![]() |
Oleh: Duski Samad
Workshop PPMTI Batang Kabung 25052026 di Balaikota Padang
Perubahan zaman bergerak sangat cepat. Revolusi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), media sosial, dan teknologi komunikasi telah mengubah cara manusia belajar, berpikir, berinteraksi, bahkan memahami kehidupan.
Dunia pendidikan ikut mengalami perubahan besar.
Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu. Anak-anak didik hari ini dapat memperoleh informasi hanya melalui telepon genggam di tangan mereka. Pengetahuan hadir dalam hitungan detik. Namun di balik kemajuan itu muncul pertanyaan besar:
Apakah pendidikan masih berhasil membentuk manusia yang berakhlak mulia?
Di sinilah pentingnya pendidikan berbasis ketarbiyahan yang reflektif, empatik, dan adaptif.
Pendidikan tidak boleh hanya melahirkan generasi cerdas secara teknologi, tetapi lemah moral, miskin empati, dan kehilangan arah kehidupan. Pendidikan harus tetap menjadi proses memanusiakan manusia.
Karena itu pendidikan era AI harus dibangun di atas tiga kekuatan utama: reflektif, empatik, dan adaptif.
Pendidikan reflektif berarti pendidikan yang selalu melakukan evaluasi diri terhadap proses belajar. Guru, lembaga pendidikan, dan seluruh sistem pembelajaran harus terus bertanya: apakah pendidikan telah melahirkan kejujuran, apakah ilmu mendekatkan manusia kepada akhlak, apakah peserta didik semakin bertanggung jawab, dan apakah proses belajar menghadirkan makna kehidupan.
Dalam tradisi ketarbiyahan, guru bukan sekadar pengajar, tetapi murabbi yang membina jiwa, akhlak, dan karakter.
Karena itu guru mesti terus melakukan pengembangan diri.
Perubahan zaman tidak boleh membuat guru berhenti belajar. Guru hari ini dituntut: menguasai teknologi pembelajaran, memahami psikologi generasi digital, memperkuat literasi digital, meningkatkan profesionalisme, dan tetap menjaga integritas moral.
Kementerian Agama melalui penguatan profesionalisme dan digitalisasi pendidikan telah menunjukkan bahwa dunia pendidikan Islam harus mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan ruh dan nilai dasarnya.
Digitalisasi bukan ancaman jika diarahkan dengan hikmah dan akhlak.
Namun pendidikan tidak cukup hanya reflektif. Pendidikan juga harus empatik.
Hari ini anak-anak hidup dalam situasi yang sangat kompleks. Mereka tumbuh di era digital yang penuh dinamika, perubahan cepat, dan tekanan psikologis.
Tidak sedikit anak didik menghadapi: problema keluarga, tekanan ekonomi, krisis perhatian, kecanduan media sosial, tekanan pergaulan virtual, hingga kegelisahan mental yang sering tersembunyi.
Sebagian kehilangan ruang dialog dalam keluarga. Sebagian tumbuh dalam suasana ekonomi yang sulit. Sebagian lagi mengalami tekanan sosial akibat budaya digital yang serba cepat dan kompetitif.
Akibatnya banyak anak kehilangan ketenangan, mudah cemas, sulit fokus, bahkan mengalami krisis identitas.
Karena itu guru tidak boleh hanya menjadi pengajar materi pelajaran. Guru harus menjadi: pendengar yang baik, pembimbing moral, teladan akhlak, dan figur yang menghadirkan rasa aman bagi peserta didik.
Pendidikan yang empatik adalah pendidikan yang jujur dan manusiawi.
Ia tidak hanya mengejar nilai akademik, tetapi berusaha membentuk manusia yang baik (good man), berakhlak, dan memiliki kepedulian sosial.
Di tengah dunia digital yang sering melahirkan individualisme dan krisis empati, pendidikan empatik menjadi benteng kemanusiaan.
Selanjutnya pendidikan harus adaptif.
Adaptif bukan berarti mengikuti semua arus zaman tanpa filter, tetapi kemampuan membaca perubahan secara cerdas sambil tetap menjaga nilai dasar agama, budaya, dan akhlak.
Era AI menuntut lembaga pendidikan mampu: memanfaatkan teknologi, mengembangkan inovasi pembelajaran,memperkuat kreativitas, dan membangun kemampuan berpikir kritis peserta didik.
Namun adaptif juga berarti mampu menjaga harmoni sosial dan kebangsaan.
Karena itu moderasi beragama menjadi sangat penting dalam pendidikan masa kini.
Moderasi beragama bukan melemahkan aqidah, tetapi membangun sikap bijak, toleran, dan damai dalam kehidupan bersama.
Pendidikan yang moderat akan mencegah konflik sosial dan agama, memperkuat persatuan bangsa, serta melahirkan generasi yang: kuat keyakinannya, santun akhlaknya, terbuka pikirannya, dan mampu hidup berdampingan secara damai.
Tujuan akhir pendidikan sesungguhnya bukan sekadar melahirkan manusia pintar, tetapi manusia berakhlak mulia.
Ilmu tanpa akhlak akan melahirkan kerusakan.
Teknologi tanpa moral akan menghadirkan krisis kemanusiaan.
Karena itu pendidikan berbasis ketarbiyahan harus tetap menjadikan akhlak sebagai orientasi utama.
Sebagaimana misi besar Rasulullah SAW " Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Maka pendidikan reflektif, empatik, dan adaptif di era AI adalah ikhtiar membangun generasi yang: cerdas secara intelektual, matang secara emosional, kuat secara spiritual, dan mulia secara moral.
Inilah pendidikan yang berdampak: pendidikan yang bukan hanya mencerdaskan otak, tetapi juga menyalakan hati dan menjaga peradaban manusia.
