![]() |
| Makam Syekh Burhanuddin Ulakan di Nagari Manggopoh Ulakan, Kecamatan Ulakan Tapakih, Kabupaten Padang Pariaman. |
Catatan AD Tuanku Mudo
Padang Pariaman, -- Syekh Burhanuddin Ulakan 1646-1704 Masehi, adalah ulama fenomenal yang tak pernah selesai ditulis. Jamak para ulama penulis menyebutkan, beliau pembawa Tarekat Syattariyah ke Minangkabau. Beliau tak punya keturunan, maka tersebab itu pula banyak sejarawan yang berbeda pendapat soal tempat lahir. Ada yang menyebut, Syekh Burhanuddin lahir di Pariangan, Tanah Datar tahun 1646 Masehi, dari pasangan Pampak dan Cukuik. Waktu lahir, Pampak yang bersuku Koto dan Cukuik yang bersuku Guci memberi nama anaknya dengan nama Kunun.
Oleh teman sama gedang, Kunun disapa dengan Pono. Nama Pono melekat kuat, dan sempat hilang nama asalnya, Kunun. Saat Pono berusia tujuh tahun, oleh kedua orangtuanya diangkut merantau ke Piaman. Tepatnya, keluarga ini diterima oleh niniak mamak Sintuak Toboh Gadang, dekat Lubuk Alung. Tak tahan dengan kehidupan miskin dan serba kekurangan, Pampak dan Cukuik memilih merantau dari Luhak Nan Tuo ke Piaman. Termasuk Ensiklopedi Minangkabau menuliskan, kalau Syekh Burhanuddin lahir di Tanah Datar.
Yang menyebut Syekh Burhanuddin lahir di Sintuak, Kecamatan Sintuak Toboh Gadang, Kabupaten Padang Pariaman juga ada. Makam ayah dan ibu Syekh Burhanuddin, Pampak dan Cukuik di Sintuak ini. Tepatnya di komplek Surau Pondok, Nagari Sintuak. Hanya saja, makam keluarga Syekh Burhanuddin ini tak seperti makam beliau yang ramai dikunjungi jemaah.
Tentu, perbedaan pendapat atau persepsi dari sejarawan dan ulama pengikut Syekh Burhanuddin ini tak menjadi persoalan yang besar. Dari Sintuak, Pono mengaji ke Tapakih. Di Tapakih, bermukim seorang ulama bernama Yahyuddin yang dikenal dengan nama Tuanku Madinah. Kepada guru ini, Pono mulai mendalami agama Islam, lebih kurang tiga tahun. Pono mempelajari ibadah wajib, tauhid, fiqih, tafsir dan sejarah Islam. Sebelum meninggal, Tuanku Madinah meminta Pono melanjutkan pelajaran agama kepada Syekh Abdurrauf Singkil di Banda Aceh.
Begitu juga dalam menyebut sahabat atau kawan Syekh Burhanuddin, beragam pula pandangan dan catatan yang terserak di berbagai saluran informasi. Ada yang menyebut cuma seorang, Idris Khatib Majolelo. Ada pula yang membuat empat sahabat, dan kajian ini mengkaji sembilan sahabat Syekh Burhanuddin.
Di Tapakis, bermukim seorang ulama bernama Yahyuddin yang dikenal dengan nama Tuanku Madinah. Kepada guru ini, Pono mulai mendalami agama Islam, lebih kurang 3 tahun. Ia mempelajari ibadah wajib, tauhid, fiqih, tafsir dan sejarah Islam. Sebelum meninggal, Tuanku Madinah meminta Pono melanjutkan pelajaran agama kepada Syekh Abdurrauf Singkil di Aceh.
Pono membulatkan tekad berangkat ke Aceh untuk belajar agama kepada Syekh Abdurrauf. Abdurrauf adalah ulama terkemuka Aceh di abad ke-17. Ia pernah menetap di Mekkah selama 10 tahun untuk mendalami Islam.
Kepadanya Pono belajar, memperdalam tasawuf dan Tarekat Syattariyah, sebagai jalan mengembangkan agama Islam kepada masyarakat. Selama di Aceh, Pono bukan hanya memperdalam pelajaran agama, dengan melewati berbagai ujian berat. Ujian itu, sejak dari tirakat, kesetiaan hingga ujian hawa nafsu. Semua mampu dilewati oleh Pono.
Setelah sembilan tahun mempelajari tarekat, Pono lulus dan mendapat ijazah dari Syekh Abdurrauf Singkil. Sejak itu, ia dipanggil dengan sebutan Syekh. Ada yang menyebut, Pono belajar di Aceh selama 21 tahun, ada pula yang menyebut sampai 30 tahun.
Pono akhirnya pamit kepada Syekh Abdurrauf untuk pulang kembali ke Minangkabau. Sebelum Pono pulang, Syekh mengganti namanya menjadi Burhanuddin. Sehingga, setelah itu kemudian dikenal dengan panggilan Syekh Burhanuddin.
Pada tahun 1680, Syekh Burhanuddin pulang ke Ulakan untuk mendirikan surau di Tanjung Medan. Syekh Burhanuddin Ulakan mulai menyebarkan ajaran Islam sekaligus mengembangkan Tarekat Syattariyah. Situs Kemdikbud menyebutkan, Syekh Burhanuddin Ulakan meninggal pada 20 Juni 1704 saat berusia 58 tahun.
Keistimewaan Syekh Burhanuddin Ulakan
Pono dikenal sebagai ulama sufi pengamal Tarekat Syattariyah. Kehidupan sehari-hari Pono kecil tidak ubahnya seperti anak seusianya yang selalu belajar dan bermain. Namun ada kekhususan yang setiap malam diajarkan ayahnya, yaitu ilmu kebatinan dan pencak silat. Waktunya banyak dihabiskan di bukit untuk merenung sambil menggembala kerbau. Dari penggembalaan ini, Pono mendapat teman akrab bernama Idris. Kelak Idris ini jadi Khatib Nagari Ulakan, bergelar Khatib Majolelo.
Suatu ketika saat Pono bergembala kerbau, harimau mengintai untuk memangsanya. Bekal pelajaran beladiri dari ayahnya, Pono bisa mengusir binatang buas tersebut. Malang baginya, urat kaki Pono putus terkena kuku harimau. Akibat peristiwa itu, Pono menjadi pincang. Kemudian Pono mendapat kabar ada guru agama di Tapakih, tak jauh dari Sintuak Toboh Gadang, yaitu seorang ulama dari Mekkah yang terkenal dengan sebutan Tuanku Madinah. Cerita ini menarik minat Pono, maka diutarakan niat menuntut ilmunya pada ayahnya.
Melihat semangat anak kesayangannya yang selalu diperolok-olokan temannya karena pincang, maka keinginan Pono dikabulkan oleh ayahnya untuk pindah sekaligus membuka lapangan usaha di Tapakih. Karena kecerdasannya dan kemauannya yang kuat dalam mempelajari agama, dengan cepat Pono berhasil menguasai semua pelajaran yang diberikan Tuanku Madinah.
Oleh Tuanku Madinah, setelah berbilang tahun lamanya Pono mengaji dengannya, disuruhnya pergi berguru ke Aceh, ke Syekh Abdurrauf. Pono berinisiatif pergi ke Aceh agar bisa menghindari kemarahan masyarakat yang mulai main kasar, bahkan ingin membunuhnya karena ajaran Islam dinilai menghalangi adat kebiasaan mereka dalam berjudi dan bersabung ayam. Dengan bekal keberanian dan keyakinan yang kuat untuk menambah ilmu agama ke Syekh Abdurrauf di Aceh, Pono bertemu dengan empat orang yang juga ingin berguru ke ulama Aceh. Adapun teman berempat yang bertemu dengan Pono, adalah Datuak Maruhun Panjang dari Padang Gantiang, Batusangkar, Sitarapang dari Kubuang Tigobaleh, Solok, M Nasir dari Koto Tengah, Padang; Buyuang Mudo dari Bayang Salido Banda Sapuluah, Pesisir Selatan.
Pono tiba di Aceh, langsung menemui Syekh Abdurrauf di kediamannya sekaligus mengutarakan maksud kedatangan. Melihat kedatangan Pono, Syekh Abdurrauf teringat akan pesan gurunya, Syekh Ahmadul Qusyasi, bahwa nanti akan ada calon muridnya datang dari arah selatan yang akan menjadi penyuluh agama mewarisi ajarannya. Orang tersebut kakinya cacat, tetapi pintar dan berbudi pekerti yang tinggi. Tanpa ragu, Mufti Kerajaan Aceh ini langsung menerima kelima orang ini menjadi murid.
Latar belakang Pono yang berasal dari keluarga bangsawan, keahliannya dalam mengolah alam, buah pembelajaran keras yang diberikan ayahnya sangat berguna diterapkan di pesantren. Syekh Abdurrauf mempercayakan Pono untuk mengurus keperluan pesantren, dari membuat dan memelihara ikan di kolam, berkebun dan ke sawah juga menggembala sapi kepunyaan Syekh Abdurrauf. Hal itu dilakukan Pono tanpa membantah. Pono menyadari, dalam ilmu tarekat, apapun alirannya dalam menuntut ilmu, “murid di hadapan guru ibarat mayat di tangan orang yang memandikannya”.
Dalam hikayat, suatu hari Syekh Abdurrauf menguji santrinya dengan memanggil dan menyuruh mereka untuk mengambil bejana yang menurut sang Syekh Abdurrauf jatuh di WC pesantren yang penuh kotoran manusia. Dari sekian banyak santri, hanya Pono yang mau sepenuh hati menyelami WC penuh kotoran, tanpa memperhitungkan bau busuk. Setelah mendapatkan bejana itu, Pono menyerahkannya pada sang guru setelah dibersihkan.
Ketika Syekh Abdurrauf dapat undangan ke sebuah pulau, beliau bergegas pergi dengan beberapa santri dan berpesan pada santri yang tinggal agar menyuruh Pono menyusulnya ke pulau itu. Mendapat tugas dari sang guru yang dijunjung tinggi, Pono bergegas ke tepi pantai. Setiba di tepi pantai, Pono tidak mendapatkan sebuah perahu pun untuk berangkat ke pulau. Atas izin Allah, dengan keyakinan penuh, tubuhnya menjadi ringan, seringan kapas. Pono bisa berjalan di atas air, seakan-akan ada kayu penyangga yang menopangnya saat melangkah menuju pulau. Peristiwa ini disaksikan oleh santri, baik dari daratan maupun di seberang pulau. Kejadian ini menjadi salah satu keistimewaan Pono.
Kejadian serupa juga terjadi saat Pono sedang membetulkan atap rumah, dimana ada potongan kayu terjatuh dan akan mengenai anak gadis gurunya. Dengan lincah dan cepat Pono melayang ke bawah untuk menyambut kayu itu. Salah satu peristiwa mashur yang menjadi pegangan kaum sufi, adalah saat Pono diuji keimanannya dengan godaan wanita. Saat itu Pono disuruh menjaga anak gadis gurunya yang lagi mekar-mekarnya di rumah. Syekh Abdurrauf pergi memenuhi undangan panggilan kerajaan. Bangkitlah nafsu Pono melihat anak gurunya yang sedang ranum. Untuk melawan nafsunya sendiri, Pono mengambil keputusan yang sangat mahal. Pono pergi menjauh dan memukul alat kelaminnya dengan batu.
