![]() |
| Tim Balai Pelestarian Budaya Sumatera Barat sedang di komplek makam Syekh Oesman Kalampaian Ampalu Tinggi, Jumat 22 Mei 2026. |
Padang Pariaman, -- Sejak mulai didirikan pondok oleh Syekh Oesman bersama niniak mamak Ampalu Tinggi, 82 tahun lamanya dari 1687-1767, pondok itu terbilang tahan. Tak pernah diperbaharui. Buatan orang lama itu luar biasa kuat dan kokoh.
Hanya sebuah pondok di pinggir Sungai Batang Mangoi, dekat pohon kayu Kalampaian. Belum bernama surau. Pondok itu kelak bernama Surau Kalampaian, tentunya setelah berubah dan ditambah bangunannya.
Perubahan pertama setelah Syekh Oesman wafat 1767. 62 anak siak yang mengaji semasa pondok Syekh Oesman ini, jumlahnya bertambah, maka pondok ditingkatkan menjadi surau yang lebih besar. Syekh Labai, putra dari Syekh Oesman yang melanjutkan kepemimpinan pondok, lalu berubah nama menjadi Surau Kalampaian.
Sejarah Surau Kalampaian 1977 mencatat, bahwa 62 anak yang mengaji dengan Syekh Oesman itu, ditulis nama Syekh Amrullah, kakek Buya Hamka yang juga mashur dengan Tuanku Kisai. Sejarah mencatat pula, kalau Syekh Amrullah lahir 1840. Sementara, Syekh Oesman 1767 sudah meninggal. Sepertinya, catatan sejarah Surau Kalampaian ini perlu dikaji ulang.
Kemudian juga tercatat nama Syekh Sungai Rotan. Siapa Syekh Sungai Rotan? Kalau yang sezaman dengan Syekh Amrullah adalah Syekh Muqaddam. Syekh Muqaddam lahir 1842, pun sangat tidak mungkin dia berguru ke Syekh Oesman. Dalam jumlah anak siak itu juga tersebut nama Syekh Santok dan Syekh Paraman Talang, Tandikek Mudiak Padang.
Masa awal dan perdana kepemimpinan di Kalampaian Ampalu Tinggi, 1687-1767, yakni 82 tahun lamanya Syekh Oesman mengasuh dan memimpin pondok itu, tercatat anak siak yang mengaji sebanyak 62 orang.
Masjid Raya Balah Aie
1687 itu, VII Koto masih tujuh nagari. Yakni, Sungai Sariak, Sungai Durian, Tandikek, Batukalang, Koto Baru, Koto Dalam, yang ketujuh Ampalu.
Balah Aie dan Ampalu Tinggi masuk dalam Nagari Ampalu. Surau Kalampaian Ampalu Tinggi dan Masjid Raya Balah Aie sama-sama hadir ke permukaan, enam tahun menjelang wafatnya Syekh Burhanuddin.
Masa awal berdiri, tersebut dalam maklumat, bahwa Masjid Raya Balah Aie yang punya empat suku yang ada di Lubuak Pua. Yakni Suku Panyalai, Piliang, Jambak dan Sikumbang.
Syekh Oesman adalah orang Panyalai Lubuak Pua. Beliau ini baru pulang mengaji dari darek, dengan Syekh Pamansiangan. Sedang memulai pembangunan pondok di Ampalu Tinggi, dimulai pula pembuatan masjid di Lubuak Pua. Jamak antara Ampalu Tinggi dan Lubuak Pua, bahwa batu pertama Masjid Raya Balah Aie diletakkan oleh Syekh Burhanuddin.
Di kemudian hari, Masjid Raya Balah Aie tersebut sebagai Bimba nan salapan, ampu syarak kedua setelah Surau Gadang Ampalu. Sejarah menyebutkan, Bimba ini adalah tonggak tuo Ungku Khadi VII Koto.
"Di VII Koto ditemukan delapan yang bahasa kampungnya salapan Bimba. Satu dari yang delapan terletak di Lubuak Pua. Dan itu pula rentetan ceritanya, kalau Lubuak Pua dijadikan "Ampu Syarak" Balah Aie.
Disebut Bimba nan salapan, adalah Guguak, Barangan. Rambai Pungguang Ladiang. Lubuak Pua, Kampuang Paneh, Pincuran Sonsang dan Ampalu.
Punya empat pangulu syarak, yakni Labai, Khalifah, Imam dan Khatib. Empat ini disebut pangulu syarak, sebagai kekuatan dalam Lubuak Pua.
Jauh sebelum Nagari Balah Aie ada, Lubuak Pua sudah punya power tersendiri di bidang syarak dan adat ini.
Ada yang menyebut, berbunyi tabuah Lubuak Pua, menyahut tabuah Ampalu dan berdentang tabuah Mudiak Padang, menandakan masyarakat memulai dan mengakhiri bulan puasa.
Balah Aie adalah Ampalu dulunya. 1918 Ampalu ini dijadikan tiga nagari lewat dinamika politik kala itu. Di tangan Walinagari Tanjojo Datuak Basa, hadirlah Nagari Balah Aie, Lareh Nan Panjang, dan Lurah Ampalu.
Ampalu tentu punya kekuatan tersendiri. Basa 17, itu enam terletak di Ampalu, bertujuh dengan Rajo. Namun, setelah pemekaran dan menjadi tiga kenagarian itu, nama Nagari Ampalu pun melebur.
Syekh Oesman wafat 1767, lalu pondok yang usang diganti dengan surau yang lebih besar. Kepemimpinan Kalampaian dilanjutkan oleh anak kandung Syekh Oesman, yakni Syekh Labai. Syekh Labai memimpin dari 1776-1800, yakni 33 tahun lamanya.
Sumber:
1. Sejarah ringkas Pesantren Luhur Kalampaian, catatan tahun 1977
2. Diskusi dengan Buya Khaidir Tuanku Sutan dan Iswandi Tuanku Sutan, Jumat 22 Mei 2026 di Kalampaian Ampalu Tinggi
3. Wawancara dengan Walinagari Balah Aie, Jonifriardi 15 Januari 2025 di Balai Baru
4. Wawancara dengan tokoh masyarakat Balah Aie, Ali bin Yusuf, Ahad 24 Mei 2026 di Duku Banyak
