![]() |
Oleh: Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag.
Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Imam Bonjol Padang
Tuanku dan Warisan Besar Syekh Burhanuddin
Tuanku merupakan salah satu figur penting dalam sejarah perkembangan Islam Minangkabau. Kehadirannya tidak dapat dipisahkan dari tradisi pendidikan surau, jaringan ulama, dan perkembangan Tarekat Syathariyah yang memiliki hubungan historis dengan Syekh Burhanuddin Ulakan.
Dalam masyarakat Minangkabau, tuanku bukan sekadar gelar keagamaan, melainkan simbol keilmuan, kepemimpinan spiritual, keteladanan akhlak, dan pengabdian sosial. Tuanku menjadi penjaga kesinambungan ilmu yang diwariskan melalui hubungan guru dan murid, tradisi mengaji duduk, serta sanad keulamaan.
Buku Pemikiran Sufistik Tuanku: Gerakan dan Ajaran Tarekat Syathariyah karya Dr. H. Roni Faslah, M.A., mengingatkan pentingnya memahami tuanku bukan hanya sebagai pelaku ritual tarekat, tetapi juga sebagai pewaris pemikiran dan pembentuk kehidupan keagamaan masyarakat.
Surau dan Fungsi Sosial Tuanku
Pada masa lalu, surau merupakan pusat pendidikan, pembinaan spiritual, dan kehidupan sosial umat. Tuanku memimpin surau, mengajarkan Al-Qur'an, menyelenggarakan wirid, membimbing pengajian kitab, serta mengajarkan tasawuf dan tarekat sesuai kewenangan keilmuannya.
Melalui tradisi mengaji duduk, tuanku tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk adab, kedisiplinan, kesabaran, dan ketakwaan murid.
Di tengah masyarakat, tuanku berfungsi sebagai alim ulama tempat bertanya mengenai agama, keluarga, adat, dan persoalan sosial. Tuanku memimpin Maulid Nabi, wirid, doa, kenduri, serta memberikan bimbingan penyelenggaraan jenazah, mulai dari memandikan, mengafani, menyalatkan hingga pemakaman.
Kehadirannya menyertai berbagai tahapan kehidupan masyarakat. Dari pendidikan anak hingga kematian, tuanku menjadi pembimbing spiritual sekaligus pelayan umat.
Namun, fungsi tuanku tidak boleh berhenti pada kepemimpinan ritual. Tuanku juga harus menjadi pendidik, pemikir, pemecah masalah, dan teladan moral.
Kharisma Tuanku yang Mengalami Pergeseran
Harus diakui bahwa kewibawaan tuanku yang dahulu sangat kuat kini menghadapi tantangan. Perubahan pendidikan, teknologi, ekonomi, dan kebudayaan menjadikan masyarakat semakin kritis.
Masyarakat kini memiliki banyak sumber pengetahuan agama. Sarjana, magister, doktor, dan kalangan profesional semakin banyak. Otoritas keagamaan tidak lagi hanya bertumpu pada gelar dan tradisi.
Pelemahan kharisma juga perlu menjadi bahan muhasabah internal. Sebagian tuanku menghadapi persoalan keterbatasan kapasitas intelektual, kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan integritas. Tentu keadaan ini tidak dapat digeneralisasi karena banyak tuanku tetap istiqamah menjaga ilmu dan pengabdian.
Al-Qur'an menegaskan:
Ø¥ِÙ†َّÙ…َا ÙŠَØ®ْØ´َÙ‰ اللَّÙ‡َ Ù…ِÙ†ْ عِبَادِÙ‡ِ الْعُÙ„َÙ…َاءُ
“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama.” (QS. Fatir: 28).
Kewibawaan ulama sejatinya bersumber dari ilmu, khasyyah, akhlak, dan keteladanan, bukan semata-mata gelar atau silsilah.
Krisis Pendidikan dan Regenerasi Tuanku
Tantangan berikutnya adalah melemahnya sebagian lembaga pencetak tuanku. Surau mengaji duduk, pesantren, dan madrasah tradisional menghadapi persoalan manajemen, pembiayaan, kurikulum, kaderisasi, dan pengembangan kompetensi.
