![]() |
| Makam Syekh Burhanuddin Ulakan di Nagari Manggopoh Ulakan, Kecamatan Ulakan Tapakih, Kabupaten Padang Pariaman. |
Padang Pariaman, -- Syekh Burhanuddin Ulakan 1646-1704 Masehi, adalah ulama fenomenal yang tak pernah selesai ditulis. Jamak para ulama penulis menyebutkan, beliau pembawa Tarekat Syattariyah ke Minangkabau. Beliau tak punya keturunan, maka tersebab itu pula banyak sejarawan yang berbeda pendapat soal tempat lahir. Ada yang menyebut, Syekh Burhanuddin lahir di Pariangan, Tanah Datar tahun 1646 Masehi, dari pasangan Pampak dan Cukuik. Waktu lahir, Pampak yang bersuku Koto dan Cukuik yang bersuku Guci memberi nama anaknya dengan nama Kunun.
Oleh teman sama gedang, Kunun disapa dengan Pono. Nama Pono melekat kuat, dan sempat hilang nama asalnya, Kunun. Saat Pono berusia tujuh tahun, oleh kedua orangtuanya diangkut merantau ke Piaman. Tepatnya, keluarga ini diterima oleh niniak mamak Sintuak Toboh Gadang, dekat Lubuk Alung. Tak tahan dengan kehidupan miskin dan serba kekurangan, Pampak dan Cukuik memilih merantau dari Luhak Nan Tuo ke Piaman. Termasuk Ensiklopedi Minangkabau menuliskan, kalau Syekh Burhanuddin lahir di Tanah Datar.
Yang menyebut Syekh Burhanuddin lahir di Sintuak, Kecamatan Sintuak Toboh Gadang, Kabupaten Padang Pariaman juga ada. Makam ayah dan ibu Syekh Burhanuddin, Pampak dan Cukuik di Sintuak ini. Tepatnya di komplek Surau Pondok, Nagari Sintuak. Hanya saja, makam keluarga Syekh Burhanuddin ini tak seperti makam beliau yang ramai dikunjungi jemaah.
Tentu, perbedaan pendapat atau persepsi dari sejarawan dan ulama pengikut Syekh Burhanuddin ini tak menjadi persoalan yang besar. Dari Sintuak, Pono mengaji ke Tapakih. Di Tapakih, bermukim seorang ulama bernama Yahyuddin yang dikenal dengan nama Tuanku Madinah. Kepada guru ini, Pono mulai mendalami agama Islam, lebih kurang tiga tahun. Pono mempelajari ibadah wajib, tauhid, fiqih, tafsir dan sejarah Islam. Sebelum meninggal, Tuanku Madinah meminta Pono melanjutkan pelajaran agama kepada Syekh Abdurrauf Singkil di Banda Aceh.
Begitu juga dalam menyebut sahabat atau kawan Syekh Burhanuddin, beragam pula pandangan dan catatan yang terserak di berbagai saluran informasi. Ada yang menyebut cuma seorang, Idris Khatib Majolelo. Ada pula yang membuat empat sahabat, dan kajian ini mengkaji sembilan sahabat Syekh Burhanuddin.
Di Tapakis, bermukim seorang ulama bernama Yahyuddin yang dikenal dengan nama Tuanku Madinah. Kepada guru ini, Pono mulai mendalami agama Islam, lebih kurang 3 tahun. Ia mempelajari ibadah wajib, tauhid, fiqih, tafsir dan sejarah Islam. Sebelum meninggal, Tuanku Madinah meminta Pono melanjutkan pelajaran agama kepada Syekh Abdurrauf Singkil di Aceh.
Pono membulatkan tekad berangkat ke Aceh untuk belajar agama kepada Syekh Abdurrauf. Abdurrauf adalah ulama terkemuka Aceh di abad ke-17. Ia pernah menetap di Mekkah selama 10 tahun untuk mendalami Islam.
