![]() |
MU-ONLINE, PADANG PARIAMAN, -- Nama Syekh Aulia itu dilekatkan ke Taman Pendidikan Al-Quran TPA/TPSA Surau Toboh Tangah, Nagari Toboh Gadang Barat, Kecamatan Sintuak Toboh Gadang, Padang Pariaman. Sepertinya, Syekh Aulia adalah gelar pemberian masyarakat yang murni melihat H. Buyung Gerai Tuanku Bagindo ini sebagai ulama yang alim, malin dan keramat.
Nama Aulia berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata ‘awliya’, yang merupakan bentuk jamak dari ‘wali’. Dalam konteks Islam, wali berarti ‘pelindung’, ‘penjaga’, atau ‘teman dekat Allah’, dan sering digunakan untuk merujuk pada orang-orang saleh atau suci yang memiliki kedekatan spiritual dengan Tuhan.
Oleh karena itu, arti nama aulia dalam Islam sering disebut sebagai ‘teman Allah’, ‘orang suci’, atau ‘pelindung spiritual’. Di berbagai budaya muslim, terutama di Asia Tenggara seperti Indonesia dan Malaysia, nama Aulia digunakan sebagai nama depan yang mencerminkan harapan akan sifat-sifat mulia dan spiritualitas yang tinggi .
Nama ini cukup populer dan sering diberikan sebagai nama anak perempuan, meskipun juga kerap digunakan untuk nama anak laki-laki. Orang-orang dengan arti nama Aulia sering dikaitkan dengan pemahaman spiritual, kedamaian batin, dan sifat yang penuh kasih sayang.
Mereka cenderung memiliki ketenangan dan daya tarik yang memancarkan kehangatan serta kebijaksanaan. Nama ini juga sering dikaitkan dengan kemampuan kepemimpinan alami, empati, dan kecerdasan anak yang tajam.
Mereka dikenal sebagai pemikir yang cepat dan pemecah masalah yang efektif, dengan kemampuan untuk membimbing orang lain dengan bijaksana. Mereka juga cenderung menjadi anak yang mandiri dan memiliki tekad kuat dalam mencapai tujuan, dengan pendekatan realistis terhadap masalah dan kemampuan untuk tetap fokus pada tujuan.
Selain itu, orang-orang dengan arti nama Aulia umumnya memiliki kemampuan untuk memahami dan mengelola keuangan dengan baik. Dalam rangkaian nama, Anda bisa menyematkan nama Aulia sebagai nama depan, tengah, maupun belakang.
Buyung Gerai adalah ulama terkenal di Toboh Gadang. Lahir 1915, beliau dari usia kecil dididik dengan ilmu agama yang berbasis di surau. Kabarnya, Buyung Gerai ini lama mengaji di Ampalu Tinggi dengan Syekh Muhammad Yatim. "Dulu, semasa Syekh Aulia ada, itu tiap Sabtu pertama di bulan Sya'ban kami ziarah ke Mudiak Padang, makamnya Syekh Muhammad Yatim," cerita Labai Surau Toboh Tangah, Busmai.
"Banyak masyarakat Toboh Gadang yang ikut ziarah dengan beliau itu ke gurunya, di Mudiak Padang. Tiba di situ siang, bermalam semalam, Minggu pagi kami meninggalkan Mudiak Padang, tapi belanja dulu di pasar Tandikek. Ramai dulu itu, mencapai puluhan mobil Datsun masa itu yang familiar," ungkapnya.
Sejak Syekh Aulia tidak ada, wirid ziarah tiap Sabtu pertama di bulan Sya'ban tetap dilanjutkan. Hanya saja, jumlah jemaah dan masyarakat yang ikut tidak sebanyak yang dulu. "Tentunya, ini sebagai bukti kalau Syekh Aulia ini lama mengaji dengan Syekh Muhammad Yatim," ulas dia.
Bagi Syekh Aulia dulunya, menziarahi gurunya itu nomor satu. Artinya, beliau belum akan ziarah ke banyak tempat, baik ke yang jauh dan yang dekat, sebelum ziarah ke Mudiak Padang. "Sejak jadi anak siak dulu, Syekh Aulia ini terkenal menjunjung tinggi adab. Hormat dan senantiasa memuliakan guru. Terbukti, seluruh kawan gurunya, keluarga gurunya, selalu dijalang ketika masih hidup dan diziarahi ketika sudah almarhum," sebutnya.
