![]() |
Oleh: Duski Samad
pengasuh@majelisprofetikindonesia.com
subuhdarulmuttaqinwismaindahsitebapdg28april2026.
Membaca Jalan Hidup dari QS. Asy-Syura ayat 20 dan Hikmah Dalam Ihya’ Ulumuddin
Di tengah kehidupan modern yang bergerak cepat, manusia sering tidak lagi bertanya ke mana ia menuju, tetapi hanya sibuk berlari. Dunia menawarkan begitu banyak hal: jabatan, harta, popularitas, dan gaya hidup. Semuanya tampak menjanjikan kebahagiaan. Namun, diam-diam, banyak orang justru merasa kosong, gelisah, bahkan kehilangan makna hidup. Di sinilah Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat mendasar melalui firman Allah dalam QS. Asy-Syura ayat 20: siapa yang menginginkan akhirat akan dilipatgandakan hasilnya, sedangkan yang hanya mengejar dunia, ia hanya memperoleh sebagian kecil darinya dan kehilangan bagian di akhirat.
Ayat ini bukan sekadar ajakan moral, tetapi sebuah hukum kehidupan. Ia menjelaskan bahwa orientasi seseorang menentukan kualitas hasil yang ia dapatkan. Dunia itu terbatas, sementara akhirat tidak terbatas. Dunia itu sementara, sementara akhirat kekal. Maka ketika seseorang menjadikan dunia sebagai tujuan utama, ia sedang menukar yang kekal dengan yang sementara. Sebaliknya, ketika akhirat dijadikan tujuan, dunia justru datang sebagai pelengkap.
Dalam kerangka inilah konsep zuhud menjadi sangat penting. Dalam karya monumentalnya, Ihya’ Ulumuddin, khususnya pada pembahasan syathr tsani Kitab Zuhud, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa zuhud bukanlah meninggalkan dunia secara fisik, tetapi mengeluarkan dunia dari hati. Seseorang boleh memiliki harta, jabatan, dan kedudukan, tetapi ia tidak boleh diperbudak oleh semua itu. Dunia boleh berada di tangan, tetapi tidak boleh menguasai hati.
Pemahaman ini penting, karena selama ini zuhud sering disalahartikan sebagai kemiskinan atau menjauhi kehidupan dunia. Padahal, menurut para ulama seperti Hasan al-Basri, zuhud adalah ketika seseorang lebih percaya pada apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tangannya. Sementara Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi akhirat. Artinya, zuhud adalah sikap batin yang lahir dari kesadaran, bukan kondisi ekonomi.
Al-Ghazali kemudian menguraikan bahwa perjalanan zuhud tidak berhenti pada satu titik. Ia memiliki tingkatan. Pada tingkat paling dasar, seseorang meninggalkan yang haram—ini adalah kewajiban. Pada tingkat berikutnya, ia mulai menahan diri dari hal-hal yang berlebihan meskipun halal, karena khawatir melalaikan dari Allah. Dan pada tingkat tertinggi, seseorang tidak lagi melihat dunia sebagai sesuatu yang bernilai. Hatinya hanya tertuju kepada Allah. Inilah maqam para arifin, mereka yang telah merdeka secara batin.
Apa yang membuat seseorang sampai pada tingkat ini? Jawabannya adalah ilmu. Ketika seseorang memahami hakikat dunia—bahwa ia fana, terbatas, dan sering menipu—maka secara otomatis ia akan mengurangi keterikatannya. Sebaliknya, ketika ia memahami bahwa akhirat itu kekal dan tidak terbatas, maka orientasinya akan berubah. Di sinilah ilmu melahirkan kesadaran, dan kesadaran melahirkan zuhud.
Namun persoalan terbesar manusia bukan pada dunia itu sendiri, melainkan pada cinta dunia. Al-Ghazali dengan tegas menyebut bahwa cinta dunia adalah akar dari berbagai penyakit hati: riya, hasad, tamak, bahkan korupsi. Ketika dunia menjadi tujuan, maka segala cara menjadi terasa sah. Tetapi ketika akhirat menjadi tujuan, dunia justru menjadi sarana kebaikan.
Orang yang benar-benar zuhud memiliki tanda-tanda yang jelas. Ia tidak berlebihan dalam kegembiraan ketika mendapatkan sesuatu dari dunia, dan tidak larut dalam kesedihan ketika kehilangan. Pujian dan celaan tidak banyak mempengaruhi dirinya. Ia lebih mencintai ketaatan daripada kenikmatan dunia. Singkatnya, ia telah merdeka. Dunia tidak lagi mengendalikan dirinya.
Di sinilah pentingnya memahami bahwa zuhud bukan berarti meninggalkan dunia. Justru sebaliknya, zuhud adalah kemampuan untuk menguasai dunia tanpa diperbudak olehnya. Seseorang tetap bekerja, tetap berkarya, bahkan boleh menjadi kaya dan memiliki jabatan. Namun semua itu dijalani sebagai amanah, bukan sebagai tujuan hidup.
Jika kita melihat realitas hari ini, banyak orang terjebak dalam orientasi yang terbalik. Dunia dijadikan tujuan utama, sementara akhirat ditempatkan di belakang. Akibatnya, kehidupan menjadi penuh tekanan, gaya hidup tidak terkendali, dan ketenangan semakin jauh. Padahal Al-Qur’an telah memberikan rumus sederhana: siapa yang mengejar akhirat, dunia akan mengikuti. Siapa yang hanya mengejar dunia, ia akan kehilangan keduanya.
Zuhud, dalam konteks ini, bukan sekadar ajaran spiritual, tetapi juga fondasi peradaban. Bayangkan jika nilai ini hidup dalam diri para pemimpin, ASN, akademisi, dan masyarakat luas. Tidak akan ada korupsi yang sistemik, tidak ada kerakusan terhadap jabatan, dan tidak ada gaya hidup konsumtif yang merusak. Yang muncul adalah kejujuran, keadilan, dan keberanian moral.
Pada akhirnya, zuhud adalah tentang pilihan arah hidup. Apakah manusia ingin hidup untuk dunia yang sementara, atau untuk akhirat yang kekal? Pilihan ini tidak hanya menentukan kehidupan setelah mati, tetapi juga kualitas hidup di dunia ini.
Zuhud tidak membuat manusia lemah. Justru ia membebaskan manusia dari ketergantungan yang melemahkan. Dan ketika manusia telah bebas dari dunia, ia akan menjadi pribadi yang kuat, jujur, dan berani—pribadi yang mampu membangun peradaban, bukan sekadar menikmatinya.ds.