Kepadanya Pono belajar, memperdalam tasawuf dan Tarekat Syattariyah, sebagai jalan mengembangkan agama Islam kepada masyarakat. Selama di Aceh, Pono bukan hanya memperdalam pelajaran agama, dengan melewati berbagai ujian berat. Ujian itu, sejak dari tirakat, kesetiaan hingga ujian hawa nafsu. Semua mampu dilewati oleh Pono.
Setelah sembilan tahun mempelajari tarekat, Pono lulus dan mendapat ijazah dari Syekh Abdurrauf Singkil. Sejak itu, ia dipanggil dengan sebutan Syekh. Ada yang menyebut, Pono belajar di Aceh selama 21 tahun, ada pula yang menyebut sampai 30 tahun.
Pono akhirnya pamit kepada Syekh Abdurrauf untuk pulang kembali ke Minangkabau. Sebelum Pono pulang, Syekh mengganti namanya menjadi Burhanuddin. Sehingga, setelah itu kemudian dikenal dengan panggilan Syekh Burhanuddin.
Pada tahun 1680, Syekh Burhanuddin pulang ke Ulakan untuk mendirikan surau di Tanjung Medan. Syekh Burhanuddin Ulakan mulai menyebarkan ajaran Islam sekaligus mengembangkan Tarekat Syattariyah. Situs Kemdikbud menyebutkan, Syekh Burhanuddin Ulakan meninggal pada 20 Juni 1704 saat berusia 58 tahun.
Keistimewaan Syekh Burhanuddin Ulakan
Pono dikenal sebagai ulama sufi pengamal Tarekat Syattariyah. Kehidupan sehari-hari Pono kecil tidak ubahnya seperti anak seusianya yang selalu belajar dan bermain. Namun ada kekhususan yang setiap malam diajarkan ayahnya, yaitu ilmu kebatinan dan pencak silat. Waktunya banyak dihabiskan di bukit untuk merenung sambil menggembala kerbau. Dari penggembalaan ini, Pono mendapat teman akrab bernama Idris. Kelak Idris ini jadi Khatib Nagari Ulakan, bergelar Khatib Majolelo.
Suatu ketika saat Pono bergembala kerbau, harimau mengintai untuk memangsanya. Bekal pelajaran beladiri dari ayahnya, Pono bisa mengusir binatang buas tersebut. Malang baginya, urat kaki Pono putus terkena kuku harimau. Akibat peristiwa itu, Pono menjadi pincang. Kemudian Pono mendapat kabar ada guru agama di Tapakih, tak jauh dari Sintuak Toboh Gadang, yaitu seorang ulama dari Mekkah yang terkenal dengan sebutan Tuanku Madinah. Cerita ini menarik minat Pono, maka diutarakan niat menuntut ilmunya pada ayahnya.
Melihat semangat anak kesayangannya yang selalu diperolok-olokan temannya karena pincang, maka keinginan Pono dikabulkan oleh ayahnya untuk pindah sekaligus membuka lapangan usaha di Tapakih. Karena kecerdasannya dan kemauannya yang kuat dalam mempelajari agama, dengan cepat Pono berhasil menguasai semua pelajaran yang diberikan Tuanku Madinah.
Oleh Tuanku Madinah, setelah berbilang tahun lamanya Pono mengaji dengannya, disuruhnya pergi berguru ke Aceh, ke Syekh Abdurrauf. Pono berinisiatif pergi ke Aceh agar bisa menghindari kemarahan masyarakat yang mulai main kasar, bahkan ingin membunuhnya karena ajaran Islam dinilai menghalangi adat kebiasaan mereka dalam berjudi dan bersabung ayam. Dengan bekal keberanian dan keyakinan yang kuat untuk menambah ilmu agama ke Syekh Abdurrauf di Aceh, Pono bertemu dengan empat orang yang juga ingin berguru ke ulama Aceh. Adapun teman berempat yang bertemu dengan Pono, adalah Datuak Maruhun Panjang dari Padang Gantiang, Batusangkar, Sitarapang dari Kubuang Tigobaleh, Solok, M Nasir dari Koto Tengah, Padang; Buyuang Mudo dari Bayang Salido Banda Sapuluah, Pesisir Selatan.
