![]() |
| Surau Kuliek, dulu bangunan kayu. Tempat Mekya mengajar dulunya dalam tempo waktu yang cukup panjang. |
MU-ONLINE, Padang Pariaman, -- Surau Kuliek merupakan salah satu surau bersejarah di kawasan Salisikan, Nagari Sungai Buluah, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Surau ini dikenal masyarakat sebagai tempat Tuanku Lunak mengajarkan ilmu agama Islam kepada para murid dan masyarakat pada masanya.
Menurut penuturan masyarakat setempat, bangunan surau yang asli dahulu terbuat dari kayu sebagaimana lazimnya surau-surau tradisional Minangkabau. Seiring perjalanan waktu dan setelah wafatnya Tuanku Lunak, bangunan lama tersebut mengalami kerusakan hingga akhirnya tidak lagi dapat dipertahankan.
Surau yang berdiri saat ini merupakan bangunan baru yang dibangun sebagai penerus dan pelestari keberadaan Surau Kuliek yang lama. Walaupun bentuk fisiknya telah berubah, surau ini tetap menjadi simbol keberlanjutan dakwah, pendidikan agama, dan penghormatan masyarakat terhadap perjuangan serta warisan keilmuan Tuanku Lunak.
Hingga kini, Surau Kuliek tetap dikenang sebagai salah satu jejak sejarah perkembangan pendidikan Islam di kawasan Sungai Buluah, Padang Pariaman.
Mekya Nama Tuanku Lunak
Mekya adalah nama yang diangkut Tuanku Lunak ketika lahir 1909 di Sungai Tareh, Lubuak Pua, Nagari Balah Aie Utara. Tapi nama Mekya tak banyak yang tahu. Bahkan, banyak pula cucunya yang tidak tahu sama sekali, kalau kakeknya itu bernama Mekya.
Meski beliau orang Lubuak Pua, namun kebanyakan masyarakat Lubuak Pua pun tak tahu banyak soal nama asli beliau. Yang diketahui masyarakat banyak adalah Tuanku Lunak. Lebih mashur lagi, beliau terkenal di Sungai Buluah, Kecamatan Batang Anai.
Masa mengajinya, Tuanku Lunak ini dengan Tuanku Bagindo Lubuak Pua. Di kampungnya sendiri. Tapi dilaporkan pula, beliau setelah di Lubuak Pua pindah mengaji ke Surau Ujuang Kubu dengan Syekh Dawamad Ungku Panjang.
Setelah mengaji di Ujuang Kubu atau Perguruan Islam Dinul Ma'ruf, Sungai Durian, beliau menetap di Surau Kuliek, Sungai Buluah. Hampir semua masyarakat di Batang Anai, kenal dan tahu banyak tentang Tuanku Lunak ini.
Mengajar di Surau Kuliek, hampir pula masyarakat yang jadi anak siak pun pernah mengaji dengan Tuanku Lunak ini. Di samping mengajar masyarakat kampung itu, Tuanku Lunak juga menjadikan Surau Kuliek tempat anak siak mengaji. Dari jauh-jauh anak siak yang datang, mengaji dengan Tuanku Lunak ini.
Syattariyah Tarekatnya
Tuanku Lunak terkenal sebagai mursyid Tarekat Syattariyah di Sungai Buluah. Uraian Tarekat Syattariyah menguatkan pada amaliah yang banyak, berujung pada ikhlasan terhadap semua pemberian Tuhan. Kajian Tarekat Syattariyah yang dikembangkan Tuanku Lunak sebagai berikut:
Thawaf: Mengucap kalimah lailahailallah tiga kali, dilakukan pada diri (jagad) pribadi. Caranya memutar kepala, mulai dari bahu kiri. Alat penunjuknya adalah dagu (simbol pena Allah Swt dengan tinta nur Muhammad). Dengan dagu tersebut lalu menggaris dada (mulai dari bahu kiri) menuju bahu kanan, berpusat pada pusar, membentuk Lam Alif dengan mengucap kalimah “Lâ ilâha” (zikir pertama), dengan menahan nafas.
Setelah sampai pada bahu yang kanan lalu menarik nafas, baru mengucapkan (zikir kedua) yaitu kalimah itsbât ‘IllAllah’ yang dipukulkan (oleh dagu) tersebut ke dalam hati sanubari yang letaknya kira-kira dua jari di bawah payudara kiri.
