakiah Kayo adalah ulama besar, pendiri sekaligus guru besar atau Syaikhul Ma'had Nurul Huda, Bukit Tandang, Kecamatan Bukit Sundi, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Beliau Khaidir menunaikan rukun Islam kelima, naik haji ke Mekkah tahun 1999. Keberangkatan beliau ke Mekkah, dilepas langsung Bupati Solok Gamawan Fauzi. Beliau wafat di tanah suci, Senin 26 April 1999 bertepatan dengan 10 Muharram 1420 H.
Mengaji
Lahir tahun 1917 di Bukit Tandang diberi nama Khaidir oleh kedua orangtuanya. Khaidir kecil tentu sama dengan anak-anak sebayanya. Bersuku Melayu, Khaidir dilingkari oleh keluarga yang agamis. Tak heran, pendidikan agama pertama itu didapatkan Khaidir dari orangtuanya dan dari surau yang ada di kampung itu.
Tamat Sekolah Rakyat di kampungnya, Khaidir merantau ke Talawi, Kabupaten Sijunjung. Di sana, Khaidir merantau dengan tujuan menuntut ilmu, mengaji di surau. Terkenal dengan Syekh Usman yang memimpin surau, mengasuh anak siak yang lumayan banyak.
Syekh Usman merupakan keturunan dari trah ulama besar di Sijunjung. Beliau adalah anak dari Syekh Jalaluddin (ulama besar Surau Calau kedua, wafat tahun 1900 M) yang bergelar Tuanku Labai dari Nagari Muaro. Beliau juga merupakan saudara kandung dari Syekh Ahmad (ulama Surau Calau ketiga, wafat tahun 1932 M).
Dalam tradisi Surau Calau, kepemimpinan dan keilmuan diwariskan melalui sistem khalifah (penerus). Setelah wafatnya sang saudara kandung, Syekh Ahmad, Syekh Usman diangkat menjadi penerus kepemimpinan keagamaan di Surau Calau dengan gelar Tuanku Bagindo Khatib Usman.
Berdasarkan naskah riwayat hidup Syekh Calau, masa kepemimpinan beliau sebagai khalifah utama tergolong singkat, yaitu hanya sekitar empat tahun. Kendati singkat, beliau memegang peranan penting dalam menjaga keberlangsungan Surau Calau beserta ratusan naskah kuno keislaman yang tersimpan di dalamnya. Setelah masa kepemimpinannya, estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh generasi berikutnya, termasuk tokoh ulama terkemuka Sijunjung lainnya seperti Syekh Malin Bayang (pencetus Surau Simaung).
Jaringan Keilmuan dan Sanad Tarekat
Sebagai bagian dari pemegang otoritas di Surau Calau, Syekh Usman berada dalam rantai silsilah (sanad) keilmuan tarekat Syattariyah yang sangat kuat di Sumatera Barat. Jaringan sanad ini menyambung ke atas melalui ayahnya (Syekh Jalaluddin), kakek gurunya yaitu Syekh Abdul Wahab Calau (ulama legendaris penentang kolonial Belanda abad ke-19), hingga bermuara ke Syekh Burhanuddin Ulakan dan Syekh Abdurrauf di Aceh.
Khaidir terbilang lama di Talawi, Sijunjung dengan Syekh Usman ini. Sampai tujuh tahun. Disebut lama karena dibandingkan dengan zaman sekarang. Mungkin di zaman dulu itu, tujuh tahun belum apa-apanya. Selama itu di Talawi, Sijunjung, Khaidir sudah menguasai kajian dasar kitab kuning.
Alumni Perdana Madinatul Ilmi Islamiyah Buluah Kasok
Setelah dari Talawi, Khaidir pindah dan melanjutkan mengaji ke Sungai Sariak, Kabupaten Padang Pariaman. Tepatnya, ke Surau Syekh Tawaf Tuanku Sidi (1914-1989) atau Pondok Pesantren Madrasatul Ilmi Islamiyah di Buluah Kasok. Di Sungai Sariak, Khaidir tercatat lebih lama dari Talawi, Sijunjung. Delapan tahun lamanya Khaidir di Sungai Sariak bersama Syekh Tawaf Tuanku Sidi.
