![]() |
| Gobah Ali Umar Tuanku Mudo yang lebih populer dengan Ungku Tangah Padang di Ajuang, Nagari Sungai Sirah Kuranji Hulu, Kecamatan Sungai Geringging. |
MU-ONLINE, Padang Pariaman, -- Di seantero Sungai Geringging, masyarakat lebih mengenal Ungku Tangah Padang. Tak banyak yang tahu nama ulama hebat dan keramat yang bermakam di Durian Ajuang, Nagari Sungai Sirah Kuranji Hulu, Kecamatan Sungai Geringging, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat itu.
Nama Ali Umar Tuanku Mudo
Namanya waktu lahir 1922 diberikan oleh kedua orangtuanya, Ali Umar. Lama mengaji di Pondok Pesantren Luhur Kalampaian Ampalu Tinggi dan Pondok Pesantren Madrasatul 'Ulum Lubuk Pandan, beliau dapat gelar "Tuanku Mudo". Namun, di kemudian hari, Ali Umar Tuanku Mudo ini hilang ditelan gelombang. Saat pulang mengaji, aktif di kampungnya membina anak-anak mengaji, mengaktifkan wirid pengajian umum dan Tarekat Syattariyah, beliau lebih diketahui orang itu adalah Ungku Tangah Padang.
Sentuhan pendidikan Al Quran didapatkannya langsung dari orangtuanya dan di surau-surau yang ada di sekitar kampungnya, Durian Ajuang, kini menjadi Nagari Sungai Sirah Kuranji Hulu.
Sejarah Nagari Sungai Sirah Kuranji Hulu
Secara administratif dan sejarah pemerintahan modern, Nagari Sungai Sirah Kuranji Hulu yang terletak di Kecamatan Sungai Geringging, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, memiliki perjalanan sejarah yang terhitung baru sebagai sebuah nagari mandiri.
1. Sejarah Pemekaran (2011)
Sebelum berdiri sendiri, wilayah ini merupakan bagian dari Nagari Kuranji Hulu. Pada tahun 2011, pemerintah daerah melakukan pemekaran wilayah guna efektivitas pelayanan publik dan percepatan pembangunan. Dari pemekaran Nagari Kuranji Hulu tersebut, lahirlah dua nagari baru, yaitu: Nagari Batu Gadang Kuranji Hulu dan Nagari Sungai Sirah Kuranji Hulu
2. Wilayah Administratif (Korong)
Nama "Sungai Sirah Kuranji Hulu" sendiri diambil dari gabungan nama salah satu korong (kampung) utama di sana serta nama nagari induknya. Berdasarkan data daerah, nagari ini memiliki luas sekitar 35,70 kilometer persegi dan terbagi ke dalam delapan korong, yaitu: Koto Bangko, Sungai Sirah, Bungo Tanjung, Kampung Kaciak, Kubu Alahan Kuranji, Sungai Rantai, Ladang Rimbo Timur, Ladang Rimbo Barat.
3. Sisi Tradisi dan Kebudayaan
Sebagai bagian dari wilayah kultural Minangkabau di Padang Pariaman, masyarakat Nagari Sungai Sirah Kuranji Hulu masih memegang teguh adat istiadat. Salah satu tradisi lokal yang unik dan pernah diteliti secara ilmiah di nagari ini adalah Tradisi Bacaca (etnobotani upacara adat). Tradisi ini merupakan ritual peletakan batu pertama yang dilakukan menggunakan tumbuhan tertentu saat fondasi rumah baru mulai terbentuk, sebagai simbol doa keselamatan dan keberkahan bagi rumah yang akan dibangun.
Di Sumatra Barat terdapat beberapa tempat yang memiliki nama "Sungai Sirah" (misalnya Nagari Sungai Sirah di Silaut, Pesisir Selatan yang punya sejarah era Kesultanan Indrapura). Namun, khusus untuk Sungai Sirah Kuranji Hulu, sejarahnya melekat erat pada sejarah wilayah pituah Kuranji Hulu di Padang Pariaman.
"Anak" Bungsu Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu
Ungku Tangah Padang ini setelah di kampung, pergi mengaji ke Ampalu Tinggi sebagai kelanjutan pendidikannya. Terbilang lama beliau bersama Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu (1868-1950) ini. Sejak dari mengaji dasar, sampai disuruh jadi guru tuo. Bahkan, Ungku Tangah Padang setelah diangkat jadi Tuanku Mudo pun masih mengaji di Ampalu Tinggi.
Disebut sebagai "anak" bungsu Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu, karena setelah tak lama diangkat jadi tuanku, beliau Muhammad Yatim menemui ajalnya. Namun, sebelum wafat, Syekh Muhammad Yatim sempat meninggalkan pesan dan rekomendasi ke Ungku Tangah Padang, untuk meneruskan mengaji ke Lubuk Pandan dengan beliau Syekh Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah (1908-1996).
Mendirikan Surau Lubuak Kicuah
Di Lubuk Pandan, Kecamatan 2X11 Anam Lingkuang, Ungku Tangah Padang disambut baik Buya Lubuk Pandan. Apalagi, yang memberikan rekomendasi itu Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu, tempat dimana Buya Lubuk Pandan mengaji dulunya.
