![]() |
مجلس الحديث النبويّ الشريف
MAJELIS KAJIAN HADITS BERSAMA ZULKIFLI ZAKARIA
DI RUMAH SAKIT TAMAR MEDICAL CENTRE (TMC)
Jl. Basuki Rahmat No.1 Pariaman
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Bahasan Hadits Pengetahuan Ghaib dan Batas Pengetahuan Manusia
Rabu, 23 Sya’ban 1447 H / 11 Februari 2026 M
Teks Hadits:
1354 - حَدَّثَنَا عَبْدَانُ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ، عَنْ يُونُسَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ: أَخْبَرَنِي سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَخْبَرَهُ أَنَّ عُمَرَ انْطَلَقَ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَهْطٍ قِبَلَ ابْنِ صَيَّادٍ، حَتَّى وَجَدُوهُ يَلْعَبُ مَعَ الصِّبْيَانِ عِنْدَ أُطُمِ بَنِي مَغَالَةَ، وَقَدْ قَارَبَ ابْنُ صَيَّادٍ الحُلُمَ، فَلَمْ يَشْعُرْ حَتَّى ضَرَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ، ثُمَّ قَالَ لِابْنِ صَيَّادٍ: «تَشْهَدُ أَنِّي رَسُولُ اللَّهِ؟»، فَنَظَرَ إِلَيْهِ ابْنُ صَيَّادٍ، فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ الأُمِّيِّينَ، فَقَالَ ابْنُ صَيَّادٍ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَتَشْهَدُ أَنِّي رَسُولُ اللَّهِ؟ فَرَفَضَهُ وَقَالَ: «آمَنْتُ بِاللَّهِ وَبِرُسُلِهِ» فَقَالَ لَهُ: «مَاذَا تَرَى؟» قَالَ ابْنُ صَيَّادٍ: يَأْتِينِي صَادِقٌ وَكَاذِبٌ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «خُلِّطَ عَلَيْكَ الأَمْرُ» ثُمَّ قَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنِّي قَدْ خَبَأْتُ لَكَ خَبِيئًا» فَقَالَ ابْنُ صَيَّادٍ: هُوَ الدُّخُّ، فَقَالَ: «اخْسَأْ، فَلَنْ تَعْدُوَ قَدْرَكَ» فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: دَعْنِي يَا رَسُولَ اللَّهِ أَضْرِبْ عُنُقَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنْ يَكُنْهُ فَلَنْ تُسَلَّطَ عَلَيْهِ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْهُ فَلاَ خَيْرَ لَكَ فِي قَتْلِهِ»
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdan, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah, dari Yunus, dari az-Zuhri, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Salim bin ‘Abdullah, bahwa Ibnu ‘Umar radhiyallāhu ‘anhuma mengabarkan kepadanya bahwa:
‘Umar berangkat bersama Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam dalam suatu rombongan (tak sampai sepuluh orang) menuju Ibnu Shayyād, hingga mereka menemukannya sedang bermain bersama anak-anak di dekat benteng milik Bani Maghālah. Saat itu Ibnu Shayyād telah mendekati usia baligh. Ia tidak menyadari kedatangan Nabi hingga Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam menepuknya dengan tangan beliau, kemudian bersabda kepada Ibnu Shayyād:
«تَشْهَدُ أَنِّي رَسُولُ اللَّهِ؟»
“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah?”
Ibnu Shayyad memandang beliau lalu berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah rasul bagi orang-orang ummi (yang tidak membaca dan menulis).”
Kemudian Ibnu Shayyad berkata kepada Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam: “Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah rasul Allah?”
Namun beliau menolaknya dan bersabda:
«آمَنْتُ بِاللَّهِ وَبِرُسُلِهِ»
“Aku beriman kepada Allah dan kepada para rasul-Nya.”
Lalu beliau bertanya kepadanya:
«مَاذَا تَرَى؟»
“Apa yang engkau lihat (dalam pengalaman gaibmu)?”
Ibnu Shayyad menjawab, “Datang kepadaku yang benar dan yang dusta.”
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
«خُلِّطَ عَلَيْكَ الأَمْرُ»
“Telah tercampur-aduk perkara itu atasmu.”
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda lagi kepadanya:
«إِنِّي قَدْ خَبَأْتُ لَكَ خَبِيئًا»
“Sesungguhnya aku telah menyembunyikan sesuatu untukmu.”
Ibnu Shayyad berkata, “Itu adalah ad-dukh (asap).”
Beliau bersabda:
«اخْسَأْ، فَلَنْ تَعْدُوَ قَدْرَكَ»
“Diamlah engkau! Engkau tidak akan melampaui kedudukanmu.”
Lalu ‘Umar radhiyallāhu ‘anhu berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk memenggal lehernya.”
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
«إِنْ يَكُنْهُ فَلَنْ تُسَلَّطَ عَلَيْهِ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْهُ فَلاَ خَيْرَ لَكَ فِي قَتْلِهِ»
“Jika ia memang (Dajjal), maka engkau tidak akan mampu menguasainya. Dan jika ia bukan Dajjal, maka tidak ada kebaikan bagimu dalam membunuhnya.”
