![]() |
Oleh: Duski Samad
Penguji Disertasi Jamaldi, 10092026
Tasawuf Modern Hamka menarik dibaca kembali bukan hanya karena kandungan tasawufnya, tetapi karena konteks sosial ketika gagasan itu lahir sangat berbeda dengan kehidupan manusia hari ini. Tulisan yang kemudian menjadi Tasawuf Modern mula-mula hadir secara berseri dalam Pedoman Masyarakat pada penghujung 1930-an dan kemudian diterbitkan sebagai buku pada 1939. Indonesia ketika itu masih berada di bawah kolonialisme Belanda.
Hampir sembilan dekade kemudian, gagasan Hamka tentang kebahagiaan dibaca oleh masyarakat yang hidup dalam dunia digital, global, terkoneksi, dan relatif jauh lebih mudah secara teknis. Perbedaan tersebut justru melahirkan pertanyaan penting: mengapa manusia yang hidup dalam keterbatasan dapat menemukan makna, sedangkan manusia yang hidup dalam kelimpahan justru dapat mengalami kehilangan makna?
Tasawuf Modern Lahir dari Zaman yang Tidak Mudah
Hamka menulis dalam situasi ketika masyarakat menghadapi keterbatasan politik, ekonomi, pendidikan, transportasi, komunikasi, dan akses informasi. Kemerdekaan belum diperoleh dan struktur kolonial masih menentukan banyak aspek kehidupan.
Namun keadaan masyarakat ketika itu tidak tepat jika hanya digambarkan dengan kata “jumud”. Masyarakat Muslim sedang mengalami dinamika pembaruan yang kuat. Organisasi Islam berkembang, pendidikan mengalami pembaruan, pers menjadi ruang perdebatan, dan gagasan dari Timur Tengah maupun Barat memasuki ruang intelektual Muslim.
Karena itu konteks yang lebih tepat bukan “masyarakat jumud”, tetapi masyarakat Muslim yang sedang bergerak dari tradisi menuju modernitas di bawah tekanan kolonial.
Hamka berada di tengah perubahan itu. Ia berdakwah, menulis, terlibat dalam jurnalistik, sastra, pendidikan, dan kehidupan sosial. Maka Tasawuf Modern bukan lahir dari ruang pertapaan yang terpisah dari masyarakat, melainkan dari pergulatan seorang ulama-intelektual dengan dunia yang sedang berubah.
Kehidupan Sosial: Modernisasi di Bawah Kolonialisme
Kata “modern” pada Tasawuf Modern menjadi penting. Hamka tidak sedang mengajak masyarakat kembali kepada kehidupan masa lampau dengan meninggalkan pekerjaan, perdagangan, pendidikan, organisasi, dan aktivitas sosial.
Tasawuf justru harus mampu hadir di tengah semua itu.
Karena itu pembahasan Hamka tentang kebahagiaan bersentuhan dengan persoalan konkret manusia: kesehatan jiwa dan badan, harta benda, qana'ah, tawakal, ridha, ikhtiar, dan cara manusia menghadapi kehidupan.
Modernisasi menghadirkan kemungkinan baru, tetapi sekaligus dapat mengguncang orientasi lama. Pertanyaan Hamka karena itu bukan sekadar “bagaimana menjadi sufi?”, melainkan lebih mendasar: bagaimana manusia tetap mempunyai jiwa yang sehat, merdeka, dan bahagia ketika kehidupan di sekelilingnya berubah?
Bukan Tasawuf Melarikan Diri dari Masyarakat
Dari sini tasawuf Hamka dapat dibaca sebagai tasawuf partisipatif, bukan tasawuf eskapis.
Kedekatan kepada Allah tidak dibuktikan dengan meninggalkan masyarakat. Sebaliknya, spiritualitas harus hadir dalam cara manusia bekerja, mencari harta, berkeluarga, berorganisasi, memimpin, menghadapi penderitaan, dan memberikan manfaat kepada orang lain.
Zuhud karena itu bukan berarti tidak memiliki dunia. Persoalannya adalah apakah manusia memiliki dunia atau dunia yang memiliki manusia.
Demikian pula qana'ah. Qana'ah tidak berarti kehilangan ambisi untuk maju. Manusia tetap harus bekerja, belajar, berikhtiar, dan meningkatkan kualitas hidup. Namun keberhasilan material tidak boleh menjadi satu-satunya sumber harga diri.
Dengan demikian, tasawuf Hamka dapat dibaca sebagai usaha membangun kemerdekaan batin di tengah keterlibatan aktif dalam kehidupan dunia.