Bagi Pono, daripada jadi budak nafsu setan dan menjadi orang terbuang di dunia dan di akhirat, lebih baik menghukum alat kelamin yang menjadi sumber pemicu pelampiasan hawa nafsu. Cukup lama Pono menderita penyakit akibat cidera alat kelaminnya. Ketika sembuh, Pono tetap melakukan tugas semula, seperti melayani kebutuhan santri dengan bijak. Hal inilah yang membuat Syekh Abdurrauf menjadi lebih perhatian padanya. Minat dan perhatiannya sungguh luar biasa, apalagi diikuti dengan daya ingatnya yang tinggi, membuat Pono termasuk murid yang terpandai di antara santri lainnya. Suatu ketika Pono dibawa Syekh Abdurrauf ke surau besar dan kemudian menyuruhnya membuka lembaran kitab. Syekh Abdurrauf mengajarkannya sekali saja. Kenyataannya, seluruh isi kitab tersebut sepenuhnya dikuasai oleh Pono. Hingga akhirnya berhasil lulus dengan baik dan sempurna. Lalu Pono ini menyendiri (berkhalwat) selama 40 hari di Gua Hulu Sungai Aceh, di kaki Gunung Peusangan. Setelah dirasa cukup menerima ilmu pengetahuan dari Syekh Abdurrauf, tibalah saatnya Pono dikembalikan ke Minangkabau guna mengembangkan ilmu yang dipelajari selama ini. Syekh Abdurrauf memberinya gelar Syekh Burhanuddin.
Syekh Burhanuddin dilepas Syekh Abdurrauf dengan disertai 70 orang yang mengawalnya selama dalam perjalanan pulang kampung. Rombongan ini dipimpin oleh Panglima yang bernama Khatib Sangko. Alasan Syekh Abdurrauf membekali Syekh Burhanuddin pengawal, karena beliau yakin akan mendapat tantangan berat. Kala itu, masyarakat Pariaman masih kental memeluk agama Hindu Budha sehingga banyak tukang –tukang sihir akan merintangi. Mereka tidak suka kesenangannya diusik dan diganti.
Akhirnya, rombongan Syekh Burhanuddin tiba di Pulau Angso Duo, di muka Pantai Pariaman. Tibanya Syekh Burhanuddin menyulut kemarahan para tukang sihir di tempat itu. Mereka mengeluarkan segala kepandaiannya untuk mengusir rombongan Syekh Burhanuddin. Terjadilah perkelahian yang memakan banyak korban, baik dari rombongan Khatib Sangko maupun dari pihak penyihir.
Tempat tersebut kemudian dikenal dengan nama Ulakan. Yaitu tempat penolakan kedatangan rombongan Syekh Burhanuddin. Berita perkelahian yang memakan korban ini sampai ke para jagoan di VII Koto, sehingga mereka segera menyusul untuk menangkap Khatib Sangko. Rombongan Khatib Sangko sangat kuat. Para jagoan tersebut tewas. Peristiwa ini membuat Kalik-Kalik Jantan, seorang tokoh masyarakat setempat gelap mata. Sementara rombongan Khatib Sangko juga banyak yang tewas.
Mengetahui Kalik-Kalik Jantan kebal terhadap senjata tajam, Khatib Sangko melapor ke Syekh Burhanuddin. Oleh Syekh Burhanuddin, Khatib Sangko disuruh melapor ke Syekh Abdurrauf tentang kejadian ini. Oleh Syekh Abdurrauf, Khatib Sangko diajarkan cara menghilangkan ilmu kebal Kalik-Kalik Jantan. Setelah tiba di Pulau Angso, Syekh Burhanuddin memerintahkan kembali menyerang dari Pantai Pariaman di pagi hari. Pertempuran kembali pecah. Kali ini, Kalik-Kalik Jantan terbunuh oleh Khatib Sangko. Tewasnya Kalik-Kalik Jantan berdampak pada menyerahnya pengikut Kalik-kalik Jantan di seluruh Pariaman. Selanjutnya, Khatib Sangko dinobatkan menjadi Mufti di Tandikek.
Setelah aman, Syekh Burhanuddin mulai mencari informasi tentang keberadaan kawan karibnya yang telah diangkat menjadi pemuka masyarakat dengan gelar Majolelo. Melalui nelayan yang singgah di Pulau Angso Duo, Syekh Burhanuddin mengirim pesan pada Idris bahwa dia adalah Pono yang dahulu pergi belajar ke Aceh. Mendapat informasi yang datang adalah Pono yang kini bergelar Syekh Burhanuddin, Idris Majolelo mengajak niniak mamak, pemuka adat, sanak kerabat dan tokoh masyarakat untuk menjemputnya. Sebagai tanda kenang-kenangan kembali dari menuntut ilmu, Syekh Burhanuddin menanam ranting pinago biru yang dibawa dari Aceh. Beliau berpesan kepada Idris Majolelo, bila ajal sampai kelak, minta dikuburkan dekat pinago biru ini.
Untuk memudahkan pengembangan syiar agama Islam versi Tarekat Syattariyah, Syekh Burhanuddin meminta masyarakat agar membawa anaknya ke surau untuk bermain bersamanya. Di sinilah cikal bakal pengembangan ilmu agama yang dilakukan Syekh Burhanuddin. Sistem pembelajaran yang dilakukan Syekh Burhanuddin tidak seperti biasa. Dia melakukannya sambil bermain. Semua permainan yang ada di masyarakat saat itu, dia ikuti. Dari Sepak Rago, main gundu dan layang-layang, semua dilakoninya. Setiap memulai permainan, dia selalu membaca basmallah dan doa-doa lain yang membuat dia menang. Hal ini menimbulkan minat anak –anak untuk mengetahui dan belajar apa isi doa yang dibaca Syekh Burhanuddin menjadi tinggi.
Syekh Burhanuddin merupakan salah satu tokoh ulama paling berpengaruh di Nusantara pada abad ke-17 yang menjadi pelopor penyebaran Islam dan institusi surau terstruktur di ranah Minangkabau. Lahir pada tahun 1646 di Sintuak, Padang Pariaman, tokoh yang masa kecilnya dipanggil Pono ini tumbuh dari jaringan keilmuan yang tersambung langsung hingga ke pusat dunia Islam di Timur Tengah.
Jaringan Keilmuan dan Sanad Internasional
Kekuatan dakwah Syekh Burhanuddin terletak pada otentisitas mata rantai (sanad) keilmuan internasional yang menghubungkannya dengan Haramain (Makkah dan Madinah): Beliau menempuh pendidikan agama selama puluhan tahun di Aceh di bawah bimbingan Syekh Abdurrauf as-Singkili (Syiah Kuala), Mufti Besar Kesultanan Aceh. Melalui Syekh Abdurrauf, sanad keilmuan dan spiritualitasnya tersambung ke ulama besar Madinah, seperti Syekh Ahmad al-Qusyasyi dan Syekh Ibrahim al-Kurani. Beliau menerima mandat resmi sebagai khalifah dan mursyid yang menyebarkan Tarekat Syattariyah pertama kali di wilayah Minangkabau.
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Syekh Burhanuddin kembali ke Sumatera Barat dan mendirikan Surau Tanjung Medan di Ulakan pada tahun 1680. Kompleks ini menjadi pusat pendidikan Islam formatif pertama di Minangkabau yang melahirkan banyak ulama terkemuka generasi berikutnya. Metode dakwah beliau yang dikemas secara lembut berhasil menyelaraskan syariat Islam dengan adat lokal melalui falsafah tradisional: "Adat bersandi syara', syara' bersandi Kitabullah". Selain sebagai pemuka agama, beliau juga tercatat dalam sejarah sebagai tokoh pejuang yang gigih menentang kolonialisme VOC.
Beliau wafat pada 20 Juni 1704. Saat ini, Makam Syekh Burhanuddin Ulakan di Padang Pariaman telah ditetapkan sebagai situs Cagar Budaya Peringkat Nasional (CBN) dan terus dikunjungi ribuan jemaah Tarekat Syattariyah, khususnya dalam tradisi ziarah Basapa setiap bulan Safar.
"Kemuliaan seorang ulama bukan hanya karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena kemurnian sanadnya, keteladanan akhlaknya, dan keberlanjutan dakwahnya. Syekh Burhanuddin adalah simpul yang menghubungkan Haramain, Aceh, Nusantara, dan Minangkabau dalam satu mata rantai keilmuan Islam yang bersambung hingga Rasulullah SAW."
Riwayat Sembilan Sahabat Syekh Burhanuddin
Selama belajar agama, baik di Tapakih maupun di Aceh, Syekh Burhanuddin punya banyak sahabat dan kawan, yang sama-sama mengembang ilmu agama di tempatnya masing-masing, sepulang dari menuntut ilmu. Di sini, di ruangan yang sederhana ini, penulis menyimpulkan sembilan sahabat Syekh Burhanuddin Ulakan itu.
Mereka yang sembilan itu, adalah Idris Khatib Majolelo, Tanjung Medan Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman, Datuak Maruhun Panjang dari Padang Gantiang, Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Luhak Nan Tuo, Sitarapang dari Kubuang Tigobaleh, Kabupaten Solok, M. Nasir dari Koto Tengah, Padang, Buyuang Mudo dari Bayang Salido Banda Sapuluah, Pesisir Selatan.
Selanjutnya, Syekh Abdul Muhyi (Pamijahan, Jawa Barat): Beliau adalah kawan seperguruan Syekh Burhanuddin yang membawa dan menyebarkan Tarekat Syattariyah di wilayah Jawa Barat. Syekh Abdul Malik bin Abdullah (Tok Pulau Manis, Terengganu): Ulama terkemuka dari Malaysia yang juga menjadi murid terdekat Syekh Abdurrauf. Syekh Muhammad Yusuf al-Makassari (Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati, Sulawesi): Ulama legendaris sekaligus pejuang dari Makassar. Muhammad Baba Daud al-Rumi (Baba Daud): Murid kepercayaan Syekh Abdurrauf di Aceh yang ikut membantu menyusun karya-karya keagamaan.
1. Syekh Idris Khatib Majolelo. Syekh Idris Khatib Majolelo adalah sahabat dekat dan teman seperjuangan Syekh Burhanuddin Ulakan dalam menyebarkan agama Islam di Minangkabau, khususnya di Kabupaten Padang Pariaman. Nama asalnya adalah Idris Khatib, sementara gelar Majolelo melekat sebagai sahabat akrab Syekh Burhanuddin ketika menuntut ilmu agama di Tapakih. Bersama Syekh Burhanuddin, ia ikut mendirikan surau pertama di Tanjung Medan, Ulakan Tapakis, yang menjadi pusat pendidikan Islam awal (cikal bakal surau di Minangkabau). Ia aktif membantu Syekh Burhanuddin menemui penguasa setempat seperti Raja Ulakan (Mangkuto Alam) dan bahu-membahu mensyiarkan ajaran Islam ke berbagai nagari di sekitar Padang Pariaman.
