![]() |
| Surau Tuanku Muqaddam di Sungai Rotan, Pariaman. |
MU-ONLINE,-- Syekh Muqaddam adalah seorang ulama besar yang pernah hidup di wilayah Sungai Rotan, yang sekarang termasuk wilayah Kota Pariaman, Sumatera Barat, Indonesia. Beliau dikenal sebagai tokoh agama dan pendidik yang dihormati pada masa kolonial Hindia Belanda, khususnya dalam tradisi pendidikan Islam tradisional (surau) di daerah tersebut.
Siapa Syekh Muqaddam?
Ulama pembimbing Surau di Sungai Rotan: Syekh Muqaddam dikenal sebagai seorang pendidik yang memimpin kegiatan surau (institusi pendidikan dan ibadah tradisional masyarakat Minangkabau) di Sungai Rotan, yang menarik banyak santri dari berbagai daerah untuk belajar ilmu agama.
Guru para santri: Pada zamannya, beliau cukup dikenal sebagai tempat belajar ilmu keislaman; bahkan ada sumber yang menyebut bahwa ayah Buya Hamka (Syekh Haji Abdul Karim Amrullah) pernah menuntut ilmu kepada Syekh Muqaddam sebelum beliau melanjutkan studi ke Mekkah.
Ayah dari ulama terkenal: Syekh Muqaddam adalah ayah dari Abdullah Aminuddin, yang lebih dikenal sebagai Tuanku Shaliah Pengka — tokoh ulama yang mendirikan pondok pesantren Madrasatul ‘Ulum di Nagari Lubuk Pandan, Kabupaten Padang Pariaman.
Keluarga ulama: Dari catatan lain, salah satu anak beliau bernama Pakiah Saliah, yang juga dikenal dalam kisah keluarga Buya Hamka, sebagai kakak dari ayah Buya.
Peran dan Warisan
Pendidik dan pembimbing masyarakat: Syekh Muqaddam memainkan peran penting dalam mengembangkan pendidikan Islam tradisional di Sungai Rotan, terutama di masa ketika akses pendidikan formal masih terbatas.
Jaringan ulama Minangkabau: Posisi beliau sebagai guru dan pembimbing menunjukkan betapa eratnya hubungan antara para ulama di Sumatera Barat pada era itu, dengan Sanad (rantai keilmuan) yang sering berhubungan sampai ke Mekkah.
Konteks Lokal
Sungai Rotan sendiri merupakan salah satu wilayah pesisir di Kota Pariaman, yang sejak lama menjadi salah satu pusat penyebaran Islam di Minangkabau, dengan sejumlah surau dan pesantren yang menjadi tempat pengembangan ilmu agama secara tradisional.
Surau Tuanku Muqaddam
Surau kecil ini tak berubah bentuk. Masih seperti surau pertama dibangun oleh Syekh Muqaddam atau Tuanku Sungai Rotan. Dulu bangunannya dari kayu, sekarang sudah permanen semua. Syekh Mukaddam (wafat 1328 H/1910 M) adalah ulama besar dan tertua yang melahirkan peradaban di Sungai Rotan, Pariaman.
Masjid Raya Badano dibuat tahun 1828 M. Syekh Muqaddam ini mengajar di situ. Muridnya yang terkenal adalah Syekh H Rasul, ayahnya Buya Hamka. Surau tempat beliau mengajar dulu itu di Bungo Tanjung, yang kini jadi TK Aisyiyah. Surau kecil ini dibangunnya adalah untuk istirahat sepulang mengajar. Tak jauh dari Bungo Tanjung.
Syekh Mukaddam pernah mengaji di Maninjau dengan Syekh Muhammad Amrullah (1840-1909), ayah dari Syekh H Rasul. "Syekh Mukaddam ini terkenal dulunya sebagai orang pengembara. Mengaji dengan banyak ulama, yang diturutinya dengan berjalan kaki saja. Konon, ke Maninjau ini berjalan saja beliau dari Pariaman, bersua dengan ulama besar, Syekh Muhammad Amrullah, yang masyhur dengan gelar "Tuanku Kusai" lalu beliau berguru," cerita H Baharuddin Tuanku Bagindo, Ketua KAN Sungai Rotan.
