![]() |
Oleh: Duski Samad
Ketua Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin)
Tulisan ini hadir dari pengalaman dan diskusi penulis tentang realitas Tuanku dan mubaligh di rantau. Perantau sukses mengeluh terbatasnya Tuanku yang mampu menyesuaikan diri (adaptif) dalam berdakwah, sehingga mereka mengundang dari kampung dan mubaligh lain.
Kecintaan perantau pada agama, budaya, adat dan tradisi keislaman Minang tidak luntur, namun tokoh dan Tuanku mumpuni sulit menemukkannya. Perantau meminta agar perguruan pencetak Tuanku membaca kebutuhan era digital dan ekonomi sosial kini.
Penulis menawarkan agar ada kesadaran kolektif melalui gerakan SARJANA DAN MAGISTER TUANKU, saat ini STIT SB sedang dan terus akan mengembang kan Tuanku kompeten, dan adaptif itu.
Tradisi merantau terbukti berhasil melahirkan banyak saudagar, pengusaha, profesional, akademisi, dan pemimpin. Akan tetapi, keberhasilan tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh proses regenerasi ulama, mubaligh, dan Tuanku yang mampu mendampingi diaspora Minang dengan kebutuhan yang semakin kompleks.
Pengalaman penulis berinteraksi dengan perantau Minang yang berhasil dalam dunia usaha memperlihatkan kegelisahan yang hampir sama. Mereka mempunyai kemampuan membangun masjid, yayasan, sekolah, dan berbagai fasilitas sosial, tetapi sering mengeluhkan terbatasnya ketersediaan ulama dan mubaligh Minang yang mempunyai kompetensi keilmuan sekaligus kemampuan beradaptasi dengan kehidupan masyarakat perkotaan dan era digital.
Persoalan inilah yang perlu dijawab bukan hanya dengan wacana, tetapi dengan program kaderisasi yang terencana dan berkelanjutan.
Salah satu ikhtiar yang dapat dikembangkan adalah Program Sarjana Tuanku dan Magister Tuanku. Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Syekh Burhanuddin Pariaman mengajak alumni surau, pesantren, serta para Tuanku untuk melanjutkan pendidikan tinggi tanpa kehilangan identitas dan akar tradisi keulamaannya.
Tuanku Tidak Boleh Berhenti pada Tradisi
Minangkabau sebenarnya tidak kekurangan calon ulama. Surau dan pesantren masih melahirkan santri yang menguasai kitab, memiliki adab kepada guru, mengenal tradisi keagamaan masyarakat, dan mempunyai pengalaman berdakwah.
Modal tersebut sangat berharga.
Masalah muncul ketika mereka memasuki ruang sosial yang jauh lebih kompleks. Masyarakat yang mereka hadapi di rantau tidak sama dengan masyarakat tempat mereka belajar. Jamaahnya dapat terdiri atas pengusaha, pegawai, akademisi, mahasiswa, pekerja profesional, dan generasi muda yang hampir seluruh kehidupannya bersentuhan dengan teknologi.
Pertanyaan yang mereka ajukan juga berubah. Persoalan umat bukan lagi hanya masalah ibadah mahdhah, tetapi menyangkut ekonomi digital, keluarga, pendidikan anak, pergaulan generasi muda, kesehatan mental, perubahan budaya, hubungan sosial, kecerdasan buatan, hingga problem etika kehidupan modern.
Karena itu, Tuanku masa depan harus tetap berakar pada tradisi, tetapi tidak boleh terkurung oleh tradisi.
Kitab kuning harus tetap menjadi kekuatan. Sanad harus tetap dijaga. Adab kepada guru tidak boleh hilang. Namun semuanya harus dipertemukan dengan ilmu pendidikan, metodologi penelitian, psikologi, komunikasi, teknologi, literasi digital, dan kemampuan membaca perubahan masyarakat.
Dari Tuanku Tradisional Menuju Tuanku Adaptif
Yang diperlukan bukan mengganti Tuanku tradisional dengan figur baru yang tercerabut dari surau. Justru yang harus dilakukan adalah memperkuat Tuanku dengan kompetensi baru.
Inilah yang dimaksud dengan Tuanku Adaptif.
Tuanku Adaptif adalah ulama yang kuat akar keilmuannya, tetapi luas cakrawala pemikirannya. Ia mampu membaca kitab sekaligus membaca realitas. Ia memahami fikih sekaligus mengerti perubahan sosial. Ia memiliki kedalaman tasawuf sekaligus memahami psikologi manusia modern.
