![]() |
Oleh: Duski Samad
Mubaligh sejak 1980
Kita sedang hidup dalam era yang oleh para ilmuwan sosial disebut era VUCA: Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity — zaman yang penuh gejolak, ketidakpastian, kerumitan, dan kaburnya batas antara kebenaran dan kepalsuan.
Dalam situasi seperti ini, umat membutuhkan lebih dari sekadar penceramah. Umat memerlukan penggerak, pembimbing, dan penjernih kehidupan sosial.
Sebab hari ini manusia tidak hanya menghadapi krisis ekonomi atau politik, tetapi juga krisis makna, krisis akhlak, dan krisis kepercayaan.
Media sosial yang mestinya menjadi sarana silaturahim dan edukasi berubah menjadi arena pembohongan massal. Hoaks diproduksi setiap detik. Fitnah menyebar lebih cepat daripada klarifikasi. Kebencian dipelihara demi klik dan keuntungan algoritma.
Kebenaran sering kalah oleh sensasi.
Orang yang paling gaduh dianggap paling benar.
Yang paling kasar dianggap paling berani.
Yang paling viral dianggap paling pintar.
Di tengah situasi itu, umat memerlukan figur yang mampu menjaga akal sehat dan kejernihan nurani.
Tidak cukup hanya pandai berbicara agama. Penggerak umat harus memiliki integritas moral, keberanian sosial, dan kedalaman spiritual.
Sebab tantangan umat hari ini semakin berat.
Di satu sisi ada kezaliman kekuasaan yang kadang mengabaikan suara rakyat kecil. Kekuasaan yang mestinya melindungi justru bisa berubah menjadi alat kepentingan kelompok dan oligarki.
Di sisi lain ada kerakusan ekonomi yang menjadikan manusia sekadar objek pasar. Pengusaha yang kehilangan etika tidak lagi melihat manusia sebagai sesama, tetapi hanya angka keuntungan.
Yang kaya semakin rakus.
Yang lemah semakin terdesak.
Tanah dirampas.
Lingkungan dirusak.
Rakyat kecil kehilangan ruang hidup.
Dalam situasi seperti itu, diamnya kaum intelektual, ulama, dan tokoh masyarakat justru menjadi bagian dari masalah.
Karena itu dakwah masa kini tidak boleh hanya berhenti pada ritual individual, tetapi harus hadir membela nilai keadilan, kejujuran, kemanusiaan, dan keberpihakan kepada kaum lemah.
Allah SWT menegaskan:
> “Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)
Al-Qur’an juga menegaskan identitas ideal umat Islam sebagai khaira ummah — umat terbaik:
> “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”
(QS. Ali Imran: 110)
Ayat ini menunjukkan bahwa predikat umat terbaik bukan diberikan karena simbol keagamaan semata, tetapi karena keberanian moral menegakkan kebaikan dan melawan kemungkaran sosial.
Umat terbaik adalah umat yang hadir membawa solusi, bukan memperbesar konflik. Menghadirkan rahmat, bukan kebencian.
Selain itu, Islam juga menempatkan umat ini sebagai ummatan wasathan — umat moderat, adil, dan seimbang:
> “Dan demikian pula Kami jadikan kamu umat pertengahan…”
(QS. Al-Baqarah: 143)
Moderasi dalam Islam bukan berarti lemah prinsip, tetapi kemampuan menjaga keseimbangan antara agama dan kemanusiaan, antara ketegasan dan kasih sayang, antara spiritualitas dan realitas sosial.
Karena itu penggerak umat tidak boleh terjebak ekstremisme kebencian ataupun liberalisme tanpa batas. Dakwah harus menghadirkan jalan tengah yang berkeadaban.
Al-Qur’an juga menegaskan bahwa keberagaman manusia adalah sunnatullah:
> “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, lalu menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal (ta’aruf).”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini menjadi fondasi penting bagi kehidupan kebangsaan dan kemanusiaan. Perbedaan bukan alasan saling menghina, tetapi jalan membangun dialog, penghormatan, dan kerja sama.
Karena itu dakwah di era digital tidak boleh menjadi alat memecah belah bangsa dengan fitnah, ujaran kebencian, dan propaganda identitas.
Penggerak umat di era VUCA harus menyiapkan beberapa kekuatan penting.
Pertama, kekuatan ilmu.
Era digital melahirkan banjir informasi tetapi miskin verifikasi. Maka umat membutuhkan tokoh yang mampu menjelaskan persoalan secara jernih, ilmiah, dan menenangkan.
Kedua, kekuatan ruhani.
Manusia modern mengalami kelelahan jiwa. Banyak yang kaya tetapi gelisah. Banyak yang terkenal tetapi kesepian. Maka dakwah harus menghadirkan ketenangan, zikir, akhlak, dan makna hidup.
Ketiga, kekuatan moral dan keberanian sosial.
Penggerak umat tidak boleh takut menyampaikan kebenaran. Ulama dan intelektual tidak boleh menjadi tukang stempel kekuasaan atau budak oligarki ekonomi.
Keempat, kekuatan digital dan komunikasi.
Jika ruang digital dikuasai pembohong, provokator, dan penebar kebencian, maka umat akan kehilangan arah. Karena itu orang-orang baik harus masuk ke ruang digital dengan ilmu, akhlak, dan narasi pencerahan.
Hari ini umat membutuhkan dakwah yang mencerahkan, bukan memecah-belah. Membimbing, bukan memprovokasi. Menyatukan, bukan mengadu domba.
Penggerak umat masa depan bukan hanya mereka yang pandai berceramah, tetapi mereka yang mampu menjadi teladan akhlak, penjaga nurani publik, pembela rakyat kecil, dan penghubung nilai agama dengan persoalan nyata kehidupan.
Sebab boleh jadi tantangan terbesar umat hari ini bukan kekurangan masjid, bukan kekurangan ceramah, tetapi kekurangan keteladanan.
Karena itu, siapa pun yang hari ini terpanggil menjadi penggerak umat, siapkan diri.
Kuatkan ilmu.
Jernihkan hati.
Latih keberanian.
Kuasai teknologi.
Jaga integritas.
Sebab kapal besar bernama peradaban sedang melewati badai besar.
Dan umat memerlukan nahkoda yang tidak mabuk oleh kekuasaan, tidak silau oleh uang, dan tidak hanyut oleh algoritma. Ds