Pono tiba di Aceh, langsung menemui Syekh Abdurrauf di kediamannya sekaligus mengutarakan maksud kedatangan. Melihat kedatangan Pono, Syekh Abdurrauf teringat akan pesan gurunya, Syekh Ahmadul Qusyasi, bahwa nanti akan ada calon muridnya datang dari arah selatan yang akan menjadi penyuluh agama mewarisi ajarannya. Orang tersebut kakinya cacat, tetapi pintar dan berbudi pekerti yang tinggi. Tanpa ragu, Mufti Kerajaan Aceh ini langsung menerima kelima orang ini menjadi murid.
Latar belakang Pono yang berasal dari keluarga bangsawan, keahliannya dalam mengolah alam, buah pembelajaran keras yang diberikan ayahnya sangat berguna diterapkan di pesantren. Syekh Abdurrauf mempercayakan Pono untuk mengurus keperluan pesantren, dari membuat dan memelihara ikan di kolam, berkebun dan ke sawah juga menggembala sapi kepunyaan Syekh Abdurrauf. Hal itu dilakukan Pono tanpa membantah. Pono menyadari, dalam ilmu tarekat, apapun alirannya dalam menuntut ilmu, “murid di hadapan guru ibarat mayat di tangan orang yang memandikannya”.
Dalam hikayat, suatu hari Syekh Abdurrauf menguji santrinya dengan memanggil dan menyuruh mereka untuk mengambil bejana yang menurut sang Syekh Abdurrauf jatuh di WC pesantren yang penuh kotoran manusia. Dari sekian banyak santri, hanya Pono yang mau sepenuh hati menyelami WC penuh kotoran, tanpa memperhitungkan bau busuk. Setelah mendapatkan bejana itu, Pono menyerahkannya pada sang guru setelah dibersihkan.
Ketika Syekh Abdurrauf dapat undangan ke sebuah pulau, beliau bergegas pergi dengan beberapa santri dan berpesan pada santri yang tinggal agar menyuruh Pono menyusulnya ke pulau itu. Mendapat tugas dari sang guru yang dijunjung tinggi, Pono bergegas ke tepi pantai. Setiba di tepi pantai, Pono tidak mendapatkan sebuah perahu pun untuk berangkat ke pulau. Atas izin Allah, dengan keyakinan penuh, tubuhnya menjadi ringan, seringan kapas. Pono bisa berjalan di atas air, seakan-akan ada kayu penyangga yang menopangnya saat melangkah menuju pulau. Peristiwa ini disaksikan oleh santri, baik dari daratan maupun di seberang pulau. Kejadian ini menjadi salah satu keistimewaan Pono.
Kejadian serupa juga terjadi saat Pono sedang membetulkan atap rumah, dimana ada potongan kayu terjatuh dan akan mengenai anak gadis gurunya. Dengan lincah dan cepat Pono melayang ke bawah untuk menyambut kayu itu. Salah satu peristiwa mashur yang menjadi pegangan kaum sufi, adalah saat Pono diuji keimanannya dengan godaan wanita. Saat itu Pono disuruh menjaga anak gadis gurunya yang lagi mekar-mekarnya di rumah. Syekh Abdurrauf pergi memenuhi undangan panggilan kerajaan. Bangkitlah nafsu Pono melihat anak gurunya yang sedang ranum. Untuk melawan nafsunya sendiri, Pono mengambil keputusan yang sangat mahal. Pono pergi menjauh dan memukul alat kelaminnya dengan batu.
