![]() |
Oleh: Duski Samad
Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Imam Bonjol Padang
Tulisan ini dibuat untuk memenuhi curhat mubaligh muda yang cukup luas dikenal masyarakat Kota Pekan Baru. Era digital, kehidupan kompetitif dan berbagai realitas kehidupan kota, langsung atau membawa effek bagi suasana batin umat.
Masyarakat perkotaan hidup dalam suasana yang serba cepat, padat, kompetitif, dan penuh tekanan. Kemajuan teknologi serta kemudahan ekonomi ternyata tidak selalu menghadirkan ketenteraman. Banyak orang mengalami kelelahan mental, kekosongan makna, keterasingan sosial, kecemasan, dan kegelisahan spiritual.
Dalam keadaan demikian, dakwah perkotaan tidak cukup hanya menyampaikan hukum halal dan haram. Dakwah juga harus mampu menyentuh hati, menenangkan jiwa, membimbing manusia menemukan makna hidup, serta mendekatkannya kepada Allah. Pada titik inilah tarekat kembali menemukan relevansinya.
Tarekat sebagai Jalan Mendekat kepada Allah
Secara bahasa, tharīqah berarti jalan, metode, atau cara yang ditempuh. Dalam tradisi tasawuf, tarekat merupakan jalan pembinaan rohani untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui bimbingan guru, zikir, mujahadah, muraqabah, pengendalian hawa nafsu, dan pembentukan akhlak.
Tarekat dapat dipahami dalam empat pengertian.
Pertama, jalan khusus, yaitu metode pembinaan spiritual yang ditempuh secara sungguh-sungguh oleh seorang salik. Ia tidak hanya mengetahui ajaran agama, tetapi berusaha menghayati dan merasakan kehadiran Allah dalam kehidupannya.
Kedua, jalan istimewa, karena tarekat memberikan perhatian khusus kepada kebersihan hati, pengendalian diri, kedisiplinan ibadah, dan peningkatan kualitas akhlak.
Ketiga, jalan zikir, sebab zikir menjadi salah satu instrumen utama untuk menghidupkan hati. Allah berfirman:
«“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(Q.S. ar-Ra‘d [13]: 28).»
Keempat, jalan makrifat, yaitu perjalanan mengenal Allah dengan benar melalui penghayatan terhadap nama, sifat, kekuasaan, kasih sayang, dan keagungan-Nya. Makrifat bukan pengakuan bahwa manusia telah menyatu secara fisik dengan Tuhan, melainkan tumbuhnya kesadaran mendalam tentang kehambaan manusia di hadapan Allah.
Dengan demikian, tarekat bukan agama baru dan bukan pula pengganti syariat. Tarekat adalah metode untuk menghidupkan syariat dalam batin, perilaku, dan kehidupan sehari-hari.
Tarekat sebagai Kebutuhan Masyarakat Perkotaan
Di tengah kehidupan perkotaan yang penuh tekanan, tarekat dapat menjadi kebutuhan spiritual. Setidaknya terdapat tiga kebutuhan penting yang dapat dijawab melalui pembinaan tarekat.
1. Kekhusyukan dalam Beribadah
Kesibukan membuat sebagian orang melaksanakan ibadah secara tergesa-gesa dan mekanis. Salat tetap dikerjakan, tetapi hati tidak hadir. Zikir dibaca, tetapi maknanya tidak dirasakan.
Tarekat membimbing seseorang agar ibadah tidak berhenti pada gerakan lahiriah. Salat, zikir, doa, dan membaca Al-Qur’an diarahkan menjadi ruang perjumpaan rohani dengan Allah. Kekhusyukan tumbuh ketika seseorang menyadari siapa yang disembah dan untuk apa ibadah dilaksanakan.
2. Keikhlasan dalam Beramal
Masyarakat digital hidup dalam budaya penampilan. Banyak perbuatan dinilai berdasarkan jumlah pengikut, tanda suka, pujian, dan pengakuan publik. Amal pun dapat tergelincir menjadi alat pencitraan.
Pembinaan tarekat mengajarkan tashfiyat al-qalb, yaitu membersihkan hati dari riya, ujub, takabur, hasad, dan kecintaan berlebihan terhadap popularitas. Seorang salik dibimbing untuk beramal karena Allah, bukan karena pujian manusia.
3. Ketenangan Jiwa
Ketenangan jiwa tidak selalu lahir dari banyaknya harta, tingginya jabatan, atau luasnya jaringan sosial. Ia tumbuh dari hati yang mengenal Allah, menerima ketentuan-Nya, dan mampu menempatkan dunia secara proporsional.
Melalui zikir, tafakur, muraqabah, dan latihan pengendalian diri, tarekat dapat membantu manusia perkotaan mengelola kecemasan, kemarahan, kesepian, serta ketakutan terhadap masa depan. Tarekat menghadirkan spiritualitas yang menenangkan sekaligus menggerakkan seseorang untuk tetap produktif.
