![]() |
Oleh: Duski Samad
Pembelajar Islam dan Adat Minangkabau
Kemajuan Minangkabau perlu bertumpu pada tiga kekuatan yang saling menghidupkan: taat, beradab, dan beradat. Taat memberi arah spiritual dan moral. Beradab menuntun manusia membangun kehidupan yang maju dan bermartabat. Beradat menjaga jati diri, harga diri, dan tanggung jawab terhadap kaum serta nagari.
Ketiganya harus tumbuh bersama. Ketaatan beragama perlu tampak dalam kesantunan dan kejujuran. Kemajuan perlu disertai tanggung jawab moral. Kebanggaan terhadap adat perlu diwujudkan melalui perilaku yang menjaga martabat diri sekaligus menghormati orang lain.
Falsafah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah; syarak mangato, adat mamakai; syarak mandaki, adat manurun; alam takambang jadi guru menjadi landasan untuk membentuk manusia Minangkabau yang demikian. Falsafah ini memperoleh maknanya ketika dipakai dalam kehidupan: dalam keluarga, pendidikan, pekerjaan, kepemimpinan, dan pergaulan sehari-hari.
Taat berarti beragama Islam dengan sungguh-sungguh dan istiqamah. Ketaatan mencakup ibadah kepada Allah dan tanggung jawab kepada sesama. Orang yang taat berusaha menjaga salatnya, menepati janjinya, mencari rezeki yang halal, memelihara amanah, serta menjauhkan diri dari perbuatan yang merugikan orang lain.
Ketaatan harus dapat dirasakan manfaatnya oleh keluarga dan masyarakat. Kesungguhan beragama terlihat ketika seseorang tetap jujur saat mempunyai kesempatan untuk berbohong, tetap adil saat memiliki kekuasaan, dan tetap menjaga hak orang lain saat mengejar kepentingannya sendiri. Di situlah agama menjadi pedoman hidup yang nyata.
Beradab berarti mampu menjalani kemajuan dengan ilmu, akhlak, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Maju, madani, modern, dan berperadaban menuntut lebih dari kepemilikan teknologi atau pembangunan gedung. Kehidupan beradab ditandai oleh kesantunan dalam berbicara, keterbukaan terhadap ilmu, penghargaan terhadap perbedaan, ketertiban, serta kepedulian kepada mereka yang membutuhkan.
Manusia beradab mampu berbeda pendapat tanpa menghina. Ia menggunakan kecerdasan untuk menyelesaikan persoalan, bukan memperdaya orang lain. Ia menghormati orang tua, menghargai guru, melindungi yang lemah, dan bersedia mendengar sebelum menjatuhkan penilaian. Kemajuan memperoleh nilai ketika membuat kehidupan bersama semakin manusiawi.
Beradat berarti memiliki jati diri dan harga diri sebagai orang Minangkabau. Jati diri itu hidup melalui bahasa, hubungan kekerabatan, tata pergaulan, musyawarah, dan tanggung jawab terhadap kaum serta nagari. Harga diri dijaga dengan perilaku yang patut, kerja yang bermutu, dan kesediaan memikul amanah.
Adat Minangkabau melampaui pepatah yang diucapkan atau tulisan yang terpampang di dinding balai adat. Adat menjadi pedoman ketika anak kemenakan memahami cara menghormati orang lain, mengetahui tanggung jawabnya, dan mampu menempatkan diri dalam kehidupan bersama. Kebanggaan menjadi orang Minang harus disertai kemauan belajar dan kesungguhan menjaga marwah.
Dalam hubungan inilah syarak mangato, adat mamakai perlu dihidupkan. Nilai agama memberi tuntunan, sedangkan adat mewujudkannya dalam tata kehidupan masyarakat. Ungkapan syarak mandaki, adat manurun mengingatkan pentingnya perjumpaan syarak dan adat dalam membimbing kehidupan Minangkabau. Hubungan itu perlu terus dirawat agar nilai yang diwariskan benar-benar menjadi pegangan dalam bersikap dan mengambil keputusan.
Sementara itu, alam takambang jadi guru mengajarkan keluasan belajar. Alam, pengalaman, keberhasilan, kegagalan, dan perubahan sosial menyediakan pelajaran bagi orang yang mau memperhatikan. Semangat ini mendorong anak kemenakan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus mempertimbangkan akibat tindakannya bagi manusia dan lingkungan.
