![]() |
ضَجِيْجُ الدُّنْيَا وَهُدُوْءُ الْحَرَمِ
Bismillah.
Saya menulis catatan ini dari Makkah dalam suasana umrah Ramadhan.
Tadi pagi, sepulang dari shalat Subuh di Masjidil Haram, saya terkejut. Di jalan yang biasa saya tempuh menuju penginapan kami di Ajyad, tampak sebuah hotel yang hangus terbakar. Peristiwa itu terjadi kemarin menjelang senja. Saya tidak mengetahui apa pun, karena sejak sebelum Ashar hingga selesai Subuh saya bertahan di dalam Masjidil Haram.
Kabarnya, berita kebakaran itu telah viral di media sosial. Banyak orang telah mengetahui dan membicarakannya. Sementara saya yang berada sangat dekat dengan lokasi justru tidak tahu, karena sedang tenggelam dalam ibadah.
Peristiwa ini menyentak kesadaran saya. Betapa dunia terus bergerak dengan segala kegaduhannya. Musibah bisa datang tiba-tiba. Stabilitas yang kita rasakan hari ini dapat berubah dalam sekejap. Rasa aman yang kita anggap biasa ternyata merupakan nikmat besar yang sering luput dari syukur.
Di belahan bumi lain, perang berkecamuk. Rudal dan drone saling berbalas. Bangunan runtuh, keluarga tercerabut dari rumahnya, dan manusia hidup dalam ketakutan yang panjang. Dunia modern dengan segala kemajuan teknologi ternyata tetap rapuh di hadapan konflik dan ambisi kekuasaan.
Namun di Tanah Haram, dampak konflik besar itu terasa dengan cara yang berbeda. Ia tidak tampak dalam suara ledakan, tetapi dalam perubahan suasana. Jumlah jemaah umrah Ramadhan tahun ini terasa berbeda dibandingkan tahun lalu. Ada ruang-ruang yang lebih longgar, antrean yang lebih pendek, dan wajah-wajah yang lebih tenang namun juga lebih khusyuk.
Dalam doa qunut witir pada shalat tahajjud, imam Masjidil Haram berulang kali memohon agar Allah menjaga keamanan dua Tanah Haram. Doa itu menggema di tengah lautan manusia yang mengangkat tangan dengan air mata. Saat itulah terasa bahwa keamanan adalah nikmat yang sangat mahal, dan ketenangan ibadah adalah karunia yang tidak ternilai.
Pada saat yang sama, jutaan manusia thawaf dalam ketenangan di sekitar Ka‘bah. Bibir mereka basah dengan talbiyah, dzikir, dan tilawah Al-Qur'an. Air mata jatuh dalam sujud yang panjang. Di sinilah ukuran besar dan kecilnya dunia menjadi berubah.
Para ulama menetapkan kaidah:
الحُكْمُ عَلَى الشَّيْءِ فَرْعٌ عَنْ تَصَوُّرِهِ
"Penilaian yang benar lahir dari pemahaman yang utuh."
Namun safar ruhani mengajarkan pelajaran yang lebih dalam: ketenangan hati tidak lahir dari banyaknya informasi, tetapi dari kedekatan kepada Allah.
Allah Ta‘ala berfirman:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ (20)
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering lalu engkau melihatnya menguning, kemudian hancur berderai. Dan di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”
(QS. al-Hadid: 20)
Banyak polemik dan isu publik yang tampak sangat penting di layar gawai ternyata menjadi sangat kecil ketika kita berdiri lama dalam sujud. Banyak kegaduhan yang menyita pikiran ternyata tidak menambah iman dan tidak pula memperbaiki amal.
Manusia mungkin tidak mampu mengendalikan arah sejarah dunia. Namun ia mampu memilih ke mana hatinya diarahkan.
Karena itu, di Makkah ini saya berdoa:
Ya Allah, bersihkan hati kami dari kegaduhan yang tidak perlu.
Tenangkan jiwa kami di tengah fitnah zaman yang riuh.
Jadikan musibah sebagai pengingat, bukan sekadar berita.
Jadikan ibadah sebagai jalan pulang, bukan sekadar rutinitas.
Dan karuniakan kepada kami hati yang hidup ketika dunia sedang sibuk mengejar yang fana.
Āmīn, wahai Rabb Pemilik Dua Tanah Haram.
Masjid Al-Haram, Makkah al-Mukarramah
Jum'at, 24 Ramadhan 1447 H / 13 Maret 2026 M
Zulkifli Zakaria
