![]() |
الأمَنَةُ الزَّائِلَةُ وَالْفِتَنُ الْقَادِمَةُ
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Mukadimah Nubuwwah yang Mencerahkan Masa Depan
Pemberitaan kondisi masa depan dari salah satu sabda nubuwwah Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam.
Hadits Tentang Hilangnya Para Penjaga Ummat
Hadits dari Abu Burdah dari ayahnya:
“Kami shalat Maghrib bersama Rasulullāh shallallāhu ‘alaihi wasallam. Lalu kami berkata: ‘Seandainya kita duduk sampai bisa shalat Isya bersama beliau.’ Maka kami pun duduk.
Ketika beliau keluar, beliau bersabda:
»مَا زِلْتُمْ هَاهُنَا؟«
‘Kalian masih di sini?’
Kami menjawab: ‘Wahai Rasulullāh, kami telah shalat Maghrib bersamamu, lalu kami berkata kita duduk sampai dapat shalat Isya bersamamu.’
Beliau bersabda:
»أَحْسَنْتُمْ أَوْ أَصَبْتُمْ«
‘Kalian telah berbuat baik atau kalian benar.’
Kemudian beliau menengadahkan kepalanya ke langit — dan sering kali beliau melakukan itu — lalu bersabda:
»النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ، فَإِذَا ذَهَبَتِ النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ، وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي، فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ، وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لِأُمَّتِي، فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ«
‘Bintang-bintang adalah penjaga bagi langit. Jika bintang-bintang hilang, akan datang kepada langit apa yang dijanjikan baginya.
Aku adalah penjaga bagi para sahabatku. Jika aku telah pergi, akan datang kepada para sahabatku apa yang dijanjikan bagi mereka.
Dan para sahabatku adalah penjaga bagi umatku. Jika para sahabatku telah pergi, akan datang kepada umatku apa yang dijanjikan kepada mereka.’”
(HR. Muslim, no. 2531)
Penjelasan An-Nawawī rahimahullāh
(Bab: Keberadaan Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam adalah keamanan bagi para sahabatnya, dan keberadaan para sahabat adalah keamanan bagi umat)
Sabda beliau shallallāhu ‘alaihi wasallam:
“Bintang-bintang adalah amanah bagi langit. Jika bintang-bintang telah hilang, akan datang kepada langit apa yang dijanjikan untuknya.”
Para ulama berkata bahwa al-amnah, al-amn, dan al-amān memiliki makna yang sama.
Makna hadis ini adalah bahwa selama bintang-bintang ada, langit tetap ada. Jika bintang-bintang meredup dan tercerai-berai pada hari kiamat, maka langit akan melemah, lalu terbelah, terpecah, dan hilang.
Sabda beliau shallallāhu ‘alaihi wasallam:
“Dan aku adalah amanah bagi para sahabatku. Jika aku telah pergi, akan datang kepada para sahabatku apa yang dijanjikan kepada mereka.”
Maksudnya: datang fitnah, peperangan, kemurtadan orang-orang Arab badui, perpecahan hati, dan semacamnya dari apa yang telah beliau peringatkan — dan semuanya telah terjadi.
Sabda beliau shallallāhu ‘alaihi wasallam:
“Dan para sahabatku adalah amanah bagi umatku. Jika para sahabatku telah pergi, maka akan datang kepada umatku apa yang dijanjikan kepada mereka.”
Maksudnya: munculnya bid‘ah, hal-hal baru dalam agama, fitnah-fitnah, timbulnya tanduk setan, tampaknya bangsa Romawi dan selain mereka atas kaum muslimin, serta pelanggaran terhadap Madinah dan Makkah, dan perkara-perkara lainnya.
Semua ini adalah mukjizat beliau shallallāhu ‘alaihi wasallam.
(Syarh Shahīh Muslim an-Nawawī, Cetakan ad-Dar al-‘Alamiyah Kairo, th. 1440 H – 2019 M. 7/605)
Tanda-Tanda Besar Setelah Wafat Para Sahabat;
1. Keberadaan bintang sebab kokohnya langit.
2. Keberadaan Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam adalah keamanan bagi sahabat.
Ketika beliau wafat: perang Riddah, kemurtadan Arab badui, perpecahan hati — semuanya terjadi.
3. Keberadaan sahabat adalah keamanan bagi umat.
Saat mereka wafat, muncullah: bid‘ah besar,fitnah pemikiran, tanduk setan, dominasi Romawi (Barat) serta pelanggaran terhadap Makkah dan Madinah.
Semua ini adalah bentuk kemukjizatan Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam.
Cahaya hadits dalam Membaca Zaman Kita
Kini kita memasuki masa ketika:
• bintang tetap ada,
• Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam telah wafat
• dan para sahabat pun telah pergi.
