![]() |
Oleh: Duski Samad
Ramadhan selalu dihadirkan sebagai bulan ampunan. Mimbar-mimbar dipenuhi seruan istighfar, doa-doa dilantunkan dengan khusyuk, dan umat berbondong-bondong mencari maghfirah. Namun di balik itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur: apakah kita benar-benar siap diampuni, jika kita sendiri tidak berani mengakui kesalahan?
Di sinilah ironi itu bermula. Kita meminta ampun kepada Tuhan, tetapi enggan mengakui kesalahan di hadapan manusia. Kita rajin berdoa, tetapi malas berintrospeksi. Kita mudah menyalahkan keadaan, tetapi sulit menyalahkan diri sendiri.
Padahal, inti dari maghfirah bukan sekadar ucapan “astaghfirullah”, melainkan kesadaran moral bahwa ada yang keliru dalam diri, dalam cara berpikir, dan dalam cara menjalankan amanah kehidupan.
Ketika Identitas Hamba Memudar
Al-Qur’an telah menegaskan dengan sangat jelas bahwa manusia diciptakan untuk beribadah. Artinya, posisi dasar manusia adalah hamba—yang tunduk, taat, dan merendah di hadapan Khalik. Namun dalam realitas kehidupan modern, identitas ini perlahan memudar.
Kita menyaksikan perubahan yang halus tetapi serius: manusia tidak lagi nyaman menjadi hamba. Ia ingin menjadi pusat, ingin menentukan segalanya, ingin selalu benar. Dalam ruang kekuasaan, dalam institusi, bahkan dalam ruang keagamaan, muncul kecenderungan bahwa manusia lebih senang menjadi “tuan” daripada hamba.
Amanah berubah menjadi otoritas.
Kepemimpinan berubah menjadi dominasi.
Dakwah berubah menjadi panggung, bukan cermin diri.
Di titik ini, kesalahan bukan lagi sesuatu yang diakui, tetapi sesuatu yang disembunyikan atau bahkan dibenarkan.
Budaya Menyalahkan: Wajah Krisis Moral
Krisis terbesar masyarakat hari ini bukan sekadar ekonomi atau politik, tetapi krisis kejujuran moral. Ketika terjadi masalah, yang muncul bukan refleksi, tetapi reaksi:
menyalahkan orang lain,
mencari pembenaran,
membangun narasi defensif.
Jarang sekali terdengar kalimat sederhana tetapi berat: “Kami salah.”
Padahal, dalam perspektif Al-Qur’an, musibah bukan hanya takdir, tetapi juga peringatan. Ia adalah bahasa Tuhan ketika manusia terlalu jauh melenceng dari jalan yang lurus. Ketika ketidakadilan dibiarkan, kesombongan dipelihara, dan amanah disalahgunakan, maka kerusakan sosial bukan lagi kemungkinan—tetapi keniscayaan.
Namun alih-alih menjadikannya bahan introspeksi, manusia sering justru mempertebal ego. Kesalahan tidak diakui, bahkan kadang dibungkus dengan legitimasi agama, kekuasaan, atau tradisi.
Sejarah yang Tidak Pernah Benar-Benar Berlalu
Jika kita membaca sejarah, kita akan menemukan pola yang sama berulang. Tokoh-tokoh besar yang jatuh bukan karena mereka tidak kuat atau tidak cerdas, tetapi karena mereka tidak mau mengakui kesalahan.
Kesombongan adalah titik awal kehancuran.
Ketika seseorang merasa paling benar, maka pintu koreksi tertutup.
Ketika koreksi tertutup, kesalahan menjadi sistem.
Dan ketika kesalahan menjadi sistem, kehancuran tinggal menunggu waktu.
Masalahnya, pola ini tidak hanya terjadi pada tokoh besar dalam sejarah. Ia hadir dalam skala kecil di sekitar kita:
dalam keluarga yang kehilangan dialog,
dalam lembaga yang alergi kritik,
dalam komunitas yang lebih sibuk menjaga citra daripada memperbaiki substansi.
Ramadhan yang Kehilangan Ruh
Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk kembali. Tetapi tanpa introspeksi, ia hanya menjadi rutinitas.
Masjid ramai, tetapi hati tidak berubah.
Ceramah banyak, tetapi perilaku tetap sama.
Ibadah meningkat, tetapi kejujuran menurun.
Inilah yang dikhawatirkan oleh Rasulullah ï·º ketika beliau mengingatkan bahwa ada orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga. Karena puasanya tidak menyentuh inti persoalan: ego yang tidak pernah tunduk.
Puasa sejatinya bukan hanya menahan lapar, tetapi menundukkan diri.
Dan penundukkan diri itu dimulai dari satu hal yang sederhana tetapi berat: mengakui kesalahan.
Mengaku Salah: Jalan yang Terlupakan
Dalam tradisi tasawuf, pengakuan dosa bukanlah kelemahan, tetapi kekuatan. Ia adalah pintu awal perubahan. Tanpa itu, semua ibadah hanya berhenti di permukaan.
Mengaku salah berarti:
meruntuhkan kesombongan,
membuka ruang perbaikan,
mengembalikan manusia pada posisi sejatinya sebagai hamba.
Namun justru di sinilah manusia modern paling lemah. Ia mampu berargumentasi panjang, tetapi sulit berkata jujur. Ia mampu menyusun narasi, tetapi enggan melakukan koreksi diri.
Akibatnya, agama kehilangan daya transformasi. Ia hadir sebagai simbol, tetapi tidak lagi menjadi kekuatan perubahan.
Menuju Ramadhan yang Memulihkan
Jika Ramadhan ingin benar-benar menjadi bulan maghfirah, maka yang harus diubah bukan hanya rutinitas ibadah, tetapi cara kita melihat diri sendiri.
Kita harus berani bertanya:
Di mana kesalahan kita sebagai individu?
Di mana kelalaian kita sebagai pemimpin?
Di mana kegagalan kita sebagai masyarakat?
Dan lebih dari itu, kita harus berani menjawabnya dengan jujur.
Karena pada akhirnya, ampunan Tuhan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya doa, tetapi oleh kedalaman kesadaran dan kejujuran dalam mengakui kesalahan.
Penutup:
Antara Ego dan Ampunan
Ramadhan adalah pilihan:
antara mempertahankan ego atau meraih ampunan.
Selama manusia masih sibuk menyalahkan orang lain,
selama itu pula pintu maghfirah tidak benar-benar terbuka.
Tetapi ketika manusia berani berkata:
“Aku salah, ya Allah. Aku salah sebagai hamba, sebagai pemimpin, sebagai manusia.”
maka di situlah jalan pulang dimulai.
Dan mungkin, di situlah Ramadhan menemukan maknanya yang paling dalam:
bukan sekadar bulan ibadah, tetapi bulan kejujuran. Ds.23022026.