Makam Syekh Idris Khatib Majolelo terletak di kompleks makam utama Syekh Burhanuddin di Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman—berada tepat di sebelah kanan makam Syekh Burhanuddin. Syekh Idris Khatib Majolelo sekaligus Khalifah pertama Syekh Burhanuddin.
Surau Gadang Tanjung Medan didirikan pada sekitar tahun 1680 oleh Syekh Burhanuddin setelah beliau menuntut ilmu agama selama tiga dekade di Aceh. Bangunan bersejarah ini berlokasi di Jorong Tanjung Medan, Nagari Sandi Ulakan, Kecamatan Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Surau ini tercatat sebagai salah satu surau pertama di Ranah Minang sekaligus tonggak awal penyebaran Islam secara luas di wilayah tersebut. Lahan tempat berdirinya Surau Gadang Tanjung Medan ini, adalah milik Syekh Idris Khatib Majolelo.
Setelah kembali ke kampung halamannya di Ulakan, Syekh Burhanuddin menjadikan surau ini sebagai basis utama untuk mengajarkan nilai-nilai keislaman. Karena paham yang dianut oleh sang syekh, Surau Gadang Tanjung Medan tumbuh menjadi pusat perkembangan Tarekat Syattariyah di Sumatera Barat. Banyak ulama terpandang yang menuntut ilmu di sini, salah satunya adalah Tuanku Koto di Nagari Ampek Angkek (Luhak Agam), yang kemudian menjadi guru dari pahlawan nasional Tuanku Imam Bonjol.
Layaknya konsep pondok pesantren tradisional di Minangkabau, surau ini tidak hanya digunakan untuk ibadah salat lima waktu, melainkan juga berfungsi sebagai tempat bermusyawarah dan mufakat untuk memecahkan persoalan umat. Pusat pembelajaran seni budaya bernuansa Islam. Tempat pemuda setempat mempelajari ilmu bela diri (silat Minangkabau).
Ciri khas dari surau ini berupa arsitektur kayu tradisional Minangkabau dengan atap tumpang atau berundak. Guna menjaga ketahanan bangunan, pemerintah setempat telah melakukan pemugaran dengan mengganti beberapa tiang kayu yang lapuk menggunakan beton bertulang serta menambah selasar di sekelilingnya tanpa mengubah bentuk asli secara keseluruhan. Dilindungi sebagai situs cagar budaya di bawah pengawasan Balai Pelestarian Kebudayaan (dahulu BPCB). Bahkan, situs bersejarah ini naik tingkat menjadi Cagar Budaya Nasional demi menjaga nilai pentingnya bagi sejarah peradaban Islam di Indonesia.
2. Datuak Maruhun Panjang. Datuak Maruhun Panjang merupakan seorang ulama sekaligus tokoh sejarah penting dari Padang Ganting, Tanah Datar, Sumatera Barat. Beliau dikenal luas dalam sejarah penyebaran Islam di Minangkabau sebagai salah satu sahabat karib sekaligus teman seperguruan Syekh Burhanuddin Ulakan saat menuntut ilmu agama di Aceh, di bawah bimbingan Syekh Abdurrauf as-Singkili. Dalam narasi sejarah Islam Minangkabau, beliau termasuk ke dalam kelompok "Empat Sekawan" (sahabat Pakiah Pono/Syekh Burhanuddin) yang bersama-sama pergi merantau untuk belajar agama. Masing-masing dari mereka kemudian menguasai bidang keilmuan yang spesifik. Datuak Maruhun Panjang (Padang Ganting, Tanah Datar) – Sangat menonjol dan ahli dalam bidang Ilmu Fiqh. Si Tarapang (Kubung Tigobeleh, Solok) – Ahli dalam Ilmu Nahu (tata bahasa Arab). Muhammad Natsir (Koto Tangah, Padang) – Ahli dalam Ilmu Tafsir. Buyung Mudo (Bayang, Pesisir Selatan) – Ahli dalam Ilmu Saraf.
Setelah menyelesaikan pendidikan keagamaan di Aceh dan kembali ke Minangkabau, Datuak Maruhun Panjang juga dikenal sebagai bagian dari jaringan ulama awal di wilayah darek, dan dalam beberapa catatan sejarah lokal juga berkaitan dengan institusi keagamaan tradisional seperti kedudukan Syekh Kadi Padang Ganting.
Di sisi lain, Datuak Maruhun Panjang juga dikenal sebagai Tuan Kadhi Padang Ganting. Adalah gelar salah satu menteri utama dalam sistem pemerintahan Kerajaan Pagaruyung di Minangkabau. Beliau termasuk ke dalam kelompok Basa Ampek Balai (Empat Menteri Utama) dan berkedudukan di Nagari Padang Ganting, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Dalam "kabinet" Kerajaan Pagaruyung, Tuan Kadhi bertindak setingkat Menteri Agama dan Menteri Pengajaran (Pendidikan). Tugas utamanya adalah mengurusi masalah keagamaan (Islam), menegakkan syariat, serta mencerdaskan masyarakat melalui pendidikan agama. Kedudukan beliau sejajar (tagak samo tinggi, duduak samo randah) dengan tiga pembesar kerajaan lainnya, yaitu Tuan Titah di Sungai Tarab, Datuak Makhudum di Sumanik, dan Datuak Andomo di Saruaso. Dalam Tambo Minangkabau, kehadiran Tuan Kadhi menggeser kedudukan Tuan Gadang di Batipuh setelah Islam berkembang pesat.
Pada masa awal kedatangan Tuan Kadhi, Nagari Padang Ganting belum terbentuk. Wilayah ini masih berupa hamparan tanah kosong yang dikelilingi hutan dan perbukitan, tanpa permukiman penduduk. Kedatangan dan perjalanan menuju Padang Ganting menjadi tonggak awal terbentuknya masyarakat serta cikal bakal berdirinya Nagari Padang Ganting.
Perjalanan Tuan Kadhi menuju wilayah ini bukanlah perjalanan yang mudah. Ia berangkat seorang diri, menelusuri lereng-lereng bukit dan hutan belantara. Dalam kelelahan, ia sempat berhenti di Sawah Kareh, Nagari Balimbing, ia melanjutkan perjalanan siang dan malam, menembus hujan dan panas, hingga akhirnya tiba di Bukit Pagie.
Dari Bukit Pagie, Tuan Kadhi menemukan sebuah mata air jernih di lereng bukit dan memandang hamparan dataran rendah yang subur,hijau,dan indah, diapit oleh Empat Bukit:Bukit Palano, Bukit Pagie, Bukit Parutan, dan Bukit Sangkiang. Keindahan dan kesuburan alam itulah yang mendorongnya menuruni lereng bukit, menembus semak belukar berduri selama berjam-jam, hingga akhirnya menetap di dataran rendah yang kelak menjadi Nagari Padang Ganting.
Tuan Kadhi telah dikenal sebagai sosok alim sejak usia muda. Meski tidak diketahui secara pasti siapa guru awalnya, pada tahun 1040 H/1620 M, ia berangkat menuntut ilmu ke Aceh bersama beberapa pemuda Minangkabau, di antaranya Syekh Burhanuddin dari Padang Pariaman. Mereka belajar kepada Syekh Abdurrauf. Dari rombongan tersebut, hanya Syekh Burhanuddin yang diangkat sebagai Khalifah. Mas’ud Ibrahim kemudian melanjutkan pendalaman ilmunya di Padang Pariaman, khususnya dalam ilmu fikih dan Ahlussunnah wal Jama’ah, hingga mendapat izin untuk kembali dan mengembangkan syari’at Islam di Padang Ganting, meskipun tanpa gelar Khalifah.
Gelar Tuan Kadhi Padang Ganting kemudian melekat pada beliau sebagai tokoh adat dan agama. “Tuan” merupakan gelar kehormatan, sedangkan “Kadhi” berasal dari kata Arab Qadhi, yang berarti hakim. Dalam struktur pemerintahan Minangkabau, Tuan Kadhi merupakan salah satu dari empat pembesar yang membantu Raja Pagaruyuang, Adityawarman. Ia menjabat sebagai Menteri Pengajaran dan Menteri Ibadat, serta berguru kepada Syekh Abdurrauf di Aceh dan Syekh Burhanuddin di Padang Pariaman, yang memperkuat perannya dalam perkembangan Islam di Padang Gantiang.
Satu dari empat pembesar yang kedudukannya sejajar, dikenal dengan istilah “tagak samo tinggi, duduak samo randah”. Keempat tokoh tersebut adalah Datuak Andomo di Saruaso, Datuak Makhudum di Sumanik, Tuan Titah di Sungai Tarab, dan Tuan Kadhi di Padang Gantiang. Mereka menjadi pembantu Raja Pagaruyuang, Adityawarman, dengan tugas masing-masing. Tuan Kadhi memegang peranan strategis sebagai Menteri Pengajaran dan Menteri Ibadat.
Salah satu peninggalan bersejarah Tuan Kadhi (yang memiliki nama kecil Mas'ud) adalah Surau Kolam Karuah di Jorong Koto Gadang, Padang Ganting. Selain itu, kawasan makamnya kini menjadi salah satu objek wisata sejarah budaya di Tanah Datar. Untuk menghormati jasa dan sejarahnya, masyarakat setempat rutin menggelar acara budaya tahunan bernama Festival Semarak Budaya Tuan Kadhi guna memperkenalkan adat, budaya, serta potensi wisata di Nagari Padang Ganting.
Sebagai Menteri Pengajaran,Tuan Kadhi bertanggung jawab dalam mencerdaskan masyarakat Minangkabau, karena kemajuan sebuah nagari dan kerajaan sangat ditentukan oleh tingkat ilmu pengetahuan penduduknya. Sebagai Menteri Ibadat, ia membimbing kehidupan keagamaan masyarakat agar berjalan sesuai dengan ajaran Islam, termasuk persoalan ibadah serta halal dan haram.
Kewibawaan Tuan Kadhi juga tercermin dalam tatanan adat Padang Ganting. Dalam upacara adat, ia menempati posisi terhormat di tengah Rumah Gadang. Masyarakat yang ingin menyampaikan persoalan tidak dapat langsung menemuinya, melainkan melalui perantara atau sandi sesuai dengan sukunya. Sistem ini mencerminkan prinsip adat “bajanjang naik, batanggo turun”, yang menegaskan keteraturan, musyawarah, dan etika dalam kehidupan bermasyarakat. Melalui peran dan kepemimpinannya, Tuan Kadhi dikenang sebagai tokoh yang memadukan adat dan syari’at secara seimbang. Warisan nilai yang ia bangun sejak abad ke-17 tersebut tetap hidup dan menjadi bagian penting dari identitas Nagari Padang Ganting hingga saat ini.
3. Syekh Tarapang
Juga dikenal sebagai Angku Tarapang) adalah salah satu tokoh ulama penyebar agama Islam yang sangat penting di wilayah Kubuang Tigobaleh, Solok, Sumatera Barat. Meskipun namanya mungkin tidak sepopuler beberapa ulama besar Minangkabau lainnya di tingkat nasional, beliau merupakan figur kunci dalam sejarah Islamisasi awal di kawasan Solok.
