![]() |
| Pertemuan Yayasan Islamic Center Syekh Burhanuddin dengan Ketua PKDP Sumatera Barat, Firdaus di salah satu rumah makan di Padang. |
Oleh: Duski Samad
STP#series76.09042026
Persatuan Keluarga Daerah Piaman (PKDP) Provinsi Sumatera Barat di bawah kepemimpinan Firdaus, SH.I bersama Sekretaris Hendra Anwar menunjukkan komitmen nyata dalam memperkuat literasi sejarah keulamaan Minangkabau. Komitmen tersebut diwujudkan melalui dukungan terhadap penerbitan buku Ensiklopedia Tuanku dan Warisan Syekh Burhanuddin Ulakan yang diinisiasi oleh Duski Samad selaku Ketua Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin Padang Pariaman bekerja sama dengan Pustaka Artaz.
Buku ini bukan sekadar kumpulan biografi ulama, tetapi sebuah upaya akademik untuk merekonstruksi kembali mata rantai sanad keilmuan Islam Minangkabau yang berpusat pada Syekh Burhanuddin Ulakan. Di dalamnya tergambar bagaimana surau menjadi lembaga pendidikan asli Minangkabau, bagaimana jaringan Tuanku membangun tradisi keilmuan, serta bagaimana nilai agama dan adat disatukan dalam filosofi hidup masyarakat.
Hal ini menunjukkan bahwa Islam di Minangkabau sejak awal berkembang melalui pendekatan pendidikan, bukan konflik. Surau menjadi pusat kaderisasi ulama, pusat pembentukan akhlak, dan pusat integrasi adat dan syarak.
Dalam sebuah diskusi antara penulis ensiklopedia dan pengurus Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin di RM Cek Elok pada Rabu, 8 April 2026, Ketua PKDP Firdaus menegaskan bahwa identitas Islam Minangkabau harus dilihat dari akar sejarahnya yang benar.
Menurutnya, sejarah awal Islamisasi Minangkabau tidak dapat dilepaskan dari peran pesisir Pariaman pada abad ke-17 yang ketika itu berada dalam pengaruh jaringan dakwah dan perdagangan Kesultanan Aceh Darussalam. Dari jalur inilah Syekh Burhanuddin kembali dari Aceh setelah belajar kepada Syekh Abdurrauf as-Singkili dan kemudian membangun sistem pendidikan surau di Ulakan.
Firdaus juga mengkritisi adanya kecenderungan sebagian narasi sejarah yang langsung melompat kepada era Gerakan Paderi abad ke-19 tanpa memberi tempat yang proporsional kepada fase Islamisasi damai abad ke-17 dan ke-18. Padahal justru pada masa Syekh Burhanuddin inilah fondasi Islam Minangkabau dibangun melalui pendidikan, dakwah kultural, dan integrasi adat dengan syariat.
Jika periode wafat Syekh Burhanuddin sekitar tahun 1700 M dan Tuanku Nan Tuo wafat sekitar tahun 1835 M, maka terdapat sekitar 130 tahun perkembangan Islam berbasis pendidikan surau yang jarang ditulis secara utuh dalam sejarah populer. Padahal pada masa inilah jaringan ulama berkembang kuat dari Pariaman ke wilayah darek Minangkabau.
Salah satu jalur transmisi ilmu tersebut melalui murid-murid Syekh Burhanuddin seperti Syekh Abdul Arif yang dikenal sebagai Tuanku Pauh Pariaman. Dalam tradisi literatur keluarga ulama Minangkabau yang juga disinggung oleh Buya Hamka dalam buku Ayahku, jaringan ulama Pauh memiliki hubungan genealogis dan intelektual dengan ulama Minangkabau generasi berikutnya.
Dari jaringan inilah kemudian lahir ulama besar seperti Tuanku Nan Tuo di Koto Tuo yang dikenal sebagai ulama yang menolak pendekatan kekerasan dalam Gerakan Paderi dan memilih pendekatan pendidikan serta dakwah yang damai. Sikap ini menunjukkan karakter Islam Minangkabau yang sejak awal berwatak moderat, edukatif, dan berbasis hikmah.
Karena itu Firdaus menegaskan bahwa literasi sejarah seperti ensiklopedia ini penting untuk mengembalikan kesadaran generasi Minangkabau tentang akar keulamaan mereka. Tanpa sejarah, masyarakat kehilangan arah. Tanpa sanad, tradisi kehilangan legitimasi. Dan tanpa mengenal ulama, generasi kehilangan teladan.
PKDP sebagai paguyuban urang Piaman menurutnya memiliki tanggung jawab moral menjaga memori kolektif tersebut, karena menjaga sejarah ulama berarti menjaga identitas masyarakat.
Langkah ini sejalan dengan pepatah Minangkabau:
"Jikok indak tahu di nan asal, maka hilang arah ka nan dituju." Artinya masa depan hanya bisa dibangun dengan memahami akar sejarah.
Silsilah Sanad Keilmuan Syekh Burhanuddin Ulakan
Berikut rekonstruksi sanad keilmuan utama dalam jaringan Syekh Burhanuddin berdasarkan tradisi sejarah ulama Minangkabau:
Tabel Sanad Keilmuan
No Nama Ulama Tahun (perkiraan) Posisi dalam sanad Peran sejarah
1. Syekh Abdurrauf as-Singkili 1615–1693 Guru utama Ulama Aceh, penyebar Syattariyah di Nusantara.
2. Syekh Burhanuddin Ulakan ±1646–1704 Murid Abdurrauf Penyebar Islam dan pendidikan surau di Minangkabau.
3. Syekh Abdul Arif (Tuanku Pauh) Abad 18 Murid jaringan Ulakan Penyebar jaringan ulama Pariaman ke darek.
4. Ulama jaringan Pauh Abad 18 Generasi penerus Penguat pendidikan surau Minangkabau.
5. Tuanku Nan Tuo Koto Tuo 1723–1835 Ulama jaringan sanad Ulama moderat, pembina ulama Paderi awal.
6. Ulama generasi abad 19 Abad 19 Murid jaringan Koto Tuo Pengembang pendidikan Islam Minangkabau
Skema sederhana sanad keilmuan
Secara ringkas sanad tersebut dapat digambarkan:
Syekh Abdurrauf as-Singkili (Aceh)
↓
Syekh Burhanuddin Ulakan (Pariaman)
↓
Syekh Abdul Arif / Tuanku Pauh
↓
Jaringan Ulama Pariaman – Darek
↓
Tuanku Nan Tuo Koto Tuo
↓
Ulama Minangkabau generasi berikutnya
Penutup
Penerbitan Ensiklopedia Tuanku dan Warisan Syekh Burhanuddin Ulakan merupakan langkah penting dalam membangun kembali kesadaran sejarah keulamaan Minangkabau. Dukungan PKDP terhadap literasi sejarah ini menunjukkan bahwa organisasi sosial Minangkabau masih memiliki kepedulian terhadap kesinambungan tradisi intelektual Islam.
Karena sejatinya, menjaga sanad bukan sekadar menjaga nama ulama, tetapi menjaga arah peradaban.
Sebab peradaban yang besar selalu berdiri di atas ingatan sejarah yang kuat. DS.
