![]() |
Oleh: Roni Faslah
Dosen Kajian Syekh Burhanuddin
Di antara mata rantai panjang ulama pewaris Tarekat Syattariyah di Minangkabau, nama Syekh Tuanku Mudo Bonta menempati posisi yang penting. Beliau dikenal sebagai Khalifah ke-13 dalam jaringan spiritual dan keilmuan yang bersambung kepada Syekh Burhanuddin Ulakan, tokoh besar yang mengembangkan Islam melalui surau, pendidikan, dan tarekat di Minangkabau. Surau yang didirikan Syekh Burhanuddin di Tanjung Medan, Ulakan, berkembang menjadi pusat pendidikan Islam, dakwah, dan pengembangan Tarekat Syattariyah yang berpengaruh di Sumatera Barat dan kawasan sekitarnya.
Meskipun data tertulis mengenai kehidupan pribadi Syekh Bonta masih terbatas, nama beliau tetap hidup dalam tradisi lisan masyarakat Ulakan, silsilah para khalifah Syekh Burhanuddin, dan warisan keilmuan yang masih terjaga hingga hari ini.
Asal-Usul dan Keluarga
Menurut riwayat keluarga yang masih diwariskan secara turun-temurun, ibu Syekh Bonta bernama Niyu. Sementara nama ayah beliau belum diketahui secara pasti dari sumber tertulis yang tersedia. Namun masyarakat meyakini bahwa beliau berasal dari lingkungan keluarga yang memiliki tradisi keagamaan yang kuat sehingga mampu melahirkan seorang ulama besar yang kelak menjadi khalifah Syekh Burhanuddin.
Syekh Tuanku Mudo Bonta berasal dari Suku Koto, salah satu suku besar dalam masyarakat Minangkabau. Selain Koto, masyarakat Minangkabau juga mengenal berbagai suku lain seperti Piliang, Tanjung, Caniago, Jambak, Guci, Panyalai, Melayu, dan Sikumbang. Keberagaman suku tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya Minangkabau.
Sebagaimana diketahui, masyarakat Minangkabau menganut sistem matrilineal, yaitu garis keturunan yang mengikuti pihak ibu. Sistem ini menjadikan suku diwariskan melalui perempuan dan menjadi salah satu ciri khas masyarakat Minangkabau yang terkenal di dunia.
Islam dan Warisan Syekh Burhanuddin
Sebelum Islam berkembang luas, sebagian masyarakat Minangkabau dipengaruhi oleh tradisi Hindu dan Buddha. Namun melalui dakwah para ulama, khususnya Syekh Burhanuddin, Islam berkembang pesat dan kemudian menjadi identitas utama masyarakat Minangkabau. Surau yang dibangun Syekh Burhanuddin di Ulakan tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan, musyawarah, pembinaan masyarakat, dan pengembangan tarekat.
Dari proses panjang pertemuan adat dan agama lahirlah falsafah Minangkabau yang terkenal:
"Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah."
Falsafah tersebut menjadi dasar hubungan antara adat dan Islam dalam kehidupan masyarakat Minangkabau hingga sekarang.
Khalifah ke-13 Syekh Burhanuddin
Dalam silsilah kekhalifahan Syekh Burhanuddin yang dipelihara di Surau Gadang Tanjung Medan, Syekh Bonta dikenal sebagai Khalifah ke-13 Syekh Burhanuddin. Beliau meneruskan kepemimpinan para khalifah sebelumnya dan menjaga keberlangsungan Surau Gadang sebagai pusat pendidikan Islam dan Tarekat Syattariyah.
Sebagai khalifah, beliau mengajarkan fikih, tauhid, tasawuf, amalan Tarekat Syattariyah, dan kitab-kitab klasik Islam. Pada masa kepemimpinannya, Surau Gadang tetap menjadi pusat pembelajaran agama yang didatangi anak siak dari berbagai daerah Minangkabau. Tradisi surau sebagai pusat pendidikan dan kaderisasi ulama memang telah menjadi ciri khas warisan Syekh Burhanuddin sejak abad ke-17.
Anak, Cucu, dan Kemenakan Penerus
Salah satu keberhasilan terbesar Syekh Bonta adalah melahirkan generasi penerus yang melanjutkan perjuangan dakwah dan tarekat.
Putra beliau yang paling terkenal adalah Tuanku Mudo Luttan Ulakani (1913–1976) yang kemudian menjadi Khalifah ke-14 Syekh Burhanuddin. Setelah itu kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Syahril Luttan Tuanku Kuniang, sebagai Khalifah ke-15.
Selain melalui jalur anak dan cucu, warisan keilmuan beliau juga diteruskan oleh para kemenakan dan keluarga besar, di antaranya Tuanku Kacik dan Tuanku Muslim, yang turut menjaga tradisi Surau Gadang Tanjung Medan serta amalan Tarekat Syattariyah.
Peninggalan Kitab dan Warisan Intelektual
Selain meninggalkan murid dan penerus yang sudah jadi ulama, Syekh Bonta juga meninggalkan sejumlah kitab dan naskah keagamaan. Menurut keterangan keluarga, beberapa kitab peninggalan beliau masih tersimpan hingga sekarang dan dirawat oleh keturunan serta kemenakannya, terutama Tuanku Muslim. Kemudian Tuanku muslim mendirikan Yayasan yang bernama Al-Mukarram Syekh Bonta, di Tanjung Medan.
