![]() |
Oleh: Duski Samad
Membangun masjid merupakan salah satu amal saleh yang sangat dianjurkan dalam Islam. Banyak ayat Al-Qur'an dan hadis Rasulullah SAW yang menjelaskan keutamaan memakmurkan rumah Allah. Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangunkan baginya rumah di surga." Kalimat "karena Allah" (lillāh) dalam hadis tersebut merupakan inti dari seluruh pembahasan tentang pembangunan masjid. Yang dinilai Allah bukan hanya bangunan yang berdiri megah, tetapi terlebih dahulu adalah niat yang melatarbelakanginya.
Di tengah masyarakat modern, pembangunan masjid tidak selalu lahir dari motivasi yang sama. Ada yang membangunnya sebagai bentuk ibadah dan rasa syukur kepada Allah. Ada pula yang berharap pembangunan masjid dapat menjadi jalan penghapus dosa atas kesalahan masa lalu. Sebagian lagi menjadikan masjid sebagai simbol prestise, popularitas, atau warisan nama keluarga. Bahkan tidak sedikit masjid yang sejak awal dirancang sebagai destinasi wisata untuk menarik pengunjung sebanyak-banyaknya. Fenomena ini perlu dilihat secara jernih melalui perspektif Al-Qur'an, hadis, ilmu pengetahuan, dan tasawuf.
Islam meletakkan niat sebagai pondasi setiap amal. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya." Karena itu, amal yang tampak sama di hadapan manusia dapat memiliki nilai yang sangat berbeda di sisi Allah. Dua orang dapat membangun masjid dengan ukuran, biaya, dan kemegahan yang sama, tetapi nilai keduanya belum tentu sama. Perbedaannya terletak pada apa yang tersembunyi di dalam hati.
Al-Qur'an memberikan pelajaran yang sangat kuat melalui kisah Masjid Dirar dalam Surah At-Taubah ayat 107–110. Bangunan itu secara fisik adalah masjid, namun Allah justru memerintahkan Rasulullah SAW agar tidak melaksanakan salat di dalamnya. Penyebabnya bukan karena bentuk bangunannya, tetapi karena niat pembangunannya didasari untuk memecah belah umat, memperkuat kemunafikan, dan menimbulkan kerusakan. Kisah ini menunjukkan bahwa dalam Islam, kesucian sebuah masjid tidak hanya ditentukan oleh arsitekturnya, tetapi terutama oleh tujuan pembangunannya.
Fenomena lain yang sering muncul adalah anggapan bahwa membangun masjid dapat menjadi sarana "mencuci dosa". Ada orang yang memperoleh kekayaan melalui korupsi, manipulasi, riba, atau kezaliman terhadap orang lain, kemudian berharap pembangunan masjid dapat menghapus seluruh kesalahannya. Dalam Islam, pemahaman seperti ini tidak sepenuhnya benar. Amal saleh memang memiliki nilai yang besar, tetapi ia tidak dapat menggantikan syarat-syarat taubat yang telah ditetapkan Allah. Taubat menuntut penghentian maksiat, penyesalan yang tulus, tekad untuk tidak mengulanginya, serta mengembalikan hak orang lain apabila berkaitan dengan kezaliman. Tanpa proses itu, pembangunan masjid hanya menjadi amal lahiriah yang belum tentu menyelesaikan persoalan batin.
Jika seseorang membangun masjid sebagai bagian dari taubat yang sungguh-sungguh setelah memperbaiki semua kesalahannya, maka pembangunan itu dapat menjadi amal jariyah yang sangat mulia. Namun apabila pembangunan masjid hanya dijadikan tameng untuk mempertahankan citra, sementara praktik kezaliman tetap berlangsung, maka masjid telah dijadikan alat legitimasi moral, bukan sarana mendekatkan diri kepada Allah.
Fenomena berikutnya adalah pembangunan masjid untuk mengejar popularitas. Di berbagai tempat dapat dijumpai nama pendiri dipasang sangat besar pada dinding masjid, sementara nama Allah justru tampak lebih kecil. Tidak sedikit pula pembangunan masjid yang lebih sering dipublikasikan daripada kegiatan memakmurkannya. Masjid menjadi simbol status sosial, kekuasaan, atau keberhasilan ekonomi. Dalam perspektif syariat, tindakan tersebut perlu diwaspadai karena dapat mengarah kepada riya' dan sum'ah, yaitu melakukan amal agar dipuji dan dikenang manusia.
