![]() |
Oleh: Duski Samad
Khutbah Jum'at Masjid Al Aulia Kantor Gubernur Sumatera Barat
Di tengah dunia yang bergerak sangat cepat, manusia modern sesungguhnya sedang menghadapi kegelisahan besar yang sering tidak terlihat. Teknologi berkembang luar biasa, informasi mengalir tanpa batas, kecerdasan buatan mulai menggantikan banyak pekerjaan manusia, tetapi pada saat yang sama ketenangan jiwa semakin sulit ditemukan.
Manusia hari ini hidup dalam kemudahan, tetapi tidak selalu hidup dalam kebahagiaan. Banyak orang memiliki jabatan tinggi, rumah megah, dan penghasilan besar, tetapi kehilangan rasa damai dalam dirinya. Tidak sedikit yang terlihat tersenyum di ruang publik, namun diam-diam memikul kecemasan, stres, dan kesepian yang mendalam.
Dunia modern melahirkan manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi sering rapuh secara spiritual.
Karena itu, umat hari ini sesungguhnya tidak hanya membutuhkan sekolah yang mengajarkan ilmu pengetahuan dan keterampilan hidup, tetapi juga membutuhkan “sekolah spiritual”—tempat manusia belajar memahami dirinya, membersihkan hatinya, dan mendekatkan hidupnya kepada Allah SWT.
Sekolah spiritual bukan sekadar gedung atau lembaga formal. Ia adalah proses pendidikan jiwa. Tempat manusia dilatih bukan hanya untuk berpikir benar, tetapi juga untuk hidup benar.
Jika pendidikan modern banyak membentuk kecerdasan otak, maka sekolah spiritual membentuk kecerdasan hati.
Dalam tradisi Islam, sekolah spiritual sebenarnya bukan hal baru. Surau, pesantren, halaqah zikir, majelis ilmu, dan pendidikan akhlak para ulama sejak dahulu adalah bentuk nyata sekolah spiritual. Di tempat-tempat itu manusia tidak hanya diajarkan membaca kitab, tetapi juga diajarkan membersihkan hati, mengendalikan nafsu, menghormati sesama, dan merasakan kehadiran Allah dalam hidupnya.
Karena itu para ulama dahulu tidak hanya melahirkan orang pintar, tetapi melahirkan manusia yang teduh jiwanya dan mulia akhlaknya.
Al-Qur’an sendiri menjelaskan bahwa salah satu misi terbesar Rasulullah SAW adalah menyucikan jiwa manusia.
Pendidikan dalam Islam bukan hanya transfer ilmu, tetapi juga proses tazkiyah—penyucian jiwa.
Hari ini manusia mengalami banyak kemajuan, tetapi juga menghadapi banyak luka batin. Stres meningkat. Depresi menjadi fenomena global. Ketergantungan digital merusak konsentrasi dan relasi sosial. Budaya hedonisme menjadikan manusia mengejar kesenangan tanpa batas. Kehidupan diukur oleh materi, popularitas, dan pencitraan.
Akibatnya, banyak manusia kehilangan makna hidup.
Di sinilah sekolah spiritual menjadi sangat penting. Ia hadir bukan untuk menjauhkan manusia dari dunia, tetapi untuk mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara akal dan hati, antara kemajuan dan moralitas.
Sekolah spiritual mengajarkan bahwa manusia bukan sekadar makhluk ekonomi dan biologis. Manusia adalah makhluk ruhani yang membutuhkan ketenangan, cinta, makna, dan hubungan dengan Tuhannya.
Dalam perspektif tasawuf, sekolah spiritual adalah proses membersihkan hati dari sifat-sifat buruk seperti sombong, iri, dengki, rakus, dan cinta dunia berlebihan. Setelah hati dibersihkan, manusia dihiasi dengan sifat-sifat mulia seperti ikhlas, sabar, syukur, kasih sayang, amanah, dan kepedulian sosial.
Dari sanalah lahir manusia yang tenang jiwanya dan lembut perilakunya.
Karena itu sekolah spiritual bukan sekadar pendidikan agama formal, tetapi pendidikan kehidupan.
