![]() |
Oleh: Duski Samad
Kajian Zohor Masjid Agung Nurul Iman, Selasa, 12 Mei 2026
Setiap 10 sampai 13 Zulhijjah tiap tahunnya umat Islam melakukan ibadah sunat mu'akadah berqurban. Qurban bukan sekadar ritual tahunan penyembelihan hewan. Qurban adalah pendidikan spiritual dan sosial yang sangat mendalam. Di balik ibadah itu tersimpan pesan besar tentang taqwa, loyalitas, kecerdasan ruhani, dan kepedulian kemanusiaan.
Karena itu Al-Qur’an menegaskan: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini menunjukkan bahwa esensi qurban bukan pada besarnya hewan, mahalnya harga, atau kemeriahan ritual, tetapi kualitas hati dan tingkat ketakwaan manusia.
Di tengah dunia modern yang semakin materialistik, qurban sesungguhnya adalah terapi spiritual agar manusia tidak diperbudak dunia. Hari ini banyak manusia mengejar kekayaan tanpa batas, memburu popularitas, dan mengukur kesuksesan hanya dengan materi. Akibatnya lahirlah kerakusan, kesenjangan sosial, dan hilangnya empati kemanusiaan.
Dalam konteks inilah qurban menjadi sangat relevan.
Kisah qurban Habil dan Qabil misalnya, bukan sekadar cerita dua anak Nabi Adam, tetapi simbol dua karakter manusia sepanjang zaman. Habil memberikan qurban terbaik dari ternaknya, sedangkan Qabil memberikan hasil pertanian yang buruk dan tidak bernilai.
Allah menerima qurban Habil karena lahir dari hati yang ikhlas dan bertaqwa. “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.”(QS. Al-Ma’idah: 27)
Di sinilah qurban menjadi simbol kecerdasan spiritual. Orang cerdas bukan hanya yang tinggi ilmu dan gelarnya, tetapi yang mampu memahami pesan ilahi, mengendalikan ego, dan memberikan yang terbaik untuk Allah.
Sebaliknya, Qabil menjadi simbol manusia yang kalah oleh iri hati, keserakahan, dan hawa nafsu. Fenomena itu masih sangat nyata hari ini. Banyak konflik, korupsi, manipulasi, dan perebutan kekuasaan lahir karena manusia gagal mengendalikan nafsunya.
Qurban juga mengajarkan loyalitas melalui kisah Nabi Ibrahim AS.
Ketika diperintahkan mengorbankan Ismail, Nabi Ibrahim menunjukkan kepatuhan dan loyalitas total kepada Allah. Ini bukan sekadar kisah pengorbanan seorang ayah, tetapi simbol kemenangan iman atas ego dan kepentingan dunia.
Di era modern, manusia sering lebih loyal kepada:
jabatan, uang, kelompok,dan kepentingan pribadi, daripada kepada nilai kebenaran dan moralitas.
Padahal qurban Ibrahim mengajarkan bahwa taqwa memerlukan: keberanian, kesetiaan, dan pengorbanan.
Loyalitas kepada Allah harus berada di atas loyalitas kepada hawa nafsu dan kepentingan duniawi.
Selain itu, qurban umat Islam hari ini juga menjadi simbol syukur dan solidaritas sosial. Orang yang berqurban sedang belajar bahwa harta bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi harus menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Karena itu qurban memiliki dimensi: spiritual, sosial,
dan kemanusiaan. Di tengah meningkatnya individualisme dan budaya hidup konsumtif, qurban menjadi pendidikan agar manusia tidak kehilangan rasa peduli kepada sesama.
Qurban mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga tentang memberi.
Pada akhirnya, qurban cerdas adalah qurban yang melahirkan:taqwa, loyalitas kepada Allah, dan kepedulian sosial.
Sebab yang sampai kepada Allah bukan darah dan daging hewan qurban, tetapi hati yang ikhlas dan jiwa yang bertaqwa.ds
