![]() |
Oleh: Duski Samad
Penguji eskternal S3 UNP, Erika Sari, 24062026
Pendidikan karakter merupakan salah satu tujuan utama pendidikan nasional. Sekolah tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk kepribadian, akhlak, dan perilaku peserta didik. Dalam konteks tersebut, pendekatan humanis religius yang bersumber dari nilai-nilai ihsan, tasawuf, dan spiritualitas Islam memiliki relevansi yang sangat kuat untuk diterapkan dalam pembelajaran karakter di Sekolah Dasar (SD).
Masa sekolah dasar merupakan periode emas (golden age) pembentukan karakter. Pada fase ini anak mulai belajar membedakan baik dan buruk, benar dan salah, pantas dan tidak pantas. Karakter yang ditanamkan pada usia dini akan menjadi fondasi kepribadian ketika mereka memasuki usia remaja dan dewasa. Karena itu, pendidikan karakter tidak cukup hanya mengajarkan aturan dan disiplin, tetapi harus menyentuh aspek batin, emosi, dan spiritual peserta didik.
Di sinilah konsep ihsan menjadi sangat penting. Ihsan mengajarkan anak untuk melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya, bukan sekadar karena diperintah guru atau diawasi orang tua, tetapi karena menyadari bahwa Allah selalu melihat setiap perbuatannya. Anak yang memahami nilai ihsan akan belajar jujur meskipun tidak diawasi, disiplin meskipun tidak diperintah, dan membantu teman tanpa mengharapkan pujian.
Dalam praktik pembelajaran SD, nilai ihsan dapat diwujudkan melalui pembiasaan sederhana seperti mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh, menjaga kebersihan kelas, menghormati guru, membantu teman yang kesulitan, dan berkata sopan kepada semua orang. Dengan demikian, ihsan menjadi dasar pembentukan karakter tanggung jawab, kejujuran, kepedulian, dan integritas.
Selain ihsan, tasawuf memberikan kontribusi penting melalui konsep tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Pada tingkat sekolah dasar, tazkiyah tidak diajarkan dalam bentuk teori tasawuf yang rumit, melainkan dalam bentuk pembiasaan akhlak dan pengendalian diri.
Tahap pertama, takhalli, dapat diterjemahkan sebagai upaya menghilangkan perilaku negatif seperti berbohong, mengejek teman, iri hati, marah berlebihan, dan tidak disiplin. Guru berperan membantu anak mengenali perilaku buruk dan membimbing mereka untuk meninggalkannya.
Tahap kedua, tahalli, diwujudkan melalui penanaman sifat-sifat positif seperti jujur, sabar, disiplin, sopan santun, peduli, dan bertanggung jawab. Pada tahap ini guru tidak hanya menjelaskan nilai, tetapi juga memberikan keteladanan dan penguatan positif.
Tahap ketiga, tajalli, tampak ketika nilai-nilai kebaikan telah menjadi kebiasaan dan karakter yang melekat dalam diri peserta didik. Anak melakukan kebaikan secara spontan karena telah menjadi bagian dari kepribadiannya.
Konsep tasawuf ini sangat sejalan dengan teori pendidikan karakter modern yang menekankan proses knowing the good, feeling the good, dan doing the good. Anak tidak hanya mengetahui nilai-nilai kebaikan, tetapi juga mencintai dan membiasakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai berikutnya yang sangat relevan adalah riyadhatun nafs atau latihan jiwa. Dalam pendidikan dasar, riyadhah dapat diwujudkan melalui pembiasaan yang terstruktur dan berulang. Karakter tidak lahir dari ceramah semata, tetapi dari latihan yang terus menerus.
Pembiasaan shalat berjamaah, membaca Al-Qur'an sebelum belajar, berdoa sebelum dan sesudah kegiatan, antre dengan tertib, menjaga kebersihan, dan berbicara sopan merupakan bentuk riyadhah yang melatih pengendalian diri dan kedisiplinan peserta didik.