Dalam beberapa catatan sejarah dan silsilah intelektual Islam di Minangkabau, nama Syekh Tarapang tercatat sezaman atau memiliki keterkaitan dengan jaringan ulama awal di Sumatera Barat, termasuk lingkaran dakwah pasca-era Syekh Burhanuddin Ulakan. Beliau berdakwah bersama ulama lain seperti Syekh Abdul Muchsin (Syekh Supayang) dalam membawa syiar Islam ke wilayah pedalaman.
Syekh Tarapang berfokus pada penyebaran ajaran Islam, khususnya tasawuf/tarekat, di wilayah luhak termuda Minangkabau, yaitu konfederasi Kubuang Tigobaleh. Peninggalan bersejarah beliau yang paling dikenal oleh masyarakat setempat adalah makamnya yang dinamai "Tampat" (sebutan untuk makam orang keramat). Makam ini berada di Jorong Aro, Nagari Talang, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok. Makam Syekh Tarapang memiliki ciri khas berupa pusara batu kuno yang sebagian besarnya telah dibaluti oleh akar pohon beringin besar.
Masyarakat di Nagari Talang dan sekitarnya hingga kini masih merawat tradisi berziarah ke makam Syekh Tarapang. Beberapa tradisi lokal yang sering dilakukan di area makam ini meliputi: Perkauran dan Doa Bersama: Berdoa kepada Allah SWT demi kemaslahatan umat. Acara maasok benih (memohon berkah sebelum turun ke sawah untuk menanam padi atau bawang) serta ritual tolak bala agar pertanian mereka terhindar dari hama. Ziarah Menjelang Ramadhan: Kompleks makam ini biasanya akan sangat ramai dikunjungi oleh peziarah dari berbagai daerah di Solok saat menyambut bulan suci Ramadhan.
Kawasan tempat Syekh Tarapang berdakwah ini secara adat merupakan wilayah konfederasi Kubuang Tigobaleh (Solok dan sekitarnya). Wilayah ini awalnya didirikan oleh migrasi masyarakat adat Minangkabau dan memiliki landasan filosofi kedamaian, yakni membuang tiga sifat buruk: kesombongan, kekuasaan berlebih, dan kesewenang-wenangan. Kehadiran Syekh Tarapang memperkuat nilai-nilai adat tersebut dengan nilai-nilai religius Islam ke dalam sendi kehidupan masyarakat Solok.
Kubuang Tigobaleh sebenarnya bukanlah sebuah nagari tunggal, melainkan sebuah wilayah budaya (konfederasi adat) besar di Solok yang awalnya terdiri dari 13 nagari inti. Wilayah adat ini mencakup area yang sekarang menjadi wilayah administratif Kabupaten Solok dan Kota Solok, Sumatera Barat. Dalam tatanan adat Minangkabau, wilayah ini juga kerap diakui sebagai Luhak nan Bungsu atau luhak keempat setelah Tigo Luhak (Tanah Datar, Agam, Lima Puluh Kota).
Berdasarkan Tambo Minangkabau, sejarah Kubuang Tigobaleh bermula dari migrasi 73 orang dari Kubuang Agam. 13 orang di antaranya memilih menetap dan membangun permukiman di kawasan Solok dan Selayo. Merekalah cikal bakal yang mendirikan 13 nagari awal. 60 orang sisanya melanjutkan perjalanan ke wilayah selatan menuju Lembah Gumanti, Surian, hingga Muara Labuh.
13 Nagari Inti dan Pemekarannya
Dalam istilah adat, Nagari Solok dijuluki sebagai "Ibu" (pemegang tatanan enam suku) dan Nagari Selayo dijuluki sebagai "Bapak". Keduanya menjadi pelindung konfederasi yang disebut "Payung Sekaki" bagi nagari-nagari lain di sekitarnya. 13 nagari inti tersebut meliputi: Solok, Selayo, Gantung Ciri, Panyakalan, Cupak, Muaro Paneh, Talang, Saok Laweh, Guguak, Koto Anau, Bukik Sileh, Dilam, Taruang-Taruang
Seiring perkembangan zaman, 13 nagari inti ini telah mekar menjadi lebih dari 30 nagari, termasuk daerah seperti Tanjung Bingkuang, Koto Baru, Gauang, Kinari, Batu Bajanjang, dan lainnya.
Karakteristik Adat & Pusat Keadilan
Masyarakat Kubuang Tigobaleh menganut adat Lareh Bodi Caniago yang mengutamakan musyawarah untuk mufakat ("duduk sama rendah, tegak sama tinggi"). Pusat tatanan hukum adat konfederasi ini berada di Nagari Selayo, ditandai dengan keberadaan Balai Adat Nan Panjang Kubuang Tigobaleh. Balai adat ini berfungsi sebagai pengadilan adat tertinggi atau tempat penyelesaian sengketa antar-nagari yang tidak bisa dituntaskan di tingkat nagari masing-masing. Filosofi yang dipegang teguh oleh niniak mamak di sini adalah "manyalasaikan nan kusuik, manjanihkan nan karuah".
Geografi Budaya
Secara geografis adat, setiap luhak di Minangkabau diidentifikasikan dengan gunungnya masing-masing. Luak Kubuang Tigobaleh berpusat di dataran rendah hingga kaki Gunung Talang, yang menjadi penanda geografis sekaligus simbol pemersatu wilayah adat ini.
4. Syekh Muhammad Nasir, atau yang dikenal luas dengan gelar Syekh Surau Baru, adalah seorang ulama besar dan pejuang yang memiliki peran sangat penting dalam penyebaran agama Islam di Koto Tangah, Kota Padang, dan sekitarnya. Selain dikenal sebagai penyiar agama yang gigih, beliau juga tercatat dalam sejarah lokal sebagai sosok yang berani dalam memperjuangkan tanah kelahirannya dari cengkeraman penjajah Belanda.
Menimba Ilmu hingga ke Aceh
Sebelum menetap dan berdakwah di Padang, Syekh Muhammad Nasir menempuh perjalanan panjang untuk menuntut ilmu agama. Bersama beberapa pemuda Minangkabau lainnya (seperti Si Pono yang kelak menjadi Syekh Burhanuddin Ulakan), beliau dikirim untuk belajar ke Aceh. Setelah belajar puluhan tahun di sana dan berguru langsung kepada Syekh Burhanuddin di Ulakan, beliau kembali ke Koto Tangah untuk menyebarkan Islam. Dalam menyebarkan Islam kepada masyarakat Koto Tangah, Syekh Muhammad Nasir menggunakan pendekatan yang sangat menyentuh kehidupan sehari-hari, salah satunya melalui anak-anak. Beliau masuk lewat permainan tradisional anak-anak, mengajarkan mereka untuk selalu memulai dengan membaca Basmalah dan menutupnya dengan Hamdalah. Metode bertahap ini membuat ajaran Islam diterima dengan hangat dan tanpa paksaan. Beliau juga mendirikan surau (yang kemudian membuatnya dijuluki Syekh Surau Baru) sebagai pusat pendidikan Islam.
Dokumen sejarah mencatat bahwa Syekh Muhammad Nasir bukan sekadar ulama yang berdiam diri di surau. Beliau digambarkan sebagai sosok yang pintar, jujur, dan berani. Keberaniannya dibuktikan melalui keterlibatannya memimpin perlawanan masyarakat lokal, hingga berhasil mendesak dan mengusir pasukan Belanda dari wilayah Padang kala itu. Kisah perjuangan dan rekam jejak hidup beliau diselamatkan melalui naskah-naskah kuno bertuliskan tangan. Salah satunya adalah naskah Sejarah Ringkas Syekh Muhammad Nasir (Syekh Surau Baru) yang ditulis dan dirawat oleh ulama penerusnya, Imam Maulana Abdul Manaf Amin dari Batang Kabung, Koto Tangah. Selain naskah, bukti keberhasilan dakwah beliau juga terlihat dari tradisi keagamaan masyarakat yang masih bertahan, seperti acara bersafar setiap tahun di Tampat Batusingka.
Syekh Surau Baru merupakan motor penggerak perlawanan rakyat melawan penjajah Belanda pada abad ke-17. Kebanyakan panglima perang Koto Tangah dan Pauh adalah pengikut atau murid-muridnya. Ketokohan Syekh Surau Baru membuat Belanda repot. Puncak perlawanan rakyat Koto Tangah dan Pauh terjadi pada 7 Agustus 1669, yang mengakibatkan loji Belanda di Batang Arau hancur. Hari itu kelak diabadikan sebagai Hari Jadi Kota Padang.
Penguasa Belanda melihat Syekh Surau Baru adalah dalang di balik perlawanan tersebut. Akhirnya Syekh Surau Baru diperintahkan untuk ditangkap dan ditawan. Selain makam Syekh Muhammad Nasir, terdapat makam tua lainnya di kompleks makam Batu Singka. Salah satu makam tersebut yakni Syekh Muhammad Arif yang berasal dari Aceh.
Beliau akhirnya ditawan oleh pihak Belanda hingga wafat. Makam atau situs penghormatan terkait dirinya dapat ditemukan di kawasan Lubuk Minturun, Koto Tangah, dan memiliki keterikatan historis dengan jaringan ulama Surau Paseban.
5. Syekh Buyung Mudo adalah salah satu ulama pelopor Islam generasi awal di Minangkabau yang berasal dari Puluik-Puluik, Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan. Beliau lahir sekitar tahun 1026 H atau 1606 M. Beliau memiliki peran sejarah yang sangat penting dalam jaringan penyebaran Islam gelombang kedua di pesisir barat Sumatra. Berdasarkan catatan sejarah dan naskah kuno Minangkabau, Syekh Buyung Mudo merupakan satu dari lima tokoh Minangkabau yang pergi menuntut ilmu ke Aceh kepada ulama besar jajaran internasional, Syekh Abdurrauf as-Singkili (Syekh Kuala). Kelima murid tersebut adalah: 1. Si Pono (kemudian bergelar Syekh Burhanuddin Ulakan di Padang Pariaman), Mutanasir (Syekh Muhammad Nasir dari Koto Tangah, Padang, Si Tarapang (dari Kubung Tigobaleh, Solok), Buyung Mudo (dari Bayang, Pesisir Selatan), Datuak Maruhum Panjang (dari Padang Ganting, Tanah Datar).
Di antara kelima tokoh ini, Syekh Burhanuddin Ulakan ditunjuk sebagai khalifah utama untuk mengembangkan Tarekat Syattariyah di Minangkabau. Namun, Syekh Buyung Mudo juga kembali ke kampung halamannya di Bayang membawa misi pendidikan dan syiar agama yang sama kuatnya. Meskipun lahir dan berdakwah di Bayang, catatan sejarah migrasi lokal menyebutkan bahwa leluhur Syekh Buyung Mudo berasal dari kawasan Muara Paneh, Solok. Jalur migrasi adat dan perdagangan masa lampau menghubungkan masyarakat luhak Kubuang Tigobaleh ke wilayah pesisir lewat Tarusan dan Bayang. Kedatangan beliau kembali dari Aceh mengukuhkan Bayang sebagai salah satu pusat peradaban Islam di wilayah rantau pesisir barat.
