![]() |
| Makam Ungku Kuniang Saruaso |
SARUASO — Ada pengalaman menarik di balik kegiatan gotong royong, membersihkan makam Tuanku Abdul Karim dikenal Ungku Kuniang Saruaso. Berawal dari rencana sederhana yang hanya melibatkan tiga orang, kegiatan itu justru mendapat tambahan tenaga secara tak terduga.
Pekerjaan membersihkan lingkungan makam pun berjalan lancar, seolah ada kemudahan yang datang di luar perkiraan.
Kisah ini bermula ketika Buya H. Jakfar Tuanku Imam Mudo Guru Besar Pondok Pesantren Darul Ulum Padang Magek, mengajak H. Ampera Salim pengurus pesantren itu, untuk berziarah ke makam Ungku Kuniang di Saruaso, Rabu, (13/10).
Dalam kunjungan sebelumnya, mereka melihat rumput liar dan semak-semak mulai tumbuh di sekitar makam. Pemandangan itu menimbulkan keinginan untuk membersihkan lingkungan makam agar lebih terawat.
Semula, kegiatan gotong royong atau goro tersebut, direncanakan hanya diikuti tiga orang, yakni Buya Jakfar, H. Ampera Salim, dan Ungku Arif Malin Sailan, salah seorang guru di Pondok Pesantren Darul Ulum Padang Magek.
Namun, ketika hendak berangkat, sejumlah santri kelas VII tiba-tiba menyatakan keinginan untuk ikut. Ajakan yang awalnya sederhana itu pun berubah menjadi kegiatan gotong royong, yang melibatkan sembilan orang.
Kehadiran para santri itu, memberikan tambahan tenaga, yang sangat berarti. Dengan bekerja bersama-sama, rumput dan semak-semak di sekitar makam dapat dibersihkan dengan lebih lancar.
Bagi mereka, kegiatan tersebut bukan sekadar membersihkan lingkungan makam. Ada pula nilai kebersamaan, penghormatan kepada ulama terdahulu. Serta pendidikan bagi santri, agar terbiasa berkhidmat dan peduli, terhadap peninggalan sejarah keagamaan.
Kembali ke Saruaso
Pekerjaan ternyata belum sepenuhnya selesai pada gotong royong pertama. Karena itu, pada Jumat, (15/10), setelah menunaikan salat Jumat, Buya Jakfar dan H. Ampera Salim kembali datang ke Saruaso untuk melanjutkan pembersihan.
Kali ini, mereka ditemani Pak Yon dan Pak Ujang serta Pak In, tiga orang santri lansia Pondok Pesantren Darul Ulum Padang Magek. Dengan demikian, lima orang terlibat dalam kegiatan gotong royong lanjutan tersebut.
Semangat mereka tidak surut, meskipun harus kembali menempuh perjalanan, untuk menyelesaikan pekerjaan yang masih tersisa. Bagi mereka, merawat makam tokoh agama merupakan bentuk kepedulian, terhadap warisan para pendahulu yang patut dijaga bersama.
Ketelah kegiatan berlangsung, salah seorang mengambil foto kelima orang itu. Foto tersebut kemudian dikirimkan kepada Pak Fachri dan Pak Pendis, ahli waris sekaligus cucu Ungku Abdul Karim, yang dikenal sebagai Ungku Kuniang Saruaso. Keduanya diketahui berada di Pekanbaru.
Rezeki yang Datang Tak Disangka
Dari sebuah foto, muncul pula cerita tentang kebersamaan yang menghangatkan hati.
Foto kegiatan gotong royong itu, rupanya dibagikan kepada saudara-saudara ahli waris yang berada di kampung. Tak lama kemudian, datanglah beberapa orang dari keluarga tersebut, mengantarkan sate dan teh untuk dinikmati sebagai teman minum kawa.
Kehadiran hidangan sederhana itu, menjadi kejutan yang menyenangkan bagi mereka, yang telah bergotong royong. Setelah bekerja membersihkan makam, mereka mendapat perhatian dan sambutan hangat dari keluarga ahli waris.
Tidak ada yang merencanakan jamuan tersebut sejak awal. Semuanya mengalir begitu saja, mengikuti rangkaian peristiwa, yang bermula dari niat berziarah dan keinginan membersihkan makam.
Bagi Buya Jakfar, pengalaman itu memberikan pelajaran tersendiri. Ketika seseorang memulai pekerjaan baik dengan niat tulus, pertolongan dan kemudahan terkadang datang melalui jalan yang tidak disangka - sangka.
“Begitulah Allah memudahkan pekerjaan kita, untuk membersihkan makam beliau, Ungku Kuniang Saruaso,” kata Buya Jakfar saat itu.
Ucapan tersebut menggambarkan rasa syukur, atas kelancaran kegiatan yang mereka lakukan. Dari rencana tiga orang, bertambah menjadi sembilan orang pada kegiatan pertama. Kemudian, pekerjaan dilanjutkan oleh lima orang pada kunjungan berikutnya, hingga akhirnya ditutup dengan kehangatan dari keluarga ahli waris.
Kisah kecil di makam Ungku Kuniang Saruaso, itu menjadi pengingat, bahwa gotong royong tidak selalu membutuhkan rencana besar. Terkadang, semuanya berawal dari niat sederhana, lalu tumbuh melalui keikhlasan, kepedulian, dan kesediaan untuk saling membantu.
Pada akhirnya, yang dibersihkan bukan hanya lingkungan makam, tetapi juga dipupuk semangat kebersamaan antara guru, santri, dan keluarga ahli waris dalam menjaga warisan para ulama terdahulu.
Laporan Ampera Salim Patimarajo
