![]() |
Oleh: Duski Samad
Ramadhan selalu menghadirkan lonjakan aktivitas keagamaan. Masjid penuh, jadwal ceramah padat, mubaligh silih berganti naik mimbar. Namun di balik semarak itu, tersimpan pertanyaan mendasar: apakah wibawa mubaligh dan marwah masjid benar-benar meningkat, atau sekadar rutinitas tahunan yang repetitif?
Fenomena yang terjadi di banyak masjid hari ini menunjukkan gejala yang perlu direnungkan bersama.
1. Ceramah Sebatas Pengisi Agenda
Di sebagian tempat, ceramah Ramadhan terasa seperti “pengisi slot waktu” antara tarawih dan witir. Tema berulang, tanpa kurasi kebutuhan jamaah. Tidak ada pemetaan masalah sosial, ekonomi, atau moral umat yang aktual.
Padahal, Ramadhan adalah momentum transformasi. Mimbar bukan sekadar tradisi, tetapi ruang pencerahan. Jika materi dibiarkan mengalir sesuai selera mubaligh tanpa arah strategis, maka yang lahir adalah rutinitas, bukan perubahan. Mimbar kehilangan fungsi profetiknya.
2. Tabligh yang Terkesan Transaksional
Tidak bisa dipungkiri, sebagian kegiatan tabligh terasa seperti relasi transaksi: mubaligh datang–ceramah–honor–selesai. Pengurus masjid bertindak seperti “event organizer”, bukan penggerak dakwah.
Ketika relasi spiritual berubah menjadi relasi administratif semata, wibawa mubaligh pun meredup. Ia hadir sebagai “penceramah tamu”, bukan pembimbing ruhani.
Padahal dalam tradisi surau Minangkabau, ulama bukan sekadar penceramah. Ia pembina, penuntun, bahkan figur moral komunitas.
3. Pengurus Masjid: Antara Owner dan Amanah
Ada kesan di beberapa tempat bahwa pengurus masjid merasa sebagai “owner” ruang ibadah. Padahal mereka adalah pengelola amanah jamaah.
Ironisnya, ulama tetap yang hidup di sekitar masjid pun kadang tidak optimal didengar. Ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan sekadar pada mubaligh, tetapi pada tata kelola otoritas spiritual.
Masjid bukan milik personal, bukan milik kelompok, melainkan milik umat.
4. Fisik Masjid Indah, Ruh Pembinaan Lemah
Banyak pengurus sangat serius memperindah bangunan: kubah megah, marmer mengkilap, lampu berkilauan. Namun perhatian terhadap pembinaan anak dan remaja sering minimal.
Remaja masjid kurang dilibatkan. Kegiatan wirid tidak konsisten. Program pendidikan anak belum terstruktur. Bahkan program pemerintah seperti Smart Surau belum dimaksimalkan sebagai gerakan bersama.
Masjid menjadi indah secara fisik, tetapi rapuh secara kaderisasi.
Padahal masa depan masjid ditentukan oleh generasi mudanya.
5.Ketika Remaja Tidak Mengindahkan Pengurus
Fenomena anak-anak dan remaja yang tidak lagi “segan” kepada pengurus masjid bukan semata masalah disiplin. Itu tanda adanya jarak komunikasi dan kurangnya sentuhan pembinaan.
Remaja membutuhkan pendekatan, bukan sekadar teguran. Mereka perlu ruang ekspresi, pelibatan dalam program, dan kepercayaan.
Jika masjid tidak memberi ruang, mereka akan mencari ruang lain—sering kali di luar kontrol nilai.
Mengembalikan Wibawa: Tiga Agenda Strategis
Untuk mengembalikan wibawa mubaligh dan marwah masjid, diperlukan langkah serius:
1. Kurasi Materi Berbasis Kebutuhan Jamaah
Pengurus bersama ulama perlu menyusun roadmap dakwah Ramadhan:
Tema karakter dan akhlak
Etika digital. Ekonomi umat dan zakat.
Keluarga sakinah
Peran remaja dan literasi Qur’ani. Ceramah harus terhubung dengan realitas sosial.
2. Mengubah Tabligh dari Event ke Pembinaan
Mubaligh tidak hanya hadir 20 menit. Perlu model:
Diskusi kecil setelah tarawih
Mentoring remaja
Klinik konsultasi keagamaan
Pembinaan rutin pasca Ramadhan
Dakwah bukan peristiwa, tetapi proses.
3. Menghidupkan Masjid sebagai Pusat Peradaban
Masjid harus menjadi:
Pusat pendidikan anak dan remaja. Ruang kreatif generasi muda. Mitra pemerintah dalam program keagamaan. Pusat literasi dan ekonomi umat
Jika ini terwujud, maka Smart Surau bukan sekadar program, tetapi gerakan.
Penutup: Wibawa Bukan pada Suara, Tapi pada Integritas
Wibawa mubaligh tidak ditentukan oleh retorika yang lantang, tetapi oleh konsistensi dan kedalaman pesan. Wibawa pengurus masjid tidak lahir dari jabatan, tetapi dari keteladanan dan keterbukaan.
Ramadhan adalah madrasah. Jika mimbar tidak mampu melahirkan perubahan, maka kita perlu mengevaluasi bukan hanya isi ceramah, tetapi sistem pengelolaan masjid secara keseluruhan.
Masjid harus kembali menjadi pusat ruhani, pusat kaderisasi, dan pusat peradaban.
Jika tidak, kita akan terus meramaikan Ramadhan—tanpa benar-benar membangkitkan umat.
Wallahu a‘lam.

Sangat setuju dengan jalan pikiran Prof, tapi harus ada persiapan/strategi untuk menjalankannya :
BalasHapus1. Harus ada kesatuan/kesepakatan tindakan yang menuntun para mubaligh untuk action. (MUI membuat rambu untuk ini dan mengontrol pelaksaannya.)
2. Harus ada keteladanan dari para mubaligh, jangan hanya jadi Nara sumber.
3. Harus ada pembinaan kepada pengurus masjid (DMI), karena pengurus masjid terdiri dari bermacam latar belakang pendidikan/profesi.
Mohon maaf dan menunggu pencerahan selanjutnya