Syekh Buyung Mudo meletakkan fondasi tradisi surau dan pengajaran Tarekat Syattariyah di Pesisir Selatan. Sanad keilmuan beliau diwariskan turun-temurun melalui para ulama Bayang generasi berikutnya. Salah satu contohnya adalah ulama terkenal Syekh Muhammad Jamil (Pakih Jamil) Koto Baru Bayang, yang jalur keilmuannya tersambung kepada Syekh Buyung Mudo melalui perantara gurunya, Angku Tantuo Kapujan. Berkat jasa besar Syekh Buyung Mudo dan penerusnya, wilayah Bayang secara historis mendapat julukan sebagai salah satu "Serambi Mekah" di pantai barat Sumatra.
Secara geografis, sebagian wilayah Kecamatan Bayang (sekarang dimekarkan jadi Kecamatan Bayang Utara) terletak di kaki pegunungan Bukit Barisan. Bagian ini membentuk kontur lembah. Di lembahnya yang subur mengalir batang Bayang, menjadikan daerah ini terbuka untuk budidaya padi. Sementara bukit-bukitnya menjadi tempat berkebun dan berladang. Dalam batas tertentu, posisi ini menempatkan Bayang sebagai bagian “kebudayaan lembah”, istilah Elizabeth E. Graves untuk kawasan Solok dan sekitarnya.
Meski berada di kawasan pesisir Minangkabau, lanskap Bayang dapat dikatakan sebagai miniatur Solok, berbukit-bukit dan berlembah. Tapi di sisi lain, kultur tempatan ikut membentuk “kultur pesisir”. Bukan kebetulan bahwa masyarakat Kabupaten Pesisir Selatan secara umum memang berasal dari Solok. Dalam kajian sejarah migrasi kependudukan, Solok disebut sebagai wilayah “transisi” jika bukan “transit”, dari darek (dataran tinggi) ke pasisie (pesisir). Darek juga merujuk wilayah kultural Minangkabau yang disebut luhak nan tuo (daerah awal). Letaknya di sekitar pusat Pagaruyung. Yakni, luhak Tanah Datar, Agam dan Lima Puluh Koto.
Dari dataran tinggi, migrasi masuk ke wilayah “lembah”, membentuk luhak baru bernama Kubuang Tigobaleh dan Sungai Pagu. Sungai Pagu turun ke pesisir Bandarsepuluh dan Indrapura. Sedangkan Kubuang Tigobaleh turun ke Tarusan dan Bayang. Jadi leluhur orang Bayang berasal dari luhak Kubuang Tigobaleh, seperti Kinari, Koto Anau dan Muaro Paneh.
Selain dalam proses migrasi berabad-abad lalu itu, Bayang juga didatangi guru dan ulama dari Solok dan daerah lain. Buyung Mudo misalnya, leluhurnya berasal dari Muara Paneh. Begitu pula Abdurahman, dari Koto Rawang, Kerinci. Dalam hal ini, tempat menjadi sesuatu yang “mengikat” dan bernilai kontekstual, bukan temporal. Bukan kebetulan suatu tempat menjadi pusat dari suatu kegiatan karena memiliki prasyarat-prasyarat tertentu. Tolok ukurnya bisa kultur hingga aura mistik spiritual. Begitu pula kalau kita membaca kisah-kisah rombongan dari Kesultanan Indrapura yang pergi manaruko wilayah baru. Dalam sejumlah literatur klasik disebutkan bahwa rombongan Urang Kayu Lanang Bisai yang mendirikan Air Bangis di Pasaman, berlayar dengan sebuah ritual. Mereka membawa sekian genggam tanah Indrapura, lalu tanah itu dicocokkan dengan tanah tempat mereka singgah. Jika dianggap memiliki kesamaan atau tuah, maka diputuskanlah menetap di sana. Begitu pula rombongan Raja Putih Indrapura yang mendirikan Natal serta Tuan Ibrahim yang menjadi raja di Barus Hilir.
Dalam kisah perjalanan Syekh Abdurahman dari Kerinci lebih kurang terkandung hikmah serupa. Ia berkuda menyusuri Bukit Barisan, menyebrangi sungai-sungai besar di wilayah Indrapura dan Bandarsepuluh, konon atas bantuan buaya-buaya yang berbaris persis cerita Kancil dan Buaya. Ia terus melanjutkan perjalanan menyusur garis pantai, tapi segera memilih berbelok ke pedalaman saat sampai di muara batang Bayang. Konon, ada gamitan sasmita membawanya masuk ke pedalaman Bayang hingga menetap di Asamkumbang.
Sebuah tempat tidak kosong begitu saja. Ia terikat dan mengikat sesuatu dengan syarat-syarat. Lewat cara itu ia menerima benih-benih yang datang dari luar. Persemaian berlangsung jika ada penerimaan. Penerimaan hanya mungkin jika ada kecocokan kultur yang melatarinya. Gayung bersambut. Artinya, sebuah wilayah menentukan subur tidaknya apa yang ditabur. Tak lagi soal siapa yang menabur, namun sudah berpindah ke wilayah kolektif yang saling dukung. Dalam konstelasi ini tak heran wilayah yang terbuka seperti Bayang, menjadi pusat pergerakan dan perlawanan rakyat. Surau dan pusat-pusat pengajaran bukan saja membuat kajian ke dalam, yang berorientasi akhirat. Juga memberi penghormatan setimpal pada kehidupan dunia. Mereka yang berkesempatan naik haji, banyak melanjutkan belajar di Mekah.
Sepulangnya ke Bayang mereka bawa pandangan baru yang membangkitkan kesadaran. Misalnya tentang kolonialisme sebagai musuh bersama. Bayang tidak terlibat dalam Perang Paderi. Barangkali karena Bayang telah lebih dulu berhadapan dengan cikal-bakal musuh yang sebenarnya, yakni VOC. Dari Pulau Cingkuak, Painan, yang tak jauh dari Bayang, VOC mendapat kompensasi memindahkan pelabuhan ke Kota Padang pasca Perjanjian Painan (1663). Dari sanalah Belanda masuk ke pedalaman Minangkabau. Ia menerima permintaan tolong dari kaum adat. Inggris yang semula dimintai bantuan tidak merespon, meski dari kesejarahan gubernur Inggris, Raffles malah yang pertama mencapai pusat Minangkabau, Pagaruyung.
Tapi itu juga menunjukkan bahwa apa yang disebut “pusat” Minangkabau itu sebenarnya tidak pernah benar-benar nyata. Ia hanya ditempatkan dalam memori kultural masyarakat Minangkabau yang tersebar ke pesisir dan wilayah rantau. Semacam patron imajinatif. Karena itulah, keputusan penting tentang kerjasama dan perjanjian dengan pihak kolonial lebih banyak dilangsungkan lewat raja-raja lokal. Bahkan dalam buku Rusli Amran, Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang (1981), tak sedikit cerita tentang perjanjian diteken mengatasnamakan Pagaruyung. Padahal perwakilan istana itu hanyalah pialang biasa atau kepala pemberontak.
Sebelum beroleh konsesi pindah ke Padang, VOC main taktik dengan mengadu dua kekuatan lokal, Aceh dan Indrapura. Waktu itu, Indrapura sedang menghadapi intrik kekuasaan. Raja Adil yang berbasis di Majunto memberontak atas kepemimpinan Muhammadsyah yang masih belia. Sang ayah, Maalafarsyah, yang dikenal sebagai “raja tua” meskipun sudah turun tahta, meminta bantuan VOC ke Pulau Cingkuak.
VOC mau membantu, tapi Indrapura harus lebih dulu menenggelamkan armada Aceh yang merajalela dalam perdagangan lada. Dua armada kapal Aceh ditenggelamkan Indrapura. Setelah itu Gubernur Jendral Gronowegen membantu mengusir Raja Adil ke Majunto, Bengkulu. Peristiwa itu jelas memancing kemarahan Aceh yang sedang berperang menghadapi Portugis di selat Malaka. Melihat keadaan itu, raja-raja Bandarsepuluh (bagian penting Kesultanan Indrapura, bersifat federasi dan otonom) segera memainkan taktik yang dikenal sebagai “Sandiwara Batangkapas” (1662). Orang Bandarsepuluh sadar tak mampu secara senjata dan kekuatan menghadapi Aceh. Mereka minta VOC mengusir sisa-sisa “orang-orang utara” itu lebih dulu. Itu jika VOC ingin berdagang lada dengan bebas. Bandarsepuluh berpura-pura mendukung Belanda. Tak kalah banyak pihak menganggap bahwa taktik ini gagal, sebab nyatanya berlanjut dengan Perjanjian Painan (yang diteken di Batavia). Ini dianggap memberikan wilayah pada VOC. Sebagian pihak paham bahwa pola ini tak ubahnya dengan Perjanjian Renville yang dianggap merugikan Republik. Tapi segera bisa dibalik sebagai kekuatan. Begitulah, setelah Aceh berhasil diusir VOC dari pantai barat Minangkabau (kecuali mungkin di Tiku yang menjadi basis orang Aceh), VOC segera mendapat musuh baru: Bayang. Rakyat bergerak tanpa terhalang-halang lagi dengan keberadaan Aceh yang selalu berada dalam bayang-bayang tak tentu: musuh atau sekutu? Sejak itulah pecah Perang Bayang yang disebut Rusli Amran sebagai perang terpanjang di Sumatera, 1660-1760 atau seabad lamanya. Meski menurut saya polanya bukan berperang terus-menerus dalam kurun seabad itu. Lebih kurang seperti pola Perang Salib. Dinukil dari buku Tamim Ansary, Dari Puncak Baghdad (2010): sporadis, kecil-kecil dan berulang. Sesekali diselingi perang besar. Toh sejarah menyebut Perang Salib berlangsung selama 300 tahun.
Bayang kerap berafiliasi dengan rakyat Pauh, Padang, yang menjadi penantang Belanda paling gigih. Gubernur Jendral Belanda Jacob Pits (pengganti Gronowegen) tewas di tangan rakyat Pauah. Di sisi lain, Bandarsepuluh di pimpin Rajo Lelo dari Batangkapas ikut bergabung. Sejak akhir abad ke-18, Belanda menerapkan politik tanam paksa (cultuurstelsel) untuk menjamin ketersediaan komoditas pokok perkebunan. Harga kopi sedang baik di pasaran internasional. Karena itu, rakyat dipaksa menanamnya jika perlu mengganti tanamannya yang lain dengan kopi. Selain di Priangan, praktek “jalan pintas cari untung” ini juga melanda Minangkabau. Arsiteknya Johannes van den Bosch. Sebenarnya, dalam batas tertentu praktek tanam paksa sudah pernah dilakukan VOC di pantai barat Sumatera, hanya belum dikukuhkan dalam sistem ala Bosch. Ketika lada jadi incaran Eropa, masyarakat Indrapura dan Bandarsepuluh dipaksa bertanam lada. Sebaliknya, ketika harga lada turun dan harga kapas membaik, efek produksi tekstil India, rakyat pun diminta beralih bertanam kapas. Konon ini asal-mula nama salah satu tempat di Bandarsepuluh, Batangkapas, karena di sana dulu menjadi pusat tanaman kapas. Mulanya bandar ini dikenal dengan nama Teluk Tempurung atau Teluk Kasai saja. Tanam paksa kopi terus dikukuhkan sebagai sistem politik pengeruk keuntungan baru. Maklum, VOC pailit karena korupsi, dan kantong pemerintah Hindia-Belanda benar-benar kempes karena Perang Padri. Unsur persaingan pun tak terelakkan. Jika urusan kapas bersaing dengan India, dalam hal kopi Belanda bersaing dengan Yaman.