Tuanku Adaptif mampu berdakwah di surau, tetapi juga mampu berbicara di kampus. Ia nyaman menghadapi jamaah kampung sekaligus dapat berdialog dengan pengusaha dan profesional. Ia dapat memberikan pengajian dalam halaqah, tetapi juga mampu menyampaikan gagasannya melalui tulisan, podcast, YouTube, media sosial, dan platform digital.
Prinsipnya jelas:
Tuanku tidak boleh kehilangan kitab karena mengejar digital, tetapi juga tidak boleh kehilangan generasi digital karena hanya bertahan dengan cara-cara lama.
Sarjana Tuanku: Tradisi Bertemu Akademik
Program Sarjana Tuanku diarahkan terutama kepada alumni surau dan pesantren yang telah mempunyai modal pendidikan agama tetapi membutuhkan penguatan akademik.
Selama ini ada alumni pesantren yang mempunyai kemampuan membaca kitab dan berdakwah, tetapi terkendala karena belum mempunyai kualifikasi akademik yang memadai. Sebaliknya, ada sarjana agama yang memiliki ijazah formal tetapi tidak mempunyai kedalaman tradisi kitab dan pengalaman kehidupan surau.
Dua kekuatan ini harus dipertemukan.
Melalui Sarjana Tuanku, tradisi keilmuan surau tidak dihilangkan ketika seseorang memasuki perguruan tinggi. Sebaliknya, warih guru, sanad, kitab, adab, dan tradisi intelektual surau menjadi modal yang diperkuat dengan metodologi dan tradisi akademik.
Maka lahirlah generasi yang memiliki dua kekuatan sekaligus: Tuanku yang sarjana dan sarjana yang memiliki kapasitas Tuanku.
Magister Tuanku: Menaikkan Kelas Ulama Rantau
Tahap berikutnya adalah Magister Tuanku.
Program ini penting terutama bagi Tuanku, guru pesantren, mubaligh, kepala madrasah, pengelola lembaga pendidikan Islam, dan aktivis dakwah yang telah mempunyai gelar sarjana serta pengalaman melayani masyarakat.
Mereka tidak perlu meninggalkan identitas keulamaannya untuk menjadi akademisi. Sebaliknya, pendidikan magister harus memperkuat kemampuan mereka dalam melakukan analisis, penelitian, inovasi pendidikan dan pengembangan masyarakat.
Seorang Tuanku bergelar magister idealnya tidak hanya mampu menjawab pertanyaan jamaah, tetapi juga mampu memetakan masalah umat, melakukan penelitian, menulis artikel dan buku, menyusun program pendidikan, memberikan konsultasi, membangun kelembagaan serta menghasilkan gagasan yang dapat memengaruhi kebijakan.
Dengan demikian, Magister Tuanku bukan sekadar program memperoleh gelar.
Ia adalah bagian dari strategi menaikkan kapasitas dan daya jangkau ulama Minangkabau.
Dari Surau ke Kampus, dari Kampus ke Rantau
STIT Syekh Burhanuddin Pariaman mempunyai posisi strategis untuk membangun jembatan tersebut. Pariaman dan Padang Pariaman memiliki akar sejarah surau dan jaringan keulamaan yang panjang. Warisan ini tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus ditransformasikan menjadi kekuatan pendidikan untuk menjawab kebutuhan masa depan.
Karena itu STIT Syekh Burhanuddin mengajak alumni Surau Mangaji Duduk, pesantren, madrasah, guru mengaji, mubaligh, serta para Tuanku untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang sarjana dan magister.
Gerakannya dapat dibangun melalui mata rantai:
Surau → Pesantren → Sarjana Tuanku → Magister Tuanku → Tuanku Adaptif → Rantau → Dakwah Digital → Umat.
Di sinilah pendidikan tinggi tidak mengambil Tuanku dari masyarakat. Pendidikan tinggi justru mengembalikan Tuanku kepada masyarakat dengan kapasitas yang lebih kuat.
Menjawab Kebutuhan Diaspora Minang
Program ini juga harus mempunyai orientasi yang jelas terhadap kebutuhan rantau.
Pekanbaru, Batam, Jakarta, Medan dan berbagai kota lain memiliki komunitas Minangkabau yang besar. Organisasi perantau mempunyai masjid, yayasan, sekolah, kegiatan pengajian dan jaringan sosial. Semua itu membutuhkan sumber daya keagamaan.
Karena itu, Sarjana dan Magister Tuanku dapat menjadi bagian dari strategi ulama circulation.
Ranah menyiapkan kader. Surau memberikan fondasi. Pesantren memperdalam ilmu. Perguruan tinggi meningkatkan kompetensi. Organisasi perantau menyediakan beasiswa dan ruang pengabdian. Setelah menyelesaikan pendidikan, Tuanku ditempatkan atau kembali melayani masyarakat di rantau.
