![]() |
Oleh: Duski Samad
Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang
Banjir bandang akhir 2025 yang meluluhlantakkan permukiman, pertanian, serta sarana penghubung komunitas di Kota Padang dan sekitarnya bukan sekadar bencana ekologis. Ia adalah ujian multidimensi—sosial, ekonomi, psikologis, dan kultural. Dampak lanjutannya—kekeringan musiman, hilangnya mata pencaharian, meningkatnya kemiskinan, dan tekanan psikososial—dipastikan menguras energi kepemimpinan kota dan ketahanan masyarakat. Dalam situasi demikian, doa agar para pemimpin tetap sehat, tegar, dan bersemangat bukan basa-basi; ia adalah pengakuan atas beratnya beban tata kelola pascabencana.
Namun hidup tidak menunggu. Masa depan harus direncanakan di tengah puing-puing, dan tantangan mesti dijawab dengan kebijakan yang tidak reaktif semata. Karena itu, melanjutkan best practices—Smart Surau, Pesantren Ramadhan, dan afirmasi kegiatan berbasis komunitas—bukan pilihan tambahan, melainkan kebutuhan strategis. Program-program ini bekerja pada lapis yang sering diabaikan pascabencana: pemulihan makna, penguatan nilai, dan rehabilitasi sosial.
Pengalaman kebijakan publik menunjukkan bahwa kepemimpinan pascabencana tidak pernah linear. Ia berjalan paralel, sirkular, dan berlapis: pemulihan fisik, pengamanan sosial, pemulihan psikologis, dan penataan masa depan harus berlangsung bersamaan. Proses yang baik—partisipatif, konsisten, dan berbasis bukti—adalah prasyarat keberhasilan. Dalam konteks ini, melanjutkan Smart Surau bersamaan dengan agenda recovery bukan distraksi, melainkan pengungkit daya pulih (resilience).
Kepemimpinan Wali Kota Padang Fadly Amran bersama Wakil Wali Kota Maigus Nasir—dengan pengalaman birokrasi dan sosial yang kuat—dituntut untuk konsisten: menjalankan program unggulan (progul) sambil menuntaskan pemulihan pascabencana. Konsistensi inilah yang membedakan kebijakan berumur panjang dari langkah populis sesaat.
Smart Surau sebagai Infrastruktur Sosial
Secara konseptual, Smart Surau adalah infrastruktur sosial. Ia menguatkan fungsi masjid dan surau sebagai pusat dukungan psikososial, pembelajaran nilai, literasi kebencanaan, dan kohesi komunitas. Studi sosiologi bencana menegaskan bahwa institusi keagamaan lokal mempercepat pemulihan karena menyediakan kepercayaan (trust), jaringan relawan, dan makna kolektif—tiga elemen kunci resiliensi.
Dari perspektif psikologi komunitas, ruang ibadah yang aktif pascabencana membantu menurunkan kecemasan, memulihkan harapan, dan mencegah disorganisasi sosial—terutama pada anak dan remaja yang rentan terhadap stres pascatrauma. Dari sisi pencegahan sosial, keberlanjutan Smart Surau menahan eskalasi masalah turunan pascabencana: putus sekolah, perilaku berisiko, dan konflik horizontal.
Landasan Normatif dan Kebijakan
Secara normatif, penguatan Smart Surau sejalan dengan mandat konstitusional UUD 1945 Pasal 29 (peran negara memfasilitasi kehidupan beragama) dan kerangka PP No. 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, yang mengakui pendidikan keagamaan berbasis masyarakat. Kekhususan Sumatera Barat—yang menegaskan nilai adat dan syarak—memberi legitimasi lokal untuk menempatkan surau sebagai poros pendidikan karakter dan ketahanan budaya.
Keberlanjutan, Bukan Sekadar Populis
Karakter, nilai, dan budaya tidak tumbuh instan. Ia memerlukan istiqamah, desain program yang terukur, indikator capaian yang jelas, dan dukungan lintas sektor. Sekali gerakan tidak cukup. Tanpa keberlanjutan yang terencana, program mudah tereduksi menjadi simbolik. Karena itu, Smart Surau pascabencana harus diposisikan sebagai program jangka menengah–panjang, terintegrasi dengan pendidikan formal, layanan sosial, dan agenda mitigasi risiko bencana.
Penutup
Pascabanjir 2025, Padang membutuhkan lebih dari rehabilitasi fisik. Ia membutuhkan pemulihan sosial yang berakar pada nilai. Smart Surau—bersama Pesantren Ramadhan dan gerakan komunitas—adalah jawaban strategis untuk menumbuhkan ketahanan yang tidak rapuh oleh krisis. Meneruskannya secara konsisten adalah investasi peradaban: membangun manusia, memulihkan harapan, dan menyiapkan masa depan. @balairunghotel07022026