Beliau Khaidir merupakan murid atau anak siak tertua dari Syekh Tawaf Tuanku Sidi. Sebelum pulang kampung, Khaidir diangkat jadi tuanku oleh Syekh Tawaf Tuanku Sidi. Maka, lengkapnya, adalah Syekh H. Khaidir Tuanku Pakiah Kayo. Perpaduan gelar dari surau dengan gelar adat yang beliau warisi dari kampungnya, Bukit Tandang, "Pakiah Kayo".
Disebut anak siak tertua, karena Syekh Tawaf Tuanku Sidi dengan Khaidir Tuanku Pakiah Kayo seumuran. Namun demikian, Khaidir tetap menjadi Syekh Tawaf Tuanku Sidi sebagai gurunya. Guru sekaligus sanad keilmuannya ketika memulai membuka dan mendirikan pesantren sendiri di kampungnya, Bukit Tandang.
Setelah delapan tahun lamanya di Surau Syekh Tawaf Tuanku Sidi, tiba saatnya untuk pulang kampung. Pertama pulang, beliau Khaidir diantar langsung oleh gurunya, Syekh Tawaf Tuanku Sidi. Pakai anak siak yang mengaji Sungai Sariak yang mengaji dengannya, sebagian ikut ke Bukit Tandang, melanjutkan mengaji dengan Khaidir ini.
Berdasarkan sejarah dan catatan lokal mengenai Nagari Bukit Tandang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, H. Khaidir Pakiah Kayo merupakan salah satu tokoh ulama dan guru agama Islam pertama yang memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di wilayah tersebut.
Setelah Nagari Bukit Tandang mulai berkembang, wilayah ini dikenal luas oleh masyarakat luar bukan hanya karena hasil pertaniannya yang melimpah, melainkan juga sebagai pusat pembelajaran agama Islam. H. Khaidir Pakiah Kayo bersama dengan ulama lainnya, seperti H. Abdul Rahman dan H. Engku Pasiea, tercatat sebagai guru-guru pertama yang mengajar agama Islam kepada masyarakat setempat dan para pendatang yang sengaja berkunjung untuk menuntut ilmu.
Nagari ini awalnya bernama Kaik Tandang pada tahun 1800 (diambil dari sifat leluhur yang penyayang, penyantun, dan suka menghormati tamu/pendatang). Nama tersebut kemudian berubah menjadi Nagari Bukit Tandang sekitar tahun 1817, dan dimantapkan kembali dalam rentang tahun 1900 hingga 1928. Pada periode perkembangan inilah kegiatan keagamaan yang dipelopori oleh H. Khaidir Pakiah Kayo dan ulama lainnya menjadikan Bukit Tandang sebagai nagari yang ramai dikunjungi untuk belajar agama.
Setelah di kampung itu, Khaidir pindah lagi mengajar ke Sijunjung. Tempat dimana beliau pertama kali belajar agama dan keilmuan syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat. Dari 1966-1974, beliau Khaidir Pakiah Kayo berada di Sijunjung. Termasuk anak siak yang ikut dari Sungai Sariak, juga ikut ke Sijunjung. Tersebut nama Muhammad Zen Tuanku Sutan, anak siak asal Tandikek yang ikut Khaidir Pakiah Kayo dari Sungai Sariak, terus ke Sijunjung.
Artinya, Khaidir Pakiah Kayo mengajar di Sijunjung selama delapan tahun. Setelah tahun 1974, beliau balik ke Bukit Tandang, menghidupkan suraunya, sampai sekarang Pondok Pesantren Nurul Huda itu masih eksis, melanjutkan tradisi dan budaya yang pernah dicetuskan oleh Khaidir Pakiah Kayo.