Hari ini kita menghadapi tantangan pewarisan nilai. Sebagian anak kemenakan semakin berjarak dari surau, adat, dan kehidupan nagarinya. Kesibukan keluarga, perubahan lingkungan, serta derasnya arus digital dapat mengurangi kesempatan mereka belajar langsung dari orang tua, guru, ulama, dan niniak mamak.
Keadaan ini menuntut kehadiran orang dewasa yang lebih bermakna. Anak kemenakan membutuhkan teladan, ruang berdialog, dan bimbingan yang berkelanjutan. Nasihat tentang kesantunan akan lebih kuat apabila disampaikan oleh orang yang santun. Ajakan menjaga amanah akan lebih dipercaya apabila datang dari pemimpin yang dapat dipercaya.
Karena itu, peran niniak mamak perlu diperkuat. Pendidikan adat memerlukan keterlibatan kaum dan nagari, bersama pendidikan keluarga dan sekolah. Niniak mamak perlu mengenal keadaan anak kemenakan: pendidikannya, pekerjaannya, kesulitannya, dan harapannya. Kehadiran itu menjadikan adat terasa dekat serta berguna dalam menghadapi persoalan kehidupan.
Surau perlu terus menjadi tempat pembentukan akhlak, pembelajaran agama, dan penguatan kepedulian sosial. Balai adat perlu menjadi ruang belajar adat dan penyelesaian persoalan melalui musyawarah. Keduanya dapat menjadi tempat generasi muda bertanya, menyampaikan gagasan, dan belajar memikul tanggung jawab.
Alim ulama membimbing dari sisi syarak, niniak mamak menjaga dan membimbing kaum, sedangkan cadiak pandai menyumbangkan ilmu serta pemikiran untuk menjawab perubahan. Kebersamaan unsur Tungku Tigo Sajarangan dan kekuatan nilai Tali Tigo Sapilin perlu diwujudkan dalam kerja nyata. Bundo kanduang dan generasi muda juga harus mendapat ruang yang kuat dalam pendidikan serta pewarisan nilai.
Kita pun perlu menghadirkan adat di ruang digital. Pepatah adat, kato nan ampek, sejarah nagari, sopan santun, dan nilai ABS-SBK dapat disampaikan melalui video singkat, percakapan daring, tulisan populer, serta dokumentasi pengalaman para tetua. Bahasa penyampaiannya perlu dekat dengan generasi muda, sementara maknanya tetap dijaga.
Kato nan ampek, misalnya, dapat menjadi pedoman komunikasi di media sosial: bagaimana menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, berbicara dengan sesama, dan menjaga kepatutan dalam hubungan yang memerlukan kehati-hatian. Nilai adat dengan demikian membantu anak kemenakan menghadapi persoalan yang mereka alami setiap hari.
Generasi muda juga perlu dilibatkan sebagai pelaku. Mereka dapat merekam sejarah keluarga dan nagari, mendokumentasikan pengetahuan niniak mamak, mengembangkan kegiatan surau, serta menciptakan usaha yang membawa manfaat bagi masyarakat. Keikutsertaan akan menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab untuk melanjutkan warisan.
Baliak ka surau adalah ajakan memperkuat ilmu, akhlak, dan persaudaraan. Baliak ka adat adalah ajakan menghidupkan jati diri dalam menghadapi kemajuan. Dengan bekal itu, anak kemenakan diharapkan mampu meraih pendidikan tinggi, berkiprah di berbagai bidang, dan membawa martabat Minangkabau ke mana pun mereka pergi.
Taat, beradab, dan beradat akhirnya harus terlihat dalam ukuran yang sederhana: jujur dalam bekerja, santun dalam berbicara, adil dalam memimpin, peduli kepada sesama, dan bertanggung jawab terhadap keluarga serta kaum. Dari perilaku sehari-hari itulah peradaban dibangun dan marwah dipertahankan.
Mari kita kuatkan hubungan niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, dan generasi muda. Rawatlah hubungan itu melalui perjumpaan, pendidikan, musyawarah, dan kerja bersama. Pewarisan adat memerlukan waktu, perhatian, dan keteladanan yang terus-menerus.
Adat dipakai, syarak dijalankan, anak kemenakan dibimbing, ilmu dikembangkan, dan marwah Minangkabau dipertahankan. Dengan ketaatan yang istiqamah, adab yang memuliakan manusia, serta adat yang hidup dalam perilaku, kita wariskan Minangkabau yang maju dan bermartabat kepada generasi berikutnya.30092026.sotisresidencejakpus