Jika persoalan ini dibiarkan, regenerasi tuanku berisiko kehilangan kualitas keilmuan dan kepemimpinan.
Revitalisasi surau harus dilakukan melalui pembaruan tata kelola, penguatan kitab kuning, metodologi pendidikan, literasi digital, dan kemampuan kepemimpinan sosial tanpa meninggalkan tradisi talaqqi serta sanad keulamaan.
Tuanku Sarjana, Sarjana Tuanku
Kesadaran terhadap tantangan tersebut mendorong Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Syekh Burhanuddin Pariaman sejak tahun 2022 mengembangkan program TUANKU SARJANA, SARJANA TUANKU.
Program ini memberikan kesempatan kepada tuanku meningkatkan kapasitas akademik hingga memperoleh gelar sarjana. Sebaliknya, para sarjana didorong memperdalam tradisi keilmuan, adab, dan spiritualitas tuanku.
Pada tahun 2026, STIT Syekh Burhanuddin Pariaman juga membuka Program Magister Pendidikan Agama Islam (S2 PAI), bergelar M.Pd., yang memberikan kesempatan kepada tuanku dan guru agama Islam melanjutkan pendidikan strata dua.
Tujuannya bukan menggantikan pendidikan surau dengan perguruan tinggi, melainkan mempertemukan kedalaman ilmu tradisional dengan kemampuan akademik modern.
Gerakan Kebangkitan dan Literasi Tuanku
Selama sekitar lima tahun terakhir, Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin Pariaman terus mengajak tuanku memperkuat kapasitas dan jaringan keulamaan melalui forum WhatsApp Majelis Syekh dan Tuanku.
Forum ini menjadi sarana silaturahim, komunikasi, pertukaran pemikiran, dan penguatan kesadaran mengenai pentingnya kebangkitan intelektual tuanku.
Yayasan juga mengembangkan agenda literasi melalui penyusunan Ensiklopedia Syekh dan Tuanku yang Bersanad kepada Syekh Burhanuddin serta buku Living Heritage Syekh Burhanuddin.
Kedua karya tersebut diarahkan untuk mendokumentasikan sanad keilmuan, sejarah ulama, jaringan surau, pemikiran, dan warisan spiritual yang masih hidup dalam masyarakat.
Merawat warisan Syekh Burhanuddin berarti menjaga bukan hanya sejarahnya, tetapi juga kualitas generasi penerusnya.
Zuhud dan Integritas sebagai Sumber Kewibawaan
Persoalan lain yang patut direnungkan adalah melemahnya kesederhanaan dan kezuhudan dalam kehidupan sebagian pemegang otoritas keagamaan.
Zuhud bukan berarti harus miskin, melainkan tidak membiarkan harta, jabatan, popularitas, dan kepentingan duniawi menguasai hati.
Tuanku harus menjaga kehormatan diri, tidak menjadikan agama sebagai komoditas, dan tidak membiarkan kepentingan material mengalahkan amanah keulamaan.
Tasawuf yang benar melahirkan kejujuran, kerendahan hati, pengendalian nafsu, dan kepedulian sosial. Inilah tasawuf positif yang dibutuhkan masyarakat.
Membangun Kewibawaan Baru Tuanku
Masa depan tuanku tidak cukup dijaga dengan kebanggaan terhadap silsilah, gelar, atau romantisme kejayaan surau.
Kebangkitan tuanku harus dibangun melalui penguatan ilmu, integritas, spiritualitas, pendidikan tinggi, pembaruan kelembagaan, dan pengabdian nyata.
Tuanku masa depan harus kuat ilmunya, jernih spiritualitasnya, terjaga integritasnya, maju lembaganya, dan nyata manfaatnya bagi masyarakat.
Kharisma masa lalu merupakan warisan sejarah. Namun, kewibawaan masa depan harus dibuktikan melalui kualitas diri.
Merawat tuanku berarti merawat ilmu, surau, sanad, akhlak, dan peradaban Islam Minangkabau.
Tuanku tidak cukup hanya dihormati karena gelarnya, tetapi harus dipercaya karena ilmunya, dicintai karena akhlaknya, dan dibutuhkan karena pengabdiannya.
Padang, 3 November 2026
