![]() |
| H. Nazir Tuanku Bagindo |
MU-ONLINE, Padang Pariaman, -- Sebagai yang mewarisi trah Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi, H. Nazir Tuanku Bagindo di Gunuang Basi, Pauh Kambar luar biasa terkenal dan kehebatan Muaro Tuanku Mudo, ayahnya sendiri masih diwarisinya. Meski hanya sebentar mengaji di Bunguih Taluak Kabuang, Padang, Nazir Tuanku Bagindo ini mampu merawat kekhalifahan Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi yang dijalankan oleh ayahnya.
Bermula di Gunuang Basi
Nazir Tuanku Bagindo lahir tahun 1932 dari pasangan Muaro Tuanku Mudo dan Piak Banun di Tanjung Medan, Nagari Sandi Ulakan. Beliau kecil di tempat ayahnya di Gunuang Basi. Pendidikan agama, pertama kali didapatkan oleh Nazir Tuanku Bagindo dari orangtuanya sendiri.
Muaro Tuanku Mudo, ayahnya Nazir Tuanku Bagindo ini adalah Labai Surau Gunuang Basi dan sekaligus Khalifah Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi. Khalifah yang membidangi tasawuf.
Dari kecil, Nazir Tuanku Bagindo sudah bersentuhan dengan orang-orang besar, calon anak siak, dan calon labai. Sebab, seseorang yang akan diangkat jadi labai, itu setelah minta fawatiah di Bintungan Tinggi, menyelesaikan silsilah di Gunuang Basi dengan Muaro Tuanku Mudo ini.
Pun di Surau Gunuang Basi, ada anak siak yang mengaji, datang dari berbagai nagari di Padang Pariaman dan luar daerah ini. Celakanya, Nazir Tuanku Bagindo agak bersilantas angan ke orangtuanya. Jarang mengaji, banyak bermain dengan kawan sama besar.
Tapi, sebagai anak Muaro Tuanku Mudo, Nazir Tuanku Bagindo ini banyak disayang oleh anak siak. Tersebut sebagai anak gurulah namanya, sebagian anak siak Gunuang Basi segan, takut ada pula. Sementara, Muaro Tuanku Mudo ini ingin sekali anaknya ini pandai mengaji, jadi ulama pula yang akan meneruskan tradisi dan budaya yang berjalan di Surau Gunuang Basi.
Karena terlihat tak rajin mengaji, Muaro Tuanku Mudo ini menyuruh anaknya, Nazir Tuanku Bagindo pergi mengaji ke Padang. Tepatnya di Bunguih Taluak Kabuang. Di situ ada Khalifah Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi, yang juga mengasuh anak siak.
Pergilah Nazir Tuanku Bagindo ini mengaji ke Padang. Ke kawan ayahnya, yang sama-sama Khalifah Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi. Sehari, dua hari, sampai sebulan, dua bulan, bahkan berlanjut sampai berbilang tahun. Tapi, tak banyak tahunnya. Dua tahun lebih di Bunguih Taluak Kabuang, Nazir Tuanku Bagindo pulang kampung, dan tak mau lagi balik ke Padang.
Setelah tahun 1945, kondisi pendidikan surau di Bunguih Taluak Kabuang, Kota Padang secara umum mengalami kemunduran fungsional secara struktural, namun bertransformasi menjadi lembaga pendidikan pelengkap (non-formal). Perubahan ini dipengaruhi kuat oleh kebijakan modernisasi pendidikan nasional, pergeseran pola pikir masyarakat nelayan, dan intervensi pemerintah daerah.
Transformasi Sistem Non-Formal (Mengaji Tradisional)
Sebelum kemerdekaan, surau berfungsi sebagai lembaga utama tempat anak laki-laki Minangkabau menginap, belajar agama, adat, serta bela diri (silek). Setelah tahun 1945, fungsi ini menyusut secara drastis. Surau tidak lagi menjadi tempat tinggal atau pusat pendidikan primer, melainkan berubah fungsi menjadi tempat belajar Al-Quran (mengaji) sore atau malam hari bagi anak-anak yang pada pagi harinya bersekolah di sekolah umum.