Toboh Gadang Barat
Nagari Toboh Gadang Barat merupakan nagari pemekaran yang baru dimekarkan pada akhir tahun 2016 sesuai Peraturan Daerah No. 1 tahun 2013 tentang pembentukan 43 Pemerintahan Nagari di Kabupaten Padang Pariaman.
Semula Nagari Toboh Gadang Barat merupakan bagian dari Nagari Toboh Gadang yang kemudian menjadi nagari induk. Nagari Toboh Gadang atau yang sekarang disebut nagari induk dahulunya memiliki 20 korong. Setelah terjadi pemekaran di Nagari Toboh Gadang yang menjadi empat nagari, yaitu Nagari Toboh Gadang, Nagari Toboh Gadang Timur, Toboh Gadang Selatan dan termasuk Nagari Toboh Gadang Barat.
Nagari Toboh Gadang Barat terdiri dari enam korong, yaitu Toboh Masjid, Toboh Cubadak, Toboh Sikaladi, Toboh Rawang, Toboh Tangah, Toboh Koto Panjang. Masing-masing korong dibawah pengawasan walikorong. Nagari Toboh Gadang Barat tidak lepas dari sejarah Nagari Toboh Gadang menurut versinya
Ditinjau dari segi asal usul kedatangan penduduk Nagari Toboh Gadang, pertama dari duo lareh (Sumpu dan Malalo) yang terdiri dari Suku Koto, Panyalai, Jambak, sehingga sampai saat ini yang menjadi urang tuo nan barampek adalah dari suku yang tersebut di atas, yaitu dua orang dari Suku Panyalai dan dua orang dari Suku Koto.
Makanya sampai saat ini Toboh Gadang disebut adalah kepunyaan urang tuo nan barampek, dan secara teoritis sampai saat ini jika mengadakan suatu acara dalam bidang adat kalau tanpa seizin urang tuo nan barampek maka acara tersebut dinyatakan tidak sah atau cacat secara hukum adat.
Berbasis di Surau Toboh Tangah, tapi setiap surau dan masjid di Toboh Gadang, selalu berwirid dan mengaji dengan Syekh Aulia. Perjalanan wirid pengajian ke surau-surau itu, Syekh Aulia selalu pakai sepeda. Naik sepeda, pakai sarung, serban melilit di bahunya. Demikian, senantiasa melekat dalam dirinya. Sementara, di Surau Toboh Tangah sendiri, beliau mengasuh anak siak.
Sakti dan Keramat
Syekh Aulia terkenal sakti. Beliau adalah Mufti Nagari Toboh Gadang. Jabatan Mufti itu diembannya sampai dia wafat. Pengakuan Belanda, beliau ini berjalan kaki tak memijak tanah. Ketika akan disiksa oleh Belanda dengan sentrum, Syekh Aulia ini tak mempan. "Karena tidak bisa dihukum oleh Belanda, akhirnya beliau dilepaskan kembali," ujarnya.
Tiba di tempat tujuan ketika berjalan bersama, nomor satu, meski beriringan berjalan dari awal. "Suatu ketika orang siak Toboh Gadang ini melakukan ratik tolak bala. Berkeliling kampung, kadang tiba di areal persawahan. Tapi beliau tak berluluk kakinya, sedangkan orang siak lain pada kumuh oleh luluk sawah. Dari sejauh itu Toboh Gadang yang dikelilingi, lama pula berjalan kaki sambil membaca kalimat tauhid, beliau duluan sampainya di ujung perhentian yang sudah disepakati di awal ratik tolak bala," kata Busmai dan H. Sulaiman, urang tuo Korong Toboh Tangah.
Pernah suatu kali air Sungai Batang Tapakis ini banjir karena hujan lebat di hulunya. Orang banyak tetap menyeberangi sungai itu. Zaman dulu itu, jembatan belum ada. Satu-satunya bisa sampai ke seberang, harus menyeberangi sungai itu. Yang namanya air banjir, tentu agak sedikit membesar sungai yang kecil itu. Airnya pun pekat keruhnya, sehingga tak bisa masyarakat membedakan tempat yang biasa mereka seberangi. Tiba di seberang, orang banyak pada luka-luka karena terinjak pandan berduri. Syekh Aulia pun lewat sungai yang sama, tempat yang tidak berbeda dengan orang kebanyakan. Tapi, orang banyak pada luka, beliau tidak mempan oleh duri pandan itu.