Nah, Bayang ketiban sampur cultuurstelsel! Padahal ia terletak di pesisir Minangkabau, dan kita tahu, kopi bukan jenis tanaman pantai. Tapi sebagaimana kawasan Kabupaten Pesisir Selatan umumnya, tipografi alam Bayang termasuk unik. Meski terletak di tepian Samudera Indonesia, ia juga diapit pegunungan Bukit Barisan. Alhasil, sekian kilometer saja dari pantai, kita akan bersua lanskap pegunungan lengkap dengan iklim dan kesuburannya. Begitulah Bayang. Tak sampai 20 km dari Pasarbaru di pantai, ke Asamkumbang di hulu sungai, terbentang perkebunan kopi di Koto Ranah, Muaro Air atau Pancung Taba. Asamkumbang menjadi pusat pengumpulan kopi. Gudangnya yang besar dibuat di sana. Malpraktek politik tanam paksa kopi ini oleh masyarakat Bayang balik “dipolitiki”. Bukan sebatas politik lapau kopi yang dikenal dengan demokratisasi debatnya itu. Debat lepau kopi, menurut Drs. Lukman Ali, dalam sebuah esainya di Kompas, riuh dan semarak dengan kebebasan bicara tapi tanpa rumusan yang bisa dimanifestasikan. Di Bayang, politik kopi berhasil diambil saripatinya. Warga memanfaatkan ikhtiar Belanda dalam hal pendidikan. Lewat politik etis, tuan kulit putih mendirikan sekolah di Asamkumbang. Sembari mencitrakan balas budi dari perdagangan dan gudang kopi, sebenarnya juga menyiapkan pribumi yang bisa berhitung dan menimbang. Tujuannya apalagi jika bukan menyiapkan pola perdagangan modern dengan mata uang dan dacin timbangan.
Apa pun, masyarakat Bayang belajar di sana. Dari sinilah muncul angkatan terdidik ala Eropa awal di pesisir Minangkabau yang segera mengisi kontur perkantoran Belanda. Jika mulanya kota-kota di darek diproyeksikan sebagai penggerak mesin pemerintahan kolonial, kemudian bergeser justru Padang di pesisirlah yang muncul sebagai pusat pemerintahan. Seperti aliran sungai, “kultur lembah” lebih memilih pantai sebagai muaranya. Bayang yang terletak tak jauh dari Padang, tidak sulit mengikuti langgam kota penting di Sumatras Weskuts tersebut. Tak heran, sampai sekarang Bayang dikenal sebagai daerah dengan angkatan terdidik yang besar. Tokoh penting selain pahlawan nasional Ilyas Yakub, adalah mantan kepala polisi Pesisir Selatan-Kerinci, Muhammad Nazir Dt. Rajo Batuah, mantan bupati Pessel dan anggota DPR RI Darizal Basir, budayawan prolifik Emran Djamal Datuak Rajo Mudo dan lain-lain.
6. Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (1650–1730 M) adalah seorang ulama besar, waliyullah, sekaligus tokoh perintis penyebaran agama Islam di wilayah Jawa Barat bagian selatan. Beliau sangat dikenal sebagai pembawa dan penyebar pertama Tarekat Syattariyah di Pulau Jawa. Saat ini, kawasan Pamijahan yang terletak di Kecamatan Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, menjadi salah satu destinasi wisata religi (ziarah) terbesar di Jawa Barat yang menampung makam beliau serta situs sejarah terkait.
Lahir pada tahun 1650 M di Mataram (wilayah Mataram Islam). Ayahnya bernama Sembah Lebe Wartakusumah (bangsawan Sunda keturunan Raja Galuh/Pajajaran) dan ibunya bernama Raden Ajeng Tangan Ziah (keturunan bangsawan Mataram yang jalurnya tersambung hingga Sunan Giri). Beliau menuntut ilmu di Jawa Timur (termasuk Ampel Denta), kemudian melanjutkan ke Aceh selama delapan tahun untuk berguru kepada ulama besar Syekh Abdurrauf as-Singkili. Beliau juga memperdalam ilmu tasawuf di Baghdad dan Mekah. Syekh Abdul Muhyi memilih jalur pendidikan, dakwah santun, ramah, dan pembauran budaya lokal, alih-alih konfrontasi politik.
Beliau mendirikan pesantren pertama di wilayah Tasikmalaya Selatan. Beliau juga bersahabat dekat dengan pahlawan besar Banten, Syekh Yusuf Tajul Khalwati al-Maqassari, yang sempat ia sembunyikan dari kejaran Belanda. Kawasan wisata religi Pamijahan memiliki dua magnet utama bagi peziarah: Makam Keramat Syekh Abdul Muhyi: Kompleks makam utama yang berada di tebing sebelah utara Cipamijahan, dikelilingi pepohonan rindang dan dilengkapi fasilitas ibadah yang megah. Gua Safarwadi (Gua Pamijahan): Sebuah gua alam sepanjang hampir 500 meter yang dahulu digunakan oleh Syekh Abdul Muhyi sebagai tempat berkhalwat (menyendiri), bermukim, sekaligus tempat mengajar para santrinya (pesantren di dalam gua). Di dalam gua ini terdapat Cikahuripan (mata air jernih yang kerap disebut air zam-zam Pamijahan) dan hamparan cadas tempat salat.
Syekh Abdul Muhyi Pamijahan diyakini sebagai waliyullah dan dihormati masyarakat pesantren. la merupakan mata rantai dan pembawa Tarekat Syattariyah yang pertama ke Pulau Jawa. Lebih dikenal dengan nama Haji Karang, karena pernah uzIah dan khalwat di Gua Karang. Di pintu gerbang makamnya yang terletak di Pamijahan, Tasikmalaya, tertera tulisan Sayyiduna Syaikh al-Hajj Waliyullah Radhiyullahu. Abdul Muhyi dilahirkan tahun 1650 di Mataram. Mataram di sini ada yang menyebut di Lombok, tetapi ada juga yang menyebut Kerajaan Mataram Islam. Ayahnya bernama Sembah Lebe Wartakusumah, bangsawan Sunda keturunan Raja Galuh Pajajaran yang saat itu bagian dari Kerajaan Mataram Jawa. lbunya bernama Raden Ajeng Tangan Ziah, keturunan bangsawan Mataram yang berjalur sampai ke Syaikh Ainui Yaqin (Sunan Giri l).
Ketika masih anak-anak, Abdul Muhyi telah belajar di Ampel Denta untuk mendaras berbagai disiplin keilmuan pesantren. Pada tahun 1669 M, di usia 19 tahun, Abdul Muhyi merantau hendak menuju ke Mekah, tetapi singgah di Aceh. Di Aceh Abdul Muhyi ternyata bertemu dan belajar kepada Tengku Syiah Kuala atau Syaikh Abdurrauf as-Singkili. Berbagai disiplin keilmuan dipelajari Abdul Muhyi di Kota Aceh ini, termasuk Tarekat Syattariyah dari jalur Syaikh Abdurrauf. Sebagai guru besar Syattariyah, Syaikh Abdurrauf ini berusaha mendamaikan wujudiyah dari lbnu Arabi dengan tasawuf lain yang berkembang di kalangan masyarakat Islam.
Setelah beberapa tahun di Aceh, Abdul Muhyi oleh gurunya diajak berkunjung ke makam seorang yang dikenal masyarakat sebagai Wali Quthb, Syaikh Abdul Qadir Jilani di lrak. Perjalanan diteruskan ke Mekah dan Madinah untuk menunaikan haji. Abdul Muhyi kemudian belajar di Makkah, tidak langsung pulang. Di Mekah Abdul Muhyi bertemu Syaikh Yusuf al-Maqassari, dan diduga kuat Abdul Muhyi belajar juga kepada Ahmad al-Qusyasyi, Ibrahim Kurani, dan Hasan al-Ajami, yaitu guru-guru dari Abdurrauf sendiri. Abdul Muhyi kembali dari Mekah menuju Ampel Denta pada tahun 1678 setelah mendapatkan ijazah untuk menjadi mursyid Tarekat Syattariyah dari gurunya. Sekembalinya dari Ampel Denta, sang ayah menikahkannya dengan putri bernama Ayu Bekta. Setelah menikah, bersama orang tuanya, Abdul Muhyi pindah ke Jawa Barat untuk menyebarkan Islam, dan berusaha mencari sebuah gua yang ditunjukkan oleh gurunya, Syaikh Abdurrauf.
Awalnya Abdul Muhyi dan keluarga menetap di Desa Darma Kuningan selama delapan tahun (1678-1685) atas permintaan masyarakat. Karena belum menemukan tujuan yang hendak dicari, sambil melakukan dakwah, Abdul Muhyi menuju ke Garut Selatan dan diminta masyarakat untuk tinggal di Pameungpeuk, Garut. Perjalanan diteruskan ke Lebaksiuh di dekat Batuwarigi. Di berbagai tempat tinggal ini Abdul Muhyi terus menyebarkan Islam secara santun dengan sentuhan hati sebagai seorang sufi. Di Lebaksiuh inilah Abdul Muhyi menemukan gua yang dikeramatkan dan wingit. Gua ini dinamakan Pamijahan, karena tempat berkembang biaknya banyak ikan.
Gua Pamijahan ini berbatu karang dan penuh dengan hutan lebat, dan karenanya sering disebut juga sebagai Gua Karang. Sejak saat itu, meski kadang-kadang masih tinggal di Lebaksiuh, Abdul Muhyi lebih dikenal sebagai Haji Karang. Gua ini menjadi tempat ’uzlah dan khalwat-nya, akan tetapi di tempat tinggalnya yang terakhir, ia membangun perkampungan baru bersama para pengikutnya di sebelah barat Kampung Ojong, dan dikenal dengan sebutan Safar Wadi. Di tempat ini dia membangun masjid dan padepokan sebagai pusat penyebaran lslam dan tarekat Syathariyah. Sebagai guru Rohani, Abdul Muhyi dihormati masyarakat dan Keraton Mataram.