Bahu kanan sebagai tempat menarik nafas ketika hendak mengucap kalimah nafi “illAllah” adalah simbolnya “maqâm firâq”. Simbol pisahnya yang hak dan yang batal. Simbol nafinya dzat, sifat dan af’alnya hamba supaya dapat membuktikan bahwa satu-satunya yang wujud dan yang ada adalah yang diitsbatkan (ditetapkan) dalam hati. Yaitu Diri-Nya Ilahi al-ghaib yang hanya dapat diketahui dari guru wasithah yang berhak dan sah menunjuki.
Maksud dan kandungan makna dari zikir mukaddimah (zikir pertama dan kedua), yang bertempat pada bahu kiri (tempat mulai thawaf) dan bahu kanan (tempat menarik nafas) adalah simbol hamba yang mempunyai keberanian dengan tekad, mantab, meski betapapun berat resiko yang harus ditanggung guna memenuhi amanat ilahi.
Jadi sebagai simbol keberanian memikul amanah dari Allah SWT. yaitu: Sembahlah Tuhanmu hingga datang yaqin (mati). Ayat tersebut mengandung makna supaya menyembah Tuhan yang asma’nya Allah dengan kesungguhan berjihâd an-Nafsi supaya dapat lulus dalam mengikuti watak dan jejak para malaikatul muqarrabin, rela sepenuh hati sujud (memperlakukan diri bagai mayit yang patuh dan taat di hadapan yang berhak dan sah mensucikannya) hingga akan ditarik fadhal dan rahmat-Nya dapat seyakinnya merasakan kehadIran yang disembah itu.
Ketika menjelajahi jagat (menjalani kehidupan dunia sebatas umur masing-masing sebagai ujian dan cobaan ini) supaya dapat lurus harus berani menahan nafas, karena menahan nafas merupakan lambang sesuatu yang amat sangat penting. Agar dapat menjadi hamba-Nya Ratu Adil, karena dapat dimengertikan bagaimana cara mengadili diri sendiri supaya hidupnya tidak ditipu daya, apalagi hingga sampai diperintah dan dijajah oleh hawa nafsu.
Lalu menjadi hamba yang hurriyah tammah. Menjadi hamba yang rasa jiwanya merdeka sejati. Menjadi hamba cahaya-Nya Ilahi di muka bumi. Dijadikan oleh-Nya dapat mengaktualisasikan fitrahnya jati diri.
Karena itulah ketika melakukan zikir istbat (IllAllah), dagu dipukulkan ke arah hati sanubari supaya markas besarnya nafsu lawwamah ini tidak berfungsi (dapat dikendalikan).
Nafi Itsbât: Kalimah Nafi Istbât (kalimah Thoyyibah) yaitu “Lâ Ilâha IllAllah” (dilafalkan secukupnya). Zikir ini dilakukan sebanyak mungkin dengan menghidupkan angan-angan, bahwa semua hal tentang dunia dan apa saja termasuk jiwa raganya, nafi, tidak ada. Dibarengi dengan hati mengintai-intai dirinya Ilahi. Dan apabila masih selalu merasakan ada terhadap apa saja (dan ternyata memang demikianlah yang terjadi), maka segeralah menyadari atas salah dan dosanya sendiri.
Masih banyaknya lakon dan pitukon yang belum dijalani. Masih banyak sekali keteledoran dan masih sangat kurang kesungguhannya dalam ber-jihâd al-nafs. Dengan demikian jiwa dan taubat nasuha-nya terus menghidupi diri. Itulah sebabnya warga Syathariyah apabila melakukan zikir nafi istbat suara yang dikeraskan adalah suara nafi-nya. Sebab begitu mengucap “ill” (yang lengkapnya IllAllah) suara seperti dimasukkan ke dalam yang mempunyai asma’ Allah SWT.
Itsbat Faqad: Zikir ini berupa lafal “illAllah” (diucapkan sebanyak tujuh kali). dipukulkan ke dalam hati nurani dengan alat pemukul dagu. Bermaksud mempertegas bahwa hanya diri-Nya lah Dzat yang Wujud dan yang Ada. Sehingga hati yang menjadi markas besarnya nafsu lawwamah ini benar-benar diam. Tidak akan mengganggu perjalanan dan cita-cita hati nurani, ruh dan rasa dalam tujuan mendekat sehingga sampai ma’rifat kepada-Nya.
Ismu Dzat: Zikir Ism Dzat yaitu “Allah” (diucapkan sebanyak tujuh kali). Arah yang dipukul oleh dagu tepat pada tengah-tengah dada. Mengarah pada ruh yang keberadaannya di dalam hati nurani. Supaya benar-benar disadari dan dipahami bahwa ruh yang menandai adanya hidup dan kehidupan dengan keluar masuknya nafas dalam dada, lalu karena itu wujud jiwa raga mempunyai daya dan kekuatan, ini semua adalah min rûhihi.
