Padang Pariaman, -- Meski Muhammad Yatim anak satu-satunya di atas rumah tangga pasangan Alhakam dan Karimah, tak membuat Muhammad Yatim bisa seenaknya berbuat dan bertindak. Sejak awal, ketika masih dalam kandungan, keluarga ini sangat menginginkan anaknya menjadi anak yang saleh, patuh pada orang tua, berguna bagi masyarakat dan umat.
Tandikek (sekarang Nagari Tandikek, Kecamatan Patamuan, Kabupaten Padang Pariaman) pada 1868 berada dalam masa Pemerintahan Kolonial Belanda di Dataran Tinggi Minangkabau.
1800-an, Belanda memperkuat posisinya di pedalaman Minangkabau setelah Perang Padri (berakhir 1837). Tandikek, yang terletak di kaki Gunung Tandikat, termasuk wilayah yang dipantau ketat karena posisinya strategis di jalur menuju wilayah Agam dan Pariaman.
Wilayah ini merupakan area pertanian yang subur di kaki gunung. Pada tahun 1860-an hingga 1870-an, Pemerintah Belanda sedang gencar memaksakan Cultuurstelsel (Sistem Tanam Paksa) atau sistem kopi di wilayah pedalaman Minangkabau, yang kemungkinan besar berdampak pada Tandikek. Tandikek merupakan nagari tradisional yang terorganisir di bawah kepemimpinan adat, yang dalam masa itu berhadapan dengan pengaruh birokrasi kolonial.
Surau Mudiak Padang yang berkali-kali berubah nama, dan saat ini bernama Masjid Raya Syekh Katik Sangko itulah yang menjadi pusat keagamaan dan adat. Masa kanak-kanak dan remaja Muhammad Yatim dihabiskan di surau itu. Siang dan malam, Muhammad Yatim belajar banyak di Surau Mudiak Padang itu. Belajar banyak dengan Malan Tuanku Bandaro.
Mulai dari mengaji alif, ba, ta, sampai bisa mengaji Al-Qur'an dan kitab dasar. Pun mengaji adat dibuka pula di Surau Mudiak Padang. Asyik mengaji, senang mempelajari adat istiadat, perkembangannya, Muhammad Yatim juga diangkut ke ladang dan sawah oleh orang tuanya, Alhakam dan Karimah. Orang tua Muhammad Yatim terkenal bersawah laweh berladang banyak. Hamparan sawah dan ladang di sekeliling Surau Mudiak Padang, merupakan pusako yang dikelola oleh Alhakam dan Karimah.
1870 an, Muhammad Yatim pindah mengaji, dari Mudiak Padang, kampungnya sendiri ke Ampalu. Di sana, Surau Kalampaian Ampalu Tinggi sedang mengajar dan memimpin anak siak, adalah Syekh Talawi. Syekh Talawi memimpin Kalampaian Ampalu Tinggi dari 1841 - 1880, yakni 39 tahun lamanya.
Menurut Na'ali Ibrahim Tuanku Majolelo yang menyusun sejarah Kalampaian Ampalu Tinggi 1977, Syekh Talawi wafat di Makkah saat menunaikan ibadah haji. Beliau meneruskan kepemimpinan Ampalu Tinggi dari Syekh Sunda Katapiang. Pada waktu bersamaan, di Nareh, Pariaman Syekh Talawi ini juga mengajar dan memimpin surau tempat anak siak mengaji.
Tetapi, Buya Syofyan Marzuki Tuanku Bandaro menyebutkan, kalau Syekh Talawi yang mengajar dan memimpin Surau Kalampaian Ampalu Tinggi itu adalah Syekh Timpuah Sakati. "Syekh Talawi ini yang memberikan gelar Tuanku Sutan ke Muhammad Yatim. Beliau pula yang ikut memulai pembangunan Surau Sipinang yang sekarang diberi nama Pondok Pesantren Syekh Muhammad Yatim," katanya.
1870-1880, rentang 10 tahun mengaji di Ampalu Tinggi, Muhammad Yatim terbilang anak siak yang mentereng, punya kecukupan bekal. Sering bolak balik Mudiak Padang - Ampalu Tinggi. "Suatu ketika Muhammad Yatim mau pulang ke Mudiak Padang dari Ampalu. Di Puncuang Anam tampak olehnya guru tuonya, Malan Tuanku Bandaro hendak berjalan ke Mudiak Padang, rumah istrinya. Oleh Muhammad Yatim guru tuonya itu disuruh naik kuda, agar bisa cepat sampai di rumah," kisah Buya Syofyan Marzuki.
"Ambo gamang naik kuda. Biarkan saja ambo bajalan," begitu kira-kira basa-basi antara Muhammad Yatim dengan guru pertamanya, Malan Tuanku Bandaro.
Lantaran sang guru ndak mau diajaknya naik kuda, Muhammad Yatim pun takzim. Beliau memilih pula berjalan berbarengan, sambil meirit kudanya untuk sampai di Mudiak Padang dari Puncuang Anam ini. "Muhammad Yatim terkenal orang yang sangat menghormati guru. Baginya, adab lebih mulia dari ilmu. Ilmu lekat dalam diri, karena ketinggian adab," ulas Buya Syofyan Marzuki Tuanku Bandaro.
Referensi:
1. Wawancara dengan Buya Syofyan Marzuki Tuanku Bandaro, Kamis 21 April 2026 di Puncuang Anam, Tandikek Selatan
2. Catatan Sejarah Kalampaian Ampalu Tinggi, ditulis Na'ali Ibrahim Tuanku Majolelo 1977.