Desanya diakui sebagai desa perdikan, yang artinya berhak mengurus urusannya sendiri secara mandiri, meskipun ada di wilayah Mataram. Meski memiliki hubungan dengan Mataram, hubungan dengan Keraton Cirebon dan Banten juga dibangun, termasuk setuju sebagian anak-anaknya menikah dengan para bangsawan dari Cirebon. Hubungan dekat juga terjadi dengan Kesultanan Banten, termasuk dengan guru Rohani di Banten, yaitu Syaikh Yusuf Tajul khalwaiti al-Maqassari, yang merupakan temannya ketika di Mekah. Ketika Syaikh Yusuf bergerilya di hutan-hutan melawan Belanda akibat keberhasilan Belanda memecah Keraton Banten, Syaikh Yusuf bersembunyi di tempat Syaikh Abdul Muhyi.
Di samping sebagai pendidik, mujahid dalam menyebarkan Islam, seorang yang dikenal memiliki kemampuan linuwih, Syekh Abdul Muhyi juga seorang penulis. Dia menulis kitab dalam disiplin Tarekat Syattariyah. Tokoh ini meninggal pada 1730 M atau 1151 H dalam usia 80 tahun. Dia dimakamkan di Pamijahan, yaitu di Bantar Kalong, Tasikmalaya bagian selatan, Makamnya hingga saat ini menjadi makam yang sering diziarahi oleh masyarakat NU dan masyarakat Islam pada umumnya.
7. Syekh Abdul Malik bin Abdullah, atau yang lebih dikenal dengan gelarnya Tok Pulau Manis, adalah seorang ulama dan sufi terkemuka abad ke-17 asal Terengganu, Malaysia. Beliau lahir sekitar tahun 1650 dan wafat pada tahun 1736. Beliau diakui sebagai salah satu murid terdekat dan khalifah utama dari ulama besar Aceh, Syekh Abdurrauf as-Singkili. Beliau mulai mempelajari Tarekat Syattariyah dari Syekh Abdurrauf as-Singkili di Aceh saat berusia sekitar 43 tahun. Setelah menimba ilmu di Aceh, beliau melanjutkan perjalanan religiusnya ke Mekkah untuk memperdalam ilmu agama dan Tarekat Syadziliyah.
Karya Monumental: Tok Pulau Manis sangat masyhur di dunia Nusantara karena mengarang kitab Syarah al-Hikam, yang merupakan penjelasan (syarah) atas kitab tasawuf legendaris karya Ibnu Athaillah as-Sakamdari. Selain menjadi tokoh spiritual, beliau juga bertindak sebagai penasihat sekaligus bapak mertua dari Sultan Zainal Abidin I, Sultan Terengganu pertama. Hubungan ini memperkuat kedudukan Islam dan tasawuf dalam struktur pemerintahan Terengganu kala itu.
Syekh Abdul Malik Terengganu mempunyai tiga orang anak: Imam Yusuf Kesuma, Badruddin dan Mik Tok Bungkuk. Sementara, Imam Yusuf Kesuma itu mempunyai dua orang anak: Abdur Rahman dan Ali. Sampai di sini silsilah terputus. Tidak terdapat dan tak ditemukan sambungan keturunannya. Malahan silsilah Mik Tok Bungkuk terputus juga. Yang tersebut memperoleh anak dan keturunan, adalah anak Tok Pulau Manis yang kedua; Badruddin. Badruddin memperoleh delapan anak, tujuh lelaki dan seorang perempuan. Mereka itu; Daud, Husein, Hasan, Muhammad, Musa, Isa, Maimunah dan Ya’qub.
Daud bin Badruddin bin Syekh Abdul Malik, mempunyai anak; Sulaiman, Fatimah, Usman, Badruddin, Husein, Umar, Abu Bakar, Idris dan Khatib Muhammad Shalih. Silsilah terputus kecuali Khatib Muhammad Shalih disebutkan mempunyai anak bernama Ali.
Husein bin Badruddin bin Syekh Abdul Malik, mempunyai dua orang anak; Yusuf dan Aisyah. Silsilah juga terputus. Hasan bin Badruddin bin Syekh Abdul Malik, memperoleh anak hanya seorang, ialah Zainab. Silsilahnya juga terputus. Muhammad bin Badruddin bin Syekh Abdul Malik, mempunyai dua orang anak; Wan Abdul Qadir dan Wan Semik. Silsilahnya juga terputus. Musa bin Badruddin bin Syekh Abdul Malik, silsilahnya juga terputus. Isa bin Badruddin bin Syekh Abdul Malik, mempunyai lima anak; Aminah, Aisyah, Habibah, Salamah dan Haji Abdul Malik.
Tahun kehidupan Syeikh Abdul Malik (Tok Pulau Manis) Terengganu tercatat antara tahun 1089 H/1676 M-1149 H/1736 M, demikian tersurat di atas kubur beliau, yang menurut salah satu tulisan Misbaha. Tetapi penyelidikan terakhir memberikan maklumat bahawa beliau lahir lebih awal dari tahun yang tersebut itu, iaitu kira-kira 1650 M.
Setelah mendapat pendidikan di kampung sendiri dan dari beberapa ulama di Terengganu, beliau meneruskan pelajarannya ke Aceh. Gurunya di Aceh Syekh Abdurrauf bin Ali al-Fansuri. Disebutkan, sewaktu belajar di Aceh, beliau bersahabat dengan beberapa orang yang akhirnya menjadi tokoh dan ulama besar. Mereka adalah Syekh Yusuf Tajul Khalwati al-Makassari dari Bugis-Makassar, Syekh Abdul Muhyi Pamijahan dan Syekh Burhanuddin Ulakan, Sumatera Barat dan ulama lainnya.
Mereka yang tersebut itu telah menerima talqin baiah Tarekat Syattariyah dari ulama Aceh yang terkenal itu. Mereka melanjutkan pelajaran ke Mekah dan Madinah. Sewaktu di Mekah bersahabat pula dengan Syeikh Abdus Syukur bin Abdul Karim Batani al-Fathani dan belajar kepada Syaikh Ibrahim al-Kurani. Syekh Ibrahim al-Kurani ini juga guru Syekh Abdurrauf bin Ali al-Fansuri.
Karya Tok Pulau Manis
Mengenai karya beliau semuanya dapat dirujuk kepada tulisan-tulisan Shafie bin Abu Bakar, kecuali kitab Syarah Hikam Melayu dalam penyelidikan terkini dimunculkan sebagai bukan karya Tok Pulau Manis oleh Abdur Razak Mahmud yang beliau tulis dalam majalah Pengasuh yang telah disebutkan. Kitab yang dipertikaikan itu termasuk dalam senarai. Ada dua kitab yang dibicarakan dalam Jurnal Dewan Bahasa, Julai 1990, yang sebuah lagi ialah Kitab Kifayah manuskrip salinan Tok Kelaba yang tersimpan di Pusat Manuskrip Melayu dengan nombor kelas MS 517. Tok Kelaba cukup jelas menyebut kitab tersebut adalah karya Tok Pulau Manis. Akan tetapi ada sebuah manuskrip yang ditemui di Kampung Kepala Bukit Senggora (Mei 1993) dengan judul Al-Kitabul Kifayah, selain judulnya sama juga kandungannya adalah sama, bahwa dinyatakan sebagai karya Imam Syafie (maksudnya bukan Imam Syafie imam mazhab) yang diselesaikan penulisannya pada Kamis, 2 Safar 1180 H/1766 M.
8. Syekh Muhammad Yusuf al-Makassari (3 Juli 1626 – 23 Mei 1699) adalah salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia sekaligus tokoh spiritual lintas benua yang bergelar Tuanta Salamaka ri Gowa ("Tuan Guru Penyelamat Kita dari Gowa"). Ia dikenal sebagai seorang ulama besar, mursyid tarekat (khususnya Tarekat Khalwatiyah), serta pejuang gigih melawan penjajahan VOC Belanda. Lahir di Gowa, Sulawesi Selatan. Nama kecilnya, Muhammad Yusuf, diberikan oleh Raja Gowa pertama yang memeluk Islam, Sultan Alauddin, yang juga masih kerabat ibunya. Beliau menghabiskan waktu sekitar 20 tahun untuk menuntut ilmu di pusat-pusat peradaban Islam dunia, mulai dari Banten, Aceh, Gujarat (India), Yaman, Makkah, Madinah, hingga Damaskus (Suriah).
Perjuangan Fisik dan Dakwah di Nusantara
Setelah kembali ke Nusantara, ia menetap di Kesultanan Banten dan menjadi sahabat sekaligus penasihat spiritual Sultan Ageng Tirtayasa. Hubungan ini dipererat melalui pernikahan Syekh Yusuf dengan putri Sultan. Ketika perang pecah antara Sultan Ageng melawan putranya sendiri (Sultan Haji) yang dibantu VOC, Syekh Yusuf memimpin pasukan gerilya yang sangat merepotkan Belanda hingga akhirnya ia ditangkap.
Pengasingan dan Jejak di Afrika Selatan
Karena pengaruhnya yang sangat kuat, VOC membuangnya dari Nusantara. Pada tahun 1694, ia dibuang ke Cape Town, Afrika Selatan, dan diisolasi di area terpencil bernama Zandvliet. Alih-alih meredup, Syekh Yusuf justru menjadikan tempat pengasingannya sebagai pusat penyebaran Islam dan komunitas sosial. Beliau meletakkan landasan komunitas Muslim pertama di Afrika Selatan, sehingga kawasan tersebut kini dikenal sebagai area Macassar.
Warisan dan Pengakuan Internasional
Keberanian dan keteguhan visinya membuat namanya dihormati secara global. Tokoh besar seperti Nelson Mandela mengaguminya sebagai salah satu inspirator perlawanan terhadap penindasan. Atas jasa-jasanya, Syekh Yusuf dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia (1995) dan juga dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional Afrika Selatan (2005).
Tidak banyak pahlawan di dunia yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh dua negara berbeda. Syekh Yusuf Al-Makassari adalah salah satu dari sedikit sosok istimewa tersebut. Lahir di Gowa pada 3 Juli 1626 dengan nama Muhammad Yusuf, beliau adalah ulama, pejuang, sekaligus guru tarekat yang jejak perjuangannya membentang dari tanah Sulawesi, Jawa, Sri Lanka, hingga Afrika Selatan. Setelah menimba ilmu agama di Tanah Suci Mekkah, Yaman, dan India, Syekh Yusuf kembali ke Nusantara dan menetap di Kesultanan Banten. Ketika Perang Banten pecah melawan VOC, beliau memimpin pasukan bersama Pangeran Purbaya untuk bergerilya melawan kompeni Belanda. Kehadiran dan pengaruhnya yang sangat kuat di kalangan prajurit membuat VOC menganggapnya sebagai ancaman yang sangat berbahaya.
Ketakutan VOC membuat Syekh Yusuf ditangkap dan diasingkan jauh dari tanah kelahirannya, pertama ke Ceylon (Sri Lanka) pada tahun 1684, kemudian diasingkan lebih jauh lagi ke Cape Town, Afrika Selatan pada tahun 1693. Namun, pengasingan tidak menghentikan langkah dakwah dan perjuangannya. Di Cape Town, Syekh Yusuf membangun komunitas muslim pertama dan menanamkan benih-benih kesetaraan manusia. Semangat perlawanannya terhadap penindasan bahkan menginspirasi pejuang anti-apartheid Afrika Selatan, termasuk Nelson Mandela, yang menyebut Syekh Yusuf sebagai “Salah Satu Putra Terbaik Afrika”.
