![]() |
Oleh: Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag.
Guru Besar Tasawuf UIN Imam Bonjol Padang
Ortodoksi Islam bukanlah gerakan mempertahankan masa lalu dengan menolak perubahan, melainkan ikhtiar menjaga kemurnian akidah, kesinambungan sanad keilmuan, otoritas ulama, dan keluhuran adab agar Islam tetap menjadi kekuatan pencerahan dan kemajuan umat. Ortodoksi yang sehat tidak membekukan pemikiran, tetapi menjadikan prinsip dasar Islam sebagai fondasi menghadapi perubahan sosial, perkembangan ilmu pengetahuan, dan tantangan peradaban.
Dalam sejarah Minangkabau, ortodoksi Islam tumbuh melalui surau, jaringan ulama, tarekat, pendidikan kitab, dan kepemimpinan Syekh serta Tuanku. Warisan Syekh Burhanuddin Ulakan menjadi salah satu fondasi penting yang mempertemukan ilmu, adab, spiritualitas, adat, dan kehidupan masyarakat. Warisan ini tidak cukup hanya diperingati melalui kegiatan seremonial, tetapi harus didokumentasikan, dikaji secara ilmiah, diajarkan, dan ditransformasikan menjadi gerakan pencerdasan umat.
Kesadaran tersebut menjadi landasan ikhtiar Wawasan Ortodoksi Islam sepanjang 2021–2026. Periode ini memperlihatkan usaha menghubungkan literasi keulamaan, penguatan pendidikan Islam, kaderisasi ulama, pelestarian tradisi, dan pengembangan keunggulan akademik perguruan tinggi. Dengan demikian, ortodoksi tidak berhenti sebagai wacana keagamaan, melainkan bergerak menjadi kekuatan sosial dan pendidikan.
Literasi Keulamaan: Dari Pituah Menuju Pengetahuan
Tradisi keulamaan Minangkabau menyimpan kekayaan intelektual yang selama ini lebih banyak diwariskan secara lisan. Pituah Tuanku, pengajian surau, muzakarah ulama, dan nasihat keagamaan mengandung pandangan mendalam tentang akidah, akhlak, tasawuf, adat, dan kehidupan bermasyarakat.
Melalui Pituah dan Taushiyah Tuanku: Kumpulan Makalah Muzakarah Tuanku yang menghimpun pemikiran dalam rentang 2020–2023, tradisi lisan mulai ditempatkan dalam ruang dokumentasi intelektual. Pituah tidak lagi berhenti sebagai nasihat yang didengar, tetapi menjadi pengetahuan yang dapat dibaca, dikaji, dikritisi, dan diwariskan.
Gerakan literasi diperluas melalui GUTUO, kumpulan opini media daring Sigi24.com dan MUOnline1 sepanjang 2021–2024. Tulisan-tulisan tersebut menjadi sarana menghadirkan pemikiran keagamaan ke ruang publik, merespons persoalan moral, pendidikan, sosial, dan kebangsaan.
![]() |
Ulama tidak cukup hanya berbicara di mimbar atau mengajar di surau. Ulama juga harus hadir melalui tulisan yang mencerahkan, meluruskan kekeliruan, dan menawarkan solusi bagi masyarakat. Literasi merupakan jalan memperluas jangkauan dakwah sekaligus menjaga kesinambungan pemikiran antargenerasi.
Krisis Adab dan Rekonstruksi Nilai
Tantangan umat dewasa ini bukan semata kekurangan informasi agama, melainkan semakin lebarnya jarak antara pengetahuan dan pengamalan. Ceramah semakin banyak, tetapi keteladanan belum tentu meningkat. Pendidikan semakin tinggi, tetapi penghormatan terhadap guru, orang tua, dan pemimpin moral menghadapi tantangan serius.
Kegelisahan tersebut melahirkan Modul Solusi Krisis Adab dan Adat pada 2025. Modul ini diarahkan untuk memperkuat kesadaran bahwa pendidikan Islam tidak boleh berhenti pada kecerdasan intelektual, tetapi harus menghasilkan kepribadian beradab, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian sosial.
Falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah harus bergerak dari slogan menuju tindakan. Adat dilakukan, Islam diamalkan, dan aturan kehidupan bersama dipatuhi.