Keberadaan kitab-kitab tersebut menunjukkan bahwa tradisi intelektual di Surau Gadang tidak hanya diwariskan secara lisan, tetapi juga melalui tulisan. Tradisi pernaskahan Syattariyah di Ulakan sendiri merupakan bagian penting dari warisan intelektual Islam Minangkabau yang masih bertahan hingga sekarang. Bahkan naskah Tarekat Syattariyah warisan Syekh Burhanuddin telah ditetapkan sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON).
Hikmah dan Keteladanan
Di tengah masyarakat Ulakan berkembang berbagai kisah yang menggambarkan akhlak dan kebijaksanaan Syekh Bonta. Salah satu kisah yang sering dituturkan berkaitan dengan masa tentang beliau. Diceritakan bahwa orang tua beliau pernah menyiapkan makanan khusus untuk Syekh Bonta. Namun sebelum beliau memakannya, makanan tersebut terlebih dahulu dimakan oleh salah seorang saudaranya. Tidak lama kemudian orang tersebut mengalami keadaan seperti mabuk dan kehilangan kesadaran.
Dalam riwayat keluarga, Syekh Bonta kemudian mengobatinya hingga sembuh. Kisah ini diwariskan sebagai pelajaran tentang adab, amanah, serta kepedulian terhadap sesama.
Menolong Narapidana pada Masa Penjajahan
Kisah lain yang masih hidup dalam ingatan masyarakat Tanjung Medan adalah tentang seorang narapidana pada masa penjajahan Belanda yang datang ke Surau Gadang untuk meminta perlindungan dan keselamatan kepada Syekh Bonta.
Menurut cerita yang diwariskan turun-temurun, orang tersebut memohon pekerjaan dan kesempatan untuk memperbaiki hidupnya. Syekh Bonta tidak menolaknya. Beliau terlebih dahulu menyuruh orang itu memperbaiki ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah.
Ketika orang tersebut bertanya bagaimana cara mencari nafkah, Syekh Bonta menyuruhnya menggali tanah di sekitar Surau Gadang hingga terbentuk sebuah kolam yang cukup besar. Dari pekerjaan itu ia memperoleh penghidupan dan kemudian menetap di dalam kolam tersebut.
Orang itu bahkan membangun sebuah pondok sederhana dan tinggal di sana hingga akhir hayatnya. Menurut cerita masyarakat, ia tidak pernah tidur di surau, melainkan tetap tinggal di pondok yang berada di dalam kolam.
Yang menarik, kolam tersebut masih dikenal oleh masyarakat hingga sekarang. Meskipun pernah ditimbun dengan berbagai material dan sampah, masyarakat meyakini kolam itu tidak pernah benar-benar tertutup atau penuh. Sebagian masyarakat memandang hal tersebut sebagai salah satu karamah yang dikaitkan dengan keberkahan Syekh Tuanku Mudo Bonta.
Terlepas dari berbagai penafsiran yang berkembang, inti dari kisah tersebut adalah keteladanan Syekh Bonta dalam membina manusia. Beliau tidak melihat masa lalu seseorang sebagai alasan untuk menolaknya, melainkan memberikan kesempatan untuk bertobat, bekerja, dan memperbaiki kehidupannya.
Wafat dan Makam
Menurut riwayat keluarga dan masyarakat Tanjung Medan, Syekh Tuanku Mudo Bonta diperkirakan wafat sekitar tahun 1960-an. Hingga kini belum ditemukan dokumen tertulis yang secara pasti mencatat tahun wafat beliau.
Makam beliau berada di kawasan makam ulama Ulakan yang berdekatan dengan kompleks makam Syekh Burhanuddin. Menurut keterangan keluarga, letaknya berada dekat pintu masuk kawasan makam, di sebelah kanan jalur menuju makam para ulama.
Keberadaan makam tersebut hingga kini masih menjadi bagian penting dari situs sejarah keagamaan Ulakan yang sering dikunjungi keluarga, murid, dan peziarah yang datang ke kawasan makam Syekh Burhanuddin. Tradisi ziarah dan Basapa yang berkembang di Ulakan menunjukkan kuatnya hubungan masyarakat dengan warisan Syattariyah yang ditinggalkan para ulama terdahulu.
Syekh Tuanku Mudo Bonta merupakan salah satu mata rantai penting dalam sejarah Islam dan Tarekat Syattariyah di Minangkabau. Sebagai Khalifah ke-13 Syekh Burhanuddin, beliau berhasil menjaga keberlangsungan Surau Gadang Tanjung Medan sebagai pusat pendidikan Islam, pembinaan spiritual, dan pengembangan masyarakat.
Walaupun data tertulis tentang kehidupan beliau masih terbatas, warisan yang ditinggalkannya tetap hidup melalui surau, kitab-kitab, jaringan murid, anak-cucu, para kemenakan, serta berbagai kisah keteladanan yang masih dikenang masyarakat hingga sekarang.
Melalui sosok Syekh Tuanku Mudo Bonta, kita melihat bagaimana ulama Minangkabau bukan hanya berperan sebagai guru agama, tetapi juga sebagai penjaga peradaban, pembimbing masyarakat, dan pewaris tradisi keilmuan yang menghubungkan adat, syariat, dan kehidupan sosial masyarakat. Nama beliau tetap dikenang sebagai salah satu ulama penting dalam sejarah Ulakan dan Padang Pariaman.
Sumber;
Wawancara, Buya Amsaidi, Tuanku Khalifah, Khalifah ke 15 Syekh Burhanuddin, Kamis 11 Juni 2026
Wawancara, Emi sebagai guru sekolah SD dan cicit dari pihak suku keturunan Syekh Bonta, Kamis, 25 Juni 2026
