![]() |
| H. Djosan Tuanku Mudo |
MU-ONLINE, -- H. Djosan Tuanku Mudo tersebut sebagai ulama besar dan tua di Ulakan. Dia se zaman dengan Luthan Tuanku Mudo, Khalifah Syekh Burhanuddin yang cukup lama mengajar di Surau Gadang Tanjung Medan. Sepertinya, masa mudanya Djosan Tuanku Mudo dan Luthan Tuanku Mudo ini berkawan, sama mengaji di Surau Gadang Tanjung Medan, yang kala itu Surau Gadang dipimpin oleh Syekh Bonta, ayah dari Luthan Tuanku Mudo.
Ali Nurdin M. Nur menyebutkan, hadirnya Masjid Syekh Burhanuddin di komplek Surau Gadang Tanjung Medan, adalah Djosan Tuanku Mudo ini tokohnya. "Masa itu jembatan belum ada. Orang dari seberang harus masuk sungai ketika ke Masjid Syekh Burhanuddin di Kampung Koto, maka kebesaran Djosan Tuanku Mudo berdiri dan dibuat masjid di Tanjung Medan," kata dia.
Djosan Tuanku Mudo yang lahir 1912 di Kampung Koto ini setelah di Tanjung Medan, mengaji di Ujuang Kubu dengan Ungku Panjang, pernah pula mengaji di Sasak, Pasaman Barat. Di Ulakan, beliau tak memegang peranan apa pun secara bernagari, namun, pengaruh dan kharismanya menjadi rujukan oleh masyarakat.
Di kampung pun dia tak begitu banyak. Dia banyak menghabiskan waktunya dan mengabdi di rantau. Melakukan dakwah, membangun aqidah umat, terutama masyarakat perantau yang ada di Bengkulu, Sungai Penuh, Jambi. Di perantauan itu dia membangun surau, menghidupkan wirid pengajian, baik pengajian untuk kaum muda maupun kajian tasawuf yang lazim diikuti oleh masyarakat yang tua-tua.
Di Surau Apa Kampung Koto Ulakan, beliau mendirikan lembaga Jamiatul Muthaalimin, semacam kelompok pengajian, yang isinya banyak tokoh masyarakat, alim ulama dan urang siak. Terutama para tuanku yang baru pulang kampung dari menuntut ilmu, tiba di kampung sering mengulang kaji di Jamiatul Muthaalimin ini.
Syahril Luthan Tuanku Kuniang, Khalifah XV Syekh Burhanuddin menyebutkan, bahwa terjadinya pergantian khalifah ke dirinya, adalah Djosan Tuanku Mudo ini pertama kali yang datang ke dia, sepekan setelah wafatnya Luthan Tuanku Mudo, ayah Syahril Luthan Tuanku Kuniang ini. "Pas usai menujuh hari, datang beliau menemui saya, bicara dan berdiskusi, dan langsung minta kalau khalifah berikutnya adalah saya," kata Syahril Luthan Tuanku Kuniang berkisah.
Djosan Tuanku Mudo adalah ulama alim dan malin. Bukti dari kemalinan beliau, adalah jadi rujukan oleh ulama baru ketika berkiprah di kampung. Berpikiran moderat dan diterima semua kalangan di Ulakan. Beliau wafat tahun 1998, meninggalkan empat istri dan 14 orang anak.
Djosan Tuanku Mudo (1912–1998), atau dikenal sebagai Buya Haji Tuanku Mudo Djosan Syekh Tibarau Ulakan, adalah seorang ulama kharismatik asal Ulakan, Padang Pariaman, Sumatera Barat. Beliau merupakan tokoh penting dalam tradisi keulamaan di Minangkabau yang menyandang gelar adat dan agama sekaligus.
Latar Belakang Keagamaan: Sebagai seorang Syekh, beliau memiliki otoritas keagamaan yang tinggi, khususnya di wilayah Ulakan yang dikenal sebagai pusat penyebaran Islam (Syattariyah) di Minangkabau.
Gelar Adat & Agama: Nama beliau menggabungkan identitas birokrasi/personal (Djosan), gelar keagamaan (Tuanku Mudo/Syekh), dan asal usul (Tibarau Ulakan).
Wafat: Beliau berpulang pada tahun 1998, dan jasa-jasanya dalam membimbing umat masih diperingati oleh masyarakat setempat melalui kegiatan seperti haul atau doa bersama.
Referensi
1. Wawancara dengan Ali Nurdin M Nur, Jumat 23 Januari 2026 di Kampung Tangah, Padang Bintungan
2. Wawancara dengan Syahril Luthan Tuanku Kuniang, 19 Oktober 2024
