![]() |
Oleh: Duski Samad
Ketua YIC Syekh Burhanuddin
Penyerahan 11 mahasiswa PPL ke Akademi Darul Ulum, Seremban, Malaysia, sebagaimana judul berita yang Bapak sampaikan, dapat dibaca sebagai langkah pengembangan pendidikan calon guru melalui pengalaman lintas negara. Nilai strategisnya terletak pada kesempatan mahasiswa menguji kemampuan mengajar, memahami lingkungan pendidikan berbeda, dan membawa hasil pembelajaran kembali ke kampus.
Catatan sumber: halaman OkeSinergi tersebut belum dapat diakses. Karena itu, jumlah 11 mahasiswa mengacu pada judul yang Bapak berikan. Sebagai konteks, publikasi Islamic Centre Syekh Burhanuddin mencatat kerja sama PPL dengan Akademi Darul Ulum pada Oktober 2025. Berita terdahulu ini perlu dibedakan dari kegiatan yang Bapak sampaikan sekarang.
Makna akademik dan kelembagaan
PPL internasional merupakan kesempatan mempertemukan teori pendidikan dengan kenyataan kelas. Mahasiswa menghadapi peserta didik yang memiliki kebiasaan, bahasa komunikasi, dan pengalaman belajar berbeda. Mereka perlu menyesuaikan penjelasan, memilih contoh yang dipahami siswa, serta mengevaluasi apakah pembelajaran benar-benar menghasilkan pemahaman.
Sebagai contoh, mahasiswa yang terbiasa menjelaskan akhlak melalui kehidupan surau di Minangkabau perlu mencari padanan pengalaman yang dekat dengan siswa di Malaysia. Proses ini melatih kemampuan menerjemahkan nilai ke dalam konteks, sekaligus menghindari anggapan bahwa satu cara mengajar cocok untuk semua lingkungan.
Bagi STIT Syekh Burhanuddin, kegiatan tersebut membuka peluang menjadikan kerja sama internasional sebagai bagian dari pembelajaran yang berkelanjutan. Publikasi institusi mengenai kegiatan 2025 menyebut adanya MoU, pendampingan, dan penempatan mahasiswa untuk praktik kependidikan. Namun, keberadaan kerja sama belum dengan sendirinya membuktikan peningkatan mutu lulusan; hasilnya tetap perlu dinilai melalui bukti pembelajaran.
Pendidikan Islam dan perjumpaan budaya
Dalam perspektif pendidikan Islam, pengalaman lintas negara dapat menjadi ruang pengamalan ta‘āruf: mengenal orang lain dengan penghormatan terhadap perbedaan, sebagaimana pesan QS. al-Hujurat [49]:13. Mahasiswa belajar bahwa kesamaan agama tidak menghapus keragaman kebiasaan, pendekatan pendidikan, dan kehidupan sosial.
Pengalaman tersebut juga dapat dibaca melalui kearifan “alam takambang jadi guru.” Lingkungan baru menjadi sumber pembelajaran apabila diamati, dipikirkan, dan dievaluasi. Mahasiswa perlu membedakan praktik yang dapat diterapkan di Pariaman, praktik yang membutuhkan penyesuaian, dan praktik yang hanya sesuai dengan konteks lembaga mitra.
Identitas Syekh Burhanuddin dapat menjadi kontribusi akademik yang khas: pengalaman pendidikan surau, hubungan ilmu dan adab, pembinaan masyarakat, serta pewarisan keilmuan. Materi itu perlu disampaikan melalui dokumentasi dan kajian yang dapat dipertanggungjawabkan. Perjumpaan internasional kemudian menjadi pertukaran pengetahuan dua arah.
Hal yang perlu diperkuat
Keberhasilan PPL perlu dinilai dari perubahan kemampuan mahasiswa. Dokumentasi keberangkatan dan penyerahan penting sebagai rekam kegiatan, tetapi evaluasi akademiknya membutuhkan perangkat yang lebih konkret.
Bidang Pertanyaan evaluasi Bukti yang diperlukan
Kemampuan mengajar Apakah mahasiswa semakin mampu merencanakan dan menjalankan pembelajaran? Perangkat ajar dan penilaian sebelum–sesudah.
Pengelolaan kelas Apakah mahasiswa mampu menghadapi perbedaan kebutuhan siswa? Observasi guru pembimbing dan catatan praktik.
Komunikasi lintas budaya Apakah mahasiswa dapat berkomunikasi dengan tepat dan menghargai kebiasaan setempat? Umpan balik mitra dan jurnal refleksi.
Adab dan profesionalitas Apakah mahasiswa disiplin, bertanggung jawab dan terbuka terhadap koreksi? Penilaian perilaku profesional.
Manfaat bagi mitra Apakah kehadiran mahasiswa membantu kegiatan pendidikan? Evaluasi lembaga penerima.
Dampak bagi kampus Apakah pengalaman peserta memperbaiki pembelajaran di STIT? Seminar hasil, bahan ajar dan tindak lanjut
Akses peserta juga perlu diperhatikan. Seleksi sebaiknya mempertimbangkan kesiapan akademik, kemampuan mengajar, komunikasi, dan tanggung jawab. Dukungan pembiayaan dapat membuka kesempatan bagi mahasiswa berprestasi yang memiliki keterbatasan ekonomi.
Prospek pengembangan
Kerja sama ini berpotensi berkembang dari penempatan mahasiswa menjadi kolaborasi pendidikan yang lebih luas. Publikasi Islamic Centre juga mencatat pengabdian dosen di Akademi Darul Ulum pada Oktober 2025, dengan kegiatan matematika, budaya Minangkabau, dan bahasa Arab. Hal tersebut menunjukkan adanya pengalaman kegiatan selain PPL yang dapat menjadi bahan pengembangan kerja sama berikutnya.
Berikut arah pengembangan yang diusulkan, bukan kegiatan yang telah dipastikan berjalan:
Jangka waktu Arah pengembangan Hasil yang dituju
Jangka pendek Menetapkan panduan PPL, pembimbing kedua pihak, rubrik penilaian dan seminar hasil Pelaksanaan lebih terarah dan hasil peserta terdokumentasi.
Jangka menengah Mengembangkan kuliah tamu, pertukaran praktik mengajar dan penyusunan bahan ajar bersama Manfaat kerja sama menjangkau mahasiswa yang tidak berangkat.
Jangka menengah Melakukan penelitian bersama tentang pembelajaran pendidikan Islam Temuan berbasis data untuk perbaikan pendidikan.
Jangka panjang Membentuk jejaring lembaga pendidikan Islam regional dan program kunjungan timbal balik Kemitraan lebih berkelanjutan dan saling menguntungkan.
Pengembangan tersebut perlu mengikuti kemampuan pembiayaan dan kesiapan mitra. Menambah jumlah peserta sebaiknya dilakukan setelah kualitas pendampingan, tempat praktik, dan hasil evaluasi dapat dipastikan.
Prospek paling kuat bagi STIT Syekh Burhanuddin adalah menghadirkan calon pendidik yang mampu bekerja dalam lingkungan berbeda, tetap beradab, dan membawa pengetahuan baru untuk memperbaiki pendidikan di daerahnya. Dengan arah itu, perjalanan mahasiswa ke Malaysia menjadi bagian dari tanggung jawab kampus: memperluas pengalaman belajar dan mengembalikan manfaatnya kepada masyarakat. 03102026.
