![]() |
Oleh: Duski Samad
Pembina Ma'had Qur'an Profetik
Krisis yang dihadapi umat dan bangsa dewasa ini tidak hanya bersifat ekonomi dan politik, tetapi juga bersifat fundamental: krisis makna, krisis akhlak, dan krisis orientasi hidup. Pendidikan modern yang tercerabut dari nilai kenabian cenderung melahirkan manusia yang unggul secara intelektual, namun rapuh secara spiritual dan sosial; religius dalam simbol, tetapi lemah dalam tanggung jawab kemanusiaan.
Di sisi lain, pendidikan keagamaan yang tidak terintegrasi dengan realitas sosial sering terjebak pada ritualisme dan tekstualisme, sehingga kurang responsif terhadap problem zaman. Kondisi ini menuntut hadirnya model pendidikan Islam yang utuh, integratif, dan berjiwa kenabian—pendidikan yang menyatukan iman, ilmu, akhlak, dan pengabdian sosial.
Al-Qur’an sebagai kitab suci terakhir tidak diturunkan hanya untuk dibaca dan dihafal, melainkan untuk menghidupkan hati, mencerahkan akal, dan menata peradaban. Demikian pula risalah kenabian hadir sebagai teladan hidup yang menghubungkan langit dan bumi, masjid dan pasar, ibadah dan keadilan sosial. Atas dasar kesadaran inilah Ma’had Qur’an Profetik dirintis.
Konsep dan Karakter Ma’had Qur’an Profetik
Ma’had Qur’an Profetik adalah lembaga pendidikan Islam berbasis Al-Qur’an yang berorientasi pada nilai-nilai kenabian (prophetic values). Ma’had dipahami sepadan dengan pesantren sebagai pusat tafaqquh fiddin, pembinaan akhlak, dan pengembangan ilmu. Sementara istilah profetik merujuk pada misi kenabian yang mencakup pencerahan spiritual, penguatan intelektual, dan transformasi sosial.
Ma’had Qur’an Profetik dirancang sebagai lembaga pendidikan integratif yang menghubungkan:
wahyu (Al-Qur’an) sebagai sumber nilai, akal sebagai instrumen pengembangan ilmu, realitas sosial sebagai ladang pengabdian.
Ma’had Qur’an Profetik tidak hanya mencetak penghafal atau pengajar Al-Qur’an, tetapi melahirkan manusia profetik: insan yang saleh secara spiritual, jernih secara intelektual, dan aktif secara sosial.
Visi dan Tujuan
Visi
Mewujudkan Ma’had Qur’an Profetik sebagai pusat pendidikan dan pembinaan manusia Al-Qur’an yang utuh—beriman, berilmu, berakhlak, dan bertanggung jawab sosial—dalam rangka melahirkan ulama dan umat terbaik yang berperan aktif membangun peradaban rahmatan lil ‘alamin.
Tujuan
1. Menghasilkan kader ulama dan pemimpin umat yang berlandaskan Al-Qur’an dan nilai kenabian.
2. Membentuk pribadi muslim yang seimbang antara kesalehan spiritual, kecerdasan intelektual, dan kepedulian sosial.
3. Menghadirkan pendidikan Islam yang relevan dengan tantangan zaman dan kebutuhan umat.
4. Menjadikan Ma’had sebagai pusat pencerahan, pembinaan, dan pelayanan umat.
Landasan Filosofis dan Teologis
Ma’had Qur’an Profetik berpijak pada pandangan Islam tentang manusia sebagai hamba Allah (‘abdullah) dan khalifah di bumi (khalifatullah). Pendidikan tidak boleh memisahkan dimensi ruhani, intelektual, dan jasmani, karena pemisahan tersebut akan melahirkan manusia timpang.
Secara teologis, Al-Qur’an ditegaskan sebagai petunjuk hidup, penyembuh jiwa, dan rahmat bagi manusia (QS. Yunus: 57). Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak (HR. Ahmad), serta menegaskan pentingnya keseimbangan antara ibadah dan pemeliharaan tubuh (HR. Bukhari). Orientasi akhir pendidikan diarahkan pada terbentuknya khairu ummah—umat terbaik yang beriman, bermoral, dan bertanggung jawab sosial (QS. Ali ‘Imran: 110).
Pendekatan dan Model Pengembangan
Ma’had Qur’an Profetik dikembangkan dengan pendekatan holistik melalui integrasi empat pilar utama:
1. Masjid sebagai pusat spiritualitas, ibadah, dan pembinaan ruhani.
2. Pendidikan berbasis Al-Qur’an untuk pengembangan akal dan karakter.
3. Layanan kesehatan sebagai ikhtiar menjaga amanah jasmani.
4. Unit pemenuhan kebutuhan hidup dan ekonomi beretika sebagai bagian dari kemandirian dan pemberdayaan umat.
Model ini menegaskan bahwa ibadah, ilmu, kesehatan, dan kesejahteraan merupakan satu kesatuan dalam membangun manusia Al-Qur’an yang utuh.
Orientasi dan Dampak yang Diharapkan
Ma’had Qur’an Profetik tidak diarahkan untuk mencetak manusia eksklusif, melainkan manusia solutif—mereka yang mampu menghadir kan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan nyata. Lulusan Ma’had diharapkan: memiliki integritas moral dan akhlak profetik, mampu membaca dan merespons persoalan umat dan bangsa, menjadi agen pencerahan, perdamaian, dan keadilan sosial.
Ma’had Qur’an Profetik diharapkan menjadi pusat pembinaan ulama dan umat yang tidak hanya kuat di mihrab, tetapi juga amanah di ruang publik.
Penutup
Pendirian Ma’had Qur’an Profetik merupakan ikhtiar strategis untuk menghidupkan kembali ruh kenabian dalam pendidikan Islam. Dengan izin Allah SWT dan dukungan berbagai pihak, Ma’had Qur’an Profetik diharapkan menjadi fondasi lahirnya generasi Qur’ani yang berilmu, berakhlak, dan berdaya guna bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan. Ds. 06022026.
