![]() |
Oleh: Duski Samad
Ancaman serius terhadap penghayatan tauhid muncul ketika manusia semakin pandai membela kebatilan sambil merasa sedang memperjuangkan kebenaran. Kebohongan diberi nama strategi, kebencian dibungkus pembelaan agama, dan pengabdian kepada kepentingan dipasarkan sebagai pengorbanan. Bahasa yang seharusnya menjernihkan pikiran berubah menjadi alat memperdaya. Orang kemudian kehilangan kejujuran kepada Allah, tetapi tetap merasa paling berjasa kepada agama.
Di ruang digital, persoalan ini terlihat pada netizen penyebar fitnah, buzzer manipulatif, dan pembuat propaganda. Mereka dapat mengubah potongan informasi menjadi tuduhan, menggerakkan kemarahan, lalu menjadikan keramaian sebagai pembenaran. Kritik harus diarahkan kepada perilaku tersebut, sebab tidak setiap penyair, netizen, atau penggiat komunikasi melakukan penyesatan.
Ketika Kepandaian Kehilangan Amanah
QS. Asy-Syu‘ara’ [26]: 221–223 menghubungkan kedustaan, keberdosaan, dan penyesatan. Pesannya tajam: kepandaian berbicara tidak menjamin kejernihan hati. Kelancaran mengutip agama juga tidak otomatis membuktikan kejujuran. Ketika seseorang sengaja memutarbalikkan kenyataan, kecakapannya justru memperbesar kerusakan.
Karena itu, masyarakat perlu berhenti menyamakan popularitas dengan otoritas moral. Banyak pengikut tidak menjamin ketepatan informasi. Penampilan religius tidak membebaskan seseorang dari pemeriksaan. Penceramah, pemimpin organisasi, pejabat, dan pemengaruh tetap wajib menunjukkan bukti ketika mengajukan tuduhan.
QS. Asy-Syu‘ara’ [26]: 227 mengecualikan penyair beriman dan beramal saleh. Ukuran celaan terletak pada penggunaan bahasa untuk menyesatkan. Puisi, pidato, ceramah, dan unggahan dapat menjadi sarana pendidikan apabila dijalankan dengan amanah.
Kebatilan yang Dibuat Menarik
QS. Al-An‘am [6]: 112 memperlihatkan bagaimana penyesatan bekerja melalui perkataan yang dihias untuk memperdaya. Al-Sa‘di menjelaskan bahwa kebatilan dikemas dalam ungkapan menarik sehingga orang terpikat kepada bentuknya dan gagal memahami isinya. Akibatnya, penilaian terbalik: yang salah dianggap benar.
Propaganda bekerja dengan cara demikian. Fitnah disebut “membuka mata umat”, penghinaan dinamai “ketegasan”, dan pembelaan terhadap pelanggaran dibungkus “menjaga marwah”. Ungkapan itu menjadi berbahaya ketika dipakai untuk menutup fakta. Masyarakat diajak mencintai keburukan melalui nama yang terhormat.
Bahaya terbesarnya terjadi ketika pemeriksaan dianggap pengkhianatan. Orang yang meminta bukti dituduh melemahkan perjuangan. Korban kehilangan kesempatan menjelaskan karena citranya sudah dihancurkan. Kebohongan lalu memperoleh perlindungan dari solidaritas kelompok.
Jaringan yang Menggandakan Dusta
Al-Tabari menerangkan QS. Al-An‘am [6]: 112 sebagai peringatan tentang pelaku penyesatan yang saling menyampaikan perkataan berhias kebatilan. Dalam refleksi kontemporer, pesan ini relevan dengan propaganda terkoordinasi: ada pembuat tuduhan, pengemas pesan, penyebar awal, dan penguat percakapan.
Namun, keseragaman unggahan belum membuktikan koordinasi. Tuduhan operasi buzzer tetap memerlukan bukti. Kritik kehilangan kekuatan apabila menggunakan cara yang sama dengan propaganda: menduga, memberi cap, lalu mengerahkan kemarahan.
