![]() |
Oleh: Duski Samad
Kritik terhadap masjid megah di tengah umat yang susah tidak boleh berhenti sebagai keluhan moral. Kritik harus melahirkan gerakan. Dan Ramadhan adalah momentum paling otentik untuk itu.
Jika sebelumnya kita bertanya: “Apa yang salah ketika masjid indah berdiri di tengah kemiskinan?”
Maka kini pertanyaannya berubah: "Apa yang akan kita lakukan di bulan Ramadhan untuk menjawabnya?”
Ramadhan: Ujian Keimanan Sosial
Ramadhan bukan hanya puasa dari lapar dan dahaga. Ia adalah ujian empati.
Allah menegaskan tujuan puasa: “La‘allakum tattaqūn” — agar kamu bertakwa (QS. Al-Baqarah: 183).
Taqwa bukan sekadar ritual, tetapi kesadaran sosial. Orang yang bertakwa tidak nyaman melihat tetangganya lapar.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala seperti orang yang berpuasa itu.”
Artinya, Ramadhan memang didesain untuk memperluas distribusi kebaikan.
Jika masjid hanya sibuk dengan dekorasi Ramadhan—lampu, spanduk, panggung tabligh—tetapi tidak menghadirkan gerakan sosial sistematis, maka Ramadhan kehilangan rohnya.
Dari Kritik Menuju Proyek Nyata: Ramadhan Peduli dan Berbagi
Narasi “Masjid Indah, Umat Susah” harus diubah menjadi:
RAMADHAN PEDULI DAN BERBAGI
Proyek ini bukan sekadar pembagian sembako simbolik. Ia harus menjadi desain transformasi sosial berbasis masjid.
1️⃣ Audit Sosial Masjid
Sebelum Ramadhan:
Petakan fakir miskin radius 1–2 km. Identifikasi korban banjir 2025 yang belum pulih.
Data anak yatim, lansia terlantar, dan pengangguran.
Masjid yang indah harus tahu siapa yang lapar di sekitarnya.
2️⃣ Alokasi Minimal 30–40% Anggaran Ramadhan untuk Sosial
Jika dana Ramadhan mencapai ratusan juta rupiah, pertanyaannya:
Berapa persen untuk konsumsi acara?
Berapa persen untuk dekorasi?
Berapa persen untuk kaum duafa?
Ramadhan Peduli menuntut perubahan prioritas.
Keindahan boleh, tetapi keberpihakan harus utama.
3️⃣ Zakat Produktif, Bukan Hanya Konsumtif.
Zakat dan infak jangan hanya berbentuk paket sesaat.
Bisa diarahkan pada:
Modal usaha kecil korban banjir. Perbaikan rumah tidak layak huni. Beasiswa anak yatim. Bantuan alat kerja
Ini selaras dengan maqāṣid syariah: menjaga kehidupan dan keberlanjutan ekonomi.
4️⃣ Masjid Bantu Masjid, Masjid Bantu Umat
Masjid yang kuat membantu masjid kecil di kawasan miskin.
Masjid kota membantu masjid pinggiran yang jamaahnya korban bencana.
Solidaritas kelembagaan harus ditingkatkan menjadi solidaritas kemanusiaan.
Ramadhan Menguji Keikhlasan
Ikhlas bukan diuji saat membangun kubah.
Ikhlas diuji saat memilih antara memperindah ornamen atau membantu korban banjir.
Ikhlas diuji ketika pengurus berkata:
“Tahun ini kita tunda renovasi. Kita selamatkan dulu jamaah kita.”
Jika Ramadhan hanya memperbanyak jadwal ceramah tanpa memperbanyak distribusi rahmat, maka kita sedang memperindah suara, bukan memperluas makna.
Masjid Sebagai Pusat Revolusi Sunyi
Ramadhan Peduli dan Berbagi adalah revolusi sunyi: Dari simbol ke substansi. Dari bangunan ke keberpihakan. Dari kemegahan fisik ke kemegahan akhlak
Masjid harus menjadi pusat: Dapur sosial, Klinik gratis. Konsultasi keluarga
Pendampingan ekonomi
Santunan korban bencana
Jika ini berjalan, maka kemegahan masjid menjadi bermakna.
Jika tidak, kritik “zalim” akan terus relevan.
Penutup: Ramadhan Tidak Membutuhkan Masjid yang Lebih Tinggi,
Tetapi Hati yang Lebih Dalam
Ramadhan Peduli dan Berbagi adalah jawaban paling konkret atas kegelisahan kita.
Masjid indah tidak salah.
Tetapi Ramadhan menuntut lebih dari sekadar keindahan.
Ia menuntut keadilan.
Ia menuntut empati.
Ia menuntut distribusi rahmat.
Jika tahun ini masjid mampu memastikan tidak ada jamaah yang kelaparan,
tidak ada korban banjir yang terlantar,
tidak ada anak yatim yang putus sekolah—
maka itulah makna Ramadhan yang sesungguhnya.
Masjid bukan hanya tempat sujud,
tetapi tempat umat bangkit.