Bagi Pono, daripada jadi budak nafsu setan dan menjadi orang terbuang di dunia dan di akhirat, lebih baik menghukum alat kelamin yang menjadi sumber pemicu pelampiasan hawa nafsu. Cukup lama Pono menderita penyakit akibat cidera alat kelaminnya. Ketika sembuh, Pono tetap melakukan tugas semula, seperti melayani kebutuhan santri dengan bijak. Hal inilah yang membuat Syekh Abdurrauf menjadi lebih perhatian padanya. Minat dan perhatiannya sungguh luar biasa, apalagi diikuti dengan daya ingatnya yang tinggi, membuat Pono termasuk murid yang terpandai di antara santri lainnya. Suatu ketika Pono dibawa Syekh Abdurrauf ke surau besar dan kemudian menyuruhnya membuka lembaran kitab. Syekh Abdurrauf mengajarkannya sekali saja. Kenyataannya, seluruh isi kitab tersebut sepenuhnya dikuasai oleh Pono. Hingga akhirnya berhasil lulus dengan baik dan sempurna. Lalu Pono ini menyendiri (berkhalwat) selama 40 hari di Gua Hulu Sungai Aceh, di kaki Gunung Peusangan. Setelah dirasa cukup menerima ilmu pengetahuan dari Syekh Abdurrauf, tibalah saatnya Pono dikembalikan ke Minangkabau guna mengembangkan ilmu yang dipelajari selama ini. Syekh Abdurrauf memberinya gelar Syekh Burhanuddin.
Syekh Burhanuddin dilepas Syekh Abdurrauf dengan disertai 70 orang yang mengawalnya selama dalam perjalanan pulang kampung. Rombongan ini dipimpin oleh Panglima yang bernama Khatib Sangko. Alasan Syekh Abdurrauf membekali Syekh Burhanuddin pengawal, karena beliau yakin akan mendapat tantangan berat. Kala itu, masyarakat Pariaman masih kental memeluk agama Hindu Budha sehingga banyak tukang –tukang sihir akan merintangi. Mereka tidak suka kesenangannya diusik dan diganti.
Akhirnya, rombongan Syekh Burhanuddin tiba di Pulau Angso Duo, di muka Pantai Pariaman. Tibanya Syekh Burhanuddin menyulut kemarahan para tukang sihir di tempat itu. Mereka mengeluarkan segala kepandaiannya untuk mengusir rombongan Syekh Burhanuddin. Terjadilah perkelahian yang memakan banyak korban, baik dari rombongan Khatib Sangko maupun dari pihak penyihir.
Tempat tersebut kemudian dikenal dengan nama Ulakan. Yaitu tempat penolakan kedatangan rombongan Syekh Burhanuddin. Berita perkelahian yang memakan korban ini sampai ke para jagoan di VII Koto, sehingga mereka segera menyusul untuk menangkap Khatib Sangko. Rombongan Khatib Sangko sangat kuat. Para jagoan tersebut tewas. Peristiwa ini membuat Kalik-Kalik Jantan, seorang tokoh masyarakat setempat gelap mata. Sementara rombongan Khatib Sangko juga banyak yang tewas.
Mengetahui Kalik-Kalik Jantan kebal terhadap senjata tajam, Khatib Sangko melapor ke Syekh Burhanuddin. Oleh Syekh Burhanuddin, Khatib Sangko disuruh melapor ke Syekh Abdurrauf tentang kejadian ini. Oleh Syekh Abdurrauf, Khatib Sangko diajarkan cara menghilangkan ilmu kebal Kalik-Kalik Jantan. Setelah tiba di Pulau Angso, Syekh Burhanuddin memerintahkan kembali menyerang dari Pantai Pariaman di pagi hari. Pertempuran kembali pecah. Kali ini, Kalik-Kalik Jantan terbunuh oleh Khatib Sangko. Tewasnya Kalik-Kalik Jantan berdampak pada menyerahnya pengikut Kalik-kalik Jantan di seluruh Pariaman. Selanjutnya, Khatib Sangko dinobatkan menjadi Mufti di Tandikek.
