![]() |
Oleh: Duski Samad
Surautuankuprofessor series46.
Kehadiran idul fitri telah membawa berkah luar biasa. Khususnya dalam meningkatkan dan merawat persaudaraan.
Salah satu sebab utama retaknya persaudaraan dalam masyarakat bukanlah karena perbedaan pandangan, tetapi karena hilangnya adab dalam pergaulan. Banyak hubungan menjadi renggang bukan karena persoalan besar, tetapi karena ucapan kecil yang menyakitkan, sikap meremehkan, atau informasi yang tidak jelas kebenarannya.
Di sinilah Al-Qur’an memberikan metode pendidikan sosial yang sangat halus tetapi mendalam, yaitu melalui etika “jangan”. Larangan-larangan Al-Qur’an bukan bertujuan membatasi kebebasan manusia, tetapi justru melindungi martabat manusia dan menjaga harmoni kehidupan.
Jika direnungkan, Al-Qur’an seolah mengajarkan bahwa merawat persaudaraan tidak selalu dimulai dari hal besar, tetapi dari kemampuan menahan diri dari kesalahan kecil.
Jangan merendahkan orang lain. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 11:
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik dari mereka."
Ayat ini mengajarkan prinsip kerendahan hati sosial. Tidak ada manusia yang berhak merasa lebih mulia karena status, jabatan, kekayaan, atau popularitas. Ukuran kemuliaan dalam Islam hanyalah ketakwaan.
Dalam kajian tasawuf, merendahkan orang lain merupakan tanda penyakit hati berupa kesombongan tersembunyi. Sementara dalam psikologi modern, sikap ini dikenal sebagai superiority bias, yaitu kecenderungan merasa diri lebih baik dari orang lain yang sering menjadi akar konflik sosial.
Karena itu orang berilmu bukanlah yang merasa lebih tinggi, tetapi yang semakin rendah hatinya.
Jangan menghina dan memberi label buruk
Masih dalam ayat yang sama, Allah juga melarang saling mencela dan memberi gelar yang buruk.
Ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjaga kehormatan manusia. Bahkan dalam maqashid syariah, menjaga kehormatan (hifzh al-‘irdh) merupakan bagian dari tujuan utama syariat.
Luka fisik mungkin sembuh dalam beberapa hari, tetapi luka karena kata-kata bisa tersimpan dalam hati bertahun-tahun. Karena itu Nabi Muhammad SAW mengingatkan bahwa seorang Muslim sejati adalah orang yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya.
Dalam era media sosial hari ini, larangan ini menjadi semakin penting. Banyak orang mudah menulis komentar tanpa menyadari bahwa kata-kata juga bisa menjadi bentuk kekerasan.
Jangan berbicara tanpa ilmu
Allah berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 36:
"Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya."
Ayat ini merupakan fondasi etika intelektual dalam Islam. Berbicara tanpa ilmu bukan hanya kesalahan pribadi, tetapi dapat menyesatkan orang lain.
Dalam tradisi ulama klasik, kehati-hatian dalam berbicara merupakan tanda kedalaman ilmu. Imam Malik pernah mengatakan bahwa tidak tahu adalah bagian dari ilmu jika memang belum mengetahui.
Dalam dunia akademik modern, prinsip ini dikenal sebagai evidence-based thinking, yaitu setiap pendapat harus memiliki dasar data dan kajian.
Jangan sombong dalam pergaulan
Allah berfirman dalam QS. Luqman ayat 18 agar manusia tidak memalingkan wajah dari orang lain karena sombong dan tidak berjalan dengan angkuh di bumi.
Kesombongan sering tidak terlihat dalam bentuk kata-kata, tetapi terlihat dalam sikap: enggan menyapa, sulit menghargai, merasa paling benar, atau tidak mau mendengar.
Dalam tasawuf, kesombongan disebut sebagai penyakit hati yang paling berbahaya karena dapat menghapus pahala tanpa disadari.
Nabi SAW bersabda bahwa tidak akan masuk surga orang yang memiliki kesombongan walaupun sebesar zarrah.