Yang harus dibongkar ialah kepalsuan dan mekanismenya. Siapa sumber pertama? Apakah rekamannya lengkap? Adakah bukti yang sengaja dihilangkan? Siapa memperoleh keuntungan? Pertanyaan tersebut membantu masyarakat memeriksa pesan sebelum ikut menyebarkannya.
Mengapa Orang Merasa Tetap Benar?
Secara psikologis, propaganda dapat melemahkan kendali moral. Albert Bandura menjelaskan bagaimana tindakan merugikan dibenarkan melalui penghalusan bahasa, pengalihan tanggung jawab, pengecilan akibat, dan menyalahkan korban. Pelaku tetap merasa baik meskipun menyakiti orang lain.
Di ruang digital, alasannya mudah dikenali: “Saya hanya meneruskan”, “Ini perintah tim”, atau “Dia pantas dihina”. Kalimat tersebut tidak menghapus tanggung jawab. Menekan tombol bagikan merupakan tindakan yang memiliki akibat.
Penelitian Pennycook dan rekan-rekan menunjukkan bahwa paparan sebelumnya terhadap berita palsu dapat meningkatkan kesan keakuratannya. Penelitian Brady dan rekan-rekan juga menemukan hubungan bahasa moral-emosional dengan peningkatan penyebaran pesan. Temuan ini menjelaskan mengapa pesan berulang dan membakar kemarahan mudah meluas; keduanya tidak membuktikan kebenaran pesan tersebut.
Tauhid Diuji oleh Kepentingan Sendiri
Kerusakan penghayatan tauhid terlihat ketika seseorang mengetahui informasi itu palsu, tetapi menyebarkannya demi tokoh, kelompok, atau bayaran. Ia mengecam kebohongan lawan dan memaklumi kebohongan kawan. Keuntungan memperoleh prioritas, sedangkan amanah agama disisihkan.
Istilah “perusak tauhid” menunjuk pelemahan ketundukan dan konsekuensi moral keimanan. Ia bukan dasar otomatis untuk memvonis seseorang musyrik atau keluar dari Islam. Ketajaman kritik harus tetap disertai ketepatan penilaian.
QS. Al-An‘am [6]: 113 memperlihatkan urutan yang mendidik: hati tertarik, kemudian menyetujui, lalu melakukan. Dalam dunia digital, penonton dapat berubah menjadi penyebar fitnah karena menikmati pesan yang membenarkan kebenciannya.
Iman kepada akhirat menghadirkan pengendalian: apakah unggahan ini dapat saya pertanggungjawaban di hadapan Allah? Pertanyaan tersebut harus diajukan sebelum membagikan, terutama ketika pesan terasa sangat memuaskan kemarahan sendiri.
Mendidik Keberanian untuk Jujur
Pendidikan tauhid perlu hadir dalam kebiasaan bermedia: memeriksa sumber, membaca konteks, membedakan fakta dari dugaan, dan berani mengoreksi kesalahan. Klarifikasi harus menjangkau orang yang telanjur menerima tuduhan. Menghapus unggahan saja belum tentu memulihkan nama korban.
Lembaga agama dan pendidikan juga perlu mengajarkan bahwa kritik merupakan bagian dari tanggung jawab. Pemimpin yang amanah menyediakan ruang pemeriksaan. Pengikut yang dewasa tidak menyerahkan seluruh penilaian moral kepada figur yang dikaguminya.
Keberhasilan propaganda tidak menunjukkan keridhaan Allah. Kebohongan tetap salah meskipun viral dan menguntungkan. Tauhid menuntut keberanian menolak dusta yang menguntungkan kelompok sendiri. Jangan sampai jari membela agama, tetapi unggahannya mengkhianati kejujuran; jangan sampai lisan menyerukan iman, tetapi perkataannya memperdaya manusia.