Perlu Membedakan Konteks Penulisan dengan Pengalaman Hamka Kemudian
Pembedaan kronologis juga penting. Tasawuf Modern ditulis jauh sebelum pengalaman pemenjaraan Hamka pada masa kemudian. Karena itu kurang tepat apabila dikatakan bahwa buku tersebut lahir sebagai respons langsung terhadap pengalaman penjara.
Konteks langsungnya adalah masyarakat kolonial yang sedang mengalami perubahan sosial dan modernisasi. Sedangkan pengalaman tekanan politik dan pemenjaraan Hamka pada periode berikutnya dapat dipandang sebagai ujian biografis terhadap nilai-nilai spiritual yang telah lama dipikirkannya.
Sabar, tawakal, keteguhan, kemerdekaan jiwa, dan orientasi kepada Allah yang dibicarakan Hamka kemudian benar-benar berhadapan dengan pengalaman kehidupan yang berat.
Pembedaan tersebut penting agar penelitian tidak melakukan anakronisme, yaitu membawa pengalaman Hamka pada masa kemudian menjadi sebab bagi gagasan yang sebenarnya telah ditulis sebelumnya.
Dari Modernitas Kolonial ke Modernitas Digital
Konteks hari ini sangat berbeda. Manusia digital hidup dengan teknologi yang memberikan kemudahan luar biasa. Informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik. Komunikasi berlangsung seketika. Pendidikan dapat diakses dari mana saja. Transaksi berlangsung melalui layar. Mobilitas semakin cepat. Hiburan tersedia tanpa batas. Kecerdasan buatan bahkan mulai membantu manusia membaca, menulis, menganalisis, dan mengambil keputusan.
Tetapi kemudahan tersebut menghadirkan paradoks. Hidup semakin mudah secara teknis, tetapi belum tentu semakin mudah secara eksistensial.
Manusia semakin terkoneksi, tetapi dapat semakin kesepian. Informasi semakin banyak, tetapi kemampuan menentukan mana yang bermakna semakin sulit. Pilihan semakin luas, tetapi kecemasan memilih juga meningkat. Media sosial memberikan ruang ekspresi, tetapi sekaligus menghasilkan kompetisi citra dan kebutuhan terhadap validasi.
Karena itu masyarakat digital bukan masyarakat tanpa masalah. Jenis masalahnya yang berubah.
Dari Krisis Keterbatasan ke Krisis Kelimpahan
Di sinilah perbedaan dua zaman dapat dirumuskan dengan lebih tajam.
Hamka hidup dan menulis dalam modernitas yang dibayangi keterbatasan. Manusia digital hidup dalam modernitas yang ditandai kelimpahan.
Dahulu persoalannya adalah sulit memperoleh informasi. Sekarang persoalannya adalah bagaimana menyaring banjir informasi. Dahulu pilihan terbatas. Sekarang terlalu banyak pilihan dapat menimbulkan kelelahan. Dahulu komunikasi sulit. Sekarang manusia kesulitan menghentikan komunikasi. Dahulu barang sulit diperoleh. Sekarang konsumsi dapat dilakukan dalam hitungan detik.
Maka manusia ternyata dapat menderita karena kekurangan, tetapi juga dapat kehilangan makna karena kelebihan.
Inilah yang dapat disebut sebagai pergeseran dari krisis keterbatasan menuju krisis kelimpahan.
Pertanyaan kebahagiaan pun berubah. Dahulu pertanyaannya: bagaimana tetap bahagia ketika banyak hal tidak dimiliki? Hari ini pertanyaannya: mengapa tetap tidak bahagia ketika begitu banyak hal sudah dimiliki?
Titik Temunya adalah Dunia yang Berubah
Walaupun konteks kedua zaman berbeda, terdapat satu titik temu: dunia sedang berubah dan perubahan dapat mengguncang orientasi manusia.
Pada masa Hamka, perubahan hadir melalui pendidikan modern, urbanisasi, perdagangan, media cetak, organisasi, dan pertukaran gagasan. Hari ini perubahan hadir melalui internet, media sosial, kecerdasan buatan, algoritma, ekonomi digital, globalisasi, dan budaya serba instan.
Karena itu relevansi Hamka tidak perlu dicari dengan membuktikan bahwa kondisi 1939 sama dengan kondisi sekarang. Justru jelas bahwa keduanya berbeda.
Relevansinya terletak pada pertanyaan antropologis yang melampaui zaman:
> Bagaimana manusia menggunakan dunia tanpa kehilangan dirinya di dalam dunia?
Pertanyaan inilah yang mempertemukan Tasawuf Modern dengan kehidupan digital.
Tasawuf sebagai Sistem Pengaturan Diri
Dalam konteks tersebut, tasawuf Hamka dapat direkonstruksi sebagai sistem pengaturan diri dan sistem pemberian makna.