Ia mengajarkan manusia bagaimana menghadapi penderitaan dengan sabar, menghadapi keberhasilan dengan syukur, menghadapi kekuasaan dengan amanah, dan menghadapi perbedaan dengan kasih sayang.
Dalam konteks inilah ibadah qurban sesungguhnya menjadi salah satu bentuk sekolah spiritual terbesar dalam Islam.
Qurban bukan sekadar menyembelih hewan. Ia adalah latihan mengalahkan ego dan keserakahan. Qurban mendidik manusia untuk rela berbagi, rela berkorban, dan rela melepaskan sesuatu yang dicintainya demi Allah SWT.
Ketika manusia modern semakin individualistik dan konsumtif, qurban justru mengajarkan empati sosial dan ketundukan spiritual.
Maka sesungguhnya yang disembelih dalam qurban bukan hanya hewan, tetapi juga kesombongan, kerakusan, dan hawa nafsu manusia.
Hari ini dunia tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi membutuhkan manusia yang sehat jiwanya, bersih hatinya, dan kuat moralnya.
Peradaban besar tidak lahir hanya dari kecanggihan teknologi, tetapi dari manusia- manusia yang memiliki nurani.
Karena itu, sekolah spiritual menjadi sangat mendesak di tengah dunia modern yang semakin gaduh dan kehilangan arah.
Manusia perlu kembali belajar tentang makna hidup, tentang ketenangan hati, tentang pentingnya akhlak, dan tentang hubungan dengan Allah SWT.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan kemajuan dunia, tetapi juga kedamaian jiwa. “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Sekolah spiritual pada akhirnya adalah jalan untuk melahirkan manusia yang: cerdas pikirannya,
sehat jiwanya, lembut hatinya, dan mulia akhlaknya. Dan dari manusia-manusia seperti itulah peradaban yang bermartabat akan dibangun.
QURBAN MENYELEMATKN
MANUSIA MODEREN
Di tengah dunia yang semakin maju secara teknologi, manusia justru menghadapi krisis yang semakin dalam: krisis spiritual. Kecerdasan buatan berkembang pesat, media digital menguasai kehidupan, ekonomi tumbuh dengan angka- angka besar, tetapi ketenangan jiwa semakin langka. Manusia modern mampu menjelajah ruang angkasa, tetapi gagal memahami kekosongan batinnya sendiri.
Hari ini banyak orang sukses secara material, tetapi rapuh secara mental. Banyak yang terlihat bahagia di media sosial, tetapi diam-diam tenggelam dalam kecemasan, depresi, kesepian, dan kehilangan arah hidup. Dunia modern menghasilkan kemajuan, tetapi juga melahirkan manusia yang lelah secara ruhani.
Di sinilah urgensi menghadirkan kembali apa yang dapat disebut sebagai “sekolah spiritual”—ruang pendidikan jiwa untuk membentuk manusia bertakwa, berakhlak, dan memiliki makna hidup. Dalam Islam, salah satu sekolah spiritual terbesar itu bernama qurban.
Qurban bukan sekadar ritual tahunan menyembelih hewan pada hari raya Idul Adha. Ia adalah pendidikan ketakwaan, terapi sosial, dan latihan pengorbanan yang diwariskan para nabi. Qurban mengajarkan manusia bagaimana mengendalikan ego, mengalahkan keserakahan, dan membangun kepedulian terhadap sesama.
Allah SWT menegaskan: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini menegaskan bahwa inti qurban bukan terletak pada darah atau dagingnya, melainkan pada kualitas hati manusia. Qurban adalah soal ketakwaan.
Dalam konteks itulah qurban menjadi sangat relevan bagi dunia modern yang sedang mengalami krisis moral dan spiritual.
Kita hidup di zaman ketika hedonisme dianggap gaya hidup. Kekayaan menjadi ukuran kehormatan. Popularitas dianggap lebih penting daripada integritas. Teknologi berkembang sangat cepat, tetapi nurani manusia sering tertinggal jauh di belakangnya.
