![]() |
Oleh: Prof. Dr. H. Hasan Zaini. M.A.
Allah berfirman: "Hai orang- orang yang beriman, Ikutilah Allah dan Rasul-Nya dan para pemimpin di antara kamu. Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al- Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar- benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." ( Q.S. Al-Nisa', 4: 59).
Jika dalam shalat berjama'ah diperlukan imam yang memiliki kelebihan-kelebihan tertentu yang memenuhi syarat- syarat menjadi imam, maka di dalam kepemimpinan umat pun diperlukan imam/ pemimpin yang memenuhi syarat. Pemimpinan harus memiliki sifat-sifat yang positif dalam hubungan dengan kepengurusan dan kepemimpinannya. Sifat Rasulullah: Shiddiq, Tabligh, Amanah dan Fathanah merupakan dasar dan rol model yang perlu ditiru dan diterapkan oleh pemimpin masa kini, karena beliau adalah contoh teladan bagi umat. (Uswatun hasanah) ( Q.S. Al- Ahzab, 33 : 21).
Pada garis besarnya seorang pemimpin haruslah memiliki karakter, sifat dan bobot kepemimpinan sebagai berikut :
1. Beriman dan Bertaqwa.
Untuk dapat diterima menjadi pemimpin umat, keimanan adalah syarat yang tidak dapat ditawar- tawar. Demikian juga ketaqwaan seseorang menjadi syarat yang perlu dipenuhi. Bagaimana dapat membimbing umat dengan baik kepada ketaqwaan jika pemimpin itu sendiri tidak bertaqwa. Di Indonesia, ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa merupakan syarat pertama dan utama untuk memangku suatu jabatan. Dalam Al-Quran digambarkan bagaimana karakter pemimpin yang bertaqwa seperti firman-Nya, artinya: "Dan orang - orang yang tidak mau menjadi saksi palsu, dan apabila melalui perkara yang sia- sia, mereka berlalu dengan sopan. Dan apabila diberi peringatan dengan ayat- ayat Tuhan, mereka tidak bersikap tuli dan buta. Dan mereka berkata (berdo'a): Wahai Tuhan kami ! Karuniakanlah kepada kami, isteri dan keturunan yang menjadi cahaya mata dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang- orang yang bertaqwa." ( Q.S. Al- Furqan, 25: 72- 74).
2. Kuat dan Sehat.
Kekuatan dan kesehatan fisik perlu dimiliki oleh seorang pemimpin. Dapatlah dibayangkan betapa kesulitan yang timbul dalam kepengurusan jika pemimpin yang diharapkan itu sakit- sakitan atau memiliki fisik yang lemah. Dalam hubungan ini Al-Quran memberi contoh pemimpin yang bobot fisiknya ideal untuk menjalankan tugas- tugas kepemimpinannya yaitu Thalut. Allah berfirman, artinya:" Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi raja (pemimpin) untuk kamu. Dianugerahi-Nya lagi kepadanya (Thalut) ilmu yang luas dan badan yang kuat. Allah memberikan pemerintahan/ kekuasaan kepada siapa yang dikehendaki- Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian -Nya lagi Maha Mengetahui." ( Q.S . Al- Bqarah, 2: 247).
3. Terampil dan Berpengetahuan.
Golongan Bani Israil merasa keberatan menerima Thalut sebagai pemimpin, karena tidak memiliki harta benda yang banyak. Tetapi Nabinya memberi penjelasan, bahwa bukanlah kekayaan syarat pengangkatan pemimpin. Untuk menjadi umat yang kuat diperlukan pemimpin yang kuat dan luas pengetahuannya. Kalau kekuatan dan kesehatan fisik diperlukan, maka kesehatan mental atau rohani lebih diperlukan lagi.
Kepemimpinan haruslah diserahkan kepada tenaga yang memiliki keahlian di bidangnya. Jika tidak, maka kerusakanlah yang akan terjadi. Seperti sabda Rasulullah Saw., yang artinya:" Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya. " ( H.R. Bukhari).
Selanjutnya betapa buruk akibatnya jika umat dipimpin oleh orang- orang yang ambisius, tetapi tidak memiliki pengetahuan, seperti yang dilukiskan oleh Rasulullah dalam hadisnya, yang artinya: " Allah mencabut kembali pengetahuan itu bukan dengan jalan mencabutnya dari hati manusia, akan tetapi Dia menarik kembali (mematikan) orang- orang yang berpengetahuan itu sampai habis, maka manusia memilih orang-orang bodoh menjadi pemimpin. Mereka (orang-orang bodoh) itulah tempat bertanya dan mereka berfatwa tanpa pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan orang." (H. R. Bukhari).
4. Sabar dan Tahan Uji. Pemimpin perlu memiliki kekuatan batin, sabar dan tahan menghadapi ujian dan rintangan. Demikian juga harus lapang dada, luas pikiran dan menghormati pendapat bawahan meskipun bertentangan dengan 0pendapatnya sendiri. Medan kepemimpinan menempuh jalan yang berliku- liku, pkadang- kadang licin berbahaya dan kadang- kadang kasar dan gersang, penuh kerikil tajam. Untuk menghadapi hal ini tidak mungkin dengan mental yang lemah. Seorang pemimpin kadang- kadoang harus menghadapi keritikan- keritikan yang betapa pun pedasnya, ia akan dapat menimbang dengan kepala dingin akano kebenaran kritikan itu. Ia tidak mudah marah dan tidak gampang tersinggung. Jika keritikan itu konstruktif, maka diterimanya dengan rasa terima kasih kepada pengeritik. Jika keritikan itu destruktif dan bukan pada tempatnya, ia tampil memberikan penjelasan dengan tenang sampai umat yang mengeritik dapat memahami duduk persoalan yang sebenarnya.
5. Adil dan Jujur.
Keadilan dan kejujuran pemimpin akan memperkokoh kepemimpinannya. Sebaliknya kepada pemimpin yang curang dan khianat terhadap rakyat akan diberikan ancaman sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw, yang artinya: “Tidaklah seorang hamba (manusia) yang dijadikan pemimpin oleh Allah atas rakyat, kemudian dia mati, padahal dia pernah berkhianat kepada rakyat, melainkan Allah mengharamkan sorga baginya." (H.R. Bukhari dan Muslim).
6. Bijaksana. Seorang pemimpin haruslah memiliki sifat bijaksana, sehingga ia dapat menyampaikan pesan- pesan apalagi instruksi dengan mulus, tanpa hambatan dan dapat diterima dengan senang hati oleh rakyat. Sehingga rakyat tidak gelisah, resah dan galau. Allah berfirman, yang artinya: " Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan pengajaran yang baik serta berdiskusilah dengan mereka dengan cara yang lebih baik..". ( Q.S. Al- Nahl. 16: 125).
Semoga karakter dan sifat- sifat tersebut bisa diterapkan dalam suasana reformasi sekarang ini.
Dharmasraya, 29 Agustus 2025/5 Rabi'ul Awal 1447 H. Prof. HZN.