Itulah sebabnya fase fitnah umat menjadi semakin deras dan dalam.
1. Fitnah Pemikiran Lebih Mematikan daripada Fitnah Pedang.
Jika dahulu fitnah berupa pedang dan pemberontakan, hari ini fitnah berwujud:
• liberalisasi akidah, normalisasi penyimpangan moral,
• penolakan hadits,
• tafsir bebas tanpa manhaj,
• opini digital dari orang yang tidak belajar agama.
Ia masuk melalui:
• media sosial,
• ruang digital,
• influencer (orang yang memengaruhi banyak orang melalui konten dan kehadiran online) tanpa sanad ilmiah.
Pemikiran merusak sebelum pedang menghunus.
2. Ketika Umat ini Tidak Lagi Merujuk Kepasa Sahabat
Ketika umat tidak lagi bertanya: “Bagaimana sahabat memahami ayat ini?”
Maka:
• hawa nafsu menjadi mufti (pemberi fatwa),
• perbedaan kecil berubah besar,
• klaim kebenaran muncul tanpa dasar,
• manusia membuat agama versinya sendiri.
Inilah puncak hilangnya penjaga umat.
3. Dominasi Rum (Barat) dan Kebenaran Nubuwwah.
Penjelasan An-Nawawī tentang “ẓuhūr ar-Rūm” dijelaskan oleh hadits-hadits lain dalam Shahih Muslim.
Hadits Pertama: Dari ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallāhu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda:
«تَقُومُ السَّاعَةُ وَالرُّومُ أَكْثَرُ النَّاسِ»
“Kiamat akan terjadi sementara bangsa Romawi menjadi manusia yang paling banyak.”
(HR. Muslim, no. 2898)
Hari ini, dunia Barat memegang dominasi global:
• politik,
• ekonomi,
• budaya,
• standard moral,
• opini internasional.
Mereka “yang paling banyak” bukan dalam jumlah fisik, tetapi dalam pengaruh global.
Hadits Kedua: Dari Nāfi’ bin ‘Utbah radhiyallāh ‘anhu bahwa Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda:
«تَغْزُونَ جَزِيرَةَ الْعَرَبِ فَيَفْتَحُهَا اللهُ، ثُمَّ فَارِسَ فَيَفْتَحُهَا اللهُ، ثُمَّ تَغْزُونَ الرُّومَ فَيَفْتَحُهَا اللهُ، ثُمَّ تَغْزُونَ الدَّجَّالَ فَيَفْتَحُهُ اللهُ»
“Kalian akan memerangi Jazirah Arab lalu Allah membukanya (memberikan kemenangan terhadapnya). Kemudian kalian memerangi Persia lalu Allah membukanya. Kemudian kalian memerangi Romawi lalu Allah membukanya. Kemudian kalian memerangi Dajjal lalu Allah membukanya (mengalahkannya).”
(HR. Muslim, no. 2900)
Dalam konteks sekarang:
• peperangan dapat berupa konfrontasi politik, militer, ekonomi, atau hegemoni (dominasi pengaruh) budaya.
• ketegangan blok Barat dengan dunia Islam adalah realita yang tidak dapat disangkal.
Inilah nubuwwah itu.
4. Pelanggaran Terhadap Dua Tanah Suci.
Tekanan global terhadap Makkah dan Madinah terjadi dalam bentuk:
• ekonomi,
• akses internasional,
• regulasi global (aturan internasional yang dibuat secara kolektif untuk mengatur urusan global.),
• budaya dan turisme.
Ini termasuk makna “intihaaku al-Madīnah wa Makkah” (pelanggaran terhadap Madinah dan Makkah) dalam syarah An-Nawawī.
5. Gelombang Bid‘ah dan Penyimpangan Modern.
Dari penolakan hadits sahih, hingga memelintir ayat untuk kepentingan politik atau tren sosial.
Inilah makna sabda beliau:
» فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ«
“Dan para sahabatku adalah penjaga bagi umatku. Jika para sahabatku telah pergi, akan datang kepada umatku apa yang dijanjikan kepada mereka.”
Penutup: Dua Pegangan Terakhir Umat
Hadits ini adalah peta perjalanan umat hingga hari ini. Penjaga telah pergi, fitnah telah datang, dan nubuwwah telah menjadi kenyataan.
Yang tersisa bagi kita hanyalah dua pegangan:
1. Wahyu,
2. Pemahaman sahabat, karena merekalah “amanah terakhir” agama ini.
Semoga Allah meneguhkan hati kita di atas jalan mereka.
Pariaman, Kamis, 29 Jumadil Ula 1447 H / 20 November 2025 M
Zulkifli Zakaria
