![]() |
| Prof. Duski Samad Tuanku Mudo bersama pengurus Yayasan Islamic Center Syekh Burhanuddin muzakarah Syekh Tuanku Sidi Talua di Masjid Raya Toboh Mandailing. |
Oleh: Duski Samad
STP#95.170426
Judul ini lahir dari sebuah kegelisahan yang tidak dibuat-buat. Ia muncul dari pengalaman ziarah—ketika menapaki jejak dua ulama kharismatik awal abad ke-20: Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu dan Syekh Sidi Talua di Toboh Mandahiling, VII Koto, Padang Pariaman. Ziarah itu bukan sekadar kunjungan batin, tetapi juga perjumpaan dengan realitas: antara kebesaran masa lalu dan kegamangan masa kini.
Di sana, kita menemukan jejak. Jejak yang nyata, bukan sekadar cerita. Ulama-ulama ini pernah melahirkan generasi—anak siak, murid-murid yang tidak hanya belajar, tetapi kemudian mendirikan surau, menghidupkan pengajian, dan menyebarkan ilmu ke berbagai nagari. Surau tumbuh, sanad terjaga, dan masyarakat memiliki rujukan yang jelas dalam kehidupan beragama. Kharisma ulama tidak berdiri sendiri, tetapi berbuah dalam bentuk jaringan murid yang hidup.
Namun ketika menoleh ke hari ini, kita berhadapan dengan kenyataan yang lain: krisis kader. Surau masih ada, bahkan beberapa telah direnovasi dengan megah. Gelar khalifah masih disebut. Tetapi yang terasa hilang adalah murid—anak siak yang tekun belajar, yang siap memikul amanah ilmu, yang rela menjalani proses panjang pembentukan diri. Ada otoritas yang tersisa secara simbolik, tetapi kehilangan daya reproduksi. Ada nama besar, tetapi tidak melahirkan generasi besar.
Di titik ini, kita masuk pada lapisan yang lebih dalam: ilusi kebesaran nama. Masyarakat merasa cukup dengan menyebut nama ulama besar, merasa bangga dengan sejarah, tetapi tidak merasa berkewajiban untuk melanjutkan. Ziarah dilakukan, tetapi tidak diiringi dengan tekad untuk meneladani. Tradisi diperingati, tetapi tidak dihidupkan. Kita seakan hidup dalam bayang-bayang kebesaran masa lalu—tanpa keberanian membangun masa depan.
Padahal, kekuatan ulama masa lalu tidak terletak pada nama, tetapi pada sistem yang mereka bangun. Mereka melahirkan murid, membentuk karakter, dan menjaga sanad. Surau bukan sekadar tempat, tetapi mekanisme kaderisasi. Murid tidak hanya diajarkan ilmu, tetapi ditempa dengan adab, kesabaran, dan kedisiplinan spiritual.
Hari ini, rantai itu mulai melemah. Banyak faktor yang menyebabkannya: perubahan pola pendidikan, godaan modernitas, hingga melemahnya komitmen terhadap proses panjang menjadi ulama. Menjadi “cepat tahu” lebih diminati daripada “lama berguru”. Otoritas keilmuan digeser oleh popularitas. Dan dalam kondisi seperti ini, reproduksi ulama menjadi tersendat.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka yang tersisa hanyalah monumen—maqam yang diziarahi, nama yang dikenang, tetapi nilai yang tidak lagi hidup. Kita akan menjadi masyarakat yang kaya sejarah, tetapi miskin pelanjut.
Karena itu, kegelisahan ini seharusnya menjadi panggilan. Bahwa menjaga warisan ulama tidak cukup dengan merawat makam dan memperingati haul, tetapi harus diwujudkan dalam melahirkan kembali kader ulama. Surau harus dihidupkan kembali sebagai pusat pendidikan, bukan sekadar simbol. Sanad harus dijaga, bukan hanya disebut. Dan yang paling penting, masyarakat harus kembali menyadari bahwa kebesaran ulama masa lalu adalah amanah, bukan sekadar kebanggaan.
Jejak itu sudah ada.
Yang belum, adalah langkah untuk melanjutkannya.