Bersama Ungku Tangah Padang, ternyata kehadiran anak siak dari Sungai Geringging dan sekitarnya tambah banyak. Surau yang ada tak cukup menampung, maka Ungku Tangah Padang mendirikan surau di tepi Sungai Batang Ulakan itu, tepatnya di depan Lubuk Kicuah. Di sekeliling Lubuk Pandan itu banyak surau, ada Surau Kandang Itiak. Ini surau yang dihuni oleh Marjohan Tuanku Khatib Mudo dari Koto Laweh dan Singgalang, Tanah Datar.
Ada pula Surau Lereang, ada juga Surau Lubuak Pauah dan surau lainnya. Anak siak dari darek banyak suraunya, yang dari Padang Pariaman dan sekitarnya pun ada tempat tinggalnya. Jadi, Surau Lubuak Kicuah diprakarsai oleh Ungku Tangah Padang ini. Di surau itulah banyak anak siak dari Sungai Geringging dan sekitarnya yang mengaji dengan Ungku Tangah Padang. Tercatat, di Lubuk Pandan, Ungku Tangah Padang lebih dan kurangnya tiga tahun.
Kenapa dengan Ungku Tangah Padang
Sebelum pulang ke kampungnya Durian Ajuang, kini Nagari Sungai Sirah Kuranji Hulu, Ungku Tangah Padang sempat pindah mengaji ke Kamumuan Sungai Limau, dengan Syekh Bahaudin Ungku Aluih. Tak sempai setahun di Kamumuan, Ungku Tangah Padang pulang kampung, mendirikan Surau Tangah Padang. Di surau yang dibuatnya itulah Ungku Tangah Padang berhabis waktu dengan murid dan jemaah. Mengaji kitab, mingguan kaji tasawuf dan Tarekat Syattariyah, membangun budaya masyarakat berbasiskan agama.
Tatkala Pulo Tuanku Kaciak jadi Tuanku di kampung, maka carano-nya dibuat dua. Kenapa! Satu carano untuk Ungku Kamumuan dan satu lagi untuk Ungku Tangah Padang. Karena, Tuanku Kaciak Pulo lama mengaji dengan beliau Ungku Tangah Padang di Lubuk Padang dan Kamumuan ini.
Lama di Surau Tangah Padang, lekat namanya Ungku Tangah Padang. Orang banyak menyebut demikian. "Kama tu. Minggu ka Ungku Tangah Padang," begitu kira-kira percakapan yang banyak diantara masyarakat Sungai Geringging.
Orang kampung banyak menilai, kalau doa Ungku Tangah Padang sering diijabah oleh Allah SWT. Makanya, banyak masyarakat minta didoakan, minta tahlil, minta kaji.
Orang dulu itu, kalau mau turun ke sawah, minta hari dan bertanya ke Ungku Tangah Padang. Anaknya mau merantau, pun minta doa selamat ke Ungku Tangah Padang. Begitu juga kurang laris dagangannya di rantau, oleh dunsanak di kampung minta tolong ke Ungku Tangah Padang, agar jual belinya lancar dan bertambah di rantau itu.
Hampir semua persoalan masyarakat, Ungku Tangah Padang tempat mengadu. Ya, berwasilah ke Ungku Tangah Padang. Ungku Tangah Padang pun mendoakan, melakukan apa yang menjadi hajat masyarakat, selain dengan doa, adalah lewat zikir. Zikir di keheningan malam, setelah aktivitasnya menghadapi anak siak, atau setelah wirid pengajian dan mingguan kaji tasawuf selesai.
Keluarga
Dengan istrinya Hj. Sarimani, Ungku Tangah Padang dikaruniai tujuh orang putra dan putri, yakni Abuzar, H. Ali Duar Ali Umar Tuanku Mudo, Ali Murni, Ali Zubir, Ali Marzuki, Amaimunah, dan Nur Aysiyah.
Ungku Tangah Padang wafat 1990, dimakamkan di dekat Surau Tangah Padang, surau yang didirikannya. Dibuatkan gobah, sehingga jemaah dan masyarakat yang berziarah bisa ke makamnya di Durian Ajuang, Nagari Sungai Sirah Kuranji Hulu.
Referensi:
1. Diolah dari Wikipedia
2. Wawancara dengan H. Ali Duar Ali Umar Tuanku Mudo, Selasa 9 Juni 2026 di Sungai Geringging, dan Jumat 12 Juni 2026 via telpon. Ali Duar Ali Umar Tuanku Mudo adalah anak kandung Ungku Tangah Padang. Pensiunan Kemenag Padang Pariaman, terakhir menjabat Kepala KUA Kecamatan IV Koto Aur Malintang. Ali Duar Ali Umar Tuanku Mudo pernah mengaji di Lubuk Pandan dan Tarbiyah Koto Tinggi.
3. Wawancara dengan Azwar Tuanku Mudo, Selasa 9 Juni 2026 di Ajuang, Nagari Sungai Sirah Kuranji Hulu.