(HR. Al-Bukhārī, no. 1354)
Pelajaran dari Hadits ini:
Hadits Ibnu Shayyād merupakan salah satu riwayat penting dalam pembahasan aqidah, khususnya tentang batas pengetahuan ghaib dan sikap Islam terhadap orang yang mengaku memiliki akses kepada hal-hal tersembunyi. Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam mendatangi seorang anak bernama Ibnu Shayyād yang menunjukkan gejala seperti perilaku kahin (dukun), yaitu orang yang mengaku mendapat berita ghaib melalui bisikan makhluk halus.
Ibnu Hajar rahimahullāh berkata dalam Fath al-Bārī (6/173), menukil dari Al-Qurthubī:
“Ibnu Shayyād berada di atas jalan para kahin (dukun); ia menyampaikan suatu berita — terkadang benar dan terkadang keliru. Maka perkara itu pun tersebar luas. Sementara itu, tidak turun wahyu apa pun mengenai dirinya. Karena itu Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam ingin menempuh suatu metode untuk menguji keadaannya. Inilah sebab keberangkatan Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam menemuinya.”
Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: «إِنِّي قَدْ خَبَأْتُ لَكَ خَبِيئًا» “Aku telah menyembunyikan sesuatu untukmu.”
Kata yang beliau sembunyikan adalah “الدخان” (asap), namun Ibnu Shayyād hanya mampu menebak sebagian: “الدخّ”.
Maka Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda: «خُلِّطَ عَلَيْكَ الأَمْرُ»“Telah tercampur perkara itu atasmu.”
Ini menunjukkan bahwa informasi yang sampai kepadanya tidak jelas dan tidak sempurna. Inilah ciri berita syethan: terkadang benar, tetapi bercampur dengan banyak kebohongan.
Jawaban Ibnu Shayyād: “Datang kepadaku yang benar dan yang dusta.”
Ucapan ini menggambarkan hakikat perdukunan. Allah subhānahu wata’ālā berfirman:
{عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا (26) إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا (27)}
“(Dia adalah) Yang Maha Mengetahui perkara ghaib, maka Dia tidak menampakkan kepada siapa pun tentang perkara ghaib-Nya itu, kecuali kepada rasul yang Dia ridhai. Maka sesungguhnya Dia menempatkan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya.”
(QS. Al-Jinn: 26-27)
Maka dalam manhaj Ahlus Sunnah ditegaskan: Tidak ada seorang pun yang mengetahui ghaib kecuali melalui wahyu. Klaim mengetahui masa depan, takdir, atau rahasia kehidupan adalah bentuk kesesatan bila tidak bersumber dari kenabian.
Metode Nabi yang menguji Ibnu Shayyād menjadi dalil bahwa beliau tidak mengetahui perkara ghaib kecuali yang Allah beritakan.
Ahlus Sunnah mengambil jalan pertengahan: memuliakan Nabi tanpa berlebihan (ghuluw), dan menetapkan bahwa beliau adalah manusia paling mulia yang hanya mengetahui ghaib sebatas wahyu.
Ketika ‘Umar radhiyallāhu ‘anhu meminta izin untuk membunuh Ibnu Shayyād karena khawatir ia adalah Dajjal, Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika ia Dajjal, engkau tidak akan mampu membunuhnya. Jika bukan, maka tidak ada kebaikan bagimu dalam membunuhnya.”
Hadits ini mengajarkan kehati-hatian dalam menghadapi fitnah. Kecurigaan tidak boleh menjadi dasar tindakan tanpa kepastian syar’i, dan menolak kerusakan yang lebih besar harus didahulukan.
Sebagian sahabat sempat ragu terhadapnya, namun jumhur (mayoritas) ulama setelah menghimpun riwayat menegaskan bahwa ia bukan Dajjal besar, melainkan salah satu fitnah yang Allah ujikan kepasa manusia. Adapun Dajjal yang sebenarnya akan muncul menjelang hari kiamat sebagai fitnah terbesar bagi umat manusia.
Prinsip Aqidah yang Ditanamkan Hadits Ini
Hadits Ibnu Shayyād menegaskan beberapa fondasi keimanan:
1. Ilmu ghaib mutlak hanyalah milik Allah.
2. Bisikan gaib yang tidak bersumber dari wahyu adalah talbis syethan.
3. Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam hanya mengetahui ghaib sebatas yang Allah wahyukan.
4. Setiap klaim spiritual wajib ditimbang dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
5. Keselamatan ada pada ittibā’, bukan pada pengalaman mistik.
Ibnu Mas‘ud radhiyallāhu ‘anhu berkata: “Ikutilah dan jangan berbuat bid‘ah, karena kalian telah dicukupkan.”
Hadits ini mengajarkan bahwa jalan keselamatan bukan terletak pada sensasi spiritual, karamah yang tidak jelas, atau pengalaman batin yang menakjubkan, melainkan pada ketundukan kepada wahyu.
Wallāhu a‘lam.