Tekanan dari Modernisasi dan Sekolah Formal
Seiring meluasnya sistem sekolah negeri (SD/MI, SMP/MTs) yang didirikan oleh pemerintah Indonesia, masyarakat Bunguih Taluak Kabung mulai memprioritaskan pendidikan formal. Kurikulum surau yang semula sangat tradisional (menggunakan metode halaqah atau sorongan tanpa kelas) kalah bersaing dengan kurikulum sekolah modern yang menawarkan ijazah dan kepastian karier.
Pergeseran Sosial-Ekonomi Masyarakat Nelayan
Bunguih Taluak Kabung didominasi oleh masyarakat pesisir dan nelayan. Pada dekade awal pasca-kemerdekaan, banyak orang tua nelayan menganggap pendidikan formal kurang penting karena anak-anak mereka diproyeksikan akan langsung melaut. Namun, seiring waktu dan intervensi kebijakan pemerintah, kesadaran pendidikan meningkat. Anggaran serta perhatian masyarakat yang tadinya mengalir mandiri untuk menghidupkan surau, mulai beralih untuk membiayai sekolah formal anak-anak mereka.
Alih Fungsi Menjadi Masjid, Madrasah, atau TPQ
Banyak surau fisik di Bunguih Taluak Kabung yang mengalami perubahan status guna mempertahankan relevansinya:
Menjadi Masjid: Surau-surau yang berukuran besar dikembangkan oleh masyarakat menjadi masjid guna menampung pelaksanaan shalat Jumat. Menjadi TPQ/TPA: Surau yang bertahan umumnya melembagakan diri menjadi Taman Pendidikan Al-Quran (TPA/TPQ) yang strukturnya lebih diakui oleh Kementerian Agama. Menjadi Madrasah: Sebagian bertransformasi menjadi sekolah agama formal (Madrasah Ibtidaiyah atau Tsanawiyah) agar tetap bisa memberikan pendidikan agama namun memiliki kurikulum berjenjang.
Intervensi Pemerintah Daerah (Era Kontemporer)
Pemerintah Kota Padang melihat pudarnya nilai-nilai surau ini dan mencoba melakukan revitalisasi melalui berbagai program keagamaan di tingkat kecamatan. Aktivitas keagamaan berbasis surau dan TPQ di Bunguih Taluak Kabung kini dihidupkan kembali melalui ajang seperti Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat kecamatan guna melahirkan qari, qariah, dan hafiz lokal dari kelurahan-kelurahan setempat. Melalui program seperti Smart Surau, fungsi surau dikembalikan secara bertahap sebagai pusat ketahanan budaya, moral, dan pendidikan karakter anak-anak setempat.
Tokoh ulama berpengaruh di pesisir Bunguih Taluak Kabuang yang merupakan murid sekaligus khalifah utama dari Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi adalah Tuanku Khatib Simpang Tigo (wafat tahun 1961).
Asal Daerah: Beliau merupakan ulama asli dari wilayah pesisir Kota Padang, tepatnya berasal dari Koto Hilalang, Bunguih, Kecamatan Bunguih Taluak Kabuang. Hubungan Silsilah Keilmuan: Beliau merupakan salah satu murid terkemuka (khalifah) langsung dari Syekh Abdurrahman (Syekh Bintungan Tinggi), seorang ulama besar pemegang otoritas [Tarekat Syattariyah dari Nan Sabaris, Padang Pariaman.
Peran dan Pengaruh di Bunguih Taluak Kabuang
Penyebar Tarekat Syattariyah: Sejak akhir abad ke-19, Tuanku Khatib Simpang Tigo membawa dan membumikan ajaran Tarekat Syattariyah ke wilayah pesisir selatan Padang. Berkat dakwah beliau, kawasan Bunguih Taluak Kabuang menjadi salah satu basis kultural jemaah Syattariyah yang sangat kuat hingga saat ini.
Pusat Pendidikan Islam Pesisir: Melalui surau-surau yang dipimpinnya di Bunguih, beliau mengajarkan berbagai lapis ilmu keagamaan tradisional mulai dari fikih, nahwu, sharaf, hingga tasawuf murni. Pengaruh Kultural: Jaringan murid dan jemaah yang dibinanya membuat pengaruh tradisi keislaman pantai (seperti tradisi berziarah, basafa, dan majelis zikir) tetap hidup di tengah masyarakat urban Bunguih Taluak Kabuang, membentengi nilai adat dan syarak setempat.