Keistimewaan
Menurut Buya Syofyan Marzuki Tuanku Bandaro, dalam mendidik dan mengasuh anak siak, Khaidir Pakiah Kayo itu terkenal disiplin. "Kalau di jam belajar itu, beliau selalu hadir, meski badannya terasa letih sehabis dari sawah dan ladang. Tak mudah baginya untuk meliburkan anak siak, walau dalam waktu yang sempit, misalnya," kata Buya Syofyan Marzuki Tuanku Bandaro.
Kemudian, beliau yakin dengan ilmu dan kaji yang didapatkannya. Beliau juga istiqamah dalam beribadah. Artinya, ibadah yang sudah rutin dilakukan, itu jarang sekali ditinggalkannya. Makanya, dalam keseharian itu beliau selalu dalam keadaan berwudhu.
Khaidir Pakiah Kayo sangat terkenal takzim dan selalu memuliakan gurunya. Baginya, guru adalah wasilah utama dalam mengharap keberkahan kaji dan keilmuan. Sementara, kepada semua anak siaknya, beliau selalu santun dan penyayang.
Keluarga dan Karya
Syekh H. Khaidir Pakiah Kayo wafat di Mekkah, saat perjalanan menunaikan ibadah haji, Senin 26 April 1999 bertepatan dengan 10 Muharram 1420 H. Istrinya, Kartini melahirkan tujuh orang anak, empat perempuan, tiga laki-laki. Perjalanan panjang beliau dalam menuntut ilmu, berguru kepada ulama hebat dan terkenal, Syekh Usman di Talawi, Sijunjung dan Syekh Tawaf Tuanku Sidi di Sungai Sariak, Padang Pariaman, menjadikan Khaidir Pakiah Kayo ulama yang tafakkuh fiddin.
Ratusan anak siak dari berbagai belahan negeri ini, tercatat dari Riau, Jambi dan Sumatera Barat, bahkan sebagian ada santrinya datang dari Pulau Jawa pernah mengaji langsung dengan beliau Khaidir Pakiah Kayo. Di samping beliau alim dan malin, juga terkenal sebagai mursyid Tarekat Syattariyah, pandai silek bela diri.
Pondok Pesantren Nurul Huda, lengkap dengan sarana ibadah, masjid dan surau yang didirikannya, hingga hari terus diwarisi dan dilanjutkan oleh generasi penerusnya. Bahkan, sebuah asrama santri berlantai dua, dibangun oleh masyarakat sepeninggal beliau. Tentunya, demikian itu kian mengokohkan kalau Bukit Tandang itu nagari yang melahirkan peradaban Islam yang luar biasa.
Setelah tahun 1999 hingga sekarang, setiap Selasa minggu pertama di bulan Muharram, selalu dilakukan haul beliau Khaidir Pakiah Kayo, di komplek Pondok Pesantren Nurul Huda Bukit Tandang. Haul diperingati oleh anak siak, alumni dan jemaah. Hampir dari seluruh pelosok negeri, pada berdatangan, mengenang kisah dan cerita yang dilahirkan Khaidir Pakiah Kayo dulunya.
Haul, di samping melakukan ibadah shalat berjemaah, dilakukan zikir dan tahlil bersama. Termasuk juga tahlilan untuk para alumni Bukit Tandang yang sudah terdahulu. Ini dimaksudkan, agar hubungan kuat guru dan murid setra jemaah, terus kokoh dari dunia sampai ke akhirat. (AD)
Referensi:
1. Wawancara dengan Buya Syofyan Marzuki Tuanku Bandaro, Kamis 25 Juni 2026, di Puncuang Anam, Tandikek Selatan. Buya Syofyan Marzuki Tuanku Bandaro tercatat sebagai generasi kedua yang mengaji di Bukit Tandang bersama Khaidir Pakiah Kayo.
2. https://www.researchgate.net/publication/368055727_KARYA_KHATIB_ABDUL_MUNAF_IMAM_MAULANA_TINJAUAN_HISTORIOGRAFI
3. https://id.scribd.com/document/793381554/Laporan-Akhir-Individu-Auliana-Anggi-S