Maka rantainya menjadi:
Ranah melahirkan → Surau membentuk → Kampus memperkuat → Rantau memberi ruang → Digital memperluas dakwah → Umat menerima manfaat.
Perantau Membiayai Kader, Bukan Hanya Gedung
Dalam konteks inilah kekuatan ekonomi perantau harus mulai diarahkan kepada investasi sumber daya manusia.
Selama ini masyarakat sangat mudah tergerak ketika diajak membangun masjid. Semangat yang sama perlu dikembangkan untuk membangun ulama.
Jika membangun sebuah masjid memerlukan miliaran rupiah, mengapa tidak disisihkan sebagian dana umat untuk membiayai pendidikan calon Tuanku?
Satu organisasi perantau dapat membiayai beberapa mahasiswa Sarjana Tuanku. Pengusaha Minang dapat menjadi orang tua asuh bagi calon ulama. Masjid-masjid Minang di rantau dapat memberikan beasiswa Magister Tuanku dengan ikatan pengabdian setelah menyelesaikan studi.
Dari sinilah gerakan “Satu Komunitas Perantau, Satu Tuanku” memperoleh bentuk yang konkret.
Bukan hanya satu Tuanku dalam pengertian jumlah, tetapi setiap komunitas memiliki tanggung jawab terhadap kaderisasi ulama secara berkelanjutan.
Tuanku 5.0: Alim, Adaptif dan Digital
Output akhirnya adalah profil Tuanku 5.0 atau Tuanku Adaptif: ulama yang tetap memiliki kedalaman spiritual dan tradisi keilmuan, tetapi mampu memimpin masyarakat pada zaman digital.
Tuanku seperti ini idealnya mempunyai tiga lapis kompetensi. Pertama, kompetensi keulamaan, berupa Al-Qur'an, hadis, fikih, ushul fikih, akidah, tasawuf, kitab turats, sanad, dan adab. Kedua, kompetensi akademik dan sosial, berupa metodologi penelitian, pendidikan, psikologi, konseling, kepemimpinan, kewirausahaan sosial, komunikasi dan wawasan kebangsaan. Ketiga, kompetensi digital, berupa literasi media, produksi konten, dakwah digital, pemanfaatan AI secara etis, pengelolaan data dan kemampuan membangun jejaring dakwah.
Tuanku demikian tidak kehilangan identitasnya ketika masuk ke dunia modern. Justru identitas keulamaannya semakin kuat karena mempunyai instrumen yang lebih luas untuk memberikan manfaat.
Mengembalikan Minangkabau sebagai Produsen Ulama
Kritik tentang berkurangnya figur ulama dan mubaligh Minangkabau di panggung nasional tidak cukup dijawab dengan nostalgia. Mengingat masa ketika ulama Minang memenuhi mimbar-mimbar di rantau memang penting, tetapi yang jauh lebih penting adalah menyiapkan generasi penggantinya.
Solusinya adalah kaderisasi.
Sarjana Tuanku dan Magister Tuanku dapat menjadi salah satu jalan untuk mempertemukan kembali surau, pesantren, perguruan tinggi, rantau, dan teknologi digital dalam satu ekosistem pendidikan ulama.
STIT Syekh Burhanuddin Pariaman karena itu mengajak para Tuanku, guru surau, alumni pesantren, mubaligh dan generasi muda calon ulama untuk tidak berhenti belajar. Pendidikan tinggi tidak harus menjauhkan seseorang dari tradisi surau. Pendidikan tinggi justru harus membuat warisan surau semakin kuat dan mampu menjawab perubahan zaman.
Masyarakat Minang di rantau telah berhasil melahirkan banyak saudagar. Kini kekuatan saudagar itu perlu bergandengan kembali dengan kekuatan ulama.
Saudagar menguatkan ekonomi umat. Intelektual membaca zaman. Tuanku menjaga nilai dan membimbing umat. Kampus meningkatkan kompetensi. Surau menjaga akar dan sanad. Rantau menyediakan ruang pengabdian. Digital memperluas jangkauan.
Itulah jalan menuju ulama circulation Minangkabau.
Dari Surau menjadi Sarjana. Dari Sarjana menjadi Magister. Dari Tuanku tradisional menuju Tuanku Adaptif. Dari ranah menuju rantau, dan dari rantau memberi manfaat untuk umat.
SARJANA DAN MAGISTER TUANKU
“Warih Guru Terjaga, Ilmu Bertambah, Tuanku Adaptif, Dakwah Mendunia.”
STIT Syekh Burhanuddin Pariaman — menyiapkan Tuanku yang alim dalam tradisi, kuat secara akademik, adaptif terhadap perubahan, dan hadir membimbing umat di era digital. 02092026.