Ortodoksi Islam menemukan relevansinya ketika mampu menjaga hubungan antara kebenaran ajaran, keluhuran perilaku, dan ketertiban kehidupan sosial.
Gerakan Pencerdasan Umat melalui Pendidikan Islam
Penguatan ortodoksi tidak cukup dilakukan melalui penerbitan buku dan forum diskusi. Ia memerlukan kelembagaan pendidikan yang mampu memastikan kesinambungan nilai dan regenerasi keulamaan.
Melalui Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin, gerakan pencerdasan umat diwujudkan dengan mengasuh Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, dan perguruan tinggi Islam swasta STIT Syekh Burhanuddin. Ketiga jenjang pendidikan ini menjadi instrumen strategis untuk mengintegrasikan pendidikan agama, kompetensi akademik, pembentukan karakter, dan kepemimpinan umat.
Pengembangan program Sarjana Tuanku dan Tuanku Sarjana merupakan ikhtiar mempertemukan dua tradisi keilmuan yang selama ini sering berjalan terpisah. Tuanku didorong memperkuat kompetensi akademik, penelitian, dan komunikasi publik, sedangkan sarjana diharapkan memiliki kedalaman agama, pemahaman kitab, adab, dan kewibawaan moral.
Gerakan tersebut diperkuat melalui Majelis Syekh dan Tuanku, keterlibatan sebagai narasumber Muzakarah Tuanku, serta afirmasi terhadap keberlangsungan Surau Mangaji Duduk dan pesantren.
Surau dan pesantren tidak boleh dipandang sebagai lembaga pendidikan masa lalu yang tertinggal. Keduanya merupakan pusat pembentukan karakter, penjaga sanad keilmuan, penguatan spiritualitas, dan kaderisasi ulama yang memerlukan pengakuan, pendampingan, serta pengembangan kelembagaan.
Dengan demikian, gerakan pencerdasan umat diarahkan untuk mempertemukan pendidikan formal, tradisi surau, dan kehidupan masyarakat dalam satu ekosistem pembelajaran berkelanjutan.
Menghidupkan Warisan Syekh Burhanuddin
Tahun 2026 menjadi momentum penting penguatan dokumentasi warisan keulamaan. Karya Mauluik Badikie menghadirkan perhatian terhadap tradisi keagamaan masyarakat yang memadukan zikir, kecintaan kepada Rasulullah, kebersamaan, dan ekspresi budaya lokal.
Selanjutnya, Living Heritage Syekh Burhanuddin menempatkan warisan ulama bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan tradisi hidup yang terus membentuk identitas keagamaan masyarakat.
Penguatan dokumentasi dilanjutkan melalui Ensiklopedia 100 Syekh dan Tuanku, sebuah ikhtiar menghimpun tokoh-tokoh yang berperan dalam penyebaran Islam, pendidikan surau, dan pembentukan kehidupan sosial Minangkabau.
Dalam kerangka yang sama, karya Damanhuri, Jaringan Ulama Surau Pasca Syekh Burhanuddin dan Syekh Burhanuddin di Tengah Ulama Nusantara (2026), memperluas pemahaman bahwa perkembangan Islam Minangkabau merupakan bagian dari jaringan intelektual dan spiritual Nusantara.
Syekh Burhanuddin tidak dapat dipahami hanya sebagai tokoh lokal Ulakan. Pengaruhnya perlu dibaca melalui hubungan guru-murid, sanad keilmuan, surau, tarekat, dan jaringan ulama lintas wilayah.
Dokumentasi sejarah harus bergerak dari cerita turun-temurun menuju penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, warisan keulamaan menjadi sumber pengetahuan, identitas, dan inspirasi bagi generasi mendatang.
Capaian Konkret 2021–2026: Dari Gagasan Menjadi Gerakan
Perjalanan enam tahun ini menunjukkan sejumlah capaian yang saling berhubungan. Pada bidang intelektual, terinventarisasi sembilan karya dan agenda publikasi yang mencakup literasi keulamaan, opini keagamaan, pendidikan karakter, dokumentasi tradisi, ensiklopedia ulama, jaringan keilmuan, dan filsafat pendidikan surau.
Pada bidang kelembagaan, penguatan Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, dan STIT Syekh Burhanuddin menjadi wujud nyata gerakan pencerdasan umat. Ketiga jenjang pendidikan tersebut memperluas kesempatan masyarakat memperoleh pendidikan Islam yang berkesinambungan.