Tauhid memberikan orientasi tentang untuk apa manusia hidup. Tazkiyah membersihkan orientasi dari dominasi ego. Zuhud mengatur keterikatan terhadap dunia. Qana'ah membatasi kerakusan tanpa mematikan ikhtiar. Sabar mengatur respons terhadap kesulitan. Tawakal menjaga keseimbangan ketika hasil tidak sesuai harapan. Muhasabah memungkinkan evaluasi diri. Amanah mengatur penggunaan harta, ilmu, jabatan, dan kekuasaan. Sedangkan khidmah membawa seluruh kekuatan tersebut menuju kemanfaatan sosial.
Dengan cara ini, tasawuf tidak hanya berbicara tentang bagaimana manusia merasa tenteram, tetapi bagaimana manusia mengatur kehidupannya agar layak ditenterami.
Dari Zuhud Klasik Menuju Zuhud Digital
Prinsip tersebut dapat direkonstruksi untuk manusia digital, dengan catatan bahwa istilah seperti zuhud digital merupakan kontekstualisasi kontemporer, bukan istilah literal Hamka.
Zuhud digital berarti menggunakan teknologi tanpa diperbudak teknologi. Qana'ah digital berarti tidak menjadikan kehidupan yang ditampilkan orang lain sebagai ukuran harga diri. Sabar digital berarti mampu mengendalikan impuls dan tidak selalu harus segera bereaksi. Muhasabah digital berarti mengevaluasi waktu layar, konsumsi informasi, pola belanja, motif unggahan, dan perilaku komunikasi.
Amanah digital berarti tidak menyebarkan kebohongan, fitnah, manipulasi, dan informasi yang belum terverifikasi. Khidmah digital berarti menjadikan teknologi sebagai sarana pendidikan, ilmu, dakwah, solidaritas, pemberdayaan, dan kemaslahatan.
Maka jalan yang ditawarkan bukan menolak teknologi, melainkan membentuk manusia yang berdaulat secara spiritual ketika menggunakan teknologi.
Dari Mengetahui Makna Menuju Hidup Bermakna
Namun sistem makna tidak boleh berhenti pada pengetahuan.
Seseorang dapat mengetahui zuhud tetapi tetap rakus. Mengetahui qana'ah tetapi tetap konsumtif. Mengetahui sabar tetapi reaktif. Mengetahui tawakal tetapi hancur ketika gagal. Mengetahui muhasabah tetapi tidak pernah mengoreksi dirinya.
Karena itu perlu dibedakan antara mengetahui makna (meaning knowing) dan membentuk serta mengalami makna (meaning making).
Makna harus bergerak dari nilai menuju pengalaman:
Nilai → Pemahaman → Kesadaran → Interpretasi → Pilihan → Praktik → Pembiasaan → Karakter → Kontribusi.
Tauhid yang diketahui harus menjadi orientasi. Zuhud yang dipahami harus menjadi pengendalian diri. Qana'ah harus menjadi proporsionalitas. Muhasabah harus menghasilkan koreksi. Amanah harus menghasilkan tanggung jawab. Dan khidmah harus menghasilkan manfaat.
Di sinilah tasawuf berubah dari pengetahuan tentang kehidupan menjadi cara menjalani kehidupan.
Makna Harus Berakhir pada Tanggung Jawab Sosial
Kebahagiaan Hamka juga tidak boleh direduksi menjadi ketenteraman individual. Spiritualitas yang hanya menghasilkan ketenangan pribadi belum selesai menjalankan fungsi sosialnya.
Tauhid harus terlihat dalam integritas. Zuhud harus mencegah kerakusan. Qana'ah harus membatasi konsumtivisme. Sabar harus melahirkan ketangguhan. Muhasabah harus menghasilkan akuntabilitas. Amanah harus melahirkan tanggung jawab. Rahmah harus menghasilkan kepedulian. Khidmah harus menghadirkan kemanfaatan.
Karena itu ukuran kebahagiaan tidak cukup dengan pertanyaan: “Seberapa tenteram saya?”
Pertanyaan itu harus dilanjutkan: “Seberapa aman, damai, adil, dan bermanfaat orang lain karena keberadaan saya?”
Makna yang hanya menenteramkan diri adalah makna personal. Makna yang mengubah perilaku menjadi akhlak adalah makna yang terinternalisasi. Sedangkan makna yang menghasilkan kemaslahatan adalah makna yang telah bertransformasi menjadi tanggung jawab sosial.