Setelah aman, Syekh Burhanuddin mulai mencari informasi tentang keberadaan kawan karibnya yang telah diangkat menjadi pemuka masyarakat dengan gelar Majolelo. Melalui nelayan yang singgah di Pulau Angso Duo, Syekh Burhanuddin mengirim pesan pada Idris bahwa dia adalah Pono yang dahulu pergi belajar ke Aceh. Mendapat informasi yang datang adalah Pono yang kini bergelar Syekh Burhanuddin, Idris Majolelo mengajak niniak mamak, pemuka adat, sanak kerabat dan tokoh masyarakat untuk menjemputnya. Sebagai tanda kenang-kenangan kembali dari menuntut ilmu, Syekh Burhanuddin menanam ranting pinago biru yang dibawa dari Aceh. Beliau berpesan kepada Idris Majolelo, bila ajal sampai kelak, minta dikuburkan dekat pinago biru ini.
Untuk memudahkan pengembangan syiar agama Islam versi Tarekat Syattariyah, Syekh Burhanuddin meminta masyarakat agar membawa anaknya ke surau untuk bermain bersamanya. Di sinilah cikal bakal pengembangan ilmu agama yang dilakukan Syekh Burhanuddin. Sistem pembelajaran yang dilakukan Syekh Burhanuddin tidak seperti biasa. Dia melakukannya sambil bermain. Semua permainan yang ada di masyarakat saat itu, dia ikuti. Dari Sepak Rago, main gundu dan layang-layang, semua dilakoninya. Setiap memulai permainan, dia selalu membaca basmallah dan doa-doa lain yang membuat dia menang. Hal ini menimbulkan minat anak –anak untuk mengetahui dan belajar apa isi doa yang dibaca Syekh Burhanuddin menjadi tinggi.
Riwayat Sembilan Sahabat Syekh Burhanuddin
Selama belajar agama, baik di Tapakih maupun di Aceh, Syekh Burhanuddin punya banyak sahabat dan kawan, yang sama-sama mengembang ilmu agama di tempatnya masing-masing, sepulang dari menuntut ilmu. Di sini, di ruangan yang sederhana ini, penulis menyimpulkan sembilan sahabat Syekh Burhanuddin Ulakan itu.
Mereka yang sembilan itu, adalah Idris Khatib Majolelo, Tanjung Medan Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman, Datuak Maruhun Panjang dari Padang Gantiang, Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Luhak Nan Tuo, Sitarapang dari Kubuang Tigobaleh, Kabupaten Solok, M. Nasir dari Koto Tengah, Padang, Buyuang Mudo dari Bayang Salido Banda Sapuluah, Pesisir Selatan.
Selanjutnya, Syekh Abdul Muhyi (Pamijahan, Jawa Barat): Beliau adalah kawan seperguruan Syekh Burhanuddin yang membawa dan menyebarkan Tarekat Syattariyah di wilayah Jawa Barat. Syekh Abdul Malik bin Abdullah (Tok Pulau Manis, Terengganu): Ulama terkemuka dari Malaysia yang juga menjadi murid terdekat Syekh Abdurrauf. Syekh Muhammad Yusuf al-Makassari (Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati, Sulawesi): Ulama legendaris sekaligus pejuang dari Makassar. Muhammad Baba Daud al-Rumi (Baba Daud): Murid kepercayaan Syekh Abdurrauf di Aceh yang ikut membantu menyusun karya-karya keagamaan.
1. Syekh Idris Khatib Majolelo. Syekh Idris Khatib Majolelo adalah sahabat dekat dan teman seperjuangan Syekh Burhanuddin Ulakan dalam menyebarkan agama Islam di Minangkabau, khususnya di Kabupaten Padang Pariaman. Nama asalnya adalah Idris Khatib, sementara gelar Majolelo melekat sebagai sahabat akrab Syekh Burhanuddin ketika menuntut ilmu agama di Tapakih. Bersama Syekh Burhanuddin, ia ikut mendirikan surau pertama di Tanjung Medan, Ulakan Tapakis, yang menjadi pusat pendidikan Islam awal (cikal bakal surau di Minangkabau). Ia aktif membantu Syekh Burhanuddin menemui penguasa setempat seperti Raja Ulakan (Mangkuto Alam) dan bahu-membahu mensyiarkan ajaran Islam ke berbagai nagari di sekitar Padang Pariaman.