Dua orang anak Syekh Muqaddam ini terkenal jadi ulama hebat pula. Pakiah Saliah, tokoh ulama Muhammadiyah di Sungai Rotan, dan Syekh Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah, pendiri Pondok Pesantren Madrasatul 'Ulum Lubuk Pandan, Padang Pariaman.
Pakiah Saliah merupakan anak Syekh Muqaddam dari istrinya di Sungai Rotan. Pakiah Saliah beradik kakak lima orang, yakni Khadijah, Sulaiman, Pakiah Saliah, Ilyas, dan Fatimah. Sementara, Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah adalah anaknya dengan istrinya Hj. Tiambun, Pakandangan. Antara Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah dengan Pakiah Saliah dulunya sering turut menurut, bahkan sampai diantara anak-anaknya saling tersambung satu sama lainnya, bahwa mereka adalah cucu Syekh Muqaddam.
Zamniah Saleh tak pernah bersua dengan angkunya, Syekh Muqaddam itu. Tapi, dia sering dapat cerita dari ayahnya, Pakiah Saliah. Cerita tentang kealiman Syekh Muqaddam, cerita banyak orang belajar agama di Sungai Rotan ini. "Beliau terkenal keramat. Ibadahnya banyak, tak ada tandingannya di kampung itu. Doa beliau selalu diijabah oleh Allah SWT," kata Zamniah Saleh.
Dr. Muhammad Nur Tuanku Bagindo, salah seorang tokoh ulama di Sungai Rotan menyebutkan, Syekh Muqaddam terkenal ulama yang suka dan senang mengembara. Sejak kecil, pergi mengaji ke banyak tempat selalu dengan jalan kaki. Ke tempat yang jauh sekalipun, beliau lebih memilih berjalan kaki.
"Hebatnya, banyak beliau menerima pemberian orang, lebih banyak pula dia memberi kepada orang yang membutuhkan. Dulu itu terkenal istilah kaji, terima kasih. Sudah diterimanya, dikasihkannya pula ke orang yang paling membutuhkan," sebut Muhammad Nur.
Ismail Tuanku Sidi, Imam Masjid Raya Badano menyebutkan, pengaruh Syekh Muqaddam ini cukup luar biasa dulunya di Sungai Rotan ini. "Suka mengembara, menuntut ilmu di banyak tempat dan perguruan, sepertinya menjadikan beliau sebagai ulama tafaqquh fiddin," katanya.
"Bahkan, perjalanan menuntut ilmunya sampai ke Aceh. Sayangnya, masyarakat yang tahu banyak kisah dan cerita beliau, sudah tidak ada. Cucunya yang paling kecil sekarang sudah berusia menjelang 80 tahun," ujar Ismail Tuanku Sidi.
Dari berbagai sumber, termasuk dari Ketua KAN Sungai Rotan, H. Baharuddin Tuanku Bagindo, kaum Suku Koto Sungai Rotan, terutama yang aktif menghidupkan Surau Syekh Muqaddam itu disebutkan, bahwa beliau Syekh Muqaddam sebaya dengan gurunya Tuanku Kisai, kakek dari Buya Hamka ini.
Ada kemungkinan beliau Syekh Muqaddam ini lahir tahun 1842 M. Sebab, ayah Buya Hamka, Syekh H. Rasul ini mengajinya dengan muridnya Syekh Muqaddam, yakni Tuanku Sutan Muhammad Yusuf. Beliau ini murid langsung Syekh Muqaddam yang terkenal ahli tafsir dan fiqh. Tuanku Sutan Muhammad Yusuf dikenal mendalami ilmu tafsir dan fiqih, keahlian yang ia ajarkan kepada murid-muridnya yang kemudian menjadi pelopor gerakan Islam di Indonesia.
Referensi:
1. Wawancara dengan Zamniah Saleh, 23 Januari 2026
2. Wawancara dengan H. Baharuddin Tuanku Bagindo, 20 Januari 2026
3. Wawancara dengan Ismael Tuanku Sidi, 20 Januari 2026
4. Wawancara dengan Dr. Muhammad Nur Tuanku Bagindo, 8 April 2025