Trauma Masyarakat terhadap Tarekat
Walaupun dibutuhkan, sebagian masyarakat masih takut mempelajari tarekat. Ketakutan tersebut tidak sepenuhnya muncul tanpa alasan. Dalam perjalanan sejarah terdapat ajaran, praktik, atau perilaku yang dinisbahkan kepada tarekat, tetapi menyimpang dari Al-Qur’an, Sunnah, dan prinsip-prinsip syariat.
Trauma ini setidaknya berkaitan dengan empat persoalan.
1. Trauma terhadap Paham yang Dianggap Aneh
Istilah seperti wahdatul wujud, fana, baqa, tajalli, dan makrifat sering dijelaskan tanpa memperhatikan tingkat pemahaman jamaah. Bahasa simbolik para sufi kemudian diterima secara harfiah sehingga menimbulkan kesan bahwa manusia dapat menyatu secara fisik dengan Allah.
Padahal Allah tetap sebagai Khalik, sedangkan manusia adalah makhluk. Pengalaman kedekatan spiritual tidak menghapus perbedaan antara Tuhan dan hamba. Karena itu, konsep-konsep tasawuf falsafi harus diterangkan secara hati-hati, kontekstual, dan bertanggung jawab.
2. Trauma terhadap Pengabaian Salat dan Masjid
Ada anggapan bahwa seseorang yang telah mencapai tingkat makrifat tidak lagi membutuhkan salat, masjid, atau ibadah syariat. Pemahaman seperti ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam.
Nabi Muhammad saw. adalah manusia yang paling mengenal Allah, tetapi beliau pula yang paling tekun melaksanakan salat, zikir, puasa, dan ibadah lainnya. Semakin tinggi makrifat seseorang, semakin kuat ketaatan dan kerendahan hatinya di hadapan Allah.
Jika suatu ajaran menyebabkan masjid dan musala kosong, salat berjamaah ditinggalkan, serta kewajiban agama disepelekan, maka ajaran itu harus dikoreksi. Tarekat yang benar justru menghidupkan masjid dan memperkuat ibadah berjamaah.
3. Trauma terhadap Penyepelean Syariat
Ada pula orang yang membenturkan hakikat dengan syariat. Seolah-olah syariat hanya berlaku bagi orang awam, sedangkan orang yang telah mencapai hakikat boleh meninggalkannya.
Pandangan tersebut tidak dapat dibenarkan. Syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat merupakan tahapan yang saling menguatkan. Syariat mengatur perbuatan lahiriah, tarekat mendisiplinkan perjalanan rohani, hakikat memperdalam penghayatan, sedangkan makrifat melahirkan kesadaran akan kebesaran Allah.
Tidak ada hakikat tanpa syariat. Tarekat yang memisahkan manusia dari salat, zakat, puasa, tanggung jawab keluarga, dan kehidupan sosial telah kehilangan dasar keislamannya.
4. Trauma terhadap Khurafat dan Kultus Guru
Keresahan masyarakat juga muncul ketika ajaran tarekat bercampur dengan khurafat, klaim kesaktian, perdagangan karamah, ketundukan buta kepada guru, atau pemanfaatan jamaah untuk kepentingan ekonomi dan politik.
Mursyid memang harus dihormati sebagai pembimbing rohani, tetapi penghormatan tidak boleh berubah menjadi pengkultusan. Mursyid bukan manusia yang terbebas dari kesalahan. Perkataan dan tindakannya tetap harus diukur dengan Al-Qur’an, Sunnah, akhlak, dan pertimbangan ulama yang memiliki otoritas keilmuan.
Tarekat yang Sahih Menguatkan Syariat
Ukuran kebenaran tarekat tidak terletak pada banyaknya pengikut, keajaiban yang diceritakan, atau popularitas seorang guru. Tarekat yang sahih dapat dikenali melalui beberapa indikator.
Pertama, mempunyai sanad keilmuan dan spiritual yang dapat dipertanggungjawabkan. Kedua, berpedoman kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Ketiga, memperkuat pelaksanaan salat dan kewajiban syariat. Keempat, melahirkan akhlak mulia. Kelima, menjauhkan jamaah dari khurafat, fanatisme, dan kultus individu. Keenam, membangun kepedulian terhadap keluarga, masyarakat, kemanusiaan, dan lingkungan.
Buah utama tarekat bukan kemampuan mempertunjukkan hal-hal luar biasa. Buahnya adalah kejujuran, kesabaran, kasih sayang, kedisiplinan, kerendahan hati, dan kemanfaatan sosial.
Orang yang rajin berzikir, tetapi masih suka menipu, merendahkan orang lain, mengabaikan keluarga, dan menebarkan kebencian, perlu mengevaluasi perjalanan rohaninya. Zikir sejati semestinya mengubah akhlak.
Tajdid Metodologis dalam Dakwah Tarekat
Agar tarekat dapat diterima masyarakat perkotaan, diperlukan pembaruan metodologis. Pembaruan bukan mengubah ajaran pokok, melainkan memperbaiki cara menjelaskan, mengajarkan, dan mengamalkannya.