Makam Syekh Idris Khatib Majolelo terletak di kompleks makam utama Syekh Burhanuddin di Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman—berada tepat di sebelah kanan makam Syekh Burhanuddin. Syekh Idris Khatib Majolelo sekaligus Khalifah pertama Syekh Burhanuddin.
Surau Gadang Tanjung Medan didirikan pada sekitar tahun 1680 oleh Syekh Burhanuddin setelah beliau menuntut ilmu agama selama tiga dekade di Aceh. Bangunan bersejarah ini berlokasi di Jorong Tanjung Medan, Nagari Sandi Ulakan, Kecamatan Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Surau ini tercatat sebagai salah satu surau pertama di Ranah Minang sekaligus tonggak awal penyebaran Islam secara luas di wilayah tersebut. Lahan tempat berdirinya Surau Gadang Tanjung Medan ini, adalah milik Syekh Idris Khatib Majolelo.
Setelah kembali ke kampung halamannya di Ulakan, Syekh Burhanuddin menjadikan surau ini sebagai basis utama untuk mengajarkan nilai-nilai keislaman. Karena paham yang dianut oleh sang syekh, Surau Gadang Tanjung Medan tumbuh menjadi pusat perkembangan Tarekat Syattariyah di Sumatera Barat. Banyak ulama terpandang yang menuntut ilmu di sini, salah satunya adalah Tuanku Koto di Nagari Ampek Angkek (Luhak Agam), yang kemudian menjadi guru dari pahlawan nasional Tuanku Imam Bonjol.
Layaknya konsep pondok pesantren tradisional di Minangkabau, surau ini tidak hanya digunakan untuk ibadah salat lima waktu, melainkan juga berfungsi sebagai tempat bermusyawarah dan mufakat untuk memecahkan persoalan umat. Pusat pembelajaran seni budaya bernuansa Islam. Tempat pemuda setempat mempelajari ilmu bela diri (silat Minangkabau).
Ciri khas dari surau ini berupa arsitektur kayu tradisional Minangkabau dengan atap tumpang atau berundak. Guna menjaga ketahanan bangunan, pemerintah setempat telah melakukan pemugaran dengan mengganti beberapa tiang kayu yang lapuk menggunakan beton bertulang serta menambah selasar di sekelilingnya tanpa mengubah bentuk asli secara keseluruhan. Dilindungi sebagai situs cagar budaya di bawah pengawasan Balai Pelestarian Kebudayaan (dahulu BPCB). Bahkan, situs bersejarah ini naik tingkat menjadi Cagar Budaya Nasional demi menjaga nilai pentingnya bagi sejarah peradaban Islam di Indonesia.
2. Datuak Maruhun Panjang. Datuak Maruhun Panjang merupakan seorang ulama sekaligus tokoh sejarah penting dari Padang Ganting, Tanah Datar, Sumatera Barat. Beliau dikenal luas dalam sejarah penyebaran Islam di Minangkabau sebagai salah satu sahabat karib sekaligus teman seperguruan Syekh Burhanuddin Ulakan saat menuntut ilmu agama di Aceh, di bawah bimbingan Syekh Abdurrauf as-Singkili. Dalam narasi sejarah Islam Minangkabau, beliau termasuk ke dalam kelompok "Empat Sekawan" (sahabat Pakiah Pono/Syekh Burhanuddin) yang bersama-sama pergi merantau untuk belajar agama. Masing-masing dari mereka kemudian menguasai bidang keilmuan yang spesifik. Datuak Maruhun Panjang (Padang Ganting, Tanah Datar) – Sangat menonjol dan ahli dalam bidang Ilmu Fiqh. Si Tarapang (Kubung Tigobeleh, Solok) – Ahli dalam Ilmu Nahu (tata bahasa Arab). Muhammad Natsir (Koto Tangah, Padang) – Ahli dalam Ilmu Tafsir. Buyung Mudo (Bayang, Pesisir Selatan) – Ahli dalam Ilmu Saraf.