Karena itu semakin tinggi ilmu seseorang seharusnya semakin sederhana sikapnya.
Jangan durhaka kepada orang tua
Allah SWT menegaskan dalam QS. Al-Isra ayat 23 agar manusia tidak mengatakan kata "ah" sekalipun kepada orang tua.
Ini menunjukkan bahwa Islam membangun peradaban dari keluarga. Kehormatan kepada orang tua bukan hanya kewajiban moral, tetapi investasi karakter.
Dalam kajian sosiologi keluarga, banyak krisis moral generasi muda berawal dari melemahnya penghormatan terhadap orang tua dan guru.
Islam mengajarkan bahwa keberkahan hidup sering lahir dari ridha orang tua.
Jangan curang dalam urusan ekonomi
Dalam QS. Al-Mutaffifin Allah mengancam orang yang mengurangi timbangan.
Ini menunjukkan bahwa Islam tidak memisahkan spiritualitas dari ekonomi. Kejujuran dalam transaksi adalah bagian dari ibadah.
Banyak krisis ekonomi global justru disebabkan oleh hilangnya etika, bukan kekurangan sistem.
Karena itu Islam mengajarkan bahwa keberkahan ekonomi bukan hanya dari keuntungan, tetapi dari kejujuran.
Jangan membuat kerusakan di bumi
Allah berulang kali melarang manusia membuat kerusakan di muka bumi.
Kerusakan yang dimaksud bukan hanya lingkungan, tetapi juga kerusakan moral, sosial, politik, dan budaya.
Dalam perspektif modern, ini sejalan dengan konsep pembangunan berkelanjutan yang menekankan keseimbangan antara kemajuan dan tanggung jawab.
Islam sejak awal telah mengajarkan konsep manusia sebagai khalifah yang bertugas menjaga, bukan merusak.
Jangan menerima informasi tanpa tabayyun
Allah berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 6 agar setiap berita diteliti terlebih dahulu.
Ayat ini menjadi sangat relevan dalam era digital ketika informasi bergerak lebih cepat daripada kebenaran.
Banyak konflik keluarga, organisasi, bahkan bangsa terjadi bukan karena fakta, tetapi karena kabar yang tidak diverifikasi.
Karena itu tabayyun bukan hanya etika agama, tetapi kebutuhan peradaban modern.
Persaudaraan dijaga dengan menahan diri
Jika direnungkan, semua larangan ini memiliki satu pesan besar:
Persaudaraan tidak dijaga hanya dengan ceramah, tetapi dengan pengendalian diri.
Menahan diri dari menghina lebih sulit daripada berbicara baik. Menahan diri dari sombong lebih sulit daripada terlihat sederhana. Menahan diri dari menyebarkan berita lebih sulit daripada mengirimnya.
Di sinilah letak kedewasaan spiritual seseorang.
Dalam hikmah ulama disebutkan:
Orang kuat bukan yang mampu mengalahkan orang lain, tetapi yang mampu mengalahkan dirinya sendiri.
Penutup: Etika kecil, dampak besar
Jika umat ingin memperkuat persatuan, mungkin yang perlu diperbanyak bukan hanya program besar, tetapi disiplin moral kecil.
Mulai dari: Menjaga lisan, Menjaga hati, Menjaga informasi, Menjaga adab.
Karena peradaban besar tidak runtuh karena musuh dari luar, tetapi karena rapuhnya karakter dari dalam.
Maka merawat persaudaraan bisa dimulai dari satu tekad sederhana:
Lebih berhati-hati pada yang dilarang, daripada bangga pada yang dilakukan.
Sebab Al-Qur’an telah mengingatkan:
Jika manusia mampu menjaga dirinya dari yang dilarang Allah, maka Allah akan menjaga persaudaraan mereka.
Dan mungkin inilah rahasia ukhuwah:
Kurangi menyakiti,
Perbanyak memahami.
Kurangi merasa paling benar, perbanyak belajar menjadi benar. Ds. 23032026.