1. Pendekatan Adaptif
Dakwah tarekat harus memahami karakter masyarakat perkotaan yang kritis, terdidik, sibuk, dan akrab dengan teknologi. Waktu, bahasa, materi, dan pola pembinaannya perlu disesuaikan tanpa mengurangi kedalaman ajaran.
Majelis zikir dapat dikembangkan dengan jadwal yang teratur, materi yang terstruktur, serta penggunaan media digital secara bertanggung jawab. Namun, teknologi harus menjadi sarana pendukung, bukan pengganti hubungan pendidikan antara guru dan murid.
2. Komunikasi yang Jernih
Istilah-istilah tasawuf perlu dijelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami. Konsep fana, makrifat, tawakal, zuhud, dan mahabbah harus diterangkan dalam kaitannya dengan kehidupan nyata.
Zuhud bukan berarti meninggalkan pekerjaan. Tawakal bukan alasan untuk bermalas-malasan. Fana bukan kehilangan kesadaran hukum. Makrifat bukan kebebasan meninggalkan ibadah. Tasawuf harus dikomunikasikan sebagai jalan pembentukan kesadaran, akhlak, dan tanggung jawab.
3. Integrasi Zikir, Ilmu, dan Amal Sosial
Dakwah tarekat tidak boleh berhenti pada zikir personal. Zikir harus melahirkan kesadaran sosial. Majelis tarekat semestinya ikut menjawab persoalan kemiskinan, ketahanan keluarga, kesehatan mental, narkoba, kerusakan lingkungan, dan keterasingan sosial.
Setelah lidah menyebut nama Allah, tangan harus ringan menolong sesama. Setelah hati dibersihkan melalui zikir, perilaku sosial juga harus menjadi lebih adil, ramah, dan beradab.
4. Penguatan Kompetensi Mursyid dan Dai
Mursyid dan dai perkotaan memerlukan penguasaan ilmu syariat, tasawuf, psikologi, komunikasi, serta dinamika sosial. Persoalan kejiwaan tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan nasihat keagamaan. Dalam keadaan tertentu, jamaah juga memerlukan bantuan psikolog, psikiater, dokter, atau tenaga profesional lainnya.
Kolaborasi ini tidak mengurangi kedudukan agama. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa Islam menghargai ilmu pengetahuan dan memberikan pelayanan yang utuh kepada manusia.
5. Literasi dan Keterbukaan
Tarekat perlu dikembangkan melalui tradisi literasi, kajian kitab, dialog ilmiah, dan keterbukaan yang proporsional. Ajaran pokok, sanad, bentuk amalan, serta tujuan pembinaan harus diterangkan secara bertanggung jawab.
Keterbukaan akan mengurangi prasangka sekaligus mencegah penyalahgunaan otoritas spiritual. Tarekat tidak boleh menjadi ruang tertutup yang kebal terhadap koreksi.
Dari Zikir Personal Menuju Kesalehan Perkotaan
Tantangan dakwah perkotaan bukan hanya membawa manusia masuk ke ruang ibadah, tetapi juga menghadirkan nilai ibadah dalam kehidupan publik. Kota memerlukan manusia yang tenang jiwanya, jujur dalam pekerjaannya, santun dalam berkomunikasi, peduli kepada tetangga, serta bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Karena itu, tarekat perlu bergerak dari kesalehan personal menuju kesalehan sosial. Zikir harus berbuah kejujuran. Makrifat harus melahirkan kerendahan hati. Mahabbah kepada Allah harus tampak dalam kasih sayang kepada manusia. Khalwat bersama Allah harus menghasilkan kepekaan terhadap penderitaan sesama.
Inilah wajah tarekat yang dibutuhkan masyarakat perkotaan: spiritual, rasional, komunikatif, adaptif, berpegang pada syariat, serta hadir memberikan solusi bagi kehidupan.
Penutup
Tarekat berada di antara dua kenyataan. Di satu sisi, masyarakat perkotaan sangat membutuhkan kedalaman spiritual, kekhusyukan beribadah, keikhlasan beramal, dan ketenangan jiwa. Di sisi lain, masyarakat masih menyimpan trauma terhadap penyimpangan, pengabaian syariat, khurafat, dan pengkultusan guru.
Jalan keluarnya bukan menolak tarekat, melainkan melakukan pemurnian dan pembaruan metodologis. Tarekat harus dikembalikan kepada fungsinya sebagai jalan mendidik hati, memperkuat syariat, menyempurnakan akhlak, dan menghadirkan kemaslahatan sosial.
Tarekat yang benar tidak menjauhkan manusia dari dunia, tetapi membimbingnya agar tidak diperbudak dunia. Tarekat tidak mengosongkan masjid, tetapi menghidupkannya. Tarekat tidak melemahkan syariat, tetapi memberi ruh kepadanya. Tarekat juga tidak membuat seseorang merasa lebih suci daripada orang lain, tetapi menjadikannya semakin rendah hati di hadapan Allah dan semakin bermanfaat bagi sesama.
Tarekat yang sahih ialah jalan zikir yang melahirkan pikir, jalan makrifat yang memperkuat syariat, dan jalan menuju Allah yang menghadirkan rahmat bagi manusia.ds.220926.