Setelah menyelesaikan pendidikan keagamaan di Aceh dan kembali ke Minangkabau, Datuak Maruhun Panjang juga dikenal sebagai bagian dari jaringan ulama awal di wilayah darek, dan dalam beberapa catatan sejarah lokal juga berkaitan dengan institusi keagamaan tradisional seperti kedudukan Syekh Kadi Padang Ganting.
Di sisi lain, Datuak Maruhun Panjang juga dikenal sebagai Tuan Kadhi Padang Ganting. Adalah gelar salah satu menteri utama dalam sistem pemerintahan Kerajaan Pagaruyung di Minangkabau. Beliau termasuk ke dalam kelompok Basa Ampek Balai (Empat Menteri Utama) dan berkedudukan di Nagari Padang Ganting, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Dalam "kabinet" Kerajaan Pagaruyung, Tuan Kadhi bertindak setingkat Menteri Agama dan Menteri Pengajaran (Pendidikan). Tugas utamanya adalah mengurusi masalah keagamaan (Islam), menegakkan syariat, serta mencerdaskan masyarakat melalui pendidikan agama. Kedudukan beliau sejajar (tagak samo tinggi, duduak samo randah) dengan tiga pembesar kerajaan lainnya, yaitu Tuan Titah di Sungai Tarab, Datuak Makhudum di Sumanik, dan Datuak Andomo di Saruaso. Dalam Tambo Minangkabau, kehadiran Tuan Kadhi menggeser kedudukan Tuan Gadang di Batipuh setelah Islam berkembang pesat.
Pada masa awal kedatangan Tuan Kadhi, Nagari Padang Ganting belum terbentuk. Wilayah ini masih berupa hamparan tanah kosong yang dikelilingi hutan dan perbukitan, tanpa permukiman penduduk. Kedatangan dan perjalanan menuju Padang Ganting menjadi tonggak awal terbentuknya masyarakat serta cikal bakal berdirinya Nagari Padang Ganting.
Perjalanan Tuan Kadhi menuju wilayah ini bukanlah perjalanan yang mudah. Ia berangkat seorang diri, menelusuri lereng-lereng bukit dan hutan belantara. Dalam kelelahan, ia sempat berhenti di Sawah Kareh, Nagari Balimbing, ia melanjutkan perjalanan siang dan malam, menembus hujan dan panas, hingga akhirnya tiba di Bukit Pagie.
Dari Bukit Pagie, Tuan Kadhi menemukan sebuah mata air jernih di lereng bukit dan memandang hamparan dataran rendah yang subur,hijau,dan indah, diapit oleh Empat Bukit:Bukit Palano, Bukit Pagie, Bukit Parutan, dan Bukit Sangkiang. Keindahan dan kesuburan alam itulah yang mendorongnya menuruni lereng bukit, menembus semak belukar berduri selama berjam-jam, hingga akhirnya menetap di dataran rendah yang kelak menjadi Nagari Padang Ganting.
Tuan Kadhi telah dikenal sebagai sosok alim sejak usia muda. Meski tidak diketahui secara pasti siapa guru awalnya, pada tahun 1040 H/1620 M, ia berangkat menuntut ilmu ke Aceh bersama beberapa pemuda Minangkabau, di antaranya Syekh Burhanuddin dari Padang Pariaman. Mereka belajar kepada Syekh Abdurrauf. Dari rombongan tersebut, hanya Syekh Burhanuddin yang diangkat sebagai Khalifah. Mas’ud Ibrahim kemudian melanjutkan pendalaman ilmunya di Padang Pariaman, khususnya dalam ilmu fikih dan Ahlussunnah wal Jama’ah, hingga mendapat izin untuk kembali dan mengembangkan syari’at Islam di Padang Ganting, meskipun tanpa gelar Khalifah.
