![]() |
Oleh: Duski Samad
Santri MTI Batang Kabung 1973–1980
Jejak Pertama di Batang Kabung. Tanggal 13 Januari 1973 adalah hari yang tidak pernah hilang dari ingatan penulis. Hari itu, untuk pertama kalinya, seorang anak kampung dari Sikabu, Lubuk Alung, menginjakkan kaki di Batang Kabung, Koto Tangah, Padang, yang ketika itu masih merupakan bagian dari Kabupaten Padang Pariaman.
Penulis datang bukan untuk berwisata atau sekadar mengunjungi keluarga, melainkan untuk memulai perjalanan panjang menuntut ilmu agama. Amak tercinta, almarhumah Hj. Munah, ditemani kakak perempuan penulis yang biasa dipanggil One, almarhumah Yarnis, mengantarkan dan menyerahkan anaknya kepada seorang ulama kharismatik, guru besar Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Batang Kabung, almarhum Buya H. Salif Tuanku Sutan.
Peristiwa itu sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. Seorang ibu menyerahkan anaknya kepada seorang guru, dengan harapan kelak menjadi manusia berilmu, beragama, berakhlak, dan berguna bagi masyarakat.
Setelah berdoa di Mushalla Al Azhar, Buya menanyakan kepada penulis tentang kaji atau pelajaran agama yang telah diperoleh dari ayah di kampung. Ayah penulis ternyata juga sahabat beliau. Hubungan persahabatan dua orang tua itu menjadi pintu masuk bagi seorang anak untuk memperoleh pendidikan pesantren.
Setelah menguji kemampuan mengaji, Buya menerima penulis dan langsung menempatkannya di kelas dua MTI Batang Kabung. Untuk tempat tinggal, penulis bergabung dengan asrama ANDESTAN, singkatan dari Anak Desa Tandikat.
Sejak itulah dimulai kehidupan baru sebagai santri. Jauh dari orang tua, hidup dalam kesederhanaan, belajar kitab, mengikuti pengajian, dan membiasakan diri dengan disiplin pendidikan surau dan madrasah.
Mushalla Al Azhar:
Ruang Pendidikan dan Pembentukan Kepribadian
Bagi penulis, Mushalla Al Azhar bukan sekadar bangunan tempat melaksanakan shalat. Mushalla ini adalah ruang pembentukan kepribadian, tempat tumbuhnya kesadaran beragama, dan salah satu pusat kehidupan pesantren yang sangat berpengaruh dalam perjalanan intelektual dan spiritual penulis.
Pada masa itu, pendidikan pesantren tidak dibatasi oleh ruang kelas dan jam pelajaran. Pendidikan berlangsung sepanjang hari. Di ruang belajar, santri memperoleh pengetahuan. Di mushalla, santri menghayati nilai agama. Di asrama, santri belajar hidup bersama, bersabar, menghormati guru, dan bertanggung jawab.
Dalam tradisi pendidikan Islam, hubungan guru dan murid bukan sekadar hubungan akademik, melainkan juga hubungan ruhani dan pembentukan adab.
Buya H. Salif Tuanku Sutan tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menghadirkan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Kehadiran beliau, cara berbicara, sikap terhadap santri, dan kesungguhan mengasuh pendidikan merupakan pelajaran yang tidak selalu tertulis dalam kitab.
Inilah yang dalam perspektif pedagogik transformasional dapat disebut pendidikan dari pengetahuan menuju kesadaran, dari kesadaran menuju penghayatan, dan dari penghayatan menuju kepribadian.
Mushalla Al Azhar menjadi salah satu ruang tempat proses itu berlangsung.
Tahun 1979–1980: Tinggal di Mihrab Mushalla Al Azhar
Salah satu pengalaman yang paling membekas dalam ingatan penulis terjadi pada tahun 1979 hingga 1980.
Pada masa itu, penulis tinggal di bagian bawah mihrab Mushalla Al Azhar. Tempat tersebut menjadi ruang kehidupan sehari-hari sekaligus bagian dari pengabdian kepada Buya.
Penulis juga mendapat kesempatan membantu Buya dalam mengasuh santriwati.
Pengalaman tersebut memberikan pelajaran yang jauh melampaui pendidikan formal. Mengasuh santri berarti belajar memahami manusia, menghadapi perbedaan karakter, menumbuhkan kesabaran, dan menjalankan tanggung jawab moral.
Di situlah penulis semakin memahami bahwa menjadi seorang Tuanku tidak cukup hanya dengan kemampuan membaca dan memahami kitab kuning. Seorang Tuanku harus mempunyai kesanggupan membimbing, melayani, dan menjadi teladan bagi orang lain.
Pada 20 Juni 1980, penulis diangkat menjadi Tuanku Mudo di kampung halaman, Sikabu, Lubuk Alung.
Pengangkatan tersebut menjadi salah satu tonggak penting perjalanan keulamaan penulis, setelah menjalani pendidikan di MTI Batang Kabung sejak 1973.
