![]() |
مجلس الحديث النبويّ الشريف
MAJELIS KAJIAN HADITS BERSAMA ZULKIFLI ZAKARIA
DI RUMAH SAKIT TAMAR MEDICAL CENTRE (TMC)
Jl. Basuki Rahmat No.1 Pariaman
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Teks Hadits:
حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ سُفْيَانَ الْمَدِيِنِيُّ ، حَدَّثَنِي بِلالُ بْنُ يَحْيَى بْنِ طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ جَدِّهِ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَأَى الْهِلالَ ، قَالَ : اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالإِيمَانِ ، وَالسَّلامَةِ وَالإِسْلامِ ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ.
Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amir, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Sufyan al-Madini, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Bilal bin Yahya bin Thalhah bin ‘Ubaidillah, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam apabila melihat hilal, beliau berdoa:
«اَللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالْإِيمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ»
Allāhumma ahillahu ‘alainā bil-yumni wal-īmāni was-salāmati wal-islām. Rabbī wa rabbukallāh.
“Ya Allah, tampakkanlah hilal itu kepada kami dengan keberkahan dan keimanan, dengan keselamatan dan keislaman. Rabb-ku dan Rabb-mu adalah Allah.”
(HR. Ahmad dalam Al-Musnad, 1/162)
Pelajaran dari Hadits ini:
Hilal dalam Islam bukan sekadar fenomena astronomi, tetapi tanda masuknya waktu ibadah seperti Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.
Allah subhānahu wata’āla berfirman:
{يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ ظُهُورِهَا وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَى وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (189)}
“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan-bulan sabit. Katakanlah: ‘Bulan-bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji.’ Dan bukanlah kebajikan itu memasuki rumah-rumah dari belakangnya, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang bertakwa. Masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”
(Al-Baqarah: 189)
Karena itu Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam tidak hanya melihat hilal secara fisik, tetapi mengiringinya dengan doa — menunjukkan bahwa pergantian waktu adalah momen ibadah.
Makna Lafazh-Lafazh Doa:
اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا
Maknanya: Ya Allah, jadikanlah kemunculan bulan ini sebagai awal bulan yang baik bagi kami.
Kata أهلّه berasal dari الهلال (bulan sabit), yakni bulan yang tampak pada awal bulan hijriyah.
بِالْيُمْنِ وَالْإِيمَانِ
Maknanya: Dengan keberkahan dan keimanan.
• اليُمن:
keberkahan, kebaikan, dan keberuntungan yang diberkahi.
• الإيمان:
bertambahnya keimanan, ketaatan, dan istiqamah.
Seakan-akan Nabi mengajarkan bahwa pergantian bulan bukan sekadar pergantian kalender, tetapi momentum peningkatan iman.
وَالسَّلَامَةِ وَالإِسْلَامِ
Maknanya: Dengan keselamatan dan keislaman.
• السلامة:
keselamatan dari musibah, penyakit, fitnah, dan dosa.
• الإسلام:
ketundukan lahir batin kepada Allah.
Iman berkaitan dengan keyakinan batin, sedangkan Islam berkaitan dengan ketundukan dan amal lahir.
Penyebutan keduanya menunjukkan kesempurnaan agama secara lahir dan batin.
ربِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ
Maknanya: Rabb-ku dan Rabb-mu adalah Allah.
Ini adalah penegasan tauhid. Bangsa Arab dahulu mengaitkan bulan dengan nasib dan pengaruh gaib. Nabi membantah keyakinan itu dengan menegaskan bahwa bulan hanyalah makhluk.
Dalam kalimat ini terdapat:
• Penolakan terhadap tathayyur (anggapan sial/untung karena benda langit)
• Penegasan bahwa seluruh makhluk berada di bawah rububiyyah Allah
Ali al-Qari rahimahullāh menulis:
““رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ”
(Rabb-ku dan Rabb-mu adalah Allah) merupakan bentuk khithab (sapaan) kepada hilal dengan gaya iltifāt (peralihan gaya bahasa).
Di dalamnya terdapat penyucian Allah dari adanya sekutu dalam mengatur makhluk-Nya, serta bantahan terhadap orang yang menyembah selain Allah seperti matahari dan bulan.
Juga terdapat isyarat bahwa berdoa dianjurkan ketika muncul tanda-tanda (kekuasaan Allah) dan ketika terjadi perubahan keadaan.”
(Mirqāt al-Mafātīh Syarh Misykāt al-Mashābīh, 4/1686)
Hadits ini mengandung beberapa kaidah penting:
1. Tauhid Rububiyyah. Bulan tidak memberi manfaat dan mudarat.
2. Bantahan terhadap astrologi. Tidak ada hubungan antara peredaran bulan dengan nasib manusia.
3. Pengakuan bahwa waktu adalah nikmat. Setiap bulan baru adalah kesempatan taubat dan perbaikan.
Fiqh Hadits:
• Disunnahkan membaca doa ini setiap melihat hilal, baik awal Ramadhan maupun bulan lainnya.
• Dibaca ketika benar-benar melihat hilal. Adapun penetapan awal bulan memiliki pembahasan fiqih tersendiri di kalangan para ulama.
• Tidak ada tuntunan mengangkat tangan secara khusus dalam doa ini.
Setiap pergantian bulan adalah:
• Pengingat dekatnya ajal
• Pengingat cepatnya waktu berlalu
• Kesempatan memperbaharui niat
Seorang mukmin menyambut bulan baru dengan muhasabah, doa, dan tekad memperbaiki diri — bukan dengan ritual-ritual yang tidak memiliki tuntunan dari Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam.
Wallāhu a‘lam.