Daya dan kekuatan Allah Swt sama sekali bukan bukan daya dan kekuatan nafsu yang terbiasa telah diaku oleh wataknya nafsu. Sebab bila demikian diterus-teruskan sama saja dengan telah berani menjadi hamba yang menyekutukan Tuhannya.
Zikir Taraki: Zikir Taraki yaitu “Allah huwa” (dibaca Alla huw) dibaca sebanyak tujuh kali atau ganjil. Ucapan Allah diambil dari dalam dada, dan “huw” dimasukkan ke dalam Baitul Makmur (markasnya berpikir). Maksudnya supaya markas besarnya berpikir ini selalu dicahayai oleh cahaya Ilahi, sehinga potensi pikir akan benar-benar dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah dunia.
Bagi mengelola garapan dunia yang oleh Allah dicipta tidak sia-sia dan tidak batal ini, namun karena markas berpikir selalu diterangi oleh cahaya-Nya, sama sekali tidak akan ditujukan untuk mengumpulkan harta benda dunia, bersenang-senang, mengumbar hawa nafsu dan syahwat.
Berbangga-bangga dan bermegah-megah dengan kehidupan dunia. Tetapi semata-mata demi untuk subhaanaka. Demi untuk mensucikan Dzat yang Maha Suci. Oleh karena itu, hasil kerja kerasnya semata-mata dijadikan sebagai pancang yang kokoh, guna mensucikan diri supaya dapat sampai selamat dan bahagia bertemu kembali dengan Dzat yang Maha Suci.
Zikir Tanazul: Zikir ini berupa lafad “Huw Allah” (sebanyak tujuh kali). “Huw” diambil dari Baitul Makmur (otak), dan kalimah Allah dimasukkan ke dalam dada. Sebab akhirat itu pintu masukknya ada di dalam dada. Al-taqwa haahuna (tiga kali) sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw yang dituding beliau adalah dadanya. Sehingga akan senantiasa berkesadaran tinggi sebagai insan Cahaya Ilahi, bahwa hidup dan kehidupan dunia dengan segala kewajiban hamba yang dilakukannya adalah merupakan proses nyata terhadap kandungan makna “inna lillaahi wa inna ilaihi rajiuun”
Zikir Ismu Ghaib: Zikir Isim Ghaib yaitu “Huwa” (dibaca huw dengan mulut tertutup, secukupnya). Dengan mata terpejam dan mulut dikatupkan. Yang diarahkan tepat pada tengah-tengah dada menuju ke arah kedalaman Rasa yang telah diisi dengan zikir (ingatnya hati nurani pada al-ghaib, isinya huw).
Zikir huw ini asalnya dari ha’ wawu di dhammah. Yaitu dhamir huwa. Dhamir yang maknanya adalah “sesuatu yang tersimpan di dalam hati tentang ada dan wujud diri-Nya Dzat al-ghaib yang Allah Asma’-Nya. Dan ini adalah makna kandungan firman Allah SWT. dalam Surat al-Ikhlas.
Keistimewaan
Cerita yang didapatkan oleh masyarakat itu, begini. Suatu ketika Tuanku Lunak dan beberapa orang jemaah pergi ke Padang. Dari Pasa Usang, mereka naik kereta. Ke Padang, zaman itu memang lebih banyak naik kereta. Lancar saja. Ada banyak kereta yang lewat dan selalu berhenti di stasiun Pasa Usang. Ada kereta jalur Payakumbuh - Padang, jalur Sawahlunto - Padang pun tetap berhenti di Pasa Usang. Apalagi yang dari jalur Nareh - Padang, juga menjadikan stasiun Pasa Usang untuk berhenti.
Namun, sore ketika hendak balik pulang dari Padang, ketika naik kereta, petugas kereta api menyebut tidak berhenti di Pasa Usang. "Ini keretanya tidak berhenti di Pasa Usang. Kami hanya berhenti di Lubuk Alung," begitu petugas kereta menyebutkan ke Tuanku Lunak dan rombongan.
"Ndak masalah. Kami nanti turun dimana kereta ini berhenti," kata Tuanku Lunak beralasan supaya bisa naik kereta yang akan berangkat itu.
Tiba waktunya, kereta api ini berjalan. Mungkin menuju Kayu Tanam, atau menuju Nareh, Pariaman. Bisa jadi kereta ke Payakumbuh dan Sawahlunto. Tapi, semua kereta jalur itu, pasti lewat Pasa Usang. Dari jalan pelan sampai jalan kereta itu kencang. Namun, tiba di Pasa Usang, secara mendadak saja kereta api ini berhenti. Padahal, sejak dari Padang, petugas kereta sudah mewanti-wanti tidak akan berhenti di Pasa Usang.