Gelar Tuan Kadhi Padang Ganting kemudian melekat pada beliau sebagai tokoh adat dan agama. “Tuan” merupakan gelar kehormatan, sedangkan “Kadhi” berasal dari kata Arab Qadhi, yang berarti hakim. Dalam struktur pemerintahan Minangkabau, Tuan Kadhi merupakan salah satu dari empat pembesar yang membantu Raja Pagaruyuang, Adityawarman. Ia menjabat sebagai Menteri Pengajaran dan Menteri Ibadat, serta berguru kepada Syekh Abdurrauf di Aceh dan Syekh Burhanuddin di Padang Pariaman, yang memperkuat perannya dalam perkembangan Islam di Padang Gantiang.
satu dari empat pembesar yang kedudukannya sejajar, dikenal dengan istilah “tagak samo tinggi, duduak samo randah”. Keempat tokoh tersebut adalah Datuak Andomo di Saruaso, Datuak Makhudum di Sumanik, Tuan Titah di Sungai Tarab, dan Tuan Kadhi di Padang Gantiang. Mereka menjadi pembantu Raja Pagaruyuang, Adityawarman, dengan tugas masing-masing. Tuan Kadhi memegang peranan strategis sebagai Menteri Pengajaran dan Menteri Ibadat.
Salah satu peninggalan bersejarah Tuan Kadhi (yang memiliki nama kecil Mas'ud) adalah Surau Kolam Karuah di Jorong Koto Gadang, Padang Ganting. Selain itu, kawasan makamnya kini menjadi salah satu objek wisata sejarah budaya di Tanah Datar. Untuk menghormati jasa dan sejarahnya, masyarakat setempat rutin menggelar acara budaya tahunan bernama Festival Semarak Budaya Tuan Kadhi guna memperkenalkan adat, budaya, serta potensi wisata di Nagari Padang Ganting.
Sebagai Menteri Pengajaran,Tuan Kadhi bertanggung jawab dalam mencerdaskan masyarakat Minangkabau, karena kemajuan sebuah nagari dan kerajaan sangat ditentukan oleh tingkat ilmu pengetahuan penduduknya. Sebagai Menteri Ibadat, ia membimbing kehidupan keagamaan masyarakat agar berjalan sesuai dengan ajaran Islam, termasuk persoalan ibadah serta halal dan haram.
Kewibawaan Tuan Kadhi juga tercermin dalam tatanan adat Padang Ganting. Dalam upacara adat, ia menempati posisi terhormat di tengah Rumah Gadang. Masyarakat yang ingin menyampaikan persoalan tidak dapat langsung menemuinya, melainkan melalui perantara atau sandi sesuai dengan sukunya. Sistem ini mencerminkan prinsip adat “bajanjang naik, batanggo turun”, yang menegaskan keteraturan, musyawarah, dan etika dalam kehidupan bermasyarakat. Melalui peran dan kepemimpinannya, Tuan Kadhi dikenang sebagai tokoh yang memadukan adat dan syari’at secara seimbang. Warisan nilai yang ia bangun sejak abad ke-17 tersebut tetap hidup dan menjadi bagian penting dari identitas Nagari Padang Ganting hingga saat ini.
Referensi:
1. https://id.wikipedia.org/wiki/Burhanuddin_Ulakan
2. https://www.detik.com/sumut/berita/d-7286707/syekh-burhanuddin-ulakan-profil-asal-usul-hingga-cerita-akhir-hidupnya/amp
3. https://stit-syekhburhanuddin.ac.id/dtlbrt-pusat-edukasi-dan-literasi-syekh-burhanuddin.html
4. https://langgam.id/2-syekh-burhanuddin-pada-abad-berbeda-ulama-penyebar-islam-di-minangkabau/
5. https://daerah.sindonews.com/berita/1121513/29/kisah-karomah-syekh-burhanuddin-ulakan
6. https://www.jurnalissumbar.com/2026/01/jejak-tuan-kadhi-dalam-sejarah-padang.html?m=1
7. Living Heritage Syekh Burhanuddin, Duski Samad, dkk 2026
8. 100 Syekh dan Tuanku Bersanad pada Syekh Burhanuddin, Duski Samad, dkk 2026
