![]() |
مجلس الحديث النبويّ الشريف
MAJELIS KAJIAN HADITS BERSAMA ZULKIFLI ZAKARIA
DI RUMAH SAKIT TAMAR MEDICAL CENTRE (TMC)
Jl. Basuki Rahmat No.1 Pariaman
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Rabu, 9 Sya’ban 1447 H / 28 Januari 2026 M
Pertemuan 1: Pengetahuan Ghaib Hanya di Sisi Allah subhānahu wata’ālā
Teks Hadits:
7379 - حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلاَلٍ، حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: " مَفَاتِيحُ الغَيْبِ خَمْسٌ، لاَ يَعْلَمُهَا إِلَّا اللَّهُ: لاَ يَعْلَمُ مَا تَغِيضُ الأَرْحَامُ إِلَّا اللَّهُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ إِلَّا اللَّهُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَتَى يَأْتِي المَطَرُ أَحَدٌ إِلَّا اللَّهُ، وَلاَ تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِلَّا اللَّهُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَتَى تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا اللَّهُ "
Telah menceritakan kepada kami Khalid bin Makhlad, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Dinar, dari Ibnu ‘Umar radhiyallāhu ʿanhuma, dari Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
" مَفَاتِيحُ الغَيْبِ خَمْسٌ، لاَ يَعْلَمُهَا إِلَّا اللَّهُ: لاَ يَعْلَمُ مَا تَغِيضُ الأَرْحَامُ إِلَّا اللَّهُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ إِلَّا اللَّهُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَتَى يَأْتِي المَطَرُ أَحَدٌ إِلَّا اللَّهُ، وَلاَ تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِلَّا اللَّهُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَتَى تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا اللَّهُ "
“Kunci-kunci realitas gaib itu berjumlah lima, yang tidak diketahui secara mutlak kecuali oleh Allah semata: tidak ada yang mengetahui apa yang berkurang, berkembang, dan disempurnakan oleh rahim kecuali Allah; tidak ada yang mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi pada hari esok kecuali Allah; tidak ada seorang pun yang mengetahui secara hakiki waktu turunnya hujan kecuali Allah; tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui secara pasti di bumi mana ia akan wafat kecuali Allah; dan tidak ada yang mengetahui secara mutlak waktu terjadinya Hari Kiamat kecuali Allah.”
(HR. Al-Bukhārī, no. 7379)
Pelajaran dari Hadits ini:
Hadits ini mengajarkan bahwa ada perkara-perkara yang sama sekali tidak bisa diketahui makhluk kecuali Allah. Ini adalah bagian dari keimanan kepada keagungan dan kesempurnaan ilmu Allah, sebagaimana firman-Nya:
{وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ (59) }
“Dan di sisi-Nya-lah kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia. Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya; tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi; tidak ada sesuatu yang basah dan tidak pula yang kering, melainkan semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).”
(QS. Al-An‘ām: 59)
Sekuat apa pun akal, sains, dan teknologi manusia, tetap ada batas yang tidak bisa ditembus. Manusia hanya mengetahui apa yang Allah izinkan, sebagaimana firman-Nya:
{وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا}
“Dan kamu tidak diberi ilmu melainkan sedikit.”
(QS. Al-Isrā’: 85)
Makna ‘apa yang ada dalam rahim’ bukan hanya jenis kelamin tetapi seluruh takdir manusia: umur, rezeki, ajal, kebahagiaan, kesempurnaan fisik, dan jalan hidupnya.
Ramalan masa depan bertentangan dengan aqidah. Dukun, peramal, paranormal, astrolog, dan ramalan nasib adalah bentuk klaim ilmu gaib yang bertentangan dengan tauhid, karena ilmu gaib mutlak hanya milik Allah.
Sains dan aqidah tidak bertentangan. Ilmu pengetahuan bekerja dengan prediksi dan sebab-akibat, bukan kepastian mutlak. Sains tidak mengetahui secara pasti, tetapi memperkirakan. Sedangkan ilmu Allah bersifat pasti dan mutlak.
Hadits ini membangun sikap tawakkal. Manusia diperintahkan berusaha, tetapi tetap bergantung kepada Allah dalam hasil. Allah subhānahu wata’ālā berfirman:
{وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا} [الطلاق: 3]
“Barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya (menyempurnakan kehendak-Nya). Sungguh, Allah telah menetapkan ukuran (ketentuan) bagi segala sesuatu.”
(QS. Ath-Thalāq: 3)
Menguatkan iman kepada takdir. Hidup, mati, rezeki, hujan, dan kiamat semuanya berada dalam ketetapan Allah, bukan di tangan makhluk, sebagaimana firman-Nya:
{مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22)}
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada diri kalian sendiri, melainkan semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.”
(QS. Al-Ḥadīd: 22)
Hadits ini mengajarkan agar manusia tidak sombong dengan ilmu, jabatan, atau teknologi, karena semua ilmu hakikatnya milik Allah.
Dan hadits ini juga menanamkan kesadaran akhirat. Disebutkannya kematian dan kiamat mengingatkan bahwa hidup ini sementara dan akan dipertanggungjawabkan. Allah subhānahu wata’ālā berfirman:
{كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ (185)}
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah kalian akan disempurnakan pahala kalian. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”
(QS. Āli ‘Imrān: 185)
Islam mengajarkan keseimbangan antara:
• usaha dan doa,
• ikhtiar dan tawakkal,
• sains dan iman,
• dunia dan akhirat.
Hadits ini membangun keyakinan bahwa Allah adalah pusat segala ilmu, kekuasaan, dan takdir, sedangkan manusia adalah hamba yang berusaha dan berserah diri.
Wallāhu a‘lam.