Dalam perjalanan berikutnya, penulis tinggal di Masjid Darul Ma'ruf pada tahun 1979–1982, kemudian di Masjid Al Ikram Ganting pada tahun 1982–1988.
Perjalanan dari satu masjid ke masjid lain, dari mushalla ke madrasah, dan dari kehidupan santri menuju pengabdian masyarakat telah membentuk pandangan penulis bahwa pendidikan Islam sesungguhnya tumbuh dari ekosistem kehidupan keagamaan yang menyatu dengan masyarakat.
Mushalla Al Azhar dalam Memori Pesantrian
Setelah lebih dari setengah abad berlalu, Mushalla Al Azhar tetap hidup dalam memori pesantrian penulis.
Bangunan dapat berubah. Atap dapat diganti. Dinding dapat diperbaiki. Generasi santri datang dan pergi. Namun, kenangan tentang guru, suasana mengaji, disiplin ibadah, dan kehidupan bersama tidak mudah dihapus oleh perjalanan waktu.
Mushalla Al Azhar menyimpan ingatan kolektif tentang pendidikan Islam tradisional yang berakar pada hubungan guru dan murid, penghormatan terhadap ilmu, dan pengabdian kepada umat.
Dalam kajian pendidikan dan kebudayaan, bangunan semacam ini mempunyai dua nilai sekaligus.
Pertama, nilai material, yaitu keberadaan fisik bangunan sebagai sarana pendidikan dan ibadah.
Kedua, nilai immaterial, yaitu sejarah, pengalaman, keteladanan, tradisi keilmuan, dan memori sosial yang melekat pada bangunan tersebut.
Nilai kedua inilah yang sering terlupakan ketika masyarakat membicarakan pembangunan atau renovasi fasilitas pendidikan.
Padahal, menjaga bangunan bersejarah dalam lingkungan pesantren juga berarti menjaga kesinambungan identitas kelembagaan dan pewarisan nilai antargenerasi.
Mushalla Al Azhar bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia merupakan bagian dari sejarah pendidikan Islam Batang Kabung yang patut dipelihara.
Banjir 28 November 2025: Ujian terhadap Warisan Pesantren
Bencana banjir yang melanda kawasan Batang Kabung pada 28 November 2025 membawa kerusakan terhadap berbagai fasilitas masyarakat, termasuk lingkungan pendidikan pesantren.
Mushalla Al Azhar turut mengalami kerusakan berat.
Melihat keadaan bangunan yang menyimpan begitu banyak kenangan tersebut, penulis merasakan keprihatinan yang mendalam.
Bagi orang lain, mungkin yang terlihat hanyalah atap yang rusak, dinding yang perlu diperbaiki, dan fasilitas yang tidak lagi layak digunakan. Namun, bagi penulis, kerusakan Mushalla Al Azhar seolah menyentuh kembali perjalanan kehidupan sebagai santri puluhan tahun sebelumnya.
Karena itu, penulis mengajak Buya Pimpinan Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah (PPMTI) Batang Kabung untuk bekerja sama memperbaiki dan menghidupkan kembali bangunan Mushalla Al Azhar.
Gagasan utamanya bukan semata-mata rehabilitasi fisik, melainkan revitalisasi fungsi.
Mushalla harus kembali menjadi tempat ibadah, pembelajaran, pembinaan akhlak, penguatan kehidupan pesantren, dan pewarisan nilai-nilai keulamaan.
Bangunan yang rusak perlu diperbaiki, tetapi ruh pendidikan yang pernah hidup di dalamnya juga harus dihidupkan kembali.
Agustus–Oktober 2026: Mushalla Al Azhar Mulai Bangkit
Alhamdulillah, ikhtiar pemulihan Mushalla Al Azhar memperoleh dukungan dari berbagai pihak.
Pada Agustus 2026, bantuan melalui program Madrasah Bangkit PBNU menjadi bagian penting dalam upaya pemulihan bangunan dan fasilitas pendidikan pascabencana.
Bantuan tersebut memperlihatkan bahwa solidaritas pendidikan Islam tidak mengenal batas kelembagaan. Ketika sebuah madrasah mengalami musibah, kepedulian sesama umat dan organisasi keagamaan menjadi kekuatan yang sangat berarti.
Selanjutnya, pada 13 Oktober 2026, dimulai pekerjaan renovasi fasilitas sanitasi, kamar mandi, dan WC dengan dukungan Unilever Medan. Pelaksanaan pekerjaan tersebut dilakukan oleh IO, yang dipimpin oleh Ibu Rafiqah bersama timnya.
Kehadiran Ibu Rafiqah dan tim IO merupakan bagian penting dari ikhtiar bersama mengembalikan kelayakan Mushalla Al Azhar. Dukungan Unilever Medan yang diwujudkan melalui kerja nyata tim pelaksana memperlihatkan bahwa kepedulian sosial dunia usaha dapat memberikan manfaat langsung bagi pemulihan fasilitas pendidikan dan ibadah pascabencana.
