![]() |
| Keluarga besar Yayasan Islamic Center Syekh Burhanuddin Pariaman, menziarahi makam Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu. |
Oleh: Duski Samad
Muzakarah Buku Ensiklopedia Tuanku dan Warisan Syekh Burhanuddin di Surau Almarhum Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu, 17 April 2025 menyisakan kesan.
Kebanggaan terhadap sejarah terasa begitu kuat. Nama-nama ulama besar disebut dengan penuh hormat, kisah kealiman mereka diulang dengan kekaguman, dan surau sebagai simbol kejayaan masa lalu masih berdiri tegak. Di ruang-ruang muzakarah, tokoh adat, pemuka masyarakat, pemerintah nagari, hingga para Tuanku menyatakan optimisme: bahwa tradisi yang ada masih mampu dan efektif mengatasi krisis ulama sekaligus menegakkan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).
Namun, ketika kita melangkah keluar dari ruang ideal itu dan menatap realitas sosial, terlihat gambaran yang tidak sepenuhnya sejalan. Sekat-sekat sosial masih terasa. Fragmentasi di tengah masyarakat tidak bisa diabaikan. Kerentanan sosial mudah muncul, baik dalam bentuk konflik kecil, perbedaan pandangan keagamaan, maupun melemahnya kohesi antar kelompok. Dalam kondisi seperti ini, peran ulama sebagai perekat sosial justru semakin dibutuhkan—tetapi jumlah dan kualitas kadernya tidak berkembang secara memadai.
Di titik inilah muncul kesenjangan antara keyakinan normatif dan kenyataan empiris.
Kita meyakini bahwa sistem lama masih kuat, tetapi belum sepenuhnya menyadari bahwa sistem itu tidak lagi bekerja sebagaimana dahulu. Surau masih ada, tetapi fungsinya tidak lagi maksimal sebagai pusat kaderisasi. Tradisi masih hidup, tetapi tidak seluruhnya melahirkan pelanjut. Nama besar ulama terus disebut, tetapi tidak otomatis melahirkan generasi yang setara.
Lebih jauh, pembangunan yang dilakukan masih banyak berorientasi pada aspek fisik. Surau diperbaiki, bangunan diperindah, fasilitas ditingkatkan. Ini tentu penting. Namun, pada saat yang sama, aspek yang lebih mendasar justru belum tersentuh secara serius: strategi melahirkan ulama.
Bagaimana pola kaderisasi yang jelas?
Siapa yang bertanggung jawab membina calon ulama?
Bagaimana kurikulum yang mengintegrasikan ilmu, adab, dan spiritualitas?
Bagaimana memastikan keberlanjutan sanad?
Pertanyaan-pertanyaan ini belum terjawab secara sistematis.
Akibatnya, kita berada dalam situasi yang paradoks. Secara simbolik, kita kuat—punya sejarah, punya tokoh, punya identitas. Tetapi secara substantif, kita menghadapi kekosongan arah dalam regenerasi. Kita seolah yakin bahwa ulama akan terus lahir dengan sendirinya, padahal realitas menunjukkan sebaliknya: tanpa sistem, kader tidak akan muncul.
Di sinilah letak persoalan yang lebih dalam. Kita cenderung menyalahkan zaman—modernitas, teknologi, perubahan gaya hidup—sebagai penyebab utama krisis. Padahal, yang lebih menentukan adalah bagaimana kita merespons perubahan itu. Ulama masa lalu tidak hidup dalam kondisi yang mudah. Mereka menghadapi tantangan yang berat, tetapi mampu melahirkan solusi melalui penguatan surau, pendidikan berbasis sanad, dan pembinaan murid secara intensif.
Hari ini, tantangan memang berbeda. Tetapi prinsipnya tetap sama:
ulama tidak lahir secara kebetulan, tetapi dibentuk melalui sistem yang sadar dan terencana.
Jika orientasi pembangunan masih berhenti pada fisik, sementara pembangunan manusia—khususnya kader ulama—tidak dirancang dengan serius, maka krisis ini akan terus berlanjut. Kita akan terus berbicara tentang kejayaan masa lalu, tetapi kesulitan menghadirkan kejayaan baru.
Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar optimisme, tetapi kejujuran melihat kenyataan. Bahwa ada pekerjaan besar yang belum selesai. Bahwa menjaga ABSSBK tidak cukup dengan simbol dan retorika, tetapi harus diwujudkan dalam sistem pendidikan, kaderisasi, dan pembinaan yang berkelanjutan.
Jika tidak, maka kita akan terus berada dalam lingkaran yang sama:
bangga dengan sejarah,
sibuk membangun fisik,
namun kehilangan arah dalam melahirkan ulama.
Dan pada akhirnya, kita akan kembali pada satu kalimat yang pahit tetapi jujur:
kita menyalahkan zaman, sementara kita sendiri melupakan peran.