Tantangan Akademik: Jangan Sekadar Memindahkan Hamka ke Era Digital
Di sinilah penelitian tentang kebahagiaan Hamka menghadapi tantangan metodologis yang penting. Konsep yang ditulis pada 1937–1939 tidak dapat begitu saja dinyatakan relevan untuk 2026 hanya karena menggunakan istilah yang sama seperti bahagia, zuhud, sabar, dan qana'ah.
Penelitian harus menunjukkan jembatan epistemologis dan operasionalnya.
Mana unsur pemikiran Hamka yang merupakan prinsip universal? Mana yang terikat konteks sosial 1930-an? Mana yang dapat dipertahankan? Mana yang memerlukan reinterpretasi? Dan bagaimana reinterpretasi tersebut dapat menjawab persoalan manusia digital?
Karena itu pertanyaan promotif yang lebih tajam adalah:
> Jika Hamka merumuskan tasawuf untuk masyarakat Muslim yang menghadapi modernitas kolonial, atas dasar apa konstruksi kebahagiaan tersebut dinyatakan relevan bagi manusia digital-global hampir sembilan dekade kemudian? Mana prinsip universal Hamka dan mana hasil rekonstruksi Saudara sendiri?
Pembedaan ini penting agar kontekstualisasi tidak diklaim sebagai teks asli Hamka.
Dari Tasawuf Modern Menuju Tasawuf Manusia Digital
Jika jembatan tersebut dapat dibuktikan, Tasawuf Modern dapat memberikan landasan untuk membangun model pengaturan diri manusia digital.
Mekanismenya dapat dirumuskan:
Tauhid → Tazkiyah → Muhasabah → Rasionalitas Etis → Ikhtiar → Zuhud dan Qana'ah → Sabar dan Tawakal → Amanah → Khidmah → Sa‘ādah.
Tauhid memberikan arah. Tazkiyah membersihkan orientasi. Muhasabah mengevaluasi diri. Rasionalitas menentukan pilihan. Ikhtiar menghasilkan tindakan. Zuhud dan qana'ah mengendalikan keterikatan. Sabar dan tawakal mengatur hubungan dengan kesulitan dan hasil. Amanah mengelola apa yang diperoleh. Khidmah mengubah keberhasilan menjadi kemanfaatan.
Sa‘ādah kemudian tidak lagi berarti sekadar merasa senang, tetapi hidup yang mempunyai orientasi, batin yang merdeka, dunia yang terkendali, tindakan yang rasional, akhlak yang terjaga, dan keberadaan yang bermanfaat.
Dari Krisis Keterbatasan ke Krisis Kelimpahan: Titik Tajam Penelitian
Pada akhirnya, perbandingan Hamka dan manusia digital tidak seharusnya dibangun dengan oposisi sederhana antara “masyarakat dahulu jumud dan sulit” dengan “masyarakat sekarang modern dan mudah.”
Rumusan yang lebih akademik adalah:
Hamka berbicara dalam modernitas kolonial yang ditandai keterbatasan dan pergulatan pembaruan. Manusia hari ini hidup dalam modernitas digital-global yang ditandai kelimpahan, konektivitas, kecepatan, dan kerentanan makna.
Kedua zaman berbeda, tetapi keduanya sama-sama menuntut manusia menjawab satu pertanyaan: bagaimana tetap menjadi manusia yang mempunyai pusat nilai ketika dunia berubah?
Karena itu tesisnya dapat dipertegas:
> Tasawuf Modern Hamka lahir dalam masyarakat yang bergerak dari tradisi menuju modernitas di bawah tekanan kolonial. Relevansinya bagi masyarakat digital bukan terletak pada kesamaan konteks sejarah, tetapi pada kemampuannya menyediakan sistem makna dan disiplin batin untuk menghadapi perubahan. Jika manusia zaman Hamka ditantang untuk tetap bermakna dalam keterbatasan, manusia digital ditantang untuk tetap bermakna dalam kelimpahan.
Dengan demikian, warisan Hamka bukanlah ajakan untuk kembali ke masa lalu. Warisannya justru dapat dibaca sebagai kemampuan memiliki dunia tanpa dimiliki dunia, menggunakan kemajuan tanpa diperbudak kemajuan, bekerja tanpa kehilangan jiwa, menikmati tanpa menjadi rakus, dan mengubah keberhasilan pribadi menjadi kemaslahatan sosial.
Pertanyaan akhirnya menjadi jauh lebih tajam daripada sekadar apakah manusia modern sudah bahagia:
> Ketika teknologi telah membuat begitu banyak hal menjadi mudah, mengapa manusia masih dapat kehilangan kebahagiaan? Apakah yang kurang adalah fasilitas kehidupan, atau justru sistem makna yang menentukan untuk apa seluruh fasilitas itu digunakan?