Pas berhenti mendadak itulah Tuanku Lunak menyuruh seluruh jemaahnya untuk turun. Pas turun semua rombongan Tuanku Lunak ini, dengan sendirinya kereta api langsung cigin pula menuju Lubuk Alung dan tujuan selanjutnya.
Pasca peristiwa itu, Tuanku Lunak langsung digelari oleh jemaahnya sebagai Tuanku Marem Kereta.
Menurut Wikipedia, Stasiun Pasa Usang memiliki kisah unik sebagai stasiun kayu bersejarah yang selamat dari rentetan perang kemerdekaan, diakui sebagai bagian dari Warisan Dunia UNESCO, serta berhasil "hidup kembali" setelah bertahun-tahun mati suri. Stasiun kelas III yang terletak di Sungai Buluah, Kecamatan Batang Anai, Padang Pariaman ini menyimpan memori kolektif yang kuat bagi masyarakat Sumatera Barat.
Di balik bangunannya yang tenang, stasiun ini menyimpan sejarah perjuangan yang heroik. Pada masa agresi militer pasca-kemerdekaan Republik Indonesia, Stasiun Pasa Usang menjadi saksi peperangan sengit. Stasiun ini bahkan pernah melewati momen mencekam saat terjadi peristiwa penembakan kereta api oleh pasukan tentara NICA (Belanda).
Mayoritas stasiun tua di Indonesia telah dipugar menjadi bangunan beton modern. Uniknya, bangunan utama Stasiun Pasa Usang tetap mempertahankan material kayu aslinya sejak era kolonial Belanda. Meskipun sempat telantar saat nonaktif, struktur kayu stasiun ini terbukti sangat kokoh dan bertahan melewati berbagai pergantian zaman hingga sekarang.
Stasiun Pasa Usang bukan sekadar perhentian kereta lokal biasa, melainkan terdaftar resmi sebagai bagian dari jalur Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto yang diakui oleh UNESCO. Karena nilai sejarahnya yang tinggi, pada tahun 2024 stasiun ini pun resmi ditetapkan sebagai Cagar Budaya Kabupaten guna menjaga kelestarian ceritanya bagi generasi masa depan.
Berdasarkan dokumentasi lawas fotografer asing Frank Stamford pada Agustus 1972, terdapat potret unik di mana sebagian sudut area bangunan kayu stasiun ini sempat dimanfaatkan secara kreatif oleh warga lokal sebagai warung. Fenomena KA Campuran yang berhenti di sana kala itu menyatu dengan hiruk-pikuk kehidupan sosial ekonomi masyarakat setempat.
Setelah bertahun-tahun dinonaktifkan dan jalur pertamanya sempat dicopot karena tidak terpakai, stasiun ini mengalami renovasi besar-besaran. Pada 1 Maret 2023, Stasiun Pasa Usang resmi diaktifkan kembali oleh KAI Divisi Regional II Sumatera Barat.
Kini stasiun tersebut kembali hidup melayani perjalanan kereta api penumpang seperti Pariaman Ekspres dan KA Lembah Anai.
Keluarga
Istri Mekya Tuanku Lunak adalah Hj. Tiahlama, orang Ambuang Kapua Sungai Sariak. Beliau dikaruniai delapan orang putra dan putri, yakni Jasni, Muhammad Zen, Nursyam, Rakiyah, Fatimah, Mahyudin Tuanku Bagindo, Hasan Basri S.Ag, dan H. Abasri. Beliau Tuanku Lunak wafat 1971, dimakamkan di kampungnya, komplek Masjid Raya Sungai Tareh, Nagari Balah Aie Utara. (AD)
Referensi:
1. Makalah Drs. Mal Amri, Biografi Buya H. Mursyid Tuanku Mudo, Ulama dan Guru Panutan yang Disegani di Kenagarian Sungai Buluah, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, 2022
2. Diskusi dengan Abdul Jamal Tuanku Imam, M. Pd dan Labai Jamil, S. Pd, Jumat 29 Mei 2026 dan Ahad 7 Juni 2026 di Sungai Buluah Utara.
3. Wawancara dengan Anwarsyam, Minggu 21 Juni 2026. Anwarsyam adalah cucu dari Mekya Tuanku Lunak. Pernah mengaji di Pondok Pesantren Darul Ulum Padang Magek, kini Anwarsyam tinggal di Bisati Sungai Sariak bersama keluarganya.
4. Wikipedia