Akibatnya lahirlah berbagai problem sosial:
kerakusan ekonomi,
korupsi, kekerasan, rusaknya lingkungan,
kehancuran keluarga, budaya pamer,
dan hilangnya empati sosial.
Manusia modern semakin terkoneksi secara digital, tetapi semakin jauh secara emosional dan spiritual.
Qurban hadir untuk melawan semua itu.
Kisah Habil dan Qabil dalam Al-Qur’an adalah pelajaran awal tentang makna qurban. Habil memberikan yang terbaik sebagai bentuk cinta kepada Allah, sedangkan Qabil memberikan sekadar formalitas. Allah menerima qurban Habil karena keikhlasan dan ketakwaannya.
Di sinilah letak persoalan manusia modern: banyak yang menjalankan agama sebagai simbol, tetapi kehilangan ruh pengorbanan. Banyak yang ingin terlihat saleh, tetapi enggan kehilangan kenyamanan dan kepentingannya sendiri.
Qurban sesungguhnya mengajarkan keberanian untuk melepaskan ego.
Pelajaran lebih besar tampak dalam kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Ibrahim diuji bukan sekadar untuk menyembelih anaknya, tetapi diuji tentang loyalitas tertinggi dalam hidupnya: apakah cinta kepada Allah benar-benar berada di atas segalanya?
Di era sekarang, manusia sering “menyembah” banyak hal: uang, jabatan, popularitas, kekuasaan, bahkan citra digitalnya sendiri.
Karena itu qurban sejatinya bukan hanya menyembelih hewan, tetapi menyembelih kesombongan, kerakusan, dan hawa nafsu yang menguasai manusia.
Qurban revolusi spiritual.
Yang menarik, Islam tidak memisahkan antara ibadah ritual dan tanggung jawab sosial. Qurban memang ibadah mahdhah—ibadah yang langsung berkaitan dengan Allah dan diatur secara syariat. Tetapi pada saat yang sama, qurban juga merupakan ibadah sosial.
Daging qurban dibagikan kepada fakir miskin, tetangga, dan masyarakat yang membutuhkan. Ada nilai solidaritas, keadilan, dan pemerataan di dalamnya.
Di sinilah Islam menghadirkan keseimbangan: hubungan dengan Allah melahirkan kepedulian kepada manusia.
Karena itu, qurban bukan sekadar urusan pribadi, tetapi juga proyek kemanusiaan.
Di tengah meningkatnya individualisme dan budaya “aku”, qurban mendidik manusia untuk berbagi. Di tengah kerakusan ekonomi, qurban mengajarkan keikhlasan memberi. Di tengah dunia yang semakin keras, qurban melatih kelembutan hati.
Tasawuf bahkan memandang qurban sebagai bagian dari proses tazkiyah al-nafs—penyucian jiwa.
Manusia modern hari ini bukan hanya sakit secara fisik, tetapi juga sakit secara ruhani. Banyak yang kehilangan ketenangan meskipun hidup berkecukupan. Banyak yang mengalami stres dan kecemasan karena hidup kehilangan makna.
Qurban mengajarkan terapi spiritual: membersihkan hati dari sifat rakus, melatih syukur, membangun empati, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Karena itu, qurban sejatinya adalah sekolah spiritual untuk memperbaiki manusia dan peradaban.
Peradaban tidak akan runtuh hanya karena lemahnya ekonomi atau teknologi. Banyak bangsa hancur justru karena kehilangan moral, akhlak, dan nurani.
Hari ini umat tidak cukup hanya membangun infrastruktur fisik. Yang lebih mendesak adalah membangun infrastruktur ruhani.
Qurban mengingatkan bahwa manusia besar bukanlah manusia yang paling kaya, paling terkenal, atau paling berkuasa, tetapi manusia yang paling bertakwa dan paling bermanfaat bagi sesama.“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Karena itu Idul Adha tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia harus menjadi momentum kebangkitan spiritual umat.
Qurban harus melahirkan manusia yang: kuat imannya, sehat jiwanya, lembut hatinya, dan tinggi kepedulian sosialnya.
Sebab dunia modern tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual, tetapi juga manusia-manusia yang memiliki hati, nurani, dan ketakwaan.
