![]() |
Oleh: Duski Samad
Dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja.
Di satu sisi, kita menyaksikan luka kemanusiaan yang terus menganga di Palestina—tanah yang setiap hari dipenuhi deru bom, tangis anak-anak, dan puing-puing kehidupan. Di sisi lain, kekuatan global seperti Amerika Serikat terus berdiri di belakang Israel, memperkuat dominasi yang telah lama dipersoalkan dunia.
Tidak hanya itu, tekanan geopolitik juga menjalar ke Iran—sebuah negara yang terus berada dalam pusaran konflik dan tekanan internasional. Dunia seakan menyaksikan ketimpangan: kekuatan besar berhadapan dengan keteguhan yang tidak memiliki perlindungan material yang seimbang.
Namun ada satu hal yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan logika kekuatan militer atau politik:
mengapa umat yang tertindas itu tetap bertahan?
Di tengah kehancuran, mereka tetap berdiri.
Di tengah kehilangan, mereka tetap berharap.
Di tengah tekanan, mereka tidak runtuh.
Jawabannya bukan pada senjata, bukan pada kekuatan ekonomi, tetapi pada sesuatu yang lebih dalam: mental resiliensi yang dibangun oleh sabar.
Musibah bencana Sumatera Aceh, Sumut dan Sumbar masih jauh dari baik ditangani, pengungsi masih ada di tenda, hunian sementara terbatas, hunian tetap jelas tidak sama dengan kondisi mereka sebelumnya.
Mata pencaharian sawah ladang dan kebun mereka tidak sedikit yang hanyut. Dalam keterluntaan itu mental resilens atau sabar yang membuat saudara kita di daerah bencana tetap bertahan.
Al-Qur’an telah lama mengajarkan prinsip teguh, sabar dan tahan banting itu melalui firman Allah dalam QS. Az-Zumar ayat 10: “Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala tanpa batas.”
Ayat ini seakan hidup dalam realitas hari ini. Ia bukan hanya teks yang dibaca, tetapi energi yang menghidupkan keteguhan umat.
Para ulama klasik seperti Ibn Kathir, Al-Tabari, dan Al-Qurtubi menjelaskan bahwa sabar bukan sekadar menahan diri, tetapi mencakup tiga hal: bertahan dalam ketaatan, menjauhi kemaksiatan, dan teguh menghadapi ujian. Dalam konteks umat hari ini, sabar menjelma menjadi daya tahan kolektif—kemampuan sebuah komunitas untuk tidak hancur meskipun ditekan secara terus-menerus.
Dalam tafsir kontemporer, sebagaimana dijelaskan oleh Quraish Shihab, ayat ini juga mengandung pesan harapan: “bumi Allah itu luas.” Artinya, tidak ada kondisi yang benar-benar buntu. Selalu ada ruang bagi harapan, selalu ada kemungkinan untuk bangkit.
Sementara Sayyid Qutb melihat sabar sebagai energi perjuangan. Dalam tekanan sistem yang tidak adil, sabar bukanlah kepasrahan, tetapi keteguhan untuk tetap berada di jalan yang benar tanpa kehilangan arah.
Jika dilihat dari perspektif modern, apa yang terjadi pada umat hari ini adalah manifestasi nyata dari resiliensi—kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit di tengah tekanan ekstrem. Psikologi menyebutnya sebagai kekuatan mental. Al-Qur’an telah menyebutnya jauh sebelumnya: sabar.
Sabar inilah yang membuat seorang ibu di Palestina masih mampu memeluk anaknya dengan harapan, meskipun kehilangan segalanya.
Sabar inilah yang membuat sebuah bangsa tetap berdiri meskipun dunia seakan berpaling.
Sabar inilah yang menjadikan penderitaan bukan akhir, tetapi proses menuju kemuliaan.
Mengapa pahala sabar disebut “tanpa batas”?
Karena penderitaan yang dihadapi pun sering tidak terukur.
Karena luka yang dirasakan tidak selalu terlihat.
Dan karena kesabaran itu sendiri sering tidak diketahui manusia.
Maka balasannya pun berbeda:
langsung dari Allah, tanpa ukuran.
Di sinilah kita memahami bahwa mental resiliensi dalam Islam bukan sekadar konsep psikologis, tetapi jalan spiritual. Ia menghubungkan manusia dengan sumber kekuatan tertinggi—Allah SWT.
Sejarah para nabi telah membuktikan hal ini. Nabi Ayyub tetap teguh dalam ujian yang panjang. Nabi Muhammad ï·º tetap sabar dalam tekanan dan penolakan. Dan hari ini, nilai yang sama hidup dalam diri umat yang tertindas tetapi tidak menyerah.
Dunia boleh melihat mereka sebagai lemah.
Tetapi Al-Qur’an melihat mereka sebagai kuat.
Karena kekuatan sejati bukan pada apa yang tampak, tetapi pada apa yang bertahan.
Dan bisa jadi, di tengah dunia yang penuh ketimpangan ini,
yang paling menentukan masa depan bukanlah siapa yang paling kuat secara fisik,
tetapi siapa yang paling kuat dalam kesabaran.
Karena sabar adalah resiliensi yang dirahasiakan Allah—
dan dari sanalah lahir kemenangan yang tidak terduga. DS26022028.