Atas jasanya yang melintasi samudera, pemerintah Indonesia menganugerahkannya gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1995, diikuti oleh pemerintah Afrika Selatan yang memberikan penghargaan setingkat pahlawan (Supreme Companion of OR Tambo) pada tahun 2005.
Syekh Yusuf mengajarkan bahwa spiritualitas tidak berarti pasif; melawan ketidakadilan adalah bagian dari ibadah. Gerilyanya begitu efektif sehingga Belanda harus mengerahkan pasukan khusus hanya untuk menangkap sang ulama ini.
Di abad ke-17, ketika kapal-kapal VOC mulai mencengkeram Nusantara dengan meriam dan monopoli, lahirlah seorang bayi bernama Muhammad Yusuf di Kerajaan Gowa. Tak ada yang menyangka bahwa bayi ini kelak akan menjadi orang yang paling ditakuti Belanda sekaligus paling dicintai di Benua Afrika.
Syekh Yusuf bukan tipikal bangsawan yang puas dengan zona nyaman. Di usia pemuda, ia merasakan "dahaga spiritual" yang luar biasa. Ia meninggalkan kemewahan istana Gowa untuk mengarungi samudra. Dari Makassar ke Banten, lalu ke Aceh untuk berguru pada Syekh Nuruddin Ar-Raniri. Tak puas, ia berlayar ke Yaman, Mekkah, Madinah, hingga Damaskus. Beliau mempelajari puluhan tarekat dan cabang ilmu. Di Arab, beliau dikenal dengan gelar Al-Taj Al-Khalwati (Mahkota dari Tarekat Khalwatiyah). Beliau bukan lagi sekadar murid dari Makassar, melainkan ulama internasional yang disegani di pusat peradaban Islam.
9. Muhammad Baba Daud al-Rumi (sering dikenal sebagai Baba Daud) adalah salah satu murid paling terkemuka dan orang kepercayaan dari ulama besar Nusantara, Syekh Abdurrauf as-Singkili (Syiah Kuala) di Aceh pada abad ke-17. Gelar "al-Rumi" di belakang namanya mengindikasikan bahwa ia memiliki keturunan atau hubungan silsilah dengan wilayah Turki Utsmani (Rumi). Peran paling monumental Baba Daud adalah membantu Syekh Abdurrauf dalam menyusun dan menyelesaikan kitab Tarjuman al-Mustafid. Kitab ini merupakan kitab tafsir Al-Qur'an pertama yang ditulis secara lengkap dalam bahasa Melayu (menggunakan aksara Jawi) dan menjadi rujukan sangat penting di dunia Islam Asia Tenggara.
Sebagai murid utama, ia turut menyebarkan jaringan keilmuan Islam dan tarekat (khususnya Syattariyah) yang dibawa oleh gurunya di wilayah Kesultanan Aceh dan sekitarnya.
Kota Banda Aceh memiliki sejumlah situs bersejarah yang menyimpan kisah penting perkembangan Islam di Nusantara. Salah satunya adalah Kompleks Makam Syekh Baba Daud Ar-Rumi yang berada di Gampong Mulia, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. Situs ini menjadi pengingat akan sosok ulama besar yang memiliki peran penting dalam dunia pendidikan dan pengembangan keilmuan Islam di Aceh pada abad ke-17. Syekh Baba Daud Ar-Rumi dikenal sebagai salah satu murid terkemuka Syekh Abdurrauf As-Singkili, ulama besar Aceh yang berpengaruh pada masanya. Dalam berbagai catatan sejarah disebutkan bahwa Syekh Baba Daud Ar-Rumi memiliki nama lengkap Baba Daud bin Ismail bin Agha Mustafa bin Agha Ali Ar-Rumi. Julukan "Ar-Rumi" menunjukkan asal-usulnya dari wilayah Kesultanan Utsmaniyah atau Turki, sementara sebutan "Al-Jawi" merujuk pada kiprahnya di kawasan Asia Tenggara yang pada masa itu dikenal sebagai Negeri Jawi.
Syekh Baba Daud Ar-Rumi juga dikenal dengan panggilan Teungku Chiek di Leupu. Gelar tersebut diberikan karena perannya sebagai pengajar di sebuah dayah yang didirikan bersama Syekh Abdurrauf As-Singkili di kawasan Leupu. Atas kepercayaan gurunya, Syekh Baba Daud kemudian memimpin lembaga pendidikan tersebut dan berkontribusi dalam mencetak generasi ulama Aceh. Sebagai seorang cendekiawan Muslim, Syekh Baba Daud Ar-Rumi meninggalkan sejumlah karya penting yang berpengaruh besar terhadap perkembangan pemikiran Islam di dunia Melayu. Ia dikenal sebagai penulis tafsir Al-Quran dan tafsir berbahasa Melayu yang menjadi rujukan bagi para ulama sesudahnya, termasuk Syekh Abdurrauf As-Singkili dalam penyusunan karya-karya keislaman.
Karya lainnya yang terkenal adalah Risalah Masa'il al-Muhtadi li Ikhwani al-Mubtadi, sebuah kitab yang membahas berbagai persoalan keagamaan dan dijadikan pedoman oleh ulama di Aceh serta sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. Syekh Baba Daud Ar-Rumi diperkirakan hidup pada masa pemerintahan Sultanah Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Syah yang memerintah Kesultanan Aceh Darussalam pada periode 1641 hingga 1675 Masehi. Masa tersebut dikenal sebagai salah satu era berkembangnya tradisi intelektual Islam di Aceh.
Keberadaan makam Syekh Baba Daud Ar-Rumi juga menjadi simbol eratnya hubungan historis antara Kesultanan Aceh dan Kekaisaran Utsmaniyah. Hubungan persaudaraan yang telah terjalin selama berabad-abad tersebut meninggalkan berbagai jejak sejarah, termasuk keberadaan ulama asal Turki yang berkiprah di Aceh. Sebagai upaya pelestarian warisan budaya, Pemerintah Kota Banda Aceh melakukan pemugaran kompleks makam tersebut pada tahun 2019. Situs ini juga beberapa kali menjadi lokasi kegiatan yang memperingati hubungan persahabatan Aceh dan Turki, termasuk peringatan 480 tahun hubungan kedua bangsa pada Agustus 2019.
Kini, Kompleks Makam Syekh Baba Daud Ar-Rumi tidak hanya menjadi situs cagar budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi, tetapi juga menjadi destinasi wisata religi dan edukasi. Banyak masyarakat, pelajar, maupun peneliti yang berkunjung untuk mengenang jasa-jasa ulama besar tersebut sekaligus mempelajari jejak perkembangan Islam di Aceh. Keberadaan situs ini menjadi pengingat bahwa Aceh pernah menjadi pusat peradaban Islam yang terhubung dengan berbagai kawasan dunia, termasuk Timur Tengah dan Turki, melalui jaringan ulama, pendidikan, serta hubungan diplomatik yang kuat.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Banda Aceh, Nurliana SPd, mengatakan Kompleks Makam Syekh Baba Daud Ar-Rumi merupakan salah satu situs cagar budaya yang memiliki nilai sejarah sangat penting bagi masyarakat Aceh. Menurutnya, keberadaan makam tersebut tidak hanya menjadi bukti perkembangan Islam di Aceh, tetapi juga mencerminkan hubungan intelektual dan budaya yang telah terjalin antara Aceh dan dunia Islam sejak berabad-abad lalu. "Syekh Baba Daud Ar-Rumi adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah keilmuan Islam di Aceh. Beliau berperan besar dalam pengembangan pendidikan, dakwah, dan penulisan karya-karya keislaman yang memberikan pengaruh luas di kawasan Melayu," ujar Nurliana, Rabu (3/6/2026).
Ia menjelaskan, situs makam tersebut menjadi bagian dari warisan budaya yang perlu dijaga dan dilestarikan karena menyimpan informasi penting mengenai perjalanan peradaban Aceh pada masa Kesultanan Aceh Darussalam. Menurut Nurliana, Disdikbud Banda Aceh terus berupaya melakukan pelestarian terhadap berbagai situs cagar budaya melalui pendataan, pemeliharaan, serta kegiatan edukasi kepada masyarakat dan generasi muda. "Pelestarian situs cagar budaya bukan hanya menjaga fisik bangunannya, tetapi juga merawat nilai-nilai sejarah, ilmu pengetahuan, dan identitas budaya yang terkandung di dalamnya," katanya.
Ia berharap keberadaan Kompleks Makam Syekh Baba Daud Ar-Rumi dapat semakin dikenal oleh masyarakat luas, khususnya kalangan pelajar dan generasi muda. Dengan mengenal tokoh-tokoh besar seperti Syekh Baba Daud Ar-Rumi, masyarakat diharapkan dapat memahami bahwa Aceh pernah menjadi salah satu pusat pendidikan dan peradaban Islam yang berpengaruh di kawasan Asia Tenggara.
Nurliana menambahkan, situs-situs sejarah seperti ini juga memiliki potensi besar sebagai sarana edukasi dan wisata budaya yang dapat memperkaya pengetahuan masyarakat mengenai warisan sejarah Aceh. "Melalui pelestarian dan pemanfaatan yang tepat, situs cagar budaya dapat menjadi media pembelajaran yang efektif sekaligus memperkuat jati diri masyarakat terhadap sejarah dan kebudayaannya," pungkasnya.
Referensi:
1. https://id.wikipedia.org/wiki/Burhanuddin_Ulakan
2. https://www.detik.com/sumut/berita/d-7286707/syekh-burhanuddin-ulakan-profil-asal-usul-hingga-cerita-akhir-hidupnya/amp
3. https://stit-syekhburhanuddin.ac.id/dtlbrt-pusat-edukasi-dan-literasi-syekh-burhanuddin.html
4. https://langgam.id/2-syekh-burhanuddin-pada-abad-berbeda-ulama-penyebar-islam-di-minangkabau/
5. https://daerah.sindonews.com/berita/1121513/29/kisah-karomah-syekh-burhanuddin-ulakan
6. https://www.jurnalissumbar.com/2026/01/jejak-tuan-kadhi-dalam-sejarah-padang.html?m=1
7. https://jabar.nu.or.id/tokoh/riwayat-singkat-syekh-abdul-mu
hyi-pamijahan-8qH6q
8. https://kembarasalik.wordpress.com/2008/11/27/syeikh-abdul-malik-tok-pulau-manis/
9. https://www.republika.id](https://www.republika.id/posts/44395/pahlawan-lintas-etnis-bernama-syekh-yusuf-al-makassari)
10. https://theacehpost.com/news/makam-syekh-baba-daud-ar-rumi-jejak-kontribusi-ulama-turki-bagi-peradaban-islam-di-aceh/index.html
11. Living Heritage Syekh Burhanuddin, Duski Samad, dkk 2026
12. 100 Syekh dan Tuanku Bersanad pada Syekh Burhanuddin, Duski Samad, dkk 2026