Melalui pembiasaan tersebut, anak belajar menunda keinginan, mengendalikan emosi, menghargai aturan, dan bertanggung jawab terhadap tugasnya. Kemampuan ini merupakan bagian dari karakter batin yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan modern.
Selanjutnya, konsep taqarrub ilallah atau mendekatkan diri kepada Allah memiliki peran penting dalam membangun kecerdasan spiritual anak. Banyak permasalahan perilaku anak muncul karena pendidikan hanya menekankan aspek kognitif dan mengabaikan aspek spiritual.
Anak yang terbiasa berdoa, berdzikir, bersyukur, dan mengingat Allah akan memiliki ketenangan batin yang lebih baik. Mereka lebih mudah mengendalikan emosi, memiliki rasa aman, serta mampu menghadapi kegagalan dan kesulitan dengan lebih positif.
Dalam pembelajaran karakter, pendekatan spiritual ini membantu membangun karakter religius, sabar, optimis, dan bersyukur. Karakter tersebut merupakan fondasi penting bagi kesehatan mental peserta didik di tengah tantangan era digital yang semakin kompleks.
Konsep suhbah atau kebersamaan dengan orang-orang saleh juga memiliki relevansi yang sangat kuat. Dalam dunia pendidikan, suhbah dapat diterjemahkan sebagai lingkungan belajar yang positif dan keteladanan guru.
Anak-anak belajar lebih banyak melalui contoh daripada nasihat. Karena itu guru harus menjadi model karakter yang ingin dibentuk. Ketika guru menunjukkan kejujuran, kedisiplinan, kesabaran, dan kasih sayang, peserta didik akan lebih mudah menginternalisasi nilai-nilai tersebut.
Prinsip ini sejalan dengan teori pembelajaran sosial yang menyatakan bahwa perilaku manusia banyak dipelajari melalui observasi dan imitasi terhadap figur yang dianggap penting.
Sementara itu, dimensi irfani dan hudhuri dapat diterjemahkan dalam konteks pendidikan dasar sebagai pengembangan kesadaran diri (self-awareness) dan kesadaran spiritual (spiritual awareness). Anak diajak untuk merenungkan perilakunya, memahami perasaannya, serta menyadari hubungan dirinya dengan Allah, sesama manusia, dan lingkungan.
Kegiatan refleksi sederhana setelah pembelajaran, menulis pengalaman baik yang dilakukan setiap hari, atau mengungkapkan rasa syukur atas nikmat Allah merupakan bentuk internalisasi kesadaran spiritual yang sangat efektif bagi anak usia sekolah dasar.
Dari perspektif pendidikan karakter, internalisasi humanis religius menghasilkan sejumlah karakter batin utama yang menjadi tujuan pendidikan dasar.
Nilai Humanis Religius Karakter Batin yang Terbentuk
Ihsan Integritas, tanggung jawab, kepedulian
Takhalli Pengendalian diri, rendah hati
Tahalli Jujur, disiplin, sabar, empati
Riyadhah Ketekunan, konsistensi, kemandirian
Taqarrub Religiusitas, syukur, optimisme
Suhbah Hormat, santun, kerjasama
Irfani Kesadaran diri, reflektif
Hudhuri Ketenangan batin, makna hidup
Pembelajaran karakter di sekolah dasar sesungguhnya dapat diperkaya melalui pendekatan humanis religius berbasis ihsan, tasawuf, dan spiritualitas Islam. Pendekatan ini tidak hanya membentuk perilaku lahiriah peserta didik, tetapi juga membangun karakter batin yang menjadi sumber munculnya perilaku baik.
Karakter yang lahir dari kesadaran batin akan lebih kuat dan bertahan lama dibandingkan karakter yang dibangun hanya melalui aturan dan hukuman. Oleh karena itu, pendidikan karakter yang ideal bukan sekadar mengajarkan apa yang baik, tetapi juga membimbing peserta didik untuk mencintai kebaikan, membiasakan kebaikan, dan menjadikan kebaikan sebagai bagian dari kepribadiannya. Inilah hakikat pendidikan karakter humanis religius dalam perspektif ihsan, tasawuf, dan spiritualitas Islam. Ds.24062026.