Selain Tuanku Khatib Simpang Tigo, tokoh ulama Syattariyah lain seperti Tuanku Ali Umar Kiambang juga tercatat ikut memperkuat benteng dakwah dan pengembangan jaringan keilmuan Syattariyah di wilayah Bunguih.
Melanjutkan trah Muaro Tuanku Mudo
Nazir Tuanku Bagindo dikukuhkan jadi tuanku di Surau Gunuang Basi. Selanjutnya, trah Surau Gunuang Basi dilanjutkan oleh Nazir Tuanku Bagindo. Nazir Tuanku Bagindo dikukuhkan jadi tuanku, merasakan sekali tidak apa-apanya. Ilmu terasa belum ada, karena malas mengaji.
Mengaji di Bunguih Taluak Kabuang cuma sekedar pelepas tanya orang kampung. Tapi, panggilan paling datang ke dirinya, ketika pertama mengemban gelar tuanku itu. Panggilan batin, yang dirasakan Nazir Tuanku Bagindo, agar dia melakukan zikir sendiri di pusara ayahnya.
Anehnya, seminggu lamanya, tiap tengah malam beliau berzikir di makam ayahnya itu, tak ada apa-apanya yang dirasakan. Biasa saja, sama seperti kondisi sebelum beliau melakukan hal demikian. Penasaran, karena zikirnya itu tidak mempunyai pengaruh apa-apa, beliau merasa emosi. Seketika, di suatu malam, beliau tanggalkan batu nisan kuburan ayahnya, lalu dibawa ke surau.
Apa yang terjadi! Besok malam, setelah batu nisan itu dicabutnya, datang mimpi. Mimpi beliau terasa dikelilingi oleh ayahnya, Muaro Tuanku Mudo, Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi dan Syekh Ibnu Muttaqin, ayah dari Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi. Mimpi bertemu orang hebat, tokoh ulama penting dan keramat, pasca itu, Nazir Tuanku Bagindo merasa betah dan kuat untuk meneruskan pengajian di Surau Gunuang Basi.
Keluarga
Nazir Tuanku Bagindo wafat di rumah istrinya, di Muaro Kurai Taji, tahun 2012, dimakamkan di Surau Gunuang Basi, komplek makam Muaro Tuanku Mudo, ayahnya sendiri.
Istri pertama Nazir Tuanku Bagindo, Nurena di Pinang Gadang. Pasangan ini dikaruniai empat orang anak, yakni Sisol, Cimto, Sari Buliah, dan Datuak. Sementara, dengan istrinya Hasnah di Bukik, Medan Baiak, lahir satu anak.
Sedangkan dengan istrinya Roana di Kampung Koto, lahir seorang anak, Sudirman namanya. Sedangkan dengan istrinya, Fatimah di Padang Kandang, lahir delapan orang anak, yakni Fatrizal, Marlina, Ridwan Tuanku Bagindo, Marleni, Ridayat, Mulyadi Tuanku Mudo, Muzafar, dan Ramadhanis. Sementara, dengan istrinya Hj. Mawar di Muaro Kurai Taji, lahir 10 anak. Diantaranya, Simar, Yetmawati, Dasril, Ria, Upik, Rahmi, Winda, dan Verdi.
Totalnya, dari lima istri Nazir Tuanku Bagindo, beliau dikaruniai 23 anak. Jadi keluarga besar yang amat sangat luar biasa tentunya. (AD)
Referensi:
1. Wawancara dengan Mulyadi Tuanku Mudo, Jumat 12 Juni 2026 di Jiraik, Kapalo Koto, Kecamatan Nan Sabaris. Mulyadi Tuanku Mudo anak kandung Nazir Tuanku Bagindo, dari ibunya, Fatimah. Kini, Mulyadi pegawai PPPK di KUA Nan Sabaris, penyuluh agama. Mulyadi pernah nyantri di Pondok Pesantren MTI Batang Kabung, tamat mengaji dan diangkat jadi tuanku di Pondok Pesantren Madrasatul 'Ulum Lubuak Pua.
2. [https://id.wikipedia.org](https://id.wikipedia.org/wiki/Surau_Bintungan_Tinggi)
3. [https://www.researchgate.net](https://www.researchgate.net/publication/345011378_Dari_Surau_ke_Madrasah_Modernisasi_Pendidikan_Islam_Di_Minangkabau_1900-1930_M)