Pengalaman seorang sopir bus Pariaman - Padang yang akhirnya mengakui kalau Syekh Aulia ini adalah ulama keramat dan sakti. Ceritanya begini. Jalan Pariaman - Padang yang melewati Toboh Gadang ini belum serancak sekarang. Lobang besar-besar masih banyak. Bahkan, di aspalnya banyak yang terkelupas, karena masih aspal perdana. Karena hujan malam hari, siangnya lobang di jalan itu berisi air. Tentu air kumuh karena dilewati kendaraan. Mobil umum lewat, pas Syekh Aulia sedang mairit sepedanya di tepi jalan yang berlobang berisi air itu. Apa yang terjadi? Sudah pasti semburan air yang digilas mobil itu mengenai Syekh Aulia.
Basah kuyup beliau oleh air kumuh. Sopir bus tahu karena terlihat dari kaca spion. Tapi sopir ini terus saja memijak gas, melarikan mobilnya menuju kota Padang. Sementara, Syekh Aulia ini membersihkan bajunya yang sudah kotor. Tiba di Pungguang Kasiak Lubuk Alung, mobil ini pecah ban. Berhentilah mobil ini, mengganti dengan ban serap. Lalu lanjut mengantar penumpang ke Padang. Belum sampai di terminal, pecah pula bannya satu lagi.
Tiba di terminal, tentu sudah lama di jalan. Dalam istirahat di terminal itulah sopir bus ini mengingat penyebab bocornya ban mobil dia. Terngiang dalam lintasan lamunannya seorang bapak tua sedang mengiringi sepeda, lalu disembur oleh air gilasan ban mobil. Ingatan demikian tak mau menghilang dalam diri sopir ini. Lama. Besok, besoknya lagi, sampai berbulan-bulan, ingatan tentang bapak itu tetap melintas dalam memorinya.
Akhirnya, sang sopir sengaja datang dan bertanya ke Toboh Gadang, tempat mobilnya membuat ulah di jalan yang membuat Syekh Aulia kumuh oleh semburan air. Oleh masyarakat diceritakan, kalau orang tua itu tak sembarangan orang. "Itu nan Ungku Gerai," begitu kira-kira masyarakat menjelaskan kepada sopir ini. Akhirnya, sopir ini menceritakan kepada koleganya, terutama yang sering melewati jalan Pariaman - Padang via Toboh Gada berhati-hati dengan seorang orang tua yang sering bersepeda di Toboh Gadang itu, kalau ingin perjalanan selamat sampai di tujuan.
Suatu ketika beliau sakit garang. Disebut demikian, karena sakitnya harus dibawa tidur. Sekitar tahun 1960 an. Datang masyarakat Ombilin, Tanah Datar yang merupakan murid dan jemaah beliau, melihatnya. Selasa harinya. Biasalah. Masyarakat yang datang menyilau gurunya yang sedang demam, macam-macam yang dibawakan aneka makanan. Selesai melihat itu, masyarakat ini balik ke Ombilin hari itu juga. Hari berjalan, tahu-tahu Jumat, masyarakat ini melihat Syekh Aulia jadi imam Shalat Jumat. Masyarakat ini penasaran. Siap Jumat, sorenya langsung pergi ke Toboh Tangah, dan mendapati Syekh Aulia sedang terbaring sakit, masih seperti sakit yang disaksikannya Selasa kemarinnya.
Keluarga
Syekh Aulia wafat 20 Juli 1995 di Surau Toboh Tangah, kediaman sekaligus tempat beliau mengajar anak siak dan masyarakat Toboh Gadang. Beliau meninggalkan sejumlah istri dan anak. Istrinya ada di Toboh Masjid. Di Toboh Tangah, Maraliah nama istrinya, di Tapakis, Hj Sarifah, di Ulakan dan Toboh Masjid Aisyah.
Referensi:
1. Wawancara dengan Labai Busmai, Labai Surau Toboh Tangah dan H. Sudirman, urang tuo korong, Kamis 12 Februari 2026.
2. https://tobohgadang-barat.padangpariamankab.go.id/index.php/artikel/2019/7/19/sejarah-nagari
3. https://hellosehat.com/parenting/bayi/arti-nama-aulia/