Ilmu psikologi modern menjelaskan bahwa perilaku manusia digerakkan oleh motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik lahir dari keyakinan dan nilai yang diyakini seseorang, sedangkan motivasi ekstrinsik didorong oleh penghargaan, status sosial, atau pengakuan dari lingkungan. Penelitian psikologi menunjukkan bahwa motivasi intrinsik menghasilkan komitmen yang lebih kuat dan berkelanjutan. Dalam Islam, konsep ikhlas bahkan melampaui motivasi intrinsik, karena orientasinya bukan sekadar kepuasan batin, tetapi keridaan Allah SWT.
Perkembangan pariwisata juga melahirkan fenomena baru, yaitu masjid sebagai destinasi wisata. Banyak masjid memiliki arsitektur yang indah dan menjadi daya tarik bagi wisatawan. Pada dasarnya Islam tidak melarang hal tersebut. Bahkan keindahan masjid dapat menjadi media dakwah yang memperkenalkan peradaban Islam kepada masyarakat luas. Namun persoalannya muncul ketika fungsi wisata justru mengalahkan fungsi ibadah. Masjid menjadi ramai oleh aktivitas swafoto, tetapi sepi dari jamaah salat. Bangunan semakin megah, sementara majelis ilmu semakin sedikit. Kubah diperindah, tetapi akhlak jamaah tidak berkembang. Pada saat itulah orientasi pembangunan mulai bergeser.
Masjid yang baik bukanlah masjid yang paling banyak dikunjungi wisatawan, melainkan masjid yang paling banyak melahirkan orang-orang bertakwa. Wisata religi seharusnya menjadi pintu masuk menuju ibadah, pendidikan, sejarah Islam, pemberdayaan ekonomi umat, dan penguatan ukhuwah. Destinasi wisata hanyalah fungsi tambahan, bukan tujuan utama pembangunan masjid.
Dalam tasawuf, persoalan ini jauh lebih mendalam. Para sufi tidak hanya melihat bangunan masjid, tetapi juga melihat keadaan hati orang yang membangunnya. Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan bahwa amal tanpa ikhlas bagaikan tubuh tanpa ruh. Tasawuf mengajarkan bahwa penyakit hati seperti riya', ujub, sum'ah, cinta kedudukan (hubb al-jāh), dan cinta pujian (hubb al-madḥ) sering kali menyelinap ke dalam amal-amal besar yang tampak mulia.
Seorang sufi bahkan akan lebih sibuk memperbaiki niat daripada memperindah bangunan. Sebab bangunan hanya dilihat manusia, sedangkan niat diketahui Allah. Masjid yang sederhana tetapi dibangun dengan hati yang ikhlas lebih dekat kepada Allah daripada masjid yang megah namun dipenuhi ambisi duniawi. Karena itu, para ulama tasawuf selalu mengingatkan bahwa membangun masjid sesungguhnya harus dimulai dengan membangun hati. Hati yang bersih akan melahirkan bangunan yang membawa keberkahan, sedangkan hati yang dipenuhi kepentingan dunia dapat menjadikan bangunan ibadah kehilangan ruhnya.
Pada akhirnya, kemuliaan sebuah masjid tidak ditentukan oleh tingginya menara, besarnya kubah, mahalnya marmer, atau banyaknya pengunjung. Kemuliaannya ditentukan oleh sejauh mana masjid itu menjadi tempat manusia bersujud, menuntut ilmu, memperbaiki akhlak, menguatkan persaudaraan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Masjid adalah rumah Allah, bukan monumen kesuksesan manusia. Ia dibangun untuk menghidupkan tauhid, bukan ego; untuk menguatkan ibadah, bukan pencitraan; untuk melahirkan peradaban, bukan sekadar destinasi wisata. Ketika niat tetap lurus karena Allah, maka setiap batu yang disusun menjadi saksi amal jariyah yang terus mengalir hingga hari kiamat. Sebaliknya, apabila niat telah bergeser kepada kepentingan dunia, maka yang tersisa mungkin hanya kemegahan bangunan, sementara keberkahan yang menjadi ruhnya perlahan menghilang.ds. 27062026.