Pada bidang kaderisasi, program Sarjana Tuanku dan Tuanku Sarjana menjadi jembatan antara tradisi keulamaan dan pendidikan tinggi modern. Sementara itu, Majelis Syekh dan Tuanku, Muzakarah Tuanku, serta afirmasi terhadap Surau Mangaji Duduk dan pesantren memperkuat konsolidasi ulama dan pendidikan berbasis masyarakat.
Pada bidang penguatan nilai, Modul Solusi Krisis Adab dan Adat menghadirkan kerangka pendidikan karakter yang menghubungkan agama, adat, dan tanggung jawab sosial.
Adapun pada bidang pengembangan akademik, penyusunan Filsafat Pendidikan Surau Syekh Burhanuddin (2026) menjadi langkah penting menjadikan warisan surau sebagai landasan mata kuliah penciri dan keunggulan akademik STIT Syekh Burhanuddin.
Keseluruhan capaian tersebut memperlihatkan perubahan orientasi dari sekadar menjaga tradisi menuju pengembangan sistem pengetahuan, pendidikan, dan kaderisasi yang lebih terarah.
Surau sebagai Model Learning Society
Surau tidak sekadar bangunan tempat mengaji, tetapi merupakan sistem pendidikan yang mengintegrasikan ilmu, keteladanan, pembiasaan, spiritualitas, dan pengabdian sosial.
Dalam perspektif pendidikan kontemporer, surau dapat dikembangkan sebagai model learning society, masyarakat pembelajar sepanjang hayat. Guru menjadi pembimbing moral, murid menjadi pencari ilmu, dan masyarakat menjadi lingkungan pendidikan.
Filsafat pendidikan surau menawarkan kritik terhadap pendidikan modern yang terlalu menekankan ijazah, angka, dan kompetensi teknis, tetapi kurang memperhatikan kedalaman spiritual, kematangan kepribadian, dan tanggung jawab sosial.
Pengembangan surau sebagai model pendidikan masa depan harus mengintegrasikan tradisi sanad dan kitab dengan literasi digital, penelitian, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, serta pembentukan karakter.
Dengan demikian, surau tidak hanya menjadi simbol masa lalu, tetapi juga sumber inovasi pendidikan Islam yang berakar pada nilai dan terbuka terhadap kemajuan.
Dari Dokumentasi Menuju Gerakan Peradaban
Kinerja intelektual dan kelembagaan 2021–2026 memperlihatkan satu benang merah: dari dokumentasi menuju edukasi, dari literasi menuju kaderisasi, dari pelestarian tradisi menuju transformasi peradaban.
Namun, publikasi dan kegiatan kelembagaan bukanlah tujuan akhir. Buku harus melahirkan pembaca, pembaca membangun kesadaran, kesadaran melahirkan gerakan, dan gerakan menghasilkan perubahan.
Ke depan, diperlukan penguatan pusat kajian keulamaan, digitalisasi manuskrip dan karya Tuanku, pengembangan riset jaringan surau, pemberdayaan pesantren, peningkatan mutu madrasah dan perguruan tinggi, serta kaderisasi ulama yang memahami tradisi sekaligus menguasai ilmu pengetahuan modern.
Keberhasilan gerakan ini tidak cukup diukur dari jumlah buku, kegiatan, atau lembaga yang dikelola, tetapi dari kemampuannya melahirkan generasi berilmu, Tuanku yang berwawasan akademik, sarjana yang beradab, dan masyarakat yang menjadikan Islam sebagai pedoman kehidupan.
Ortodoksi Islam harus menjadi akar yang kokoh, bukan tembok yang menghalangi kemajuan. Akar menjaga identitas, sedangkan pendidikan, literasi, penelitian, dan inovasi memungkinkan peradaban terus tumbuh.
Warisan Syekh Burhanuddin dan para ulama surau tidak boleh berhenti sebagai kebanggaan sejarah. Ia harus menjadi kekuatan pencerdasan, penguatan adab, kaderisasi ulama, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan peradaban Islam masa depan.
Merawat ortodoksi berarti menjaga sanad keilmuan, menghidupkan surau, memajukan madrasah dan perguruan tinggi, memperkuat tradisi, serta memastikan bahwa nilai-nilai Islam tetap hadir sebagai kekuatan pencerahan dan kemajuan umat.@ds. 17102026.