Perbaikan sanitasi mempunyai arti strategis karena menyangkut kebersihan, kesehatan, kenyamanan beribadah, dan kelayakan lingkungan pendidikan.
Mushalla yang baik bukan hanya memiliki ruang shalat yang layak, tetapi juga fasilitas bersuci, air bersih, toilet, dan lingkungan yang sehat.
Program pemulihan ini menunjukkan bahwa rehabilitasi lembaga pendidikan keagamaan membutuhkan kolaborasi berbagai unsur: pengelola pesantren, alumni, organisasi masyarakat, dunia usaha, dan masyarakat sekitar.
Apresiasi khusus patut diberikan kepada Unilever Medan, Ibu Rafiqah selaku pimpinan pelaksana IO beserta seluruh timnya, yang telah mengambil bagian dalam pekerjaan renovasi sanitasi Mushalla Al Azhar. Semoga kerja sama ini menjadi contoh kepedulian sosial yang berkelanjutan terhadap lembaga pendidikan keagamaan.
Dari Rehabilitasi Fisik Menuju Revitalisasi Pendidikan Surau
Perjalanan Mushalla Al Azhar sejak penulis mengenalnya pada 1973 hingga upaya pemulihan pada 2026 mengandung pesan penting bagi dunia pendidikan Islam.
Pendidikan pesantren tidak hanya memerlukan gedung yang kokoh, tetapi juga sistem pengasuhan yang kuat, guru yang berwibawa, tradisi keilmuan yang terpelihara, dan lingkungan spiritual yang hidup.
Ada tiga agenda penting yang perlu dikembangkan setelah rehabilitasi bangunan.
Pertama, mengembalikan fungsi mushalla sebagai pusat pembinaan spiritual santri, melalui shalat berjamaah, pengajian kitab, pembinaan akhlak, dan latihan kepemimpinan keagamaan.
Kedua, menjadikan Mushalla Al Azhar sebagai ruang pewarisan sejarah pesantren, termasuk dokumentasi tokoh ulama, kisah para guru, dan pengalaman alumni yang pernah belajar serta mengabdi di MTI Batang Kabung.
Ketiga, mengembangkan model pendidikan surau yang relevan dengan tantangan zaman, dengan mempertemukan tradisi kitab kuning, penguatan akidah dan akhlak, pembinaan tasawuf, serta kecakapan generasi digital.
Dengan demikian, Mushalla Al Azhar tidak hanya dibangun kembali sebagai bangunan fisik, tetapi juga diperkuat sebagai pusat pembentukan karakter dan kaderisasi ulama.
Penutup:
Bangunan Boleh Menua, tetapi Warisan Ilmu Jangan Sirna
Kini, setelah 53 tahun sejak pertama kali penulis menginjakkan kaki di Batang Kabung pada 13 Januari 1973, Mushalla Al Azhar kembali mengingatkan penulis pada perjalanan panjang kehidupan.
Terbayang wajah Amak almarhumah Hj. Munah yang mengantarkan anaknya menuntut ilmu. Terkenang almarhumah One Yarnis yang mendampingi perjalanan pertama itu. Hadir kembali dalam ingatan sosok Buya H. Salif Tuanku Sutan yang menerima, mendidik, membimbing, dan memberikan ruang pengabdian kepada penulis.
Terbayang pula kehidupan sederhana di bawah mihrab Mushalla Al Azhar, tempat seorang santri belajar bahwa ilmu harus melahirkan tanggung jawab, pengabdian, dan keikhlasan.
Semua itu adalah kekayaan ruhani yang tidak dapat diukur dengan nilai material.
Kepada para pihak yang telah membantu pemulihan Mushalla Al Azhar, khususnya PBNU melalui program Madrasah Bangkit, Unilever Medan, serta Ibu Rafiqah dan tim IO sebagai pelaksana renovasi sanitasi, penulis menyampaikan apresiasi dan terima kasih.
Semoga ikhtiar ini menjadi amal jariah yang terus mengalir manfaatnya.
Mushalla Al Azhar telah menjadi saksi perjalanan banyak santri. Ia pernah menjadi tempat belajar, beribadah, mengabdi, dan membangun cita-cita.
Kini saatnya mushalla itu kembali bangkit.
Mushalla Al Azhar, riwayatmu adalah bagian dari riwayat hidup kami. Dindingmu menyimpan kenangan, mihrabmu menyaksikan pengabdian, dan ruangmu pernah menumbuhkan harapan seorang anak kampung untuk menjadi orang yang berguna bagi agama dan masyarakat.
Bangunan boleh menua, tetapi ilmu, adab, dan keteladanan para guru tidak boleh sirna.
Batang Kabung–Padang, 13 Oktober 2026 Duski Samad Santri MTI Batang Kabung 1973–1